MasukSelama dua puluh lima tahun, Emelia Perez hidup bagaikan orang asing di rumahnya sendiri. Tak sekali pun ia merasakan hangatnya kasih sayang orang tua. Seluruh cinta mereka habis tercurah hanya untuk adik perempuannya, Bianca Perez. Di rumah itu, Emelia tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya terus diperas tanpa henti. Hingga suatu malam yang menentukan, dunia Emelia hancur sekaligus terbuka lebar. Ayahnya yang terjerat utang besar menjadikannya jaminan bagi seorang pria berkuasa, Presiden Samuel De Leon. Tanpa ragu, Emelia menerima kesepakatan itu. Baginya, menikahi pria yang dirumorkan kejam, temperamental, dan cacat akibat kecelakaan tragis adalah "tiket emas" untuk melarikan diri dari neraka yang diciptakan keluarganya. Ia lebih memilih menghadapi monster daripada terus menjadi budak di rumah sendiri. Namun, kejutan besar menantinya di balik gerbang istana De Leon. Samuel bukanlah pria cacat seperti yang dibicarakan orang-orang. Ia adalah pria dengan ketampanan yang mematikan. Sayangnya, kecantikan itu dibarengi dengan hati yang sedingin es. Bukannya menjadi ratu, Emelia justru kembali menjadi pelayan di bawah otoritas mutlak Samuel. Di tengah tatapan dingin Samuel dan rahasia yang tersembunyi di balik kelumpuhannya, akankah Emelia menemukan kebebasan yang ia impikan? Ataukah ia hanya berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya? Jangan lewatkan bab selanjutnya setiap hari!
Lihat lebih banyakPov Emelia
“Menikahlah dengan Tuan Samuel, Emelia!”
Aku terdiam mendengar Ayah memintaku menikah dengan pria yang sama sekali tidak kukenal. Kutatap wajahnya dengan tenang. Aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres, mengingat selama ini Ayah selalu memanjakan Bianca, adikku, melebihi diriku. Harusnya Bianca yang diminta, bukan aku.
“Kenapa harus aku? Kenapa tidak Bianca saja?” tanyaku dengan wajah datar.
“Adikmu masih terlalu muda, Emelia!” sahut Ibu yang baru saja datang membawa secangkir teh hangat untuk Ayah.
Mendengar itu, aku tersenyum sinis. Masih muda? Alasan yang sangat tidak masuk akal mengingat kita hanya selisih dua tahun saja. Tahun lalu saja, aku harus merelakan pria yang kusukai demi Bianca yang ternyata juga mencintainya.
“Maaf, aku tidak bisa, Ayah. Aku tidak mau menikah,” tolakku langsung.
“Berani membantah, Emelia? Kamu harus menikah dengan Presdir Samuel, mau atau tidak! Kamu harus menjadi jaminan karena Ayahmu punya utang besar pada perusahaannya!” ujar Ibu dengan nada tinggi.
Aku tersenyum getir. Jadi, alasannya karena utang? Miris sekali. Aku sampai bertanya-tanya, apakah aku benar-benar anak mereka atau bukan. Selama ini hanya Bianca yang mendapatkan kasih sayang, sementara aku diperlakukan layaknya pelayan di rumah sendiri.
“Menikahlah dengannya, Emelia. Apa yang Ibu katakan benar! Kamu bukan hanya menjadi jaminan, tapi hidupmu juga akan lebih baik setelah ini. Kamu akan menikah dengan orang terkaya di negara ini,” sahut Ayah sembari menatapku tajam.
“Kalau begitu, kenapa tidak Bianca saja? Kenapa tidak anak kesayangan Ayah yang menikah dengannya agar hidupnya enak?” tantangku langsung.
“Tidak mau! Aku tidak mau dijodohkan dengan Presdir lumpuh itu! Kakak saja yang menikah dengannya, sangat cocok dengan wajah Kakak yang buruk rupa!” sahut Bianca yang tiba-tiba muncul.
Aku tersenyum sinis. Mungkin jika aku melakukan perawatan, wajahku akan secantik Bianca. Namun, aku tak pernah punya kesempatan itu, tak seujung kuku pun rangkaian skincare pernah menyentuh kulitku. Wajar jika aku terlihat kusam dan tak terawat.
Ternyata ini alasannya. Karena pria itu lumpuh, mereka menumbalkanku.
Aku mengangguk pelan, menyetujui perjodohan itu tanpa ragu lagi. Ini adalah tiket perjalananku untuk keluar dari rumah yang terasa seperti neraka ini.
Aku tidak peduli meski pria itu lumpuh atau monster sekalipun. Aku menikah hanya agar bisa lepas dari sini. Setelah itu aku diceraikan atau dibuang, aku tidak peduli, selama aku bisa bebas dari keluarga yang menganggapku budak selama dua puluh lima tahun ini.
“Baik, aku bersedia menikah. Tapi, aku minta satu hal, setelah menikah, kalian bukan lagi keluargaku. Aku sudah lepas dari kalian!” ucapku dengan suara mantap.
Semua setuju, terutama Bianca. Ia bahkan mendekat dan berbisik di telingaku bahwa calon suamiku adalah seorang monster. Aku hanya menatapnya datar. Aku tidak takut, karena aku sudah dua puluh lima tahun hidup bersama monster-monster di rumah ini.
***
Siapa sangka, keesokan harinya aku sudah dijemput paksa oleh sekelompok pria berjas hitam. Aku dibawa menaiki mobil mewah tanpa tahu ke mana arah tujuannya.
Semalam, aku sempat mencari tahu tentang calon suamiku melalui internet. Samuel De Leon, pria berusia tiga puluh lima tahun yang mengalami kecelakaan tragis tiga tahun silam. Rumor menyebutkan Samuel menderita kelumpuhan total, bahkan wajahnya dikabarkan hancur seperti monster akibat ledakan.
Tak hanya fisiknya, kepribadiannya pun berubah mengerikan. Samuel menjadi pria temperamental yang meledak-ledak karena kondisinya. Kabarnya, jika ia tidak suka pada seseorang, ia tidak segan untuk menghabisinya saat itu juga.
Sangat menyeramkan, bukan?
Harusnya aku kabur malam itu. Tapi tidak, aku tidak peduli. Kalaupun aku harus mati di tangannya, aku menganggapnya sebagai takdir. Aku sudah terlalu lelah dengan hidup ini.
Mobil berhenti di depan sebuah istana megah yang dijaga ketat oleh puluhan pengawal. Aku terpaku menatap kemewahan di depanku.
“Mari turun, Nyonya. Tuan sudah menunggu Anda di dalam,” ujar seorang pelayan sembari membukakan pintu mobil.
Aku mengangguk. Tiba-tiba dadaku berdebar kencang. Dengan langkah pelan, aku mengikuti pengawal masuk ke dalam rumah yang hampir seluruh interiornya dilapisi warna emas itu.
Langkahku terhenti saat suara pecahan piring yang cukup keras menggema di ruangan luas itu. Aku tidak gemetar. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan kasar di rumah lama, ibuku sering menarik piringku dan membuangnya begitu saja hanya karena aku berani makan tanpa izin. Pecahan piring bukanlah hal yang bisa menakutiku.
“Pak, itu suara apa?” tanyaku pelan pada pengawal di sampingku.
“Itu Tuan Samuel, suami Nyonya. Beliau mungkin sedang marah pada pelayan karena makanan pagi ini tidak sesuai seleranya,” jawabnya dengan wajah tenang, seolah hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari.
“Suami?” ulangku, karena kupikir status kami masih calon.
“Benar, Nyonya. Tuan sudah mendaftarkan pernikahan kalian secara hukum. Anda sudah resmi menjadi istri Tuan Samuel.”
Aku mengangguk pelan. Ternyata semua sudah dirancang sedemikian rupa. “Apa dia selalu seperti itu?”
“Tidak. Dulu Tuan sangat lembut. Segalanya berubah sejak kecelakaan itu.”
Aku kembali melangkah, ingin melihat kekacauan macam apa yang sedang dilakukan suamiku. Namun, aku mematung saat melihat sosok pria di atas kursi roda itu. Mana wajah monster yang dibicarakan orang-orang?
Yang kulihat justru pria yang sangat tampan. Kulit wajahnya mulus, bersih, dan berseri tanpa luka sedikit pun. Aku yakin jika Bianca melihat ini, dia akan menangis sujud memohon untuk menggantikan posisiku.
Tidak ada wajah monster di sini. Yang ada hanyalah tatapan mata yang sangat menyeramkan, dingin dan tajam seperti elang yang siap mencengkeram mangsa.
“Kenapa dibuang makanannya?” tanyaku langsung tanpa rasa takut. Toh, aku sudah sah menjadi istrinya, kan?
Kulihat sisa-sisa makanan berserakan di lantai. “Kamu mau makan apa? Aku bisa buatkan untukmu. Jangan buang-buang makanan.”
“Siapa yang menyuruhmu bicara?” desisnya tajam. Ia menatapku dengan sorot mata yang sanggup membekukan darah.
Aku menghela napas pelan, menguatkan tekad untuk tidak goyah oleh intimidasi itu. Justru, aku ingin mengubah tatapan es itu menjadi lembut saat menatapku nanti.
“Aku istrimu, jadi wajar jika aku bicara,” jawabku tenang.
“Meskipun kamu istriku, kamu tidak punya hak untuk mengatur! Apalagi kamu hanyalah istri jaminan. Ayahmu tidak bisa membayar utang, jadi dia menjualmu padaku!”
Aku mengangguk, sama sekali tidak tersinggung atau takut mendengar kata-katanya.
“Benar, aku memang diberikan Ayah sebagai jaminan. Tapi karena sekarang aku sudah jadi istrimu, aku punya hak untuk bicara atau bahkan mengatur rumah ini.”
“Jangan harap!”
“Oke, kalau begitu ceraikan aku sekarang juga. Aku tidak masalah! Aku akan pergi dari sini detik ini juga,” tantangku.
Samuel menyeringai sinis. “Tidak akan semudah itu. Kamu harus tetap di sini dan menjadi pelayan di rumah ini!”
Aku tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat dan membungkuk sedikit agar wajah kami sejajar. “Ah, maksudmu pelayan yang bertugas melayanimu di tempat tidur juga, Suamiku?” godaku dengan nada berani.
***
(POV: Emelia)Aku sendiri tidak tahu kenapa malam itu aku mendadak begitu menginginkan sentuhan dan kehangatan Samuel. Mengingat sepanjang sembilan bulan usia kehamilan kedua ini, aku sama sekali tidak bisa berada dekat-dekat dengannya. Bahkan, jika Samuel nekat mendekat, kepala ini langsung pusing dan perutku mendadak mual luar biasa.Namun malam itu, tembok pembatas hormon yang menyiksa suamiku selama berbulan-bulan seolah runtuh tanpa sisa.“Ah, Samuel... aku benar-benar merindukanmu,” lenguhku panjang setelah berhasil meraih pelepasan yang begitu intens di dalam dekapannya.Akan tetapi, tepat ketika hembusan napas lega baru saja terlepas dan aku hendak menyandarkan kepala di dada bidangnya, sebuah desakan dahsyat mendadak menghantam perut bawahku. Rasa mual yang selama ini mengangguku berganti menjadi gelombang cengkraman hebat yang mencengkeram rahimku tanpa ampun.“Ahhh! Sakit...!” teriakku seketika sembari mencengkeram lengan kekar Samuel dengan sangat kuat.“Sakit?! Sayang, k
(POV: Samuel)Aku begitu bahagia saat mendengar kabar bahwa Emelia kembali mengandung buah hati kami. Namun, di saat yang bersamaan, jujur saja rasa sedih yang teramat mendalam juga merayapi benakku.Bagaimana tidak sedih? Aku selama ini tidak bisa jauh darinya, selalu memeluk dan menciumnya. Dan sekarang? Bisa-bisanya aku harus diasingkan dan menjaga jarak aman! Bahkan di dalam ruang pemeriksaan dokter spesialis kandungan saat ini, aku terpaksa berdiri menyudut di pojok ruangan demi kenyamanan istri tercintaku. Sebab, jika aku melangkah maju dua langkah saja mendekatinya, Emelia akan langsung mengeluh pusing dan berujung muntah-muntah hebat.“Kehamilan kali ini benar-benar unik dan berbeda sekali ya, Nyonya Emelia,” puji sang dokter kandungan sembari tersenyum geli setelah mendengarkan keluhnya. “Jika pada kehamilan pertama dulu Tuan Samuel yang harus memikul rasa mual dan pusing, sekarang giliran Nyonya sendiri yang merasakannya.”“Dan masalah terbesarnya, dia sama sekali tidak ma
Jujur saja, aku dan Samuel memang sama sekali tidak menunda untuk memberikan adik bagi Gabriel. Sejak kondisi psikologis dan fisikku pulih total, kami justru sangat mengharapkan kehadiran buah hati kedua untuk meramaikan mansion ini.Namun, garis takdir belum berpihak pada kami selama beberapa bulan terakhir. Aku masih belum kunjung berbadan dua. Bahkan setiap kali aku mengalami telat datang bulan, aku buru-buru mengetesnya dengan alat tes kehamilan, hasil testpack yang tertera selalu saja menunjukkan garis satu alias negatif. Kekecewaan yang berulang itu perlahan membuatku bersikap lebih santai dan pasrah.Jadi, jika sekarang tanda-tanda mual ini dikaitkan dengan kehamilan, aku benar-benar tidak yakin. Logikaku menolak keras. Aku bahkan merasa baru kemarin selesai melewati siklus datang bulan. Masa iya aku bisa hamil secepat ini? Tidak mungkin, pikirku. Ini pasti murni karena aroma parfum Samuel saja yang mendadak tidak cocok dengan indra penciumanku. Rasanya benar-benar busuk, memua
Keesokan harinya, perasaan bahagia yang melonjak dua kali lipat di kediamaku. Suasana di dalam mansion kami terasa begitu hidup dan hangat karena semua orang berkumpul di sini. Akhir-akhir ini, para orang tua—baik orang tuaku maupun papa Arturo—memang jauh lebih sering menghabiskan waktu luang mereka di rumah kami alih-alih di kediaman mereka sendiri. Mansion yang dulunya terasa sunyi kini selalu dipenuhi riuh tawa.“Kalau bisa, cepat buatkan adik baru lagi untuk Gabriel, Emelia. Papa masih ingin punya cucu yang banyak agar rumah ini semakin ramai,” ujar papa Arturo tiba-tiba, saat kamu berkumpul di ruang tengah. Raut wajahnya tampak cemberut, mengingat sejak tadi belum kebagian menggendong cucunya.“Lah? Daripada menuntut istriku, kenapa Papa saja tidak menikah lagi?” Bukan aku yang menyahut, melainkan Samuel yang langsung memotong dengan nada santai.Pria itu kemudian bergeser mendekat, merangkul
Kami baru saja menginjakkan kaki di rumah, bahkan baru beberapa menit memasuki kamar utama kami yang luas dan familier. Namun, saat aku berbalik untuk membantunya melepaskan jaket, aku menyadari sesuatu yang salah. Warna kulit di wajah Samuel tiba-tiba berubah drastis menjadi teramat pucat, nyari
Pov Emelia “Daniel, stop!!!”Aku menjerit histeris dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tenggorokanku. Air mataku luruh semakin deras, membasahi pipi yang terasa kaku karena ketakutan yang teramat masif. Menyaksikan Samuel—suamiku, pria yang selalu berdiri gagah melindungi
Hari-hari berikutnya kulalui dalam kesendirian yang sarat akan kesedihan. Aku terlanjur jatuh hati terlalu dalam pada pria asing yang telah kuselamatkan nyawanya malam itu. Namun, aku sadar diri bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa atau menuntut hak apa pun, karena di sisi lain, aku memang telah
Suasana di halaman depan kediamanku berubah mencekam dalam hitungan menit. Langit sore yang mulai menggelap seolah ikut menyambut kedatangan badai. Setelah memastikan Emelia aman bersama tim perlindungan berlapis di bunker bawah tanah, aku melangkah ke teras depan dengan langkah lebar dan tenang.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan