Compartir

Bab 6

Autor: Camilia
Mau menyuruhku jadi pengasuh kalian lagi seperti di kehidupan sebelumnya? Jangan mimpi!

Sambil memikirkan itu, aku menerjang maju. Di depan mata Nicky, aku menampar Cliona dengan keras, lalu menatap mereka dengan dingin.

"Ingat baik-baik. Yang ini baru perbuatanku."

Tamparan yang kulayangkan dengan seluruh tenaga karena amarah membuat pipi Cliona langsung membengkak. Rasa sakitnya membuat seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali.

"Blaire, kamu ...!" Suara Nicky dipenuhi amarah dan ketidakpercayaan. "Berani-beraninya kamu! Di depanku pun kamu sudah malas berpura-pura lagi ya?!"

Aku menarik napas dalam-dalam. Nadaku tenang saat berujar, "Aku pura-pura apa? Aku cuma memukul orang di depanmu secara terang-terangan, secara jujur dan terbuka. Lagi pula, aku sudah dituduh sampai sejauh ini, jadi sekalian saja kuwujudkan."

Aku membungkuk untuk mengambil tasku, menepuk-nepuk debu di atasnya, lalu menyampirkannya ke bahu.

"Nicky, bawa Cliona-mu dan menjauhlah dariku." Aku menatap matanya, mengucapkan kata demi kata.

"Melihat kalian saja aku mual." Selesai berkata begitu, aku langsung berbalik dan pergi.

Di belakangku, Nicky benar-benar marah besar. "Kalau punya nyali, jangan pernah hubungi aku lagi! Nanti kalau sudah ke Universitas Bakrie, aku nggak akan peduli padamu!"

Siapa yang peduli? Aku tidak menanggapi.

Orang-orang di sekitar diam-diam membuka jalan. Tatapan mereka yang rumit tertuju padaku, tetapi aku tidak memedulikannya. Hanya saja, sejak hari itu hubunganku dengan Nicky menjadi jauh lebih dingin.

Meskipun berada di kelas yang sama, aku memperlakukannya seolah-olah dia tak terlihat.

Beberapa kali dia ingin mengajakku berbicara, semuanya kuabaikan begitu saja. Roti kacang merah yang dia sodorkan untuk berdamai pun aku lempar ke tempat sampah di depan umum.

Kebingungan dan amarah di matanya semakin dalam. Setelah itu, dia pun mulai mengabaikanku. Namun, semua itu sudah tidak ada hubungannya denganku.

Ujian masuk perguruan tinggi akhirnya berakhir. Setelah menyerahkan kertas ujian terakhir, aku berjalan keluar dari ruang ujian.

Matahari bersinar cerah. Aku menarik napas panjang. Ayah dan ibuku menungguku di luar, wajah mereka dipenuhi senyum lega dan bangga.

"Gimana ujiannya?" Ibuku merangkul bahuku.

"Lumayan bagus," jawabku sambil tersenyum, meskipun yang kupikirkan adalah surat penerimaan kuliahku ke luar negeri.

Jauh sebelum ujian, aku sudah mendapatkan persetujuan dari universitas di Belanda. Begitu nilai ujian diserahkan, aku akan resmi menerima pemberitahuan dan resmi berangkat ke Belanda untuk kuliah.

"Syukurlah. Ayo pulang, Ibu sudah masak banyak makanan enak!"

Sesampainya di rumah, aku mulai membereskan barang-barang, bersiap untuk pergi ke luar negeri.
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 12

    Kami menetap di sebuah kota pesisir yang tenang.Aku diterima bekerja sebagai konsultan berita internasional di sebuah media ternama, sementara Miguel membuka rumah sakit pribadinya.Kami pun memutuskan untuk menikah. Kami hanya mengundang keluarga terdekat dan beberapa sahabat seperjuangan, dengan lokasi di sebuah pulau.Pada hari pernikahan, matahari bersinar cerah dan angin laut berembus lembut. Aku mengenakan gaun panjang satin putih sederhana, rambutku disanggul longgar. Miguel memandangku. Kelembutan dan keyakinan di matanya lebih bermakna daripada seribu kata.Tanpa upacara yang rumit, di bawah kesaksian keluarga dan sahabat, kami saling mengucapkan janji sederhana.Tepat ketika pembawa acara mengumumkan upacara selesai dan Miguel menunduk hendak menciumku, dari luar halaman terdengar keributan disertai teriakan serak dan histeris."Blaire, kamu mau menikah? Bagaimana bisa kamu menikah dengan orang lain?"Semua orang menoleh ke arah suara itu. Aku melihat sosok yang dicegat satp

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 11

    Sejak saat itu, Nicky benar-benar tidak pernah lagi muncul dalam hidupku. Kabarnya, tak lama kemudian dia dipaksa keluarganya untuk kembali ke tanah air. Bagaimana persisnya, aku tidak lagi peduli.Hidupku dipenuhi oleh hal-hal yang tidak hanya lebih luas dan lebih berat, tetapi juga sarat makna. Aku berhasil mewujudkan impianku menjadi seorang jurnalis perang.Setelah lulus di Belanda dengan prestasi gemilang, aku secara aktif mengajukan diri untuk pergi ke sudut-sudut dunia yang dipenuhi asap mesiu dan tangisan orang-roang.Di tengah medan yang hancur, aku berjalan bersama warga sipil yang melarikan diri dengan panik. Di tengah angin pegunungan yang kering, aku merekam wajah-wajah lelah dan kosong para tentara. Di parit-parit yang tertutup salju dan es, aku mendengarkan kerinduan para prajurit muda pada kampung halaman mereka.Aku telah melihat terlalu banyak tatapan kosong orang-orang yang kehilangan segalanya, tangan-tangan gemetar yang mencari keluarga di antara reruntuhan, bunga

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 10

    Di sudut foto itu, sebuah siluet samping dengan senyuman cerah seolah-olah membelah dunianya begitu saja. Itu Blaire!Hampir seketika, semua halusinasi yang selama ini menghantuinya surut seperti air pasang. Dia menatap tajam siluet samar itu. Rongga matanya yang kering kembali terasa panas.Dia menemukannya! Akhirnya, dia menemukan Blaire!Dia segera memesan tiket penerbangan paling awal ke Belanda. Di dalam pesawat, dia berulang kali membayangkan adegan pertemuan kembali. Dia ingin mengatakan pada Blaire bahwa dirinya telah salah, bahwa dia menyesal, bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Blaire.Dia percaya, selama dia muncul, selama dia cukup tulus, Blaire yang sejak kecil selalu mengikutinya dan hanya memandangnya, pasti akan melunak.Kemudian tibalah saat di mana dia berdiri di depan kafe itu, saat di mana dia akhirnya benar-benar melihat Blaire yang hidup dan nyata. Hatinya yang selama ini melayang tak menentu, yang berada di ambang kehancuran, secara ajaib kembali menemukan pijakan.

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 9

    Punggung itu terasa sangat familier. Dua tahun lalu, Nicky juga menyaksikan Blaire pergi dengan cara yang sama, tanpa ada satu pun cara untuk menghentikannya.Lengan kuat petugas keamanan bandara mencengkeramnya, sementara para penumpang di sekeliling memandang dengan tatapan terkejut bercampur sedikit rasa jijik. Nicky meronta, meraung memanggil sampai suaranya serak. Namun, dia hanya bisa menatap punggung yang dikenalnya itu menghilang di ujung lorong tanpa sedikit pun keraguan."Blaire ...!" Akhirnya, dia dilempar keluar dari lobi bandara, berdiri linglung di pinggir jalan yang dipenuhi orang lalu-lalang. Sinar matahari awal musim gugur di Kota Hibraw masih terasa hangat, tetapi yang dia rasakan justru dingin yang menusuk tulang.Dia benar-benar pergi. Ketika kemudian harus melapor ke Universitas Bakrie, dia dibawa ke sana secara paksa oleh keluarganya. Ibunya menampar wajahnya dengan keras."Sadarlah! Dulu kamu sendiri yang ingin membatalkan pertunangan dan mendorongnya pergi ke Be

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 8

    Kehidupan di Belanda sangat sibuk sekaligus menyenangkan. Lingkungan yang asing, beban studi yang berat, serta teman-teman dari seluruh dunia …. Semuanya membuatku kewalahan dan tumbuh dengan cepat.Aku berusaha keras belajar bahasa, berlama-lama di perpustakaan, ikut diskusi kelompok. Hari-hariku terisi penuh.Sesekali di tengah malam, aku teringat hal-hal di masa lalu, tetapi rasa perih itu kian memudar. Semakin banyak aku belajar, semakin aku yakin dengan pilihan menjadi jurnalis.Namun, agak berbeda dari ibuku, aku ingin menjadi jurnalis perang, mengungkap kebusukan dunia.Kemudian, akhir pekan tiba seperti biasa. Hari itu, aku dan beberapa teman sejurusan keluar dari perpustakaan, bersiap pergi ke kafe di pusat kota untuk duduk-duduk.Langit Amsterdam selalu kelabu. Angin yang membawa uap air kanal menerpa wajah, terasa agak dingin.Baru saja kami tiba di depan kafe, sebuah sosok yang begitu familier hingga membuat jantungku berhenti sejenak tiba-tiba saja menampakkan wujudnya dal

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 7

    Di atas meja belajar masih ada sebuah kotak cantik. Di dalamnya tersimpan pernak-pernik kecil yang Nicky berikan selama bertahun-tahun, juga setumpuk tebal surat yang dia tulis untukku.Aku membuka kotak itu, meliriknya sekilas, lalu tanpa ragu mengambilnya dan berjalan ke tempat sampah di halaman. Seketika, semuanya kulempar ke dalam."Blaire, kamu ...." Ibuku berdiri di ambang pintu, menatapku dengan agak terkejut."Barang nggak berguna, memang harus dibuang." Aku menepuk-nepuk tanganku, nadaku santai.Ibuku mendekat dan memelukku pelan. "Bagus. Kita harus memandang ke depan."Hari-hari menjelang keberangkatan ke luar negeri berlalu dengan sangat cepat. Aku menghabiskan sisa waktuku berkumpul dengan teman-teman, menemani keluarga, menyiapkan barang bawaan.Aku sengaja memblokir semua kabar tentang Nicky dan Cliona. Aku hanya tahu Nicky berkali-kali mencoba menghubungiku dan semuanya berakhir gagal.Hari ketika dia tahu aku membuang semua hadiah darinya dan surat-suratku, ibunya bilan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status