Share

Bab 5

Penulis: Camilia
Mungkin kata-kataku memang ada efeknya. Nicky tidak lagi mencariku.

Namun, itu hanya berlangsung beberapa hari. Setelah itu, dia tetap bersikeras menyodorkan catatan-catatan miliknya kepadaku, kadang bahkan keras kepala ingin tinggal untuk mengajariku mengerjakan soal.

"Kamu 'kan mau ikut aku ke Universitas Bakrie ambil jurusan finansial. Matematikamu masih kurang."

Untuk pertama kalinya, aku tidak membantah. Benar juga, di dunianya, aku masih gadis kecil yang akan tanpa ragu mengikuti apa pun yang dia lakukan.

Mungkin di dunia yang baru ini, meskipun aku dan dia tidak bisa menjadi suami istri, pada akhirnya kami masih bisa menjadi teman biasa.

Hanya saja, setiap kali aku mengangkat pandangan karena lelah belajar, aku selalu bisa melihat Cliona menatapku dengan penuh rasa kesal.

Waktu pun berlalu sampai sebulan sebelum ujian masuk perguruan tinggi. Hari itu, aku baru saja keluar dari gerbang sekolah, hendak bersiap menyeberang ke toko buku di seberang jalan untuk membeli beberapa buku referensi, ketika aku melihat Nicky menggendong Cliona yang wajahnya pucat dan tubuhnya masih tertempel salju berlari lurus ke arahku.

Sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah menghalangiku. "Blaire!"

Suaranya menahan amarah yang besar. "Kamu begitu membencinya sampai-sampai menyuruh orang memukulinya di luar sekolah?"

Aku tertegun, menatap Cliona di dalam pelukannya. Matanya basah oleh air mata, separuh wajahnya bengkak, tatapannya ke arahku dipenuhi ketakutan.

"Aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan." Aku mengerutkan kening, merasa sangat konyol.

"Nggak tahu?" Nicky mencibir, sementara para siswa di sekitar mulai melirik ke arah kami.

"Waktu para preman wanita itu menamparnya, mereka jelas bilang kalau kamu yang menyuruh mereka beri dia pelajaran! Selain kamu, siapa lagi yang bakal pakai cara serendah ini? Ternyata sifat baikmu itu cuma pura-pura."

Aku menoleh ke Cliona. Dia terisak-isak. "Kak Blaire ... maaf ... aku seharusnya nggak merebut Nicky darimu ...."

Sambil berkata begitu, tubuhnya gemetar semakin hebat.

"Aku nggak melakukannya." Aku menatap Nicky, nadaku tenang. "Aku nggak serendah itu sampai harus memakai cara seperti ini."

"Buktinya mana? Siapa yang percaya?" Nicky sama sekali tidak mau mendengar. Dia sudah sepenuhnya dibutakan oleh air mata dan cerita Cliona.

Dia terdiam sejenak, lalu seolah-olah mengambil keputusan, dia berkata kata demi kata dengan nada dingin, "Clio, gimana mereka memukulmu, kamu balas ke dia saja."

Kalimat itu seperti petir yang meledak di telingaku. Aku menatap Nicky dengan tidak percaya. Dia benar-benar menyuruh Cliona memukulku? Sejak kecil sampai sekarang, bahkan orang tuaku belum pernah memukulku!

Cliona pun tampak terkejut, menggeleng dengan panik. "Nggak bisa, Nicky. Mana mungkin aku ...."

"Lakukan saja!" Dia mendorong Cliona sekali, mendorongnya ringan ke hadapanku, sementara kedua tangannya mencengkeramku erat-erat.

"Dia berutang padamu. Selama aku di sini, nggak akan ada yang berani menyentuhmu lagi."

Jumlah siswa yang berkumpul semakin banyak. Suara bisik-bisik berdengung seperti nyamuk. Di bawah tatapan semua orang, Cliona tampak semakin tak berdaya dan rapuh. Dia menatapku. Air matanya mengalir lebih deras, tangannya gemetar dan perlahan terangkat.

Seolah-olah akhirnya mengambil keputusan, dia memejamkan mata dan mengayunkan tangannya dengan keras. Plak! Suara tamparan yang nyaring terdengar.

Hawa panas menyengat menjalar di wajahku. Tenaganya tak ringan. Telingaku sampai berdengung hebat.

Aku ingin memberontak, tetapi yang kudapat justru cubitan menyakitkan dari Nicky sebagai peringatan. Namun, saat dia melihat aku mimisan, dia tertegun.

Sepertinya dia pun tidak menyangka Cliona punya tenaga sebesar itu. Tatapannya berkilat sesaat.

Namun, ketika melihat Cliona gemetar hebat, lalu terkulai lemas ke tanah setelah memukulku, dia segera melepaskanku dan memeluknya erat.

"Nggak apa-apa." Kemudian, Nicky menatapku. "Kalau sekarang kamu minta maaf dengan baik, aku masih mau membimbingmu supaya bisa masuk Universitas Bakrie bersamaku."

"Bukankah kamu selalu ingin kita pindah dan tinggal bersama? Nanti kita bahkan bisa beli rumah di dekat kampus ...."

Aku menatap Nicky, lalu tiba-tiba tersenyum. "Universitas Bakrie? Kamu saja yang pergi sambil menggendong Cliona. Aku nggak ikut."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 12

    Kami menetap di sebuah kota pesisir yang tenang.Aku diterima bekerja sebagai konsultan berita internasional di sebuah media ternama, sementara Miguel membuka rumah sakit pribadinya.Kami pun memutuskan untuk menikah. Kami hanya mengundang keluarga terdekat dan beberapa sahabat seperjuangan, dengan lokasi di sebuah pulau.Pada hari pernikahan, matahari bersinar cerah dan angin laut berembus lembut. Aku mengenakan gaun panjang satin putih sederhana, rambutku disanggul longgar. Miguel memandangku. Kelembutan dan keyakinan di matanya lebih bermakna daripada seribu kata.Tanpa upacara yang rumit, di bawah kesaksian keluarga dan sahabat, kami saling mengucapkan janji sederhana.Tepat ketika pembawa acara mengumumkan upacara selesai dan Miguel menunduk hendak menciumku, dari luar halaman terdengar keributan disertai teriakan serak dan histeris."Blaire, kamu mau menikah? Bagaimana bisa kamu menikah dengan orang lain?"Semua orang menoleh ke arah suara itu. Aku melihat sosok yang dicegat satp

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 11

    Sejak saat itu, Nicky benar-benar tidak pernah lagi muncul dalam hidupku. Kabarnya, tak lama kemudian dia dipaksa keluarganya untuk kembali ke tanah air. Bagaimana persisnya, aku tidak lagi peduli.Hidupku dipenuhi oleh hal-hal yang tidak hanya lebih luas dan lebih berat, tetapi juga sarat makna. Aku berhasil mewujudkan impianku menjadi seorang jurnalis perang.Setelah lulus di Belanda dengan prestasi gemilang, aku secara aktif mengajukan diri untuk pergi ke sudut-sudut dunia yang dipenuhi asap mesiu dan tangisan orang-roang.Di tengah medan yang hancur, aku berjalan bersama warga sipil yang melarikan diri dengan panik. Di tengah angin pegunungan yang kering, aku merekam wajah-wajah lelah dan kosong para tentara. Di parit-parit yang tertutup salju dan es, aku mendengarkan kerinduan para prajurit muda pada kampung halaman mereka.Aku telah melihat terlalu banyak tatapan kosong orang-orang yang kehilangan segalanya, tangan-tangan gemetar yang mencari keluarga di antara reruntuhan, bunga

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 10

    Di sudut foto itu, sebuah siluet samping dengan senyuman cerah seolah-olah membelah dunianya begitu saja. Itu Blaire!Hampir seketika, semua halusinasi yang selama ini menghantuinya surut seperti air pasang. Dia menatap tajam siluet samar itu. Rongga matanya yang kering kembali terasa panas.Dia menemukannya! Akhirnya, dia menemukan Blaire!Dia segera memesan tiket penerbangan paling awal ke Belanda. Di dalam pesawat, dia berulang kali membayangkan adegan pertemuan kembali. Dia ingin mengatakan pada Blaire bahwa dirinya telah salah, bahwa dia menyesal, bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Blaire.Dia percaya, selama dia muncul, selama dia cukup tulus, Blaire yang sejak kecil selalu mengikutinya dan hanya memandangnya, pasti akan melunak.Kemudian tibalah saat di mana dia berdiri di depan kafe itu, saat di mana dia akhirnya benar-benar melihat Blaire yang hidup dan nyata. Hatinya yang selama ini melayang tak menentu, yang berada di ambang kehancuran, secara ajaib kembali menemukan pijakan.

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 9

    Punggung itu terasa sangat familier. Dua tahun lalu, Nicky juga menyaksikan Blaire pergi dengan cara yang sama, tanpa ada satu pun cara untuk menghentikannya.Lengan kuat petugas keamanan bandara mencengkeramnya, sementara para penumpang di sekeliling memandang dengan tatapan terkejut bercampur sedikit rasa jijik. Nicky meronta, meraung memanggil sampai suaranya serak. Namun, dia hanya bisa menatap punggung yang dikenalnya itu menghilang di ujung lorong tanpa sedikit pun keraguan."Blaire ...!" Akhirnya, dia dilempar keluar dari lobi bandara, berdiri linglung di pinggir jalan yang dipenuhi orang lalu-lalang. Sinar matahari awal musim gugur di Kota Hibraw masih terasa hangat, tetapi yang dia rasakan justru dingin yang menusuk tulang.Dia benar-benar pergi. Ketika kemudian harus melapor ke Universitas Bakrie, dia dibawa ke sana secara paksa oleh keluarganya. Ibunya menampar wajahnya dengan keras."Sadarlah! Dulu kamu sendiri yang ingin membatalkan pertunangan dan mendorongnya pergi ke Be

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 8

    Kehidupan di Belanda sangat sibuk sekaligus menyenangkan. Lingkungan yang asing, beban studi yang berat, serta teman-teman dari seluruh dunia …. Semuanya membuatku kewalahan dan tumbuh dengan cepat.Aku berusaha keras belajar bahasa, berlama-lama di perpustakaan, ikut diskusi kelompok. Hari-hariku terisi penuh.Sesekali di tengah malam, aku teringat hal-hal di masa lalu, tetapi rasa perih itu kian memudar. Semakin banyak aku belajar, semakin aku yakin dengan pilihan menjadi jurnalis.Namun, agak berbeda dari ibuku, aku ingin menjadi jurnalis perang, mengungkap kebusukan dunia.Kemudian, akhir pekan tiba seperti biasa. Hari itu, aku dan beberapa teman sejurusan keluar dari perpustakaan, bersiap pergi ke kafe di pusat kota untuk duduk-duduk.Langit Amsterdam selalu kelabu. Angin yang membawa uap air kanal menerpa wajah, terasa agak dingin.Baru saja kami tiba di depan kafe, sebuah sosok yang begitu familier hingga membuat jantungku berhenti sejenak tiba-tiba saja menampakkan wujudnya dal

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 7

    Di atas meja belajar masih ada sebuah kotak cantik. Di dalamnya tersimpan pernak-pernik kecil yang Nicky berikan selama bertahun-tahun, juga setumpuk tebal surat yang dia tulis untukku.Aku membuka kotak itu, meliriknya sekilas, lalu tanpa ragu mengambilnya dan berjalan ke tempat sampah di halaman. Seketika, semuanya kulempar ke dalam."Blaire, kamu ...." Ibuku berdiri di ambang pintu, menatapku dengan agak terkejut."Barang nggak berguna, memang harus dibuang." Aku menepuk-nepuk tanganku, nadaku santai.Ibuku mendekat dan memelukku pelan. "Bagus. Kita harus memandang ke depan."Hari-hari menjelang keberangkatan ke luar negeri berlalu dengan sangat cepat. Aku menghabiskan sisa waktuku berkumpul dengan teman-teman, menemani keluarga, menyiapkan barang bawaan.Aku sengaja memblokir semua kabar tentang Nicky dan Cliona. Aku hanya tahu Nicky berkali-kali mencoba menghubungiku dan semuanya berakhir gagal.Hari ketika dia tahu aku membuang semua hadiah darinya dan surat-suratku, ibunya bilan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status