LOGINAroma mentega dan tumisan bawang bombai memenuhi seisi dapur malam itu. Di bawah temaram lampu gantung, suasana terasa begitu hangat. Aku bergerak canggung, sesekali memotong wortel dengan ukuran yang tidak terlalu rapi, sementara Kinan berdiri di sebelahku dengan celemek abu-abu yang membungkus tubuh tegapnya.Dari balik pembatas dapur, langkah kaki Mama terdengar mendekat. Beliau bersandar di ambang pintu, menatap kami berdua dengan senyum penuh arti yang membuat pipiku mendadak panas.“Anggap saja Mama tidak di rumah malam ini. Nikmati saja waktu kalian berdua,” goda Mama sambil mengerlingkan mata dengan jenaka sebelum berbalik kembali ke ruang tamu.“Mama!” seruku tertahan karena malu, yang langsung dibalas tawa renyah wanita yang telah melahirkanku itu.Aku menoleh ke arah Kinan, khawatir dia merasa tidak nyaman. Namun, pria itu hanya tersenyum tipis dan tetap tenang. Tangannya begitu cekatan mengocok telur, lalu memutarnya di atas teflon dengan gerakan yang begitu mulus hingga m
Aroma kertas tua, kayu yang dipoles, dan udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutku begitu aku melangkah masuk ke Stanton Library di kawasan North Sydney. Perpustakaan empat lantai dengan arsitektur pertengahan abad itu terasa lengang pada hari kerja. Aku menyusuri jajaran rak tinggi di bagian botani dan hortikultura, mencari buku panduan mengenai metode perawatan pohon palem. Aku membutuhkan referensi itu untuk proyek lanskap. Jari-jariku menelusuri punggung buku-buku tebal, sementara mataku dengan jeli membaca nomor klasifikasi.Langkah kaki terdengar dari beberapa rak di belakangku. Awalnya, aku mengira itu hanya pengunjung lain. Namun, setiap kali aku berpindah koridor rak—dari bagian tanaman tropis ke jajaran buku arsitektur taman—suara langkah kaki yang konstan dan berjarak sama itu terus mengikutiku.Aku berhenti di depan rak buku-buku tebal bersampul hijau ketika layar ponselku menyala. Rupanya, ada notifikasi dari aplikasi pesan anonim di ponselku.“Apakah kau
Malam semakin larut. Aku baru saja selesai meeting online dengan klienku di Sydney. Kuseruput kopi yang tinggal setengah cangkir.Akhir-akhir ini, aku mulai terbiasa bertukar kabar dengannya. Bahkan untuk hal-hal sepele sekalipun. Ada perasaan nyaman yang sulit dijelaskan.Aku menyandarkan punggung ke kursi, lalu meraih ponsel. Kubuka aplikasi TwinflameChat dan mengirim pesan kepada GreenEyes.“Bagaimana kencan butamu?”Tak lama kemudian, balasannya muncul di layar.“Lumayan.”Aku mengernyitkan dahi.“Bagaimana orangnya? Tampan?”Tanda tiga titik muncul di layar, menghilang, lalu muncul lagi. Beberapa detik kemudian, balasannya masuk.“Aku pikir pilihan Mama tidak buruk.”Aku tersenyum kecil.“Jadi dia tampan. Apakah dia pria Turki?”“Kenapa pria Turki? Dia orang Indonesia.”Aku terkekeh pelan sebelum kembali mengetik.“Maksudku, belakangan ini banyak pria Turki di Sydney. Oh, jadi dia orang Indonesia.”Kali ini Naomi tampaknya sedang mengetik cukup panjang. Aku menunggu hingga pesan b
Sesuai kesepakatan kami di kedai kopi, aku yang memilih tempat makan malam. Aku sengaja membawa Kinan ke sebuah kedai ramen kecil bergaya Jepang yang tersembunyi di dalam gang sempit. Tempat langgananku itu jauh dari kesan formal ataupun mewah. Aku ingin melihat apakah pria pilihan Mama yang selalu terlihat rapi dan karismatik ini bisa bertahan di tempat yang sedikit bising.Namun, reaksinya justru di luar dugaanku.Begitu kami menggeser pintu kayu tradisional, aroma kaldu gurih yang pekat langsung menyambut kami. Kinan melangkah masuk di belakangku tanpa sedikit pun menunjukkan rasa risih. Ia malah melepas jasnya dengan santai, menyisakan kemeja linen hitam dengan lengan yang tergulung hingga siku.Kami kemudian duduk di kursi kayu tinggi yang menghadap langsung ke arah koki yang sibuk menyiapkan pesanan.“Kau sering ke sini?” tanya Kinan sambil membersihkan sumpit bambunya dengan tisu. Gerakannya terlihat begitu alami dan tenang.“Aku sering kemari bersama seorang teman,” jawabku sam
Matahari baru saja tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit Sydney, tetapi bagiku hari kerja belum benar-benar berakhir. Sebagai Principal Architect di sebuah firma arsitektur terkemuka, sebulan ke depan aku harus fokus melakukan final review terhadap as-built drawing sebelum masa kontrakku berakhir.Sejak rencana pernikahanku batal, aku memilih memenuhi hari-hariku dengan pekerjaan. Pagi kuhabiskan di lapangan, sore hingga malam berlanjut di kantor. Setidaknya, selama sibuk, itu membantuku untuk mengalihkan pikiran. Sore itu, setelah tiba di rumahku di Ridge Street, North Sydney, aku mengembuskan napas panjang. Rumah ini dibeli oleh mendiang Aras Donmez.Untuk mengusir penat, sudah seminggu ini aku menggunakan aplikasi kencan anonim yang sedang tren bernama “TwinflameChat”. Aplikasi ini terasa lebih aman daripada yang pernah kugunakan sebelumnya. Aku tidak perlu memasang foto profil, menggunakan nama asli, ataupun mencantumkan jabatan. Semua pengguna dinilai hanya dari isi o
Aku berlari menyusuri koridor bersama Mr. Robinson dan Mr. Guntur. Langkah kaki kami menghentak lantai marmer. Di ujung koridor, aku melihat Dilara dan asisten pribadinya sedang berusaha melarikan diri.Ia bergerak cepat dan langsung mencengkeram kedua lengan Dilara yang meronta histeris.“Lepaskan aku, pria tua! Kau akan menyesal melakukan ini padaku!” teriak Dilara.“Aku akan menyesal jika tidak melakukannya, Nona,” jawab Mr. Robinson.Asisten Dilara mencoba menerjang ke arah kami, tetapi Mr. Guntur segera menghadangnya.Tanpa ragu, Mr. Guntur melayangkan pukulan ke rahang asisten Dilara. Perkelahian pun pecah. Ia mencengkeram kerah jas pria itu dan menjatuhkannya ke lantai, berusaha menahan setiap gerakannya.Perhatianku hanya tertuju pada pintu baja di hadapanku.Aku mendekat dan mengintip melalui kaca ventilasi kecil.Tubuh Naomi tergeletak di lantai.“Naomi!”Panik langsung menguasai pikiranku.Aku menarik pistol dari saku jas, lalu melepaskan tembakan ke arah kaca ventilasi.Do







