LOGINNaomi Saraswati, seorang arsitek yang telah menyerah pada cinta, tak pernah menyangka perkenalannya dengan seorang pria Turki bernama Attila melalui aplikasi kencan akan mengubah hidupnya. Ketika pria itu menghilang tanpa kabar, Naomi mengira dirinya hanya menjadi korban ghosting, tanpa mengetahui bahwa sebuah rahasia besar tentang identitas dan kematian tengah tersembunyi di balik layar ponselnya. Di saat masa lalu yang penuh luka kembali menghantuinya dan perasaan sahabatnya sendiri ikut mengusik hidupnya, Naomi dipaksa memilih antara terus terjebak dalam kenangan atau membuka hati untuk sebuah kesempatan baru. Namun, mampukah ia menerima kenyataan ketika akhirnya mengetahui siapa pria yang selama ini ia cintai?
View More“Anak Mama di rumah saja? Ini malam Minggu, lo,” tanya Mama sambil membuka pintu kamarku setengah bagian dan mengintip ke dalam.
“Semua malam sama saja, Ma,” koreksiku. “Mama bosan, ya, melihat Naomi di rumah?” tambahku dengan wajah memelas.
“Tentu saja Mama senang kalau anak Mama sering di rumah. Ada yang bantu mencuci piring.” Mama terkekeh. “Tapi Mama curiga, jangan-jangan kursi tamu kita sudah lupa rasanya diduduki calon menantu.”
Mama kemudian membuka pintu sepenuhnya, masuk ke dalam kamar, lalu duduk di sisi ranjang.
“Hmmm.”
Sudut bibirku yang semula terangkat perlahan turun. Jemariku mulai memainkan ujung selimut.
“Mama sampai bingung, yang trauma itu kau atau pintu rumah kita. Soalnya sama-sama susah dibuka.”
“Mama...”
Aku mengembuskan napas panjang sambil memutar bola mata.
“Suatu saat nanti, kau akan bertemu dengan seseorang yang tepat. Tapi kalau kau terus mengurung diri begini, kasihan jodohnya. Dia bisa nyasar ke rumah orang.”
Aku mengangkat tangan kanan ke kening seraya memberi hormat.
“Siap, Mama Bos!”
***
Peluh membasahi keningku. Langkahku tetap teratur di trotoar yang masih sepi, sementara napasku mulai terdengar lebih berat. Aku melirik smartwatch di pergelangan tangan kiri.
Pukul 06.03.
Masih tersisa dua puluh tujuh menit sebelum target pagiku selesai.
Getaran tiba-tiba terasa di pinggang. Aku berhenti, membuka running belt, lalu mengeluarkan ponsel. Nama Clara muncul di layar.
“Ya, Ra. Ada apa? Tumben pagi-pagi banget.”
“Giska menikah.”
Aku mengerutkan dahi.
“Menikah? Kok mendadak? Aku kira sepupunya.”
“Bukankah undangannya sudah dikirim tiga hari yang lalu?”
Aku menepuk dahiku pelan.
“Kau benar. Giska juga mengirimkannya kepadaku. Aku baru sempat membuka chat-nya.”
“Aku juga menerimanya, tapi lewat direct message. Sepertinya pernikahannya dibuat secara intimate. Oh, ya, calon suaminya orang Turki.”
“Turki?”
“Foto mereka ada di galeri undangan digital itu.”
Aku menatap layar ponsel beberapa detik.
“Bentar, deh. Aku lihat nanti. Aku mau lanjut jalan kaki dulu. Makasih infonya, Ra.”
“Anytime. See you. Jangan lupa, dress code-nya warna hijau.”
“Okay. See you.”
Pagi itu, kediaman Giska dipenuhi perpaduan warna merah marun dan emas. Kain sutra menjuntai dari langit-langit, bergoyang pelan tertiup hembusan pendingin ruangan. Aroma mawar dan marigold menguar dari rangkaian bunga di sekitar pelaminan.
Aku berdiri di antara para tamu sambil memandangi pelaminan. Gaun putih Giska berkilau terkena cahaya lampu kristal.
“Cantik sekali,” gumam Clara di sampingku.
Aku mengangguk pelan.
“Aku pikir dia akan memakai gaun pengantin Turki.”
“Mungkin susah mencari model seperti itu di kota kita,” jawab Clara. “Bukankah kau ikut mengurus dekorasinya?”
Aku menatap susunan bunga di pelaminan. Aku mengenali setiap detailnya, letak mawar, warna pita, sampai bentuk lengkungannya.
“Aku hanya memastikan semuanya sesuai permintaan Giska. Tapi dia tidak pernah bilang kalau ini pernikahannya sendiri.”
Clara mendekat sedikit.
“Katanya mereka kenalan dari aplikasi kencan.”
Jari yang memegang tas kecil berhenti bergerak.
“Aplikasi kencan?”
“Mereka saling mengenal selama tiga tahun.”
“Tiga tahun?” Aku mengangkat alis. “Berarti mereka pernah bertemu sebelumnya?”
Clara menggeleng.
“Hari ini pertemuan pertama mereka.”
Aku menatap pelaminan lebih lama dari sebelumnya. Di atas sana, Giska tersenyum sambil menggenggam tangan pria yang menatapnya sambil tersenyum.
“Kau terlihat seperti baru mendengar berita paling aneh di dunia,” kata Clara sambil tertawa kecil.
Aku ikut tertawa pelan.
“Mungkin memang begitu.”
Malam harinya, aku duduk bersila di atas ranjang. Aku menunggu hingga bilah unduhan mencapai seratus persen. Ikon aplikasi kencan muncul di layar ponselku. Jemariku menggantung beberapa detik di atas tombol Create Account sebelum akhirnya menekannya.
“Tidak harus cari jodoh,” gumamku pelan. “Anggap saja latihan bahasa Inggris.”
Beberapa menit setelah profilku aktif, notifikasi mulai bermunculan tanpa henti. Satu, lima, sepuluh, lalu puluhan.
Aku membuka foto profilku sendiri, foto lama yang diambil pada tahun 2018. Perempuan berhijab merah muda pastel di dalamnya tersenyum begitu bahagia.
Kupandangi cukup lama hingga layar ponsel meredup dengan sendirinya. Aku baru tersadar ketika pantulan wajahku sendiri menggantikan foto itu di layar yang menghitam.
“Kau hanya sendirian di foto itu. Jadi, tidak masalah,” gumamku, seolah sedang meyakinkan diriku sendiri.
Keesokan harinya, muncul pesan lain.
Where are you from?
Hari berikutnya, akun berbeda kembali mengirimkan pesan.
You look beautiful.
Lalu akun lain menyusul.
Hey... are you from Indonesia?
Suatu malam, aku kembali mencoba menghubungi seorang pria Pakistan yang sudah dua bulan mengobrol denganku. Panggilan itu tak pernah tersambung. Aku melirik jam di pergelangan tangan. Lagi-lagi pada jam yang sama.
Sampai akhirnya aku menemukan akun media sosial pria itu. Jemariku terhenti ketika melihat sebuah foto keluarga. Pria yang selama ini mengaku lajang itu berdiri di samping seorang wanita berhijab yang sedang menggendong anak kecil.
Aku menutup aplikasi perlahan.
“Pantas saja,” gumamku.
Belum lama berselang, seorang pria yang mengaku tinggal di Arab Saudi menghubungiku.
“Aku akan memberikan apa pun yang kau butuhkan. Katakan saja berapa biayanya. Atau, jika kau tidak ingin berpacaran, kita bisa melakukan nikah mut'ah. Setelah seminggu, aku akan pulang ke negaraku.”
“Sepertinya Anda salah paham, Tuan. Anda mencari di tempat yang salah.”
Balasan masuk lagi.
“Setidaknya mari kita melakukan video call sx*...”
Aku menekan ikon tiga titik di sudut layar, lalu memilih Unmatch.
Ruang obrolan itu langsung menghilang.
Beberapa hari kemudian, kubiarkan langganan premium habis begitu saja. Kubuka aplikasi itu sekali lagi. Hanya beberapa swipe request yang tersisa. Aku tidak bisa lagi melihat siapa saja yang menyukai profilku.
Aku tersenyum tipis, lalu menutup aplikasi tanpa membaca satu pun notifikasi. Kulettakkan ponsel terbalik di atas meja. Aku memejamkan mata sejenak. Di balik kelopak mataku, sebuah kalimat yang pernah kubaca perlahan melintas.
Apa yang ditakdirkan untukmu akan menemukan jalannya kepadamu, dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan pernah menjadi milikmu.
***
“Di mana kau belajar bahasa Jepang?”
Begitulah isi pesan yang kuterima.
Sampai akhirnya, sebuah notifikasi muncul. Seseorang memanfaatkan fitur pujian pada aplikasi kencan untuk mengirimkan pesan kepadaku. Pemilik akun premium.
Kubuka profil pria itu. Jemariku menggulir layar perlahan, membaca setiap keterangan yang tertera.
Granville, Australia. Foto seorang pria dengan efek greyscale. Usia empat puluh lima tahun. IT Engineer. Beribadah sesekali.
Aku kembali ke bagian atas profil, lalu mengamatinya sekali lagi. Hanya beberapa foto yang terpajang. Biodatanya pun singkat, tanpa deretan kalimat panjang atau hiasan emoji.
Jemariku berhenti di layar.
Profil itu mengingatkanku pada profilku sendiri.
“Di mana Attila Dönmez?”Aku menoleh ketika seorang perempuan baru saja menduduki kursi CEO. Ia menyilangkan kaki dengan santai, seolah kursi itu memang miliknya.“Nona Dilara, mengapa tidak memberi tahu saya kalau Anda akan berkunjung ke kantor hari ini?” tanyaku, berusaha menjaga nada bicara tetap tenang.Ia menyandarkan tubuhnya.“Apakah aku harus memberitahukanmu? Terserah aku mau datang kapan saja.”Aku menahan napas sejenak.“Di mana Attila, Pak Robinson?” tanyanya lagi.“Tuan Attila sedang ada urusan di luar kantor.”“Apakah dia sedang melakukan kunjungan ke lokasi proyek?”“Tuan—”Aku mengurungkan kalimatku. Tatapan Dilara membuatku memilih kata-kata dengan hati-hati.“Saya akan menghubungi Tuan Attila untuk memberitahukan bahwa Nona Dilara sedang mencarinya.”“Itu tidak perlu.” Ia bangkit dari kursi. “Aku ini calon istrinya. Sudah sewajarnya aku menemuinya.”“Tapi, Nona—”“Antarkan aku sekarang.”Nada suaranya berubah tegas hingga membuatku tak punya alasan untuk menolaknya.
Aku berjalan melewati barisan kolom yang baru mengering, mengamati para pekerja yang mulai menurunkan palet-palet material dari truk. Perempuan berhijab ungu itu berjalan beberapa langkah di belakang Naomi sambil mengetuk-ngetukkan pena pada papan jalan, sepertinya sedang mencatat beberapa poin penting.“Fondasi sudah stabil setelah injeksi semen kemarin,” kata Naomi. Suaranya sedikit bergema di ruang utama masjid yang dindingnya belum terpasang sepenuhnya. “Instalasi pipa air wudu juga sudah rapi.”Ia mendongak ke arah seorang tukang yang mengenakan full body harness. Pria itu berdiri di atas perancah, mulai menyusun blok-blok AAC pada ketinggian empat meter.Namun, cuaca North Sydney memang sulit ditebak. Tak lama kemudian, angin kencang khas pesisir berembus menerobos bagian bangunan yang masih terbuka.Susunan dinding AAC yang belum kering sempurna itu bergoyang.Aku melihatnya sesaat sebelum semuanya terjadi.Blok-blok beton ringan itu roboh dari atas perancah, meluncur ke arah Na
Pukul 08.45 pagi di North Sydney selalu menjadi waktu paling gila. Gelombang manusia berdasi dan berblazer hitam mengalir cepat dari Stasiun North Sydney, bergegas memasuki gedung-gedung kaca pencakar langit. Di lantai dasar, tak jauh dari lobi megah gedung 100 Mount Street, aroma biji kopi yang dipanggang dari sebuah kedai menyeruak, menjadi bahan bakar wajib bagi para pekerja korporat sebelum memulai hari.Aku setengah berlari keluar dari kedai kopi itu. Tangan kiriku menjepit bundelan kertas yang harus kuserahkan kepada Managing Director dalam rapat pukul 09.00. Sementara itu, tangan kananku menggenggam segelas besar espresso. Pikiranku masih dipenuhi hasil survei lapangan sehari sebelumnya.Aku tak sempat memperhatikan jalan di depanku. Mataku terpaku pada jam tangan digital.Sial, tinggal lima belas menit sebelum lift akses cepat ke lantai atas mulai penuh sesak.Di saat yang sama, seorang pria baru saja mundur dari konter pengambilan pesanan yang berada di dekat pintu keluar.Bra
“Sara, lama tak berjumpa. Aku dengar kau baru pulang dari Turki. Bagaimana kabarmu?” Nada suaranya tenang seperti biasa.“Mengapa kau ingin bertemu? Kau punya nyali juga setelah kusiram air panas.”“Sara, aku tidak pernah membencimu. Kau tentu tahu itu. Oh, ya, aku ingin menunjukkan sesuatu.”Pria dengan luka di punggung tangan kanannya itu mulai membuka galeri foto di ponselnya, lalu menyodorkannya kepadaku.Aku terkejut hingga spontan menutup mulut.Aku mengenali tulisan tangan itu. Tulisan Clara.Jadi, isu mengenai dirinya yang lesbian itu benar? Dia sudah memiliki perasaan kepadaku sejak kami duduk di bangku SMA.“Di mana diary-nya?” tanyaku dengan suara gemetar.“Aku tidak tahu. Wendy menemuiku di rumah. Aku hanya mengambil foto ini sebagai bukti. Aku juga ingin menanyakan soal CCTV di ruang rahasia milik Wendy. Apakah kau pernah masuk ke sana?”“Tidak. Aku belum pernah masuk ke ruangan itu. Hanya Erul yang pernah masuk ke sana karena dialah yang menemukan jasad Wendy.”“Jadi, Eru
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore