“Anak Mama di rumah saja? Ini malam Minggu, lo,” tanya Mama sambil membuka pintu kamarku setengah bagian dan mengintip ke dalam.“Semua malam sama saja, Ma,” koreksiku. “Mama bosan, ya, melihat Naomi di rumah?” tambahku dengan wajah memelas.“Tentu saja Mama senang kalau anak Mama sering di rumah. Ada yang bantu mencuci piring.” Mama terkekeh. “Tapi Mama curiga, jangan-jangan kursi tamu kita sudah lupa rasanya diduduki calon menantu.”Mama kemudian membuka pintu sepenuhnya, masuk ke dalam kamar, lalu duduk di sisi ranjang.“Hmmm.”Sudut bibirku yang semula terangkat perlahan turun. Jemariku mulai memainkan ujung selimut.“Mama sampai bingung, yang trauma itu kamu atau pintu rumah kita. Soalnya sama-sama susah dibuka.”“Mama...”Aku mengembuskan napas panjang sambil memutar bola mata.“Suatu saat nanti, kau akan bertemu dengan seseorang yang tepat. Tapi kalau kamu terus mengurung diri begini, kasihan jodohnya. Dia bisa nyasar ke rumah orang.”Aku mengangkat tangan kanan ke kening seray
Last Updated : 2026-07-09 Read more