Share

Bab 168

Author: Wei Yun
last update publish date: 2026-05-03 16:11:04

Malam merayap semakin larut di markas Gunung Yu. Aroma tanah basah dan sisa asap yang menempel di pakaian para prajurit perlahan memudar, digantikan oleh suara jangkrik yang sahut-menyahut. Seluruh Pasukan Bandit Gunung Yu telah kembali ke markas.

Di dalam kamar Ketua, udara terasa begitu kaku, seolah-olah ketegangan siang tadi belum sepenuhnya menguap. ​Liya berdiri mematung di dekat meja kayu, tangannya gemetar saat menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen. Di belakangnya, ia bisa men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 170

    Matahari sudah merangkak tinggi, cahayanya menembus celah-celah kisi jendela paviliun dan jatuh tepat di atas wajah Liya. Ia mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang terasa tertinggal di alam mimpi. Ketika ia mencoba menggerakkan bahunya untuk meregangkan tubuh, rasa ngilu yang luar biasa menjalar dari pinggang hingga ke seluruh persendiannya. Tubuhnya terasa seolah baru saja dipaksa menempuh perjalanan ribuan mil tanpa henti. ​"Oh, Xuan ... kau benar-benar binatang buas," gumam Liya dengan suara parau. ​Ia menyingkap selimut sutranya sedikit dan mendesah pasrah. Di bawah cahaya pagi yang terang, tanda-tanda merah keunguan berserakan di leher, bahu, hingga dadanya, jejak-jejak absolut dari kegilaan suaminya yang seolah ingin membalas dendam atas tiga tahun pernikahan yang hambar hanya dalam satu malam. ​Tok, tok, tok. ​"Nyonya, ini Xiao Cui. Hamba diminta membangunkan Nyonya karena matahari sudah tinggi. Hamba juga sudah menyiapkan air hangat untuk Nyonya berendam,

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 169

    Cahaya lilin di sudut ruangan berkedip lemah, seolah malu menyaksikan dua tubuh yang kini saling membelit di atas dipan kayu yang berderit keras. Udara di dalam kamar terasa semakin tipis, dipenuhi oleh aroma balsem herbal yang bercampur dengan hawa maskulin Long Xuan yang membakar.​Tangan Xuan yang kasar namun penuh perasaan merayap perlahan dari pinggang menuju punggung polos Liya. Ia menarik tubuh istrinya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Liya bisa merasakan detak jantung Xuan yang berdebar kencang, seirama dengan degup jantungnya sendiri yang seakan ingin melompat keluar.​Xuan menjauhkan wajahnya sejenak, menatap Liya dengan tatapan yang sangat intens. "Apakah kau yakin, Shishi? Aku tidak ingin memaksamu jika kau belum siap. Kau nanti akan menanggung penyakit Darah Iblis juga."​Liya menggeleng, jemarinya menyusup ke sela-sela rambut hitam Xuan yang lembap, menarik pria itu kembali mendekat. "Jangan berhenti ... aku ingin menjadi milikmu seutuhnya malam ini. Aku tidak

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 168

    Malam merayap semakin larut di markas Gunung Yu. Aroma tanah basah dan sisa asap yang menempel di pakaian para prajurit perlahan memudar, digantikan oleh suara jangkrik yang sahut-menyahut. Seluruh Pasukan Bandit Gunung Yu telah kembali ke markas. Di dalam kamar Ketua, udara terasa begitu kaku, seolah-olah ketegangan siang tadi belum sepenuhnya menguap. ​Liya berdiri mematung di dekat meja kayu, tangannya gemetar saat menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen. Di belakangnya, ia bisa mendengar derap langkah Long Xuan yang berat. Pria itu baru saja selesai membersihkan diri di sungai, rambutnya yang hitam panjang masih tampak lembap, menjuntai di bahunya yang lebar. ​"Minumlah," ujar Liya pendek tanpa menoleh. Suaranya dingin, sedingin embun malam di puncak gunung. ​Long Xuan menerima cangkir itu, menyesapnya perlahan sambil matanya terus mengunci punggung istrinya. "Terima kasih, Shishi." ​Liya tidak menyahut. Ia melangkah ke lemari kayu, mengambil setelan jubah tidur yang b

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 167

    Langit Desa Qing Lu yang biasanya biru jernih kini tertutup jelaga kelabu yang menyesakkan dada. Aroma kayu terbakar dan jerit histeris penduduk desa memecah keheningan siang. Long Xuan, dengan wajah yang tercoreng abu dan pakaian yang sudah basah kuyup, berdiri di tengah kekacauan, memerintah pasukannya dengan suara yang menggelegar namun tetap tenang. ​"Wan Yi, bawa beberapa orang! Bantu padamkan api di sebelah sana sebelum merembet ke lumbung!" teriak Xuan sambil menunjuk sebuah rumah di ujung jalan yang sudah dilalap si jago merah. ​"Siap, Ketua!" Wan Yi menyahut lantang, segera memimpin sekelompok pria berbaju gelap menuju rumah tersebut. Penduduk desa bahu-membahu dengan para bandit Gunung Yu, mengalirkan air dari sumur-sumur terdekat menggunakan ember kayu. ​Telinga Xuan yang tajam tiba-tiba menangkap suara lirih di tengah deru api. Sebuah teriakan melengking dari dalam rumah yang atap ilalangnya sudah hampir runtuh sepenuhnya. ​"Ketua, sangat berbahaya jika kita masuk se

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 166

    Liya terus mundur hingga punggungnya membentur batang bambu yang dingin dan licin. Parang di tangannya terlepas, jatuh ke atas tumpukan daun kering dengan suara dentang yang hambar. Ia menatap Long Xuan—pria yang semalam membanting cangkir di depannya—kini berdiri hanya beberapa jengkal darinya dengan pedang yang masih meneteskan darah babi hutan.​"Kenapa kau mundur?" tanya Long Xuan, suaranya kini tidak lagi menggelegar, namun justru terdengar berat.​Liya memalingkan wajah, matanya memanas. "Bukankah kau bilang tidak ingin berbicara denganku? Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan agar tidak perlu memintamu melakukan apa pun."​Long Xuan menghela napas kasar. Ia menyarungkan pedangnya dengan sentakan keras, lalu menatap tajam pada lima prajurit yang berdiri kikuk beberapa meter dari mereka. "Kalian berlima, potong bambu-bambu ini sesuai tanda yang dibuat Nyonya. Bawa semuanya ke dekat saluran air sungai sebelum matahari tepat di atas kepala!"​"Siap, Ketua!" Para prajurit itu

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 165

    Sinar matahari pagi menyusup melalui celah jendela kayu, menyentuh wajah Liya yang sembap. Ia mengerjapkan mata, mendapati sisi tempat tidur di sampingnya masih rapi dan dingin. Long Xuan benar-benar tidak kembali semalaman. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara denting logam yang beradu dan teriakan komando yang tegas.​Liya menghela napas panjang. Ia tahu suaminya sedang menumpahkan seluruh kemarahannya pada latihan pedang di lapangan. "Setidaknya dia masih punya energi untuk berlatih," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menghibur hati yang lara.​Sebagai seorang istri yang terbiasa hidup mandiri dan praktis, Liya tak ingin berlarut dalam kesedihan. Ia sadar telah memicu prahara, namun ia juga tahu bahwa kebutuhan pangan di markas Gunung Yu tidak bisa menunggu kemarahan Xuan mereda. Dengan persediaan yang makin menipis, Liya telah merancang sistem hidroponik sederhana untuk membuat kebun sayur-mayur.​"Aku butuh saluran air untuk mengairi tanamannya. Bambu adalah kuncinya,"

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 33

    "Nona Lin sungguh murah hati," sahut Liya. Suaranya tetap manis, namun kini setajam pisau yang baru diasah. "Namun, urusan internal kediaman adalah tanggung jawabku sebagai istri sah. Nona Lin adalah tamu agung, dan sudah menjadi tugasku untuk memastikan tamu merasa nyaman tanpa perlu membebani den

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 26

    Kereta kuda dengan lambang keluarga Adipati Long berhenti tepat di depan gerbang utama Akademi Shin Yue. Suasana di depan akademi yang biasanya riuh oleh kedatangan putra-putra pejabat itu mendadak senyap. Para pelayan dan pengawal yang sedang menurunkan tuan muda mereka terpaku, sementara anak-ana

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 31

    Setelah pemeriksaan berakhir, meskipun kehangatan fajar telah menyentuh kulitnya, Liya merasa atmosfer di ruangan itu mulai menyempit. Baginya, Paviliun Phoenix adalah singgasana yang terlalu megah sekaligus mengintimidasi.​"Aku sudah jauh lebih baik, Xuan. Suhu tubuhku sudah normal sepenuhnya. Ta

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 30

    ​Malam semakin larut di Paviliun Phoenix, namun atmosfer di dalamnya terasa pekat oleh ketegangan yang tak kasatmata. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan hanya dipecah oleh suara napas yang mulai beraturan dan gemeretak kayu bakar dari tungku di sudut ruangan. ​Long Xuan tetap terjaga. Meski

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status