MasukVivienne, omega wanita yang mencintai kebebasan, tiba-tiba dinyatakan hamil oleh benih kasta Alpha yang hanya dimiliki tiga penguasa paling berbahaya di kerajaan. Ia kini terpaksa bermain api dengan Pangeran Mahkota Sebastien yang gila, Marquiss Natan sang pengamat dingin, dan Duke Benjamin yang haus kepemilikan mutlak. "Lari saja sesukamu, tapi pada akhirnya, hanya aku yang membuatmu bertekuk lutut," bisik Sebastien tepat di telinganya. Akankah dia berhasil menaklukkan para penguasa sebelum rahasianya terbongkar?
Lihat lebih banyak“Vivienne Roshchild, positif hamil tiga bulan.”
Vivienne menatap nanar kertas hasil laboratorium itu.
Sejak malam tiga bulan lalu, dunianya seolah jungkir balik dan kini berubah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Ia meremas kertas itu sampai hancur dalam kepalan tangannya, lalu menyembunyikannya di balik mantel saat langkahnya memasuki bar remang-remang yang eksklusif di sudut kota.
Dia tidak punya waktu untuk menangis. Bayangan ayahnya—sang Duke bermata merah yang tidak mengenal ampun—terus menghantui, seolah-olah ujung pedang sudah menempel di lehernya.
Jujur berarti mati, tapi diam pun hanya menunda eksekusi.
"Satu gelas kir á la mûre," ucapnya pelan pada barista tanpa menatap wajah pria di balik meja itu.
Sambil menunggu minumannya, Vivienne menatap kosong ke arah deretan botol alkohol yang berkilau terkena lampu redup.
Ingatannya kembali ke malam pesta besar di kediaman Marquiss tiga bulan lalu. Ia ingat betapa sesaknya gaun yang dia kenakan, betapa membosankannya obrolan politik para bangsawan, dan bagaimana dia merasa sangat haus setelah berdansa.
Sialnya—mungkin saja ia tidak sengaja meminum segelas minuman yang ia pikir hanya jus buah biasa, namun seusai meminumnya, kepalanya pusing, tubuhnya panas, dan ingatan selanjutnya hanya potongan-potongan buram yang menghancurkan hidupnya.
Otaknya bekerja keras membedah sisa-sisa memori tentang malam itu.
Demi Tuhan, ini anak siapa? batinnya berteriak frustrasi, tangannya gemetar kecil di atas meja kayu yang dingin.
Marquiss dari Fontainebleau, Duke dari Chambord, atau Pangeran Mahkota?
Hanya tiga pria bangsawan itu yang secara biologis sanggup membuahinya.
Sebagai seorang Omega wanita yang terlahir dengan kutukan darah ilahi seperti neneknya, tubuhnya memiliki pertahanan alami yang hanya bisa ditembus oleh Alpha—kasta tertinggi dalam tatanan ras manusia serigala.
Masalahnya, alkohol dan obat sialan malam itu benar-benar menghapus detail wajah sang pria, hanya menyisakan aroma pria itu yang tersimpan dalam ingatannya.
Gelas berisi cairan ungu gelap itu diletakkan di depannya. Vivienne sempat ragu, jemarinya mengusap pinggiran gelas dengan gelisah.
"Ini tidak apa-apa, kan?" gumamnya lirih, bertanya pada dirinya sendiri.
Si bartender yang sedang mengelap gelas hanya melirik sekilas. "Lady, apa mau saya gantikan jus?"
Ia menggeleng kecil dan mengibaskan tangannya untuk membiarkan.
Ia tertawa getir. Tangannya bergerak menyentuh perut yang masih rata, "Tapi kalau dia tahu, aku tidak akan sempat melihat anak ini lahir. Mati di tangan ayah sendiri itu pilihan yang ….. baik sekarang."
Vivienne menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Ia tidak mau hanya diam. Satu dari tiga pria itu harus bertanggung jawab, atau setidaknya, memberikan jawaban atas apa yang terjadi.
Baru saja dia hendak menyesap minumannya, tiba-tiba suhu di ruangan itu seolah merosot drastis.
Keramaian yang tadi bising mendadak senyap. Vivienne merasakan tekanan feromon yang sangat kuat menyapu ruangan, membuat bulu kuduknya berdiri. Tekanan itu hanya bisa berasal dari Alpha.
“Mereka datang,” bisik riuh orang-orang disekitarnya, suaranya kini mengandung nada waspada.
Dua pria dengan fisik yang mendominasi masuk melalui pintu utama. Di sebelah kiri—Lord Lucien du Lys de Bellange, kakak kandung Vivienne. Beta dengan rambut hitam legam dan kulit tan. Namun, bukan Lucien yang membuat napas Vivienne tercekat.
Natan d’Vent-Blanchefort, Marquiss dari Fontainebleau, berdiri di sebelah Lucien.
Pria itu lebih tinggi dari kakaknya, menjulang di atas kerumunan seperti pemangsa puncak.
Namun, yang membuat jantung Vivienne berdetak tidak beraturan adalah perubahan penampilannya. Natan yang biasanya identik dengan warna merah, kini tampil dengan rambut berwarna biru abu-abu.
Vivienne berusaha untuk tidak memikirkannya, tapi warna biru abu-abu itu—persis dengan warna rambut pria yang menghabiskan malam bersamanya tiga bulan lalu.
Vivienne terpaku. Ia tidak bisa bergerak saat Natan mulai melangkah lurus ke arahnya. Setiap langkah sepatu bot pria itu di atas lantai marmer terdengar seperti dentuman drum di telinga Vivienne.
“Lady Vivienne.”
Suara itu penuh perintah. Natan mengulurkan tangannya yang besar ke arahnya. Tanpa pilihan lain, Vivienne menyambut tangan itu. Jemari Natan yang kokoh melingkari jemarinya, memberikan sensasi panas yang tidak asing.
Natan menarik tangannya sedikit lebih dekat, lalu mencium punggung tangannya dengan tatapan yang terkunci rapat pada matanya. Bentuk sapa, atau lebih tepatnya godaan iman bagi wanita di luar sana.
“Senang bertemu dengan Anda,” ucap Natan.
Vivienne memberikan hormat dengan kaku, mencoba sekuat tenaga menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar. “Sebuah kehormatan, Yang Mulia.”
Natan tidak melepaskan genggamannya. Pria itu justru sedikit merunduk, mendekatkan wajahnya ke samping telinga Vivienne. Aroma hutan pinus dan badai yang keluar dari tubuh Natan seketika memicu memori yang selama ini terkunci di kepala Vivienne.
Dengan seringai tipis yang hanya ditujukan untuknya, Natan berbisik. “Saya harap Anda tidak melupakan malam itu.”
Sebastien mengayunkan langkah menuruni anak tangga menuju ruang perjamuan, bersama dua ekornya. Dia memakai setelan kemeja putih longgar yang memperlihatkan dada, rompi berwarna biru tua, dan celana hitam.Di seluruh penjuru ruangan, mata-mata penuh kuasa mengikuti setiap gerakannya. Dia tersenyum ringan menanggapi sapaan mereka, sesekali turut membungkukkan badan sebagai rasa hormat pada yang lebih berpengalaman."Yang Mulia, beliau ini adalah Marquiss La bussiere," kata Darrel, menunjuk pria berkumis tebal melengkung ke bawah seperti walrus. "Dia di minta secara langsung oleh Patriarch sebagai saksi utama Anda selain Duke Chambord dan Marquiss Fontainebleau."Mata tajam Sebastien menatap lekat pria itu—cukup lama—seolah sedang mengingat-ingat. "Tuan... Audric, sebuah kehormatan bagi saya atas bantuan Anda," ucapnya pada akhirnya.Tuan Audric menggeleng pelan. "Tidak, Yang mulia." Lantas dia membungkuk dengan penuh hormat. "Kehormatan ini sepenuhnya milik saya, karena menerima kemul
Sebastien bersimpuh di tengah garis lingkar yang terbuat dari campuran jerami kering yang dipadatkan dan bunga marigold putih yang dirajut sebentuk mahkota.Kelima Elders berdiri mengelilingi altar dengan mata tertutup dan obor di kedua tangan. Sementara Kaisar, Duke, Marquiss, dan tujuh bangsawan tinggi lainnya, membentuk formasi melingkar di bagian paling luar altar batu—memakai kain hitam penutup wajah dan jubah putih yang kontras.Hening menggantung berat di tempat itu, hingga Tetua Agung membuka ritual dengan untaian mantra kuno:"O GLORIEUSE THEMIS!"[Wahai Themis yang terhormat dan dimuliakan.]"O Juge, ne et mort sous les cieux divins, contemple notre danse pour toi sur autel sacre... "[Sang pengadil lahir dan mati dari langit ilahi, saksikanlah tarian kami untukmu di altar suci ini.]Lalu petikan pertama Khitara dari para pengiring doa mengalun pelan bersama gemerincing gelang kaki para Elders, dan dentingan pedang perak yang dihunuskan oleh para saksi."Faites descendre les
Duduk di tepian gerobak pedagang gandum dengan kaki menggelantung, dan jemari mencekam erat papan kayu yang memikul bekas perjalanan waktu. Sepanjang perjalanan ke Chantilly, pikiran vivienne belum benar-benar beranjak dari pertemuannya dengan Nathan. Kalimat-kalimat ganjil yang diucapkan pria itu terus menghantui benaknya.'Kamu sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi, tapi bisa berkata Benjamin adalah ayah anak dalam kandungan...''Kamu yakin dia ayahnya?'Dia seharusnya mengabaikan segala perkataan yang keluar dari mulut penuh dusta itu. Namun kenyataannya, semakin dia mencoba menyingkirkannya, semakin resah itu merayap mengusik kepercayaan yang selama ini dia yakini.Menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sebenarnya masih ada banyak pertanyaan yang ingin dia tahu kebenarannya. Tetapi pria itu bergegas pergi dengan membawa serta semua jawaban yang belum sempat dia minta, seolah-olah sengaja menggantungkannya dalam ketidakpastian.Menjatuhkan pandangan pada padang zamrud tak bert
Mata Vivienne melebar dalam keterkejutan ketika Natan menggigit bibir bawahnya. Melepas cengkramannya dari kerah seragam, dia mendorong dada pria itu hingga ciuman mereka terputus secara paksa."Bajingan, berani sekali kau menciumku!" makinya hendak melayangkan pukulan ke hidung, sayangnya, pria itu lebih cepat—menggenggam pergelangan tangannya."Jangan sering-sering berbicara kasar, tidak baik untuk bayimu," kata Natan memaku tatapannya pada manik pucat, bagai cahaya bulan yang dibiaskan melalui kristal.Alis Vivienne menukik tajam. "Tidak usah berlagak peduli. Beritahu saja semua yang kau tahu. Sekarang juga.""Aku sudah bilang..." Dia mencium telapak Vivienne. "Tidak ada yang gratis."Rahang Vivienne mengencang. Dia menggoyangkan tangannya beberapa kali, berusaha menyentaknya, akan tetapi genggaman itu tidak bergeming."Sialan," makinya. Rona merah menjalar dari leher hingga telinga seiring amarah mendidih. "Katakan saja, apa malam itu kau melihatku bersama seorang pria?"Natan terd






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan