Chapter: Bab 77 - Kedatangan yang Tidak DiundangCahaya fajar menerobos lewat celah jendela kayu Paviliun Bukit Minglian, membiaskan sinar keemasan yang hangat di atas lantai porselen. Lian Xue perlahan membuka matanya. Ia menghela napas panjang, tertegun merasakan kesegaran yang mendadak melingkupi seluruh tubuhnya. Rasa kebas, sendi yang ngilu, serta rasa terbakar akibat demam dan flu yang menyiksanya semalam kini telah lenyap tanpa bekas. Lian Xue mendudukkan tubuhnya di atas ranjangnya, memandangi telapak tangan kanannya yang terhampar kosong. Ia meraba permukaan kasur di sampingnya yang telah dingin. Ada kehangatan asing yang mendadak hilang dari genggaman jarinya. Pintu kamar terbuka pelan. A'Ning melangkah masuk membawa baki berisi cawan air hangat dan kain bersih. Begitu matanya menangkap sosok Lian Xue yang sedang duduk tegak, dayang setia itu mendadak menghentikan langkahnya, matanya membelalak penuh kejutan. "Putri!" seru A'Ning terperanjat, bergegas meletakkan baki di meja rias. "Bagaimana keadaan Putri? Semalam
Last Updated: 2026-09-02
Chapter: Bab 76 - Penawar SepiSudah tiga hari Lian Xue mengasingkan diri di Bukit Minglian. Namun, bukannya ketenangan yang didapat, bayangan wajah tegas dan mata elang Shen Yang justru kian gencar bergentayang di benaknya. Siang itu, puncak kekesalannya membuncah. Lian Xue yang kehilangan kendali emosi membanting cangkir porselen hingga hancur berkeping-keping. "Kenapa wajah pria kaku itu terus muncul di kepalaku?!" desisnya murka pada kesendiriannya. Namun, saat berniat membereskan pecahan porselen itu, ujung jarinya tergores tajam hingga menyebarkan pendar darah segar di atas lantai. Melihat junjungannya yang kian tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan, A'Ning yang tak tega. Ia berinisiatif mengajak Lian Xue melangkah keluar. "Putri, mari kita mencari bunga liar di lereng bukit. Udara luar mungkin bisa sedikit menyegarkan pikiranmu," bujuk A'Ning lembut. Lian Xue akhirnya mengangguk pasrah. Sayangnya, takdir seolah tak berpihak padanya. Baru saja mereka sampai di jalan setapak lereng bukit, lang
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: Bab 75 - Kebenaran yang MenyakitkanMatahari siang merambat naik di atas atap-atap Istana namun kehangatannya tak sedikit pun menyentuh dingin yang membeku di dalam Paviliun Yue Hua. Lian Xue duduk membisu di dekat meja teh, memandangi cangkir porselen yang airnya telah dingin sejak dua jam lalu. Paras ayunya pucat, sementara lingkar kehitaman di bawah matanya tak sanggup disembunyikan meski A'Ning telah memoleskan bedak tipis.Keheningan pecah ketika A'Ning melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Derap langkah kaki dayang setia itu terdengar panik, raut wajahnya diliputi keterkejutan yang amat sangat."Putri!" seru A'Ning seraya berlutut di hadapan Lian Xue, suaranya bergetar hebat. "Ada ... ada kabar dari Paviliun Yang Hua."Lian Xue menegakkan punggungnya, berusaha memulihkan kedinginannya yang tersisa. "Kabar apa lagi yang berembus dari paviliun Selir Wang?""Selir Wang jatuh sakit keras sejak pertengahan hari tadi, Putri!" jawab A'Ning cepat. "Tabib istana dikirim ke sana karena beliau mengalami demam tinggi da
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Bab 74 - Harga Sebuah SandiwaraSuara derap langkah kaki Lian Xue menyapu lorong beratap Paviliun Yue Hua dengan terburu-buru. Sesampainya di kamarnya, ia mendorong pintu kayu tebal dan menutupnya rapat-rapat. Lian Xue menyandarkan punggungnya di balik pintu, dadanya naik-turun memburu hebat. Telapak tangan kanannya masih menyengat panas—bekas tamparan keras yang ia layangkan tepat di pipi tegap Shen Yang. A'Ning yang bergegas mendekat dengan jubah bulu hangat terhenti seketika saat melihat binar mata sang Putri yang berkaca-kaca serta perawakannya yang gemetar. "Putri ...," panggil A'Ning panik. "Apa yang terjadi? Wajah Putri—" "Tinggalkan aku sendiri, A'Ning," potong Lian Xue, suaranya parau dan hampir pecah. "Kunci pintu luar. Siapa pun ... siapa pun tidak boleh masuk malam ini." A'Ning membelalak halus, namun melihat ketegangan hebat yang meliputi junjungannya, ia hanya mampu membungkuk dalam lalu menyelinap keluar dengan seribu pertanyaan yang tertahan. Begitu keheningan malam melingkupi ruangan se
Last Updated: 2026-08-30
Chapter: Bab 73 - Percikan Api SandiwaraKeheningan seketika melingkupi kamar utama Paviliun Yang Hua setelah pintu kamar Selir Wang tertutup rapat. Bau harum racikan herbal yang tumpah di atas lantai porselen bercampur dengan aroma minyak wijen yang membakar pelan di sudut ruangan. Lian Xue masih berada dalam posisi duduk di atas pangkuan tegap Shen Yang dengan gaun sutra mewahnya yang terhampar. Namun, begitu bayangan Wang Xu Lin menghilang, ketenangan palsu yang ditunjukkannya seketika runtuh. Dadanya naik-turun cepat, mencoba menata kembali deru napasnya yang memburu. Setiap hembusan napasnya serasa menyulut rasa panas yang masih menyisakan bekas di bibirnya yang sedikit membengkak. Tidak, aku tidak boleh terbawa perasaan, batin Lian Xue sambil berusaha meredakan debaran hebat dan gejolak asing yang merayapi seluruh persendiannya. Rencana awalnya amat sederhana dan dingin. Ia menggunakan keintiman palsu untuk meremukkan keangkuhan Wang Xu Lin, membalas taktik busuk wanita itu, dan mengusirnya dari ruang utama
Last Updated: 2026-08-29
Chapter: Bab 72 - Ciuman di depan SelirMalam makin merambat meninggalkan desir angin dingin yang terus menggesek ranting bambu di luar Paviliun Yang Hua. Di dalam kamar utama, pendar lilin minyak wijen membiaskan bayangan bertumpuk di dinding porselen. Tumpukan berkas rahasia Biro Penyelidik mengepung meja kerja panjang yang sengaja ditata di tengah ruangan. Di sudut ruangan, Wang Xu Lin berdiri dengan jemari gemetar, memegang alu batu sambil menumbuk daun herbal pahit di atas cawan porselen. Bunyi tumbukan batu yang monoton menyatu dengan gemeretak giginya yang menahan kehinaan. Paras cantiknya kini pucat pasi, matanya berair oleh amarah yang dipaksa terendam saat menyaksikan sepasang suami istri di hadapannya. Lian Xue meletakkan cangkir teh porselennya dengan ketukan halus yang memecah keheningan. Sudut bibirnya terangkat tipis, memancarkan binar nakal dan berani yang belum pernah diperlihatkannya sebelumnya. Ia melirik Shen Yang yang tampak tekun membacakan gulungan berkas, wajah kaku suaminya terlihat begit
Last Updated: 2026-08-28
Menukar Takdir Istri Sang Adipati
Song Liya, seorang guru olahraga dari dunia modern, terbangun dalam tubuh Murong Shi, tokoh antagonis dalam novel Gelora Cinta Sang Adipati, yang ditakdirkan mati tragis. Terjebak dalam pernikahan politik dengan Adipati Xuan, penguasa Beiyuan yang dingin, ia mewarisi reputasi buruk yang menyeretnya menuju hukuman mati.
Menolak takdir itu, Song Liya mengubah hidup Murong Shi; meninggalkan kebiasaan buruk, menjadi disiplin, dan membangun kembali kendali atas kediaman adipati. Namun perubahan itu justru menarik perhatian sang adipati.
Ketika ia hampir lolos dari nasib buruknya, Song Liya menemukan rahasia kelam, Murong Shi hanyalah pion keluarga Murong untuk menjatuhkan sang adipati, dan saudari kembarnya, Murong Lian, berambisi merebut identitas, kedudukan, serta suaminya.
Kini Song Liya harus melawan takdir novel, menghadapi saudari yang ingin menggantikannya, dan bertahan di dunia penuh intrik, sebelum takdir kematian kembali mengejarnya.
Read
Chapter: Bab 200Matahari pagi menyusup malu-malu di balik jendela kayu Kediaman Long, membawa kehangatan yang sudah lama tidak dirasakan oleh dinding-dinding rumah besar ini. Suasana ruang makan yang biasanya sunyi dan kaku, kini berubah total. Gelak tawa kecil dan denting sumpit yang beradu dengan mangkuk porselen menciptakan simfoni kehidupan yang baru.Di kepala meja, Nyonya Besar Long duduk dengan keanggunan yang kembali memancar dari wajahnya. Guratan-guratan kesedihan yang selama bertahun-tahun mengukir wajahnya seolah sirna dalam semalam, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Di sampingnya, si kecil Long Yuan sibuk mengunyah kue beras dengan pipi yang menggembung, sesekali tertawa saat Xiao Cui menyeka sisa makanan di sudut bibirnya.Mereka semua baru saja tiba kembali di Kediaman Long kemarin, setelah Long Xuan menjemput mereka dari Gunung Yu.Hari ini, aturan ketat tentang kasta dan pelayan dilebur atas perintah Long Xuan. Di meja makan panjang itu, Fan Yi dan Xiao Cui duduk ber
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: Bab 199Ketakutan yang tiba-tiba menyergap membuat senyum di bibir Liya mendadak kaku. Bayangan kelam tentang penyakit darah iblis yang kini mengalir di dalam darahnya seolah bangkit, menjadi kabut tebal yang mendadak menutupi kebahagiaannya. Ia tahu betul bagaimana kutukan itu bekerja—rasa sakit yang menyiksa, hilangnya kesadaran, dan haus darah yang mengerikan. Bagaimana jika janin suci ini harus menanggung beban kutukan yang sama?Ia dan Long Xuan sudah mengetahui cara mengatasi sat kambuh walau belum mendapatkan obatnya. Namun bagaimana jika anaknya nanti muncul sakitnya. Apa yang harus ia lakukan.Long Xuan, yang selalu peka terhadap setiap perubahan ekspresi istrinya, menyadari binar kebahagiaan di mata Liya yang mendadak meredup. Ia mengusap pipi Liya yang masih agak dingin dengan ibu jarinya."Shishi, ada apa? Mengapa wajahmu mendadak sedih?" tanya Long Xuan dengan nada rendah, penuh perhatian.Liya memaksakan sebuah senyuman, menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Xuan. Aku hanya ...
Last Updated: 2026-06-06
Chapter: Bab 198Suasana sepi di koridor menuju Paviliun Anggrek seketika pecah saat beberapa pelayan yang membawa nampan berisi teh melintas. Begitu melihat sesosok wanita terkapar tak sadarkan diri di atas lantai batu, salah satu dari mereka menjerit histeris hingga nampan di tangannya jatuh berdentang nyaring."Nyonya Besar! Astaga, Nyonya Besar!"Kepanikan meluas dalam hitungan detik. Beberapa pengawal anak buah Zhang Yu yang berjaga di perimeter luar segera berlari masuk. Di antara kekacauan itu, Fan Yi yang kebetulan sedang berpatroli langsung bergegas mendekat. Wajah Fan Yi itu seketika pucat pasi melihat Liya yang terpejam rapat dengan wajah seputih kertas."Nyonya! Minggir kalian semua!" teriak Fan Yi, langsung berlutut dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Liya. Denyutnya terasa cepat namun sangat lemah. Tanpa membuang waktu, ia mengangkat tubuh sang Nyonya Besar ke dalam gendongannya. "Cepat panggil Tabib Utama ke kamar di Paviliun Anggrek! Sekarang!"Berita pingsannya Liya m
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 197Langkah kaki Liya bergema pelan di sepanjang koridor kediaman Keluarga Long. Tempat ini dahulunya adalah pusat kejayaan keluarga suaminya, tempat tinggalnya, sebelum akhirnya direbut secara paksa dan dikuasai oleh Murong Guan dengan cara yang licik. Kini, setelah Murong Guan tumbang, atmosfer mencekam di dalam kediaman megah itu perlahan mulai terkikis, berganti dengan kesunyian yang asing. Liya berjalan menuju Paviliun Phoenix, tempat tinggal dan bekerja masa lalu milik Long Xuan yang selama masa pendudukan digunakan oleh Murong Guan sebagai ruang pribadinya. Saat jemari lentiknya mendorong pintu kayu yang tebal, pemandangan di dalam kamar membuat Liya menghentikan langkah sejenak. Bentuknya sudah berubah sama sekali. Tirai-tirai sutra berwarna hijau tua khas kamar suaminya telah diganti dengan kain-kain beludru merah marun yang mencolok dan beraroma dupa gaharu yang pekat. Perabotan kayu cendana yang dulu sederhana namun kokoh, kini digantikan oleh meja-meja berlapis emas dan uk
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 196 Dengan satu gerakan yang bertenaga namun penuh perhitungan, Liya mendorong bahu Long Xuan hingga pria itu kembali telentang di atas dipan, lalu ia bergerak cepat menaiki tubuh suaminya, mengungkungnya dari atas.Long Xuan meringis sedikit saat punggungnya membentur kayu dipan, namun seringai jenaka justru kembali terukir di bibirnya. Hanfu sutra milik Liya yang sudah agak longgar kini tersingkap di bagian bahu, menampilkan kulit putihnya yang sehalus porselen di bawah temaram lampu minyak. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi begitu pekat, sarat akan ketegangan intim yang memabukkan."Kau berani menantangku dalam kondisi seperti ini, Shishi?" bisik Long Xuan.Sepasang tangannya yang kekar langsung naik dan mencengkeram pinggang ramping Liya dengan posesif, bersiap untuk menarik wanita itu ke dalam dekapannya yang lebih dalam. Gairah yang meletup-letup setelah lolos dari maut seolah memberinya energi tambahan yang tak terbendung. Pusaka di bawah sana yang mulai menega
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Bab 195Di dalam ruang area Balai Kota, suasana mendadak sibuk—bukan karena kondisi darurat medis, melainkan karena sebuah rencana usil yang mendadak melintas di kepala Sang Ketua Gunung Yu. Long Xuan, yang dadanya baru saja selesai dibalut kain, tiba-tiba menegakkan punggungnya saat seorang pasukan berlari masuk dan melapor bahwa Nyonya Besar sedang menuju ke sana dengan wajah pucat pasi. Sepasang mata Long Xuan yang tadinya redup karena letih, mendadak berkilat jenaka. "Fan Yi, Su Lang, kemari kalian," panggil Long Xuan setengah berbisik, menahan ringisan di dadanya. "Ada apa, Ketua? Apakah lukanya kembali robek?" tanya Fan Yi panik, langsung mendekat dengan wajah tegang. "Tidak. Istriku sedang menuju ke mari," ujar Long Xuan dengan seringai kecil di sudut bibirnya. "Aku ingin melihat seberapa besar dia mencintaiku. Aku akan berpura-pura mati. Kalian berdua, bersandiwara seolah-olah aku sudah tiada. Pasang wajah paling merana yang kalian bisa." Su Lang terbelalak, hampir saja menj
Last Updated: 2026-06-01
Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!
Ketika dendam bertemu cinta, siapa yang akan lebih dulu menusuk jantung?
Bai Xiang, pendekar cantik dari Sekte Gunung Yang, masuk ke istana hanya untuk satu tujuan, membunuh Jenderal Han Feng, pria bertopeng hitam yang menumpahkan darah keluarganya.
Namun takdir berbalik kejam, Kaisar justru menjodohkan mereka. Kini, musuhnya tidur di ranjang yang sama, menatapnya dengan mata yang menyimpan rahasia terlalu dalam.
Saat cinta tumbuh di antara bilah pedang dan kebohongan, Bai Xiang perlahan sadar, musuh sejatinya bukan pria di sisinya, melainkan orang yang selama ini ia panggil “Guru”.
Dan ketika semua topeng terlepas, hanya satu pilihan tersisa: membunuh atau mencintai.
Read
Chapter: Bab 204Lima tahun telah berlalu sejak api peperangan melawan pemberontak dan pasukan Kasgan di perbatasan padam. Kini, kediaman Keluarga Han di pinggiran ibukota dipenuhi oleh riuh rendah suara tawa anak-anak yang memenuhi halaman luas yang asri.Di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Bai Xiang berdiri dengan anggun. Matanya yang dulu sedingin es kini memancarkan kehangatan seorang ibu saat menatap ketiga buah hatinya yang sedang asyik bermain.Putri sulungnya, Han Ling yang kini berusia lima tahun, memiliki paras yang sangat mirip dengan Han Feng, rahang yang tegas namun elegan dan mata yang tajam. Namun, sifatnya adalah cerminan murni dari Bai Xiang. Di sampingnya, si tengah Han Mei lebih muda satu tahun, adalah perpaduan sempurna; ia memiliki kecerdasan Han Feng namun kelembutan wajah ibunya. Sedangkan si bungsu Han Jian, tiga tahun, adalah replika kecil dari ayahnya. Mulai dari cara berjalannya yang angkuh hingga sifatnya yang nakal dan tak bisa diam, ia adalah "Han Feng kecil" yan
Last Updated: 2026-02-27
Chapter: Bab 203Pesta pernikahan Zhu Yu Liang dan Wen Mei berlangsung semarak di aula utama Istana Mingyue. Gelak tawa para pejabat dan denting cawan perunggu yang beradu menciptakan simfoni kemenangan yang membahana. Han Feng, yang tengah mendampingi Kaisar, tampak sibuk meladeni ucapan selamat, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Bai Xiang di barisan meja terhormat. Sejak upacara bermula, Han Feng menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Wajah Bai Xiang yang biasanya segar kini pucat, dan ia berulang kali memijat pelipisnya. Han Feng mengira itu hanyalah kelelahan pasca-tempur melawan pemberontak dan pasukan Kasgan. Saat Han Feng hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba tubuh Bai Xiang limbung. Cawan di tangannya jatuh berdenting, dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Han Feng melesat, menangkap istrinya dalam dekapan yang sigap. "Xiang! Xiang!" seru Han Feng, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan keriuhan di aula. Pesta yang tadinya penuh tawa berubah menjadi kepanikan keci
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab 202Debu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. "Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: Bab 201Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. "Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: Bab 200Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah."Mau lari ke mana, Pengkhianat?"Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: Bab 199Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah."Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi."Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F
Last Updated: 2026-02-21