Menukar Takdir Istri Sang Adipati
Song Liya, seorang guru olahraga dari dunia modern, terbangun dalam tubuh Murong Shi, tokoh antagonis dalam novel Gelora Cinta Sang Adipati, yang ditakdirkan mati tragis. Terjebak dalam pernikahan politik dengan Adipati Xuan, penguasa Beiyuan yang dingin, ia mewarisi reputasi buruk yang menyeretnya menuju hukuman mati.
Menolak takdir itu, Song Liya mengubah hidup Murong Shi; meninggalkan kebiasaan buruk, menjadi disiplin, dan membangun kembali kendali atas kediaman adipati. Namun perubahan itu justru menarik perhatian sang adipati.
Ketika ia hampir lolos dari nasib buruknya, Song Liya menemukan rahasia kelam, Murong Shi hanyalah pion keluarga Murong untuk menjatuhkan sang adipati, dan saudari kembarnya, Murong Lian, berambisi merebut identitas, kedudukan, serta suaminya.
Kini Song Liya harus melawan takdir novel, menghadapi saudari yang ingin menggantikannya, dan bertahan di dunia penuh intrik, sebelum takdir kematian kembali mengejarnya.
Basahin
Chapter: Bab 195Di dalam ruang area Balai Kota, suasana mendadak sibuk—bukan karena kondisi darurat medis, melainkan karena sebuah rencana usil yang mendadak melintas di kepala Sang Ketua Gunung Yu. Long Xuan, yang dadanya baru saja selesai dibalut kain, tiba-tiba menegakkan punggungnya saat seorang pasukan berlari masuk dan melapor bahwa Nyonya Besar sedang menuju ke sana dengan wajah pucat pasi. Sepasang mata Long Xuan yang tadinya redup karena letih, mendadak berkilat jenaka. "Fan Yi, Su Lang, kemari kalian," panggil Long Xuan setengah berbisik, menahan ringisan di dadanya. "Ada apa, Ketua? Apakah lukanya kembali robek?" tanya Fan Yi panik, langsung mendekat dengan wajah tegang. "Tidak. Istriku sedang menuju ke mari," ujar Long Xuan dengan seringai kecil di sudut bibirnya. "Aku ingin melihat seberapa besar dia mencintaiku. Aku akan berpura-pura mati. Kalian berdua, bersandiwara seolah-olah aku sudah tiada. Pasang wajah paling merana yang kalian bisa." Su Lang terbelalak, hampir saja menj
Huling Na-update: 2026-06-01
Chapter: Bab 194Di dalam Penjara bawah tanah Balaikota yang remang, udara terasa begitu pekat dan berat. Suara sorak-sorai kemenangan dari luar benteng terdengar lamat-lamat, berbanding terbalik dengan keheningan mencekam yang menyelimuti ruangan itu. Di sudut ruangan, sesosok wanita muda bersimpuh di atas tanah. Pakaian sutranya yang koyak terkena debu pertempuran tampak kontras dengan bayi mungil dalam dekapannya yang sedang tertidur lelap, tidak terusik oleh kekacauan dunia di sekitarnya.Dia adalah Murong Lian. Tubuhnya gemetar hebat saat mendengar langkah kaki lembut namun mantap mendekat dari arah pintu sel.Liya melangkah masuk. Anggun, tenang, namun memancarkan wibawa yang tak terbantahkan. Tatapan matanya yang tajam langsung tertuju pada Murong Lian yang kini meringkuk ketakutan bagai buruan yang terpojok."Kak ... Kakak..." suara Murong Lian bergetar, nyaris berupa bisikan yang tercekat di tenggorokan. Ia mengeratkan dekapan pada bayinya.Liya berdiri tegak di hadapan adik Murong Shi it
Huling Na-update: 2026-05-31
Chapter: Bab 193 "Ketua Long, bertahanlah! Tabib! Cepat panggil tabib ke mari!" teriak Fan Yi panik. Tangannya dengan gemetar merobek kain pelapis jubahnya sendiri, mencoba menekan luka menganga di dada Long Xuan. "Jangan berteriak, Fan Yi ... telingaku tidak tuli," bisik Long Xuan parau. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang getir, namun cengkeramannya pada pundak Fan Yi mendadak mengencang. "Di mana ... di mana istriku? Di mana Nyonya?" Dengan sangat hati-hati, Fan Yi dan beberapa prajurit membawa tubuh kekar sang Ketua Bandit Gunung Yu untuk direbahkan pada sebuah bongkahan batu besar sisa reruntuhan dinding lorong. Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat. Su Lang datang bersama beberapa prajurit inti, wajahnya tegang namun seketika mengembuskan napas lega saat melihat sosok yang terkapar di tanah beberapa meter dari sana. "Dia ... benar-benar sudah mati?" tanya Su Lang, memastikan dengan ujung tombaknya. Setelah melihat tidak ada lagi tanda-tanda k
Huling Na-update: 2026-05-30
Chapter: Bab 192Langkah kaki Long Xuan kian berat, meninggalkan jejak-jejak merah di atas lantai batu yang dingin. Setiap embusan napasnya terasa laksana sayatan pisau di dalam dada, namun kilat amarah di sepasang netranya tak meredup sedikit pun. Di depannya, lorong bawah tanah itu mulai menyempit, membelok tajam ke arah kanan di mana gema langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar kian jelas."Kau tidak bisa lari lagi, Murong Guan!" suara Long Xuan bergaung, berat dan menindas, menghantam dinding-dinding batu.Di ujung lorong yang remang, sesosok pria tua dengan jubah sutra yang kini compang-camping dan kotor terengah-engah. Murong Guan menoleh dengan wajah pucat pasi, matanya membelalak ngeri mendengarkan gema suara sang harimau Gunung Yu."J-Jangan mendekat! Menjauh dariku, Long Xuan!" teriak Murong Guan histeris. Tangannya yang gemetar meraba-raba dinding batu, mencari tuas mekanis berikutnya. "Kau harus mati di sini! Tempat ini adalah kuburanmu!"Klik.Satu lagi tuas berhasil ditarik oleh M
Huling Na-update: 2026-05-29
Chapter: Bab 191Langkah kaki Long Xuan berdentang keras saat ia merangsek semakin dalam ke perut bumi. Lorong bawah tanah itu gelap gulita, hanya menyisakan pendar lampu minyak dinding yang bergoyang ditiup angin busuk dari kedalaman. Napas sang ketua bandit memburu, berbaur dengan rasa perih yang teramat sangat dari luka robek di dadanya yang kian basah oleh rembesan darah. Namun, bayangan Murong Guan yang melarikan diri di depannya membuat ia mengabaikan sinyal bahaya yang dikirimkan oleh tubuhnya.Klik.Sebuah bunyi mekanis yang sangat halus terdengar di bawah sol sepatu botnya. Detik itu juga, insting tempur Long Xuan menjeritkan alarm bahaya. Tanpa berpikir panjang, ia melempar tubuhnya ke samping, berguling di atas lantai batu yang dingin.Sreeet! Sreeet! Sreeet!Puluhan anak panah berujung hitam pekat melesat dari balik dinding batu yang tersembunyi, menghantam dinding seberang hingga memercikkan bunga api. Jika Long Xuan terlambat sedetik saja, tubuhnya sudah menjelma menjadi bantalan an
Huling Na-update: 2026-05-28
Chapter: Bab 190Murong Guan gemetar hebat, sisa-sisa pengaruh alkohol dalam darahnya menguap seketika, digantikan oleh rasa takut yang mencengkeram dada. Di bawah intimidasi aura Long Xuan yang begitu menindas, ia merangkak mundur hingga punggungnya membentur pilar batu naga. "T-Tunggu, Long Xuan! Kita bisa bicara, kau masih menantuku!" racik Murong Guan, suaranya melengking panik sembari tangannya menggapai-gapai udara. "Beiyuan bisa kita bagi dua! Aku tidak akan mengusikmu lagi!" Long Xuan menghentikan langkahnya sejenak, menatap tiran yang kini mengiba di ujung sepatunya dengan pandangan muak. "Menantu? Kau menjadikan Shishi alat! Kau pikir kekuasaan ini adalah sepotong daging yang bisa kau tawar di pasar, Murong Guan? Di mana belas kasihanmu yang membuat rakyat Beiyuan menderita?!" "Mati kau, penghancur Beiyuan!" Tepat ketika Long Xuan mengangkat pedang besarnya untuk menghujam tubuh Murong Guan, sebuah bayangan melesat dari langit-langit aula. Tranggg! Benturan logam yang teramat keras m
Huling Na-update: 2026-05-27
Chapter: Bab 204Lima tahun telah berlalu sejak api peperangan melawan pemberontak dan pasukan Kasgan di perbatasan padam. Kini, kediaman Keluarga Han di pinggiran ibukota dipenuhi oleh riuh rendah suara tawa anak-anak yang memenuhi halaman luas yang asri.Di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Bai Xiang berdiri dengan anggun. Matanya yang dulu sedingin es kini memancarkan kehangatan seorang ibu saat menatap ketiga buah hatinya yang sedang asyik bermain.Putri sulungnya, Han Ling yang kini berusia lima tahun, memiliki paras yang sangat mirip dengan Han Feng, rahang yang tegas namun elegan dan mata yang tajam. Namun, sifatnya adalah cerminan murni dari Bai Xiang. Di sampingnya, si tengah Han Mei lebih muda satu tahun, adalah perpaduan sempurna; ia memiliki kecerdasan Han Feng namun kelembutan wajah ibunya. Sedangkan si bungsu Han Jian, tiga tahun, adalah replika kecil dari ayahnya. Mulai dari cara berjalannya yang angkuh hingga sifatnya yang nakal dan tak bisa diam, ia adalah "Han Feng kecil" yan
Huling Na-update: 2026-02-27
Chapter: Bab 203Pesta pernikahan Zhu Yu Liang dan Wen Mei berlangsung semarak di aula utama Istana Mingyue. Gelak tawa para pejabat dan denting cawan perunggu yang beradu menciptakan simfoni kemenangan yang membahana. Han Feng, yang tengah mendampingi Kaisar, tampak sibuk meladeni ucapan selamat, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Bai Xiang di barisan meja terhormat. Sejak upacara bermula, Han Feng menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Wajah Bai Xiang yang biasanya segar kini pucat, dan ia berulang kali memijat pelipisnya. Han Feng mengira itu hanyalah kelelahan pasca-tempur melawan pemberontak dan pasukan Kasgan. Saat Han Feng hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba tubuh Bai Xiang limbung. Cawan di tangannya jatuh berdenting, dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Han Feng melesat, menangkap istrinya dalam dekapan yang sigap. "Xiang! Xiang!" seru Han Feng, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan keriuhan di aula. Pesta yang tadinya penuh tawa berubah menjadi kepanikan keci
Huling Na-update: 2026-02-25
Chapter: Bab 202Debu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. "Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut
Huling Na-update: 2026-02-24
Chapter: Bab 201Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. "Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,
Huling Na-update: 2026-02-23
Chapter: Bab 200Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah."Mau lari ke mana, Pengkhianat?"Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka
Huling Na-update: 2026-02-22
Chapter: Bab 199Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah."Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi."Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F
Huling Na-update: 2026-02-21