Chapter: Bab 204Lima tahun telah berlalu sejak api peperangan melawan pemberontak dan pasukan Kasgan di perbatasan padam. Kini, kediaman Keluarga Han di pinggiran ibukota dipenuhi oleh riuh rendah suara tawa anak-anak yang memenuhi halaman luas yang asri.Di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Bai Xiang berdiri dengan anggun. Matanya yang dulu sedingin es kini memancarkan kehangatan seorang ibu saat menatap ketiga buah hatinya yang sedang asyik bermain.Putri sulungnya, Han Ling yang kini berusia lima tahun, memiliki paras yang sangat mirip dengan Han Feng, rahang yang tegas namun elegan dan mata yang tajam. Namun, sifatnya adalah cerminan murni dari Bai Xiang. Di sampingnya, si tengah Han Mei lebih muda satu tahun, adalah perpaduan sempurna; ia memiliki kecerdasan Han Feng namun kelembutan wajah ibunya. Sedangkan si bungsu Han Jian, tiga tahun, adalah replika kecil dari ayahnya. Mulai dari cara berjalannya yang angkuh hingga sifatnya yang nakal dan tak bisa diam, ia adalah "Han Feng kecil" yan
Última atualização: 2026-02-27
Chapter: Bab 203Pesta pernikahan Zhu Yu Liang dan Wen Mei berlangsung semarak di aula utama Istana Mingyue. Gelak tawa para pejabat dan denting cawan perunggu yang beradu menciptakan simfoni kemenangan yang membahana. Han Feng, yang tengah mendampingi Kaisar, tampak sibuk meladeni ucapan selamat, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Bai Xiang di barisan meja terhormat. Sejak upacara bermula, Han Feng menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Wajah Bai Xiang yang biasanya segar kini pucat, dan ia berulang kali memijat pelipisnya. Han Feng mengira itu hanyalah kelelahan pasca-tempur melawan pemberontak dan pasukan Kasgan. Saat Han Feng hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba tubuh Bai Xiang limbung. Cawan di tangannya jatuh berdenting, dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Han Feng melesat, menangkap istrinya dalam dekapan yang sigap. "Xiang! Xiang!" seru Han Feng, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan keriuhan di aula. Pesta yang tadinya penuh tawa berubah menjadi kepanikan keci
Última atualização: 2026-02-25
Chapter: Bab 202Debu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. "Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut
Última atualização: 2026-02-24
Chapter: Bab 201Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. "Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,
Última atualização: 2026-02-23
Chapter: Bab 200Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah."Mau lari ke mana, Pengkhianat?"Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka
Última atualização: 2026-02-22
Chapter: Bab 199Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah."Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi."Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F
Última atualização: 2026-02-21
Menukar Takdir Istri Sang Adipati
Song Liya, seorang guru olahraga dari dunia modern, terbangun dalam tubuh Murong Shi, tokoh antagonis dalam novel Gelora Cinta Sang Adipati, yang ditakdirkan mati tragis. Terjebak dalam pernikahan politik dengan Adipati Xuan, penguasa Beiyuan yang dingin, ia mewarisi reputasi buruk yang menyeretnya menuju hukuman mati.
Menolak takdir itu, Song Liya mengubah hidup Murong Shi; meninggalkan kebiasaan buruk, menjadi disiplin, dan membangun kembali kendali atas kediaman adipati. Namun perubahan itu justru menarik perhatian sang adipati.
Ketika ia hampir lolos dari nasib buruknya, Song Liya menemukan rahasia kelam, Murong Shi hanyalah pion keluarga Murong untuk menjatuhkan sang adipati, dan saudari kembarnya, Murong Lian, berambisi merebut identitas, kedudukan, serta suaminya.
Kini Song Liya harus melawan takdir novel, menghadapi saudari yang ingin menggantikannya, dan bertahan di dunia penuh intrik, sebelum takdir kematian kembali mengejarnya.
Ler
Chapter: Bab 200Matahari pagi menyusup malu-malu di balik jendela kayu Kediaman Long, membawa kehangatan yang sudah lama tidak dirasakan oleh dinding-dinding rumah besar ini. Suasana ruang makan yang biasanya sunyi dan kaku, kini berubah total. Gelak tawa kecil dan denting sumpit yang beradu dengan mangkuk porselen menciptakan simfoni kehidupan yang baru.Di kepala meja, Nyonya Besar Long duduk dengan keanggunan yang kembali memancar dari wajahnya. Guratan-guratan kesedihan yang selama bertahun-tahun mengukir wajahnya seolah sirna dalam semalam, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Di sampingnya, si kecil Long Yuan sibuk mengunyah kue beras dengan pipi yang menggembung, sesekali tertawa saat Xiao Cui menyeka sisa makanan di sudut bibirnya.Mereka semua baru saja tiba kembali di Kediaman Long kemarin, setelah Long Xuan menjemput mereka dari Gunung Yu.Hari ini, aturan ketat tentang kasta dan pelayan dilebur atas perintah Long Xuan. Di meja makan panjang itu, Fan Yi dan Xiao Cui duduk ber
Última atualização: 2026-06-07
Chapter: Bab 199Ketakutan yang tiba-tiba menyergap membuat senyum di bibir Liya mendadak kaku. Bayangan kelam tentang penyakit darah iblis yang kini mengalir di dalam darahnya seolah bangkit, menjadi kabut tebal yang mendadak menutupi kebahagiaannya. Ia tahu betul bagaimana kutukan itu bekerja—rasa sakit yang menyiksa, hilangnya kesadaran, dan haus darah yang mengerikan. Bagaimana jika janin suci ini harus menanggung beban kutukan yang sama?Ia dan Long Xuan sudah mengetahui cara mengatasi sat kambuh walau belum mendapatkan obatnya. Namun bagaimana jika anaknya nanti muncul sakitnya. Apa yang harus ia lakukan.Long Xuan, yang selalu peka terhadap setiap perubahan ekspresi istrinya, menyadari binar kebahagiaan di mata Liya yang mendadak meredup. Ia mengusap pipi Liya yang masih agak dingin dengan ibu jarinya."Shishi, ada apa? Mengapa wajahmu mendadak sedih?" tanya Long Xuan dengan nada rendah, penuh perhatian.Liya memaksakan sebuah senyuman, menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Xuan. Aku hanya ...
Última atualização: 2026-06-06
Chapter: Bab 198Suasana sepi di koridor menuju Paviliun Anggrek seketika pecah saat beberapa pelayan yang membawa nampan berisi teh melintas. Begitu melihat sesosok wanita terkapar tak sadarkan diri di atas lantai batu, salah satu dari mereka menjerit histeris hingga nampan di tangannya jatuh berdentang nyaring."Nyonya Besar! Astaga, Nyonya Besar!"Kepanikan meluas dalam hitungan detik. Beberapa pengawal anak buah Zhang Yu yang berjaga di perimeter luar segera berlari masuk. Di antara kekacauan itu, Fan Yi yang kebetulan sedang berpatroli langsung bergegas mendekat. Wajah Fan Yi itu seketika pucat pasi melihat Liya yang terpejam rapat dengan wajah seputih kertas."Nyonya! Minggir kalian semua!" teriak Fan Yi, langsung berlutut dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Liya. Denyutnya terasa cepat namun sangat lemah. Tanpa membuang waktu, ia mengangkat tubuh sang Nyonya Besar ke dalam gendongannya. "Cepat panggil Tabib Utama ke kamar di Paviliun Anggrek! Sekarang!"Berita pingsannya Liya m
Última atualização: 2026-06-04
Chapter: Bab 197Langkah kaki Liya bergema pelan di sepanjang koridor kediaman Keluarga Long. Tempat ini dahulunya adalah pusat kejayaan keluarga suaminya, tempat tinggalnya, sebelum akhirnya direbut secara paksa dan dikuasai oleh Murong Guan dengan cara yang licik. Kini, setelah Murong Guan tumbang, atmosfer mencekam di dalam kediaman megah itu perlahan mulai terkikis, berganti dengan kesunyian yang asing. Liya berjalan menuju Paviliun Phoenix, tempat tinggal dan bekerja masa lalu milik Long Xuan yang selama masa pendudukan digunakan oleh Murong Guan sebagai ruang pribadinya. Saat jemari lentiknya mendorong pintu kayu yang tebal, pemandangan di dalam kamar membuat Liya menghentikan langkah sejenak. Bentuknya sudah berubah sama sekali. Tirai-tirai sutra berwarna hijau tua khas kamar suaminya telah diganti dengan kain-kain beludru merah marun yang mencolok dan beraroma dupa gaharu yang pekat. Perabotan kayu cendana yang dulu sederhana namun kokoh, kini digantikan oleh meja-meja berlapis emas dan uk
Última atualização: 2026-06-03
Chapter: Bab 196 Dengan satu gerakan yang bertenaga namun penuh perhitungan, Liya mendorong bahu Long Xuan hingga pria itu kembali telentang di atas dipan, lalu ia bergerak cepat menaiki tubuh suaminya, mengungkungnya dari atas.Long Xuan meringis sedikit saat punggungnya membentur kayu dipan, namun seringai jenaka justru kembali terukir di bibirnya. Hanfu sutra milik Liya yang sudah agak longgar kini tersingkap di bagian bahu, menampilkan kulit putihnya yang sehalus porselen di bawah temaram lampu minyak. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi begitu pekat, sarat akan ketegangan intim yang memabukkan."Kau berani menantangku dalam kondisi seperti ini, Shishi?" bisik Long Xuan.Sepasang tangannya yang kekar langsung naik dan mencengkeram pinggang ramping Liya dengan posesif, bersiap untuk menarik wanita itu ke dalam dekapannya yang lebih dalam. Gairah yang meletup-letup setelah lolos dari maut seolah memberinya energi tambahan yang tak terbendung. Pusaka di bawah sana yang mulai menega
Última atualização: 2026-06-02
Chapter: Bab 195Di dalam ruang area Balai Kota, suasana mendadak sibuk—bukan karena kondisi darurat medis, melainkan karena sebuah rencana usil yang mendadak melintas di kepala Sang Ketua Gunung Yu. Long Xuan, yang dadanya baru saja selesai dibalut kain, tiba-tiba menegakkan punggungnya saat seorang pasukan berlari masuk dan melapor bahwa Nyonya Besar sedang menuju ke sana dengan wajah pucat pasi. Sepasang mata Long Xuan yang tadinya redup karena letih, mendadak berkilat jenaka. "Fan Yi, Su Lang, kemari kalian," panggil Long Xuan setengah berbisik, menahan ringisan di dadanya. "Ada apa, Ketua? Apakah lukanya kembali robek?" tanya Fan Yi panik, langsung mendekat dengan wajah tegang. "Tidak. Istriku sedang menuju ke mari," ujar Long Xuan dengan seringai kecil di sudut bibirnya. "Aku ingin melihat seberapa besar dia mencintaiku. Aku akan berpura-pura mati. Kalian berdua, bersandiwara seolah-olah aku sudah tiada. Pasang wajah paling merana yang kalian bisa." Su Lang terbelalak, hampir saja menj
Última atualização: 2026-06-01

Kembalinya Sang Puteri Phoenix
Di kehidupan pertamanya, Lian Xue mengkhianati suaminya demi pria yang dicintainya. Demi Pei Zhen, ia meracuni Shen Yang, mencuri segel militer, dan tanpa sadar membuka jalan bagi kehancuran Kerajaan Xiang Xi. Namun ketika ayahnya dibunuh dan dirinya dikhianati hingga kehilangan nyawa, Lian Xue baru menyadari siapa musuh dan siapa yang benar-benar melindunginya.
Kini takdir memberinya kesempatan kedua.
Terbangun kembali di malam pernikahannya, Lian Xue bertekad menyelamatkan ayahnya, menggagalkan pemberontakan, dan memperbaiki hubungannya dengan Shen Yang. Namun sang jenderal tidak mempercayai perubahan mendadaknya. Dengan identitas tersembunyi sebagai Zhao Tian, pria bertopeng yang hangat dan penuh perhatian, Shen Yang diam-diam mengawasi istrinya.
Tanpa mengetahui bahwa Zhao Tian dan Shen Yang adalah orang yang sama, Lian Xue justru jatuh cinta untuk kedua kalinya pada suaminya sendiri.
Di tengah konspirasi istana, perebutan takhta, dan rahasia darah kerajaan Shen Yang yang terkubur puluhan tahun, akankah cinta mereka mampu mengalahkan pengkhianatan, atau takdir kembali menuntut harga yang sama?
Ler
Chapter: Bab 40 - Ratapan Sang PionLangkah kaki Lian Xue bergemuruh di atas lantai kayu selasar istana, mengabaikan tatapan heran para pelayan dan kasim yang berpapasan dengannya. Ia tidak peduli pada protokol istana, tidak peduli pada napasnya yang terengah-engah, dan tidak peduli pada air mata yang masih terus mengalir di pipinya. Rasa sakit di hatinya akibat pengakuan sang Kaisar telah berubah menjadi kobaran api yang membakar harga dirinya."Putri! Putri Lian Xue, mohon berhenti!" seru seorang pelayan yang berusaha mengejarnya, namun Lian Xue tidak menoleh sama sekali.Ia terus berlari hingga mencapai sebuah gazebo tua di sudut taman yang sepi, jauh dari keramaian Paviliun ayahnya. Di sana, ia menghentikan langkahnya, menyandar pada tiang kayu yang dingin, dan mengatur napasnya yang tersengal. Pandangannya menerawang ke arah langit biru yang kontras dengan kekacauan di dalam dadanya.Jadi, aku hanyalah pion bagi mereka? batin Lian Xue getir. Strategi, pengalihan isu, pengorbanan ... semua itu dilakukan tanpa mem
Última atualização: 2026-07-18
Chapter: Bab 39 - Sandiwara Jenderal ShenMatahari pagi bersinar cerah, menyiram pelataran istana dengan cahaya keemasan. Namun bagi Lian Xue, kehangatan itu sama sekali tidak mengurangi rasa dingin yang menggelayuti benaknya. Selesai mengikuti kegiatan salam pagi di tempat bibinya, ia membulatkan tekad untuk menemui ayahnya.Langkah kakinya sempat tertahan di depan pintu gerbang paviliun pribadi sang Kaisar. Kilasan ingatan beberapa waktu lalu kembali membayangi benaknya—saat jemari kokoh ayahnya mendarat keras di pipinya hanya karena ia berani menyinggung perihal Selir Wu. Detak jantung Lian Xue bertalu cepat. Rasa takut dan ragu mendadak mencengkeram dadanya.Bagaimana jika Ayahanda masih murka? batinnya waswas.Baru saja Lian Xue memutar tumitnya, berniat untuk berbalik arah dan membatalkan niatnya, sebuah suara bariton yang berat namun sarat akan kelembutan mendadak terdengar dari balik tirai sutra pembatas ruangan."Xue'er? Apakah itu kau di luar, Nak? Masuklah."Lian Xue tertegun sejenak di tempatnya berdiri. Suar
Última atualização: 2026-07-17
Chapter: Bab 38 - Bisikan di balik TahtaKetegangan di ambang pintu Paviliun Yue Hua berdesir tajam.Tatapan Shen Yang terkunci pada wakil kepala pasukan yang masih membungkuk gemetar. Di belakang punggung suaminya, Lian Xue tetap bergeming. Jemarinya yang tersembunyi di balik lengan baju yang lebar perlahan-lahan merileks. Keputusannya untuk menyimpan sobekan kertas catatan kunjungan kaisar itu di balik lapisan jubah sutranya terbukti menjadi benteng pertahanan paling kukuh saat ini. Sekalipun seluruh sudut paviliun dijungkirbalikkan oleh para prajurit, tidak akan ada satu orang pun di istana ini—termasuk Wang Xing maupun suaminya sendiri—yang memiliki keberanian atau hak hukum untuk menggeledah tubuh seorang putri kekaisaran dan istri Jenderal.Mata Lian Xue yang jeli mengamati garis ketegangan pada bahu lebar Shen Yang. Ia menunggu dengan cermat, menakar setiap kemungkinan tindakan yang akan diambil oleh suaminya. Apakah Shen Yang akan tunduk pada situasi demi menghindari konflik horizontal di tengah kepanikan istana,
Última atualização: 2026-07-15
Chapter: Bab 37 - Persilangan KekuasaanKunci pintu bergemeretak nyaring, memecah kesunyian. Disusul suara selot kayu yang digeser kasar dari luar, kedua daun pintu jati Paviliun Yue Hua terbuka lebar. Siluet tegap Shen Yang berdiri tegak di ambang pintu.Di dekat meja rias, Lian Xue secara refleks mengeratkan kepalan tangannya di balik lengan baju yang lebar. Ujung jarinya menyentuh lipatan pakaian, memastikan sobekan kertas berdarah yang baru saja ia sembunyikan tetap aman dan tidak mencuat di balik jubah sutranya. Sambil menarik napas dalam-dalam untuk menekan debar jantungnya, ia memaksa seulas senyum tipis dan topeng ketenangan terbit di wajahnya."Kau kembali begitu cepat, Shen Yang," sapa Lian Xue, mencoba memecah keheningan sembari melangkah beberapa tindak mendekati suaminya. "Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi di luar sana? Mengapa seluruh istana mendadak terasa begitu mencekam?"Shen Yang tidak segera menyahut. Sepasang mata elangnya yang tajam langsung menyapu seisi ruangan. Setelah memastikan situas
Última atualização: 2026-07-14
Chapter: Bab 36 -Teka Teki TerlarangPintu Paviliun Yue Hua terkunci rapat dari luar. Di luar sana, seisi Istana Xiang Xi mungkin sedang gempar oleh penyelidikan pembunuhan, namun di dalam kamar ini, waktu seakan berhenti. Lian Xue melangkah mendekati meja riasnya, berniat menenangkan denyut nadinya yang berpacu dengan menyisir rambut. Namun, begitu tangannya terangkat, seluruh gerakannya mendadak lumpuh. Di antara botol porselen minyak wangi dan kotak perhiasannya yang biasanya tertata rapi, tergeletak beberapa lembar kertas perkamen kusut dengan ujung yang terkoyak paksa. Lian Xue mengerutkan kening, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Dengan ujung jari yang gemetar, ia membalik kertas tersebut. Bau anyir darah yang mengering langsung menyengat indra penciumannya, memicu rasa mual yang mendadak. Di sudut bawah kertas, terdapat bercak merah kecokelatan yang tampak masih sangat baru. Rasa terkejut menghantam dada Lian Xue bagai hantaman gada besi begitu matanya menangkap baris demi baris tulisan di sana.
Última atualização: 2026-07-13
Chapter: Bab 35 - Darah di Balai PengobatanMalam turun membungkus seantero Dinasti Xiang Xi dalam kegelapan yang pekat. Hampir tengah malam, Balai Pengobatan Istana, tempat bermukimnya para tabib kekaisaran, telah sepenuhnya sunyi. Hanya beberapa lampion di koridor luar yang membiaskan cahaya temaram, menciptakan bayang-bayang panjang yang statis. Namun, kesunyian itu terusik oleh sekelebat bayangan hitam yang turun dari atas genting tanpa suara. Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya tersembunyi di balik topeng perak yang memantulkan semburat sinar bulan, dan kepalanya ditutupi caping lebar. Gerakannya seringan kapas, nyaris mustahil didengar oleh telinga manusia biasa. Ia melompat turun ke selasar belakang rumah salah satu tabib senior. Kamar di hadapannya gelap, hanya diterangi sebatang lilin yang mulai meleleh di atas meja. Dengan gerakan taktis, sang bayangan bertopeng melubangi kertas penutup jendela kayu dengan ujung pisau kecil, lalu menyisipkan sebuah pipa bambu tipis. Dari pipa itu, ia meniupkan asa
Última atualização: 2026-07-12