เข้าสู่ระบบWusss! Jleb!Desingan tajam membelah keheningan malam yang pekat. Hutan di perbatasan Gunung Yu yang tadinya sunyi mendadak bertransformasi menjadi neraka kecil yang mencekam."Awas anak panah! Menunduk semua!" teriak Fan Yi menggelegar, suaranya nyaris tenggelam oleh deru derap kaki kuda pasukan Murong Guan yang semakin merangsek mendekat.Jleb!Fan Yi tersentak hebat. Tubuhnya terlempar ke depan, hampir saja ia terjungkal dari kursi kusir yang berguncang keras. Sebatang anak panah menancap telak di punggung kirinya. Rasa panas yang membakar menjalar seketika, namun jemarinya justru semakin erat mencengkeram tali kekang, menolak untuk menyerah pada rasa sakit."Fan Yi! Kau terkena?!" teriak Liya dari dalam kereta, suaranya sarat akan vibrasi kepanikan yang tak terbendung."Jangan keluar, Nyonya! Tetap menunduk!" balas Fan Yi dengan gigi bergeletuk menahan perih. Ia memacu kuda lebih gila lagi, mengabaikan denyut menyiksa di punggungnya. "Sedikit lagi ... sedikit lagi kita menca
Seorang bocah laki-laki dengan pakaian kumal, wajah yang kusam terkena debu, dan rambut yang berantakan menatapnya dengan tatapan kosong. Telapak tangan kecilnya yang kotor terbuka, seolah-olah ia sedang meminta sedekah di pinggir jalan."Tuan Muda Yuan!" Xiao Cui menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan pekikan yang nyaris lolos.Pemandangan di depannya menghancurkan hatinya. Tidak ada lagi jubah hanfu sutra yang mewah atau seragam sekolah Shin Yue yang gagah. Tuan mudanya kini tak berbeda dengan pengemis kecil di pasar."Tuan Muda ... apa yang mereka lakukan padamu?" Xiao Cui langsung berlutut dan memeluk erat tubuh kecil itu.Long Yuan tidak bergerak. Tubuhnya kaku, namun suaranya terdengar lirih dan parau. "Xiao Cui, bawa aku ke Paman Xuan dan Bibi Shishi ... bawa aku bersama nenek."Fan Yi segera mendekat, matanya yang tajam menyapu sekeliling. "Tuan Muda, di mana Nenekmu? Tunjukkan jalannya sekarang," bisik Fan Yi dengan nada lembut namun tetap matanya mengawasi sekita
Langkah kaki Liya terasa seringan bulu saat ia menyelinap di antara bayang-bayang pilar kayu yang menopang bangunan-bangunan kecil di sekitar aula utama Kuil Tianning. Ia menekan tubuhnya ke dinding, mengatur napas agar tidak terdengar oleh para penjaga yang sesekali melintas dengan langkah yang berat. Di pelataran aula utama, pemandangan berbeda tersaji. Seorang biksuni tua dengan wajah teduh menghampiri Xiao Cui dan Fan Yi."Semoga Sang Buddha memberkati janin dalam rahimmu, Nyonya. Dan semoga Tuan senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga keluarga kecil ini," ucap biksuni itu tulus sembari merapalkan doa-doa keselamatan.Fan Yi mengangguk khidmat, tangannya menggenggam jemari Xiao Cui dengan erat yang terasa mendebarkan bagi Xiao Cui. Kepura-puraan mereka begitu natural; sepasang suami istri muda yang sedang menanti kehadiran buah hati pertama mereka. Namun, di balik senyum tipis Fan Yi, matanya terus bergerak liar, memindai setiap wajah di kerumunan jemaat yang bersujud di dep
Fan Yi segera sadar dari keterpakuannya. Ia menarik Xiao Cui ke dalam dekapannya, membisikkan kata-kata menenangkan agar gadis kecil itu tidak semakin kalap. "Sudah, Xiao Cui. Cukup. Ayo kita pergi sekarang."Fan Yi menatap dingin ke arah perempuan bangsawan itu. "Pergilah bersama dayang-dayangmu sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran sebagai seorang pria."Si bangsawan lari terbirit-birit karena ketakutan melihat aura membunuh Fan Yi. Setelah kerumunan bubar, Fan Yi melepaskan dekapannya pada Xiao Cui. Ia hendak memuji keberanian gadis itu, namun ....PLAK!Fan Yi berdiri mematung di tengah keramaian pasar yang mulai berbisik-bisik. Telapak tangan Xiao Cui yang mungil ternyata meninggalkan rasa panas yang menjalar hingga ke telinganya. Ia mengusap pipinya yang perih, matanya masih menatap punggung Xiao Cui yang menjauh dengan langkah menghentak-hentak karena kesal."Apa salahku?" gumamnya lirih, benar-benar bingung dengan logika wanita di depannya.Liya, yang sedari tadi m
Perjalanan satu hari penuh dari Gunung Yu terasa melelahkan, namun ketegangan yang menyelimuti kota ini jauh lebih menyesakkan dada. Liya menyingkap sedikit tirai kereta, menatap Distrik Timur yang biasanya riuh oleh gelak tawa pedagang dan denting koin. Kini, suasana mencekam. Jalanan sunyi, hanya menyisakan beberapa orang yang terburu-buru pulang sebelum jam malam dimulai."Nyonya, tempat ini ... kenapa jadi seperti kota mati?" bisik Xiao Cui dengan suara bergetar."Sepertinya keangkuhan Murong Guan telah mematikan nadi kota ini, Xiao Cui," sahut Liya getir.Kereta berhenti tepat di depan Toko Qin Feng. Pintu kayu jati yang biasanya megah kini tertutup rapat dengan rantai besi yang berkarat. Liya segera mengarahkan Fan Yi menuju rumah Qing Feng yang terletak tepat di belakang toko. Setelah ketukan diberikan, pintu selot kayu ditarik perlahan."Nyonya ... Nyonya Muda Adipati?" Qin Feng tertegun, lentera di tangannya hampir saja terjatuh."Qin Feng, ini aku," bisik Liya.Seketi
Pagi itu, kabut di Gunung Yu terasa lebih tipis, seolah memberi ruang bagi matahari untuk menyaksikan pemandangan yang tidak biasa di lapangan latihan. Liya berdiri tegak di samping Long Xuan, mengenakan hanfu yang praktis dengan rambut diikat tinggi. Di hadapan mereka, para mantan bandit Gunung Yu sudah berbaris, namun wajah mereka tampak bingung melihat sang Nyonya Adipati berdiri di posisi instruktur."Xuan, kau sudah berjanji semalam," bisik Liya sembari melirik suaminya. "Biarkan aku yang mengambil alih sesi pemanasan dan ketahanan pagi ini."Long Xuan tersenyum, ia melipat tangan di dada dan mundur satu langkah. "Silakan, Shishi. Aku juga ingin melihat bagaimana latihan yang kau sering lakukan di kamarmu itu bisa berguna untuk mereka,"ujar Xuan dengan berbisik."Pasukan! Dengar, pagi ini instruksi sepenuhnya berada di tangan Nyonya Muda. Siapa pun yang membantah, akan berurusan langsung denganku!"Para bandit itu menelan ludah serempak. Liya melangkah maju dengan senyum manis
"Nona Lin sungguh murah hati," sahut Liya. Suaranya tetap manis, namun kini setajam pisau yang baru diasah. "Namun, urusan internal kediaman adalah tanggung jawabku sebagai istri sah. Nona Lin adalah tamu agung, dan sudah menjadi tugasku untuk memastikan tamu merasa nyaman tanpa perlu membebani den
Langkah kaki Liya yang terburu-buru di sepanjang selasar kayu terhenti seketika saat sebuah bayangan besar menyambar lengannya. Liya tak perlu menebak si pemilik bayangan besar itu. Kekuatan itu begitu dominan, menarik tubuhnya berputar hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan. Sebelum Liya sempat
Meja makan di aula utama pagi itu terasa seperti panggung eksekusi yang dingin. Di tengah suasana yang mencekam itu, Long Yuan duduk di antara paman dan bibinya. Bocah kecil itu nampak gelisah, kepalanya tertunduk, namun matanya sesekali melirik ke arah bibinya dengan penuh kekhawatiran. Cahaya m
Pagi menyapa Kediaman Adipati Long dengan kabut tipis yang menyelimuti atap-atap bangunan, namun di dalam Paviliun Anggrek, suasana terasa lebih beku daripada udara di luar. Liya duduk di depan meja rias, menatap bayangannya di cermin perunggu. Matanya tidak lagi menyiratkan kerapuhan; yang terting







