Short
Mercy for Everyone but Me

Mercy for Everyone but Me

Oleh:  Forrest DawsonTamat
Bahasa: English
goodnovel4goodnovel
25Bab
1.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

I've been dating my enemy, Sean Thompson, for four years. At first, I intended to lurk by his side and find an opportunity to get my revenge. But little do I know that a medical report with my cancer diagnosis is capable of shattering my life's plans in an instant. Since then, I've quit my job and broken up with Sean. Now that I no longer give a damn about everything, I lash out at everyone who dares approach me. Everyone is weirded out by my behavior. They all wonder what made my personality go through such a huge change to the point that I'm easily triggered by the slightest inconvenience. My family is already ruined to begin with. My parents are dead, my family has gone bankrupt, and now I'm on the verge of death. My only wish is that I can screw Sean over so that my older brother, Adrian Price, can get released from prison as soon as possible. But I can't do anything about my wish at all. At that moment, my childhood friend stands by my side, consequences be damned. He takes good care of me and cares for me as he always does. When Sean finds out that I have terminal cancer, he actually agrees to help fulfill my wish. Half a year later, Adrian is released from prison. Sean also returns the company to my family. My wish is fulfilled. Everyone wants me to keep fighting for my life and continue receiving treatment for my cancer. I know that I need to keep going for their sake, even if it means extending my life for a day or even a month longer.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Chapter 1

“Dengan ini, Pengadilan Agama menyatakan bahwa gugatan cerai yang diajukan oleh Ny. Reina Mayumi terhadap Tn. Bimo Mahardika dikabulkan. Maka pernikahan keduanya dinyatakan berakhir secara sah.”

Suara palu hakim menggema keras di ruang sidang. Ketukan sederhana tapi, menghancurkan dua tahun kenangan penuh cinta. Reina meremas jemari, menahan kegetiran hati.

Tak ada air mata di wajah Reina. Dia membisu dengan tatapan kosong yang menyembunyikan badai. Tangannya saling meremas, bahkan air liur yang ditelan terasa seperti duri yang mengoyak tenggorokan.

Seharusnya, dia lega karena persidangan perceraian berjalan lancar tanpa drama. Nyatanya, selama berbulan-bulan ini nama Bimo masih bertahta di hatinya. Reina menggenggam kekecewaan yang menumpuk, menghembuskan napas perlahan untuk menenangkan diri.

“Nggak ada gunanya lagi,” ujar wanita yang baru saja sah menjadi janda tersebut. “Aku harus benar-benar melupakan Mas Bimo.”

Bimo bangkit dari kursinya, berjalan keluar ruang sidang tanpa sedikit pun menoleh pada Reina. Tersenyum lebar pada seorang wanita hamil yang menunggunya di luar. Mereka berpelukan, saling mengecup, tanpa mempedulikan tatapan tajam orang sekitar.

“Akhirnya kamu bercerai dengannya, Bim!” ucap Kinar setelah mengecup singkat bibir Bimo. “Jadi, kapan kamu akan menikahiku? Perutku semakin membesar.” Kinar merengek dengan bibir mengerucut.

“Bulan depan.” Jawaban Bimo membuat Kinar tersenyum manis.

Sementara itu, Arka menghampiri Reina yang masih termangu di tempatnya. Menggenggam erat tangan adiknya, menepuk pelan pundak wanita itu.

“Kita pulang, Rein.”

Reina menegakkan bahu, menahan napas yang terasa berat di dada, mengulas senyum tipis seraya menganggukkan kepala. Langkahnya tertatih, seakan menyeret beban berat.

“Rein….” Suara lembut menyapa saat ia keluar dari pengadilan. Sasha, sahabat Reina sejak SMA, meraih tangannya. “Kamu yakin nggak apa-apa?”

Reina tersenyum tipis sembari mengangguk. “Aku baik, kok. Aku lega sudah melepas pria bajingan itu.”

“Kalau ada apa-apa, hubungi aku, ya!” Sasha menyeka pipi Reina yang sedang mengangguk.

“Besok malam aku datang ke acara reuni SMA kita.” Reina tersenyum manis pada Sasha yang masih saja tampak mengkhawatirkan temannya itu.

“Serius?” tanya Sasha. Tentu dia senang. Tapi, dengan keadaan Reina saat ini, dia ragu.

“Hm!” Reina mengangguk lagi. “Aku baik-baik saja, Sasha.”

“Baiklah.” Sasha mengulas senyum. “Malam besok, aku jemput, ya.”

Reina tersenyum sebagai jawaban. Dia menghampiri Arka yang sedari tadi sudah menunggu di mobil. Wanita itu masuk, memakai sabuk pengaman dan menatap kosong ke luar kaca mobil. Tak ada pembicaraan apapun antara Reina dan Arka, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Mau makan sesuatu?” tanya Arka akhirnya, melirik adiknya yang tak menjawab karena masih melamun.

“Rein ….” Arka menyentuh lengan Reina, mengejutkan wanita itu.

“Ya?” sahutnya dengan suara parau. Matanya berkaca, tetapi tetap menyuguhkan senyum manis.

Arka terdiam beberapa saat melihat manik mata adiknya yang memerah. Sejurus kemudian, dia tersenyum. “Mau ice cream?”

Reina tertegun. Sedetik kemudian menutup wajahnya dengan tangan. Dia menggelengkan kepala, menangis sesenggukan hingga Arka menepikan mobil di pinggir jalan.

“Jangan menangis, Rein.”

“Maafkan aku, Kak!” ucap Reina. “Demi bisa menikah dengan Bimo, aku sampai melakukan hal-hal yang nggak seharusnya kulakukan. Nyatanya, Bimo pria sialan. Dia menghamili Kinar, bahkan mereka bercinta di depanku,” ujar Reina, kemudian tergugu.

Arka menghela pelan sambil manggut-manggut. Dia menarik Reina dalam dekapan, mengusap lembut puncak kepala adiknya.

“Jangan dipikirkan. Kakak lebih senang karena kamu memilih berpisah daripada menyimpan keburukan Bimo,” ucap Arka, suaranya sangat lembut.

Reina menghentikan tangis setelah puas menangis sampai jas Arka basah. Mereka melanjutkan perjalanan. Reina menolak semua makanan atau barang yang ditawari Arka. Setibanya di rumah, Reina langsung masuk kamar tanpa menyapa Bi Hanum, asisten rumah tangga yang dipekerjakan Arka.

“Bi, nanti antarkan makanan ke kamar Reina. Kalau ada apa-apa, saya di ruang kerja.”

“Baik, Tuan Arka,” jawab Bi Hanum sambil mengangguk.

Reina mengunci kamar, melempar dirinya ke atas ranjang tanpa menyalakan lampu. Dia menelungkup wajah, menangis sesenggukan menumpahkan kesedihan yang tak terungkap.

Tubuhnya bergetar, tangannya kuat mencengkram seprai, sesekali memukul tempat tidur tanpa mempedulikan suara ketukan pintu kamarnya. Urat leher Reina memegang saat dia menjerit, tapi membekap mulutnya sendiri. Menghentak kaki, dan memukul dadanya yang sesak.

“Tuhan, kenapa Engkau mempertemukan aku dengan Bimo? Dua tahun kebersamaan kami nggak ada arti bagi pria bajingan itu!” Reina tergugu.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan masih terdengar di depan pintu. Bi Hanum resah berdiri sambil memegang nampan makanan.

“Nona, buka pintunya! Nona belum makan dari pagi. Ini bibi bawakan makan.” Bi Hanum menaikkan intonasi suara.

Bi Hanum menoleh ke belakang ketika mendengar suara langkah kaki. Dia memperhatikan pria bersetelan jas yang sedang berjalan ke arahnya, sesekali menoleh ke ruang kerja Arka yang berada di pojok ruangan.

Melihat Bi Hanum membawa nampan, pria itu langsung paham.

“Biar aku yang masuk.”

Bi Hanum mengangguk kecil seraya menyerahkan nampan pada pria di hadapannya.

“Ada kunci cadangan?”

Bi Hanum mengangguk. “Ada. Tapi, sama Tuan Arka.”

“Ambilkan kunci cadangan. Aku menunggu di sini. Tapi, jangan beritahu Arka kalau aku datang.” Pria itu selalu memasang tampang serius.

“Kenapa, Tuan Alvano?” tanya Bi Hanum. Namun, melihat wajah datar yang selalu menyimpan ketegasan itu, Bi Hanum segera mengangguk.

Tak lama, wanita berusia 50 tahun itu kembali sambil membawa kunci, membukakan pintu, membiarkan Alvano masuk. Aroma parfum Reina menyeruak dari kamar gelap di hadapannya. Tanpa ragu, Alvano masuk dan menutup pintu.

Alvano meletakkan nampan di atas nakas. Dalam gelap, dia bisa mengingat area kamar Reina dengan baik.

Srakk!

Alvano menyibak gorden kamar Reina, membuat wanita itu terkejut dan langsung menatap ke arah jendela kamarnya. Reina tertegun melihat seorang pria berwajah datar yang tengah menatapnya.

“Kak Alvano?” pekik Reina, tak percaya kini Alvano berdiri di depannya.

“Masih menangisi bajingan itu?” Suara dingin Alvano membekukan tubuh Reina.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Reina, suaranya serak. “Keluar!”

Alvano bergeming tanpa mengalihkan pandang dari Reina yang tampak kacau. Pria berusia 27 tahun itu melipat tangan di dada, sorot tajamnya tak lepas dari wajah sembab Reina.

Reina berdecak kecil, tak suka dengan kehadiran Alvano. Dia menarik tangan pria itu, tapi Alvano seperti patung, tak bergeser sedikitpun. Reina menyeret pria itu dengan berbagai cara tapi, hasilnya nihil.

Dalam sekejap, Alvano mengubah posisi. Dia mencengkram pergelangan tangan Reina, menarik wanita itu sampai punggungnya membentur dinding. Alvano mengukung Reina dengan tangannya, mengikis jarak hingga hembusan napas pria itu membelai wajah Rein.

Debaran jantung Alvano terasa hampir menembus rongga dadanya. Wajahnya merona bisa sedekat itu dengan Reina. Tangannya bergerak membelai, rindu yang terpendam, cinta yang disembunyikan, dan rasa senang yang mendominasi.

“Akhirnya kamu dan bajingan itu bercerai. Aku senang sekarang kamu menjadi janda,” ucap Alvano, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Reina.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Tidak ada komentar
25 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status