MasukI've been dating my enemy, Sean Thompson, for four years. At first, I intended to lurk by his side and find an opportunity to get my revenge. But little do I know that a medical report with my cancer diagnosis is capable of shattering my life's plans in an instant. Since then, I've quit my job and broken up with Sean. Now that I no longer give a damn about everything, I lash out at everyone who dares approach me. Everyone is weirded out by my behavior. They all wonder what made my personality go through such a huge change to the point that I'm easily triggered by the slightest inconvenience. My family is already ruined to begin with. My parents are dead, my family has gone bankrupt, and now I'm on the verge of death. My only wish is that I can screw Sean over so that my older brother, Adrian Price, can get released from prison as soon as possible. But I can't do anything about my wish at all. At that moment, my childhood friend stands by my side, consequences be damned. He takes good care of me and cares for me as he always does. When Sean finds out that I have terminal cancer, he actually agrees to help fulfill my wish. Half a year later, Adrian is released from prison. Sean also returns the company to my family. My wish is fulfilled. Everyone wants me to keep fighting for my life and continue receiving treatment for my cancer. I know that I need to keep going for their sake, even if it means extending my life for a day or even a month longer.
Lihat lebih banyak“Dengan ini, Pengadilan Agama menyatakan bahwa gugatan cerai yang diajukan oleh Ny. Reina Mayumi terhadap Tn. Bimo Mahardika dikabulkan. Maka pernikahan keduanya dinyatakan berakhir secara sah.”
Suara palu hakim menggema keras di ruang sidang. Ketukan sederhana tapi, menghancurkan dua tahun kenangan penuh cinta. Reina meremas jemari, menahan kegetiran hati. Tak ada air mata di wajah Reina. Dia membisu dengan tatapan kosong yang menyembunyikan badai. Tangannya saling meremas, bahkan air liur yang ditelan terasa seperti duri yang mengoyak tenggorokan. Seharusnya, dia lega karena persidangan perceraian berjalan lancar tanpa drama. Nyatanya, selama berbulan-bulan ini nama Bimo masih bertahta di hatinya. Reina menggenggam kekecewaan yang menumpuk, menghembuskan napas perlahan untuk menenangkan diri. “Nggak ada gunanya lagi,” ujar wanita yang baru saja sah menjadi janda tersebut. “Aku harus benar-benar melupakan Mas Bimo.” Bimo bangkit dari kursinya, berjalan keluar ruang sidang tanpa sedikit pun menoleh pada Reina. Tersenyum lebar pada seorang wanita hamil yang menunggunya di luar. Mereka berpelukan, saling mengecup, tanpa mempedulikan tatapan tajam orang sekitar. “Akhirnya kamu bercerai dengannya, Bim!” ucap Kinar setelah mengecup singkat bibir Bimo. “Jadi, kapan kamu akan menikahiku? Perutku semakin membesar.” Kinar merengek dengan bibir mengerucut. “Bulan depan.” Jawaban Bimo membuat Kinar tersenyum manis. Sementara itu, Arka menghampiri Reina yang masih termangu di tempatnya. Menggenggam erat tangan adiknya, menepuk pelan pundak wanita itu. “Kita pulang, Rein.” Reina menegakkan bahu, menahan napas yang terasa berat di dada, mengulas senyum tipis seraya menganggukkan kepala. Langkahnya tertatih, seakan menyeret beban berat. “Rein….” Suara lembut menyapa saat ia keluar dari pengadilan. Sasha, sahabat Reina sejak SMA, meraih tangannya. “Kamu yakin nggak apa-apa?” Reina tersenyum tipis sembari mengangguk. “Aku baik, kok. Aku lega sudah melepas pria bajingan itu.” “Kalau ada apa-apa, hubungi aku, ya!” Sasha menyeka pipi Reina yang sedang mengangguk. “Besok malam aku datang ke acara reuni SMA kita.” Reina tersenyum manis pada Sasha yang masih saja tampak mengkhawatirkan temannya itu. “Serius?” tanya Sasha. Tentu dia senang. Tapi, dengan keadaan Reina saat ini, dia ragu. “Hm!” Reina mengangguk lagi. “Aku baik-baik saja, Sasha.” “Baiklah.” Sasha mengulas senyum. “Malam besok, aku jemput, ya.” Reina tersenyum sebagai jawaban. Dia menghampiri Arka yang sedari tadi sudah menunggu di mobil. Wanita itu masuk, memakai sabuk pengaman dan menatap kosong ke luar kaca mobil. Tak ada pembicaraan apapun antara Reina dan Arka, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. “Mau makan sesuatu?” tanya Arka akhirnya, melirik adiknya yang tak menjawab karena masih melamun. “Rein ….” Arka menyentuh lengan Reina, mengejutkan wanita itu. “Ya?” sahutnya dengan suara parau. Matanya berkaca, tetapi tetap menyuguhkan senyum manis. Arka terdiam beberapa saat melihat manik mata adiknya yang memerah. Sejurus kemudian, dia tersenyum. “Mau ice cream?” Reina tertegun. Sedetik kemudian menutup wajahnya dengan tangan. Dia menggelengkan kepala, menangis sesenggukan hingga Arka menepikan mobil di pinggir jalan. “Jangan menangis, Rein.” “Maafkan aku, Kak!” ucap Reina. “Demi bisa menikah dengan Bimo, aku sampai melakukan hal-hal yang nggak seharusnya kulakukan. Nyatanya, Bimo pria sialan. Dia menghamili Kinar, bahkan mereka bercinta di depanku,” ujar Reina, kemudian tergugu. Arka menghela pelan sambil manggut-manggut. Dia menarik Reina dalam dekapan, mengusap lembut puncak kepala adiknya. “Jangan dipikirkan. Kakak lebih senang karena kamu memilih berpisah daripada menyimpan keburukan Bimo,” ucap Arka, suaranya sangat lembut. Reina menghentikan tangis setelah puas menangis sampai jas Arka basah. Mereka melanjutkan perjalanan. Reina menolak semua makanan atau barang yang ditawari Arka. Setibanya di rumah, Reina langsung masuk kamar tanpa menyapa Bi Hanum, asisten rumah tangga yang dipekerjakan Arka. “Bi, nanti antarkan makanan ke kamar Reina. Kalau ada apa-apa, saya di ruang kerja.” “Baik, Tuan Arka,” jawab Bi Hanum sambil mengangguk. Reina mengunci kamar, melempar dirinya ke atas ranjang tanpa menyalakan lampu. Dia menelungkup wajah, menangis sesenggukan menumpahkan kesedihan yang tak terungkap. Tubuhnya bergetar, tangannya kuat mencengkram seprai, sesekali memukul tempat tidur tanpa mempedulikan suara ketukan pintu kamarnya. Urat leher Reina memegang saat dia menjerit, tapi membekap mulutnya sendiri. Menghentak kaki, dan memukul dadanya yang sesak. “Tuhan, kenapa Engkau mempertemukan aku dengan Bimo? Dua tahun kebersamaan kami nggak ada arti bagi pria bajingan itu!” Reina tergugu. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan masih terdengar di depan pintu. Bi Hanum resah berdiri sambil memegang nampan makanan. “Nona, buka pintunya! Nona belum makan dari pagi. Ini bibi bawakan makan.” Bi Hanum menaikkan intonasi suara. Bi Hanum menoleh ke belakang ketika mendengar suara langkah kaki. Dia memperhatikan pria bersetelan jas yang sedang berjalan ke arahnya, sesekali menoleh ke ruang kerja Arka yang berada di pojok ruangan. Melihat Bi Hanum membawa nampan, pria itu langsung paham. “Biar aku yang masuk.” Bi Hanum mengangguk kecil seraya menyerahkan nampan pada pria di hadapannya. “Ada kunci cadangan?” Bi Hanum mengangguk. “Ada. Tapi, sama Tuan Arka.” “Ambilkan kunci cadangan. Aku menunggu di sini. Tapi, jangan beritahu Arka kalau aku datang.” Pria itu selalu memasang tampang serius. “Kenapa, Tuan Alvano?” tanya Bi Hanum. Namun, melihat wajah datar yang selalu menyimpan ketegasan itu, Bi Hanum segera mengangguk. Tak lama, wanita berusia 50 tahun itu kembali sambil membawa kunci, membukakan pintu, membiarkan Alvano masuk. Aroma parfum Reina menyeruak dari kamar gelap di hadapannya. Tanpa ragu, Alvano masuk dan menutup pintu. Alvano meletakkan nampan di atas nakas. Dalam gelap, dia bisa mengingat area kamar Reina dengan baik. Srakk! Alvano menyibak gorden kamar Reina, membuat wanita itu terkejut dan langsung menatap ke arah jendela kamarnya. Reina tertegun melihat seorang pria berwajah datar yang tengah menatapnya. “Kak Alvano?” pekik Reina, tak percaya kini Alvano berdiri di depannya. “Masih menangisi bajingan itu?” Suara dingin Alvano membekukan tubuh Reina. “Ngapain kamu di sini?” tanya Reina, suaranya serak. “Keluar!” Alvano bergeming tanpa mengalihkan pandang dari Reina yang tampak kacau. Pria berusia 27 tahun itu melipat tangan di dada, sorot tajamnya tak lepas dari wajah sembab Reina. Reina berdecak kecil, tak suka dengan kehadiran Alvano. Dia menarik tangan pria itu, tapi Alvano seperti patung, tak bergeser sedikitpun. Reina menyeret pria itu dengan berbagai cara tapi, hasilnya nihil. Dalam sekejap, Alvano mengubah posisi. Dia mencengkram pergelangan tangan Reina, menarik wanita itu sampai punggungnya membentur dinding. Alvano mengukung Reina dengan tangannya, mengikis jarak hingga hembusan napas pria itu membelai wajah Rein. Debaran jantung Alvano terasa hampir menembus rongga dadanya. Wajahnya merona bisa sedekat itu dengan Reina. Tangannya bergerak membelai, rindu yang terpendam, cinta yang disembunyikan, dan rasa senang yang mendominasi. “Akhirnya kamu dan bajingan itu bercerai. Aku senang sekarang kamu menjadi janda,” ucap Alvano, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Reina.Paul was naturally reluctant, but this was the only way Cassandra would understand how important today was.She was already in a foul mood, and the chatter around her grated on her nerves."Hey, Luke! I checked your ID last time. I know today's not your birthday. Did you change your age or something?" someone remarked."I just like celebrating early," Luke replied. "Why do you care anyway? Quit your whining. Every day is a good day for drinking. Whoever stops first is a wimp! Now, fill my glass!"I wasn't particularly into the game either. Losing meant nothing to me. When it was time for my "penalty", I glanced at Cassandra.She wasn't looking at me.I kissed the woman next to me on the cheek.But I knew that wasn't why Cassandra wanted to break up with me. All these years, I'd indulged her, turning a blind eye to whatever she did.I'd known she would leave me eventually. I just never imagined it would be now, nor did I think she would leave with such finality.By the time I l
Later, I heard that Jason had taken Cassandra abroad. Perhaps I'd done too many reprehensible things in my life, because when I found out about that, I almost felt relieved.The fact that she was willing to go with him was enough.Still, she returned quickly, sooner than I expected.When I saw her name on the list of interviewees for the position, I froze for a long time.I urgently rescheduled the interview for the next day.At that time, it had been four months since we last saw each other. When the Price family was in trouble, I hadn't shown up at all. The last time we sat this close, I was still calling her "Cassie"."Ms. Price," I said. "Are you aware of the position you're applying for?"The role in question was secretary to the general manager at Thompson Group's branch office—the former Price Corporation.Cassandra was still unable to control her emotions well. At my deliberate provocation, her eyes instantly welled up.I thought she would burst out crying within three
I began deliberately avoiding any news related to the Prices. I only learned in passing that Cassandra had been kidnapped by an enemy of the Price family from a news report that was playing in one of my employees' offices. The sudden collapse of Price Corporation had triggered a chain reaction of consequences. Some people lost their fortunes. Some lost their families. As for others, they lost both in the process.Some more extreme people seemed intent on dragging others down with them, driven by their desperate kill-or-be-killed obsession.The Price family was gone. Arthur was dead, and Adrian was in prison. So, naturally, Cassandra became the target of everyone's anger.The kidnappers planned it meticulously. They abducted Cassandra in a surveillance blind spot, using fake license plates and taking the back routes all the way. As a result, it took 24 hours after her abduction for anyone to report it. If Jason hadn't happened to return to the country, no one might have ever repo
A few years ago, Price Corporation could still be considered a business worth taking seriously. But against Thompson Group, especially as it stood then, it posed no real threat.That part was easy enough to take care of. Next came the emotional aspect.My thoughts instinctively turned to Arthur's pampered daughter, Cassandra. Sitting at my desk, I stared at the crumpled photograph of Carrie. Cassandra's features bore a certain resemblance to her mother's.Within days, I was able to map out her preferences. I then entered her life on a day perfect for romance.As she quickly brought her finished work to me, I responded coolly. I observed her bashful expression—I knew then that I had her.I'd been blessed with naturally striking looks, and I intended to make full use of them.Cassandra was rather straightforward. Upon learning that I was a part-time teaching assistant at her high school, she showed up punctually for every class I was in.She was more innocent than I'd imagined.
I didn't want to get tangled up in this nonsense with Sean any longer. A wave of fatigue washed over me. Someone approached me from behind, his hand covering mine on the doorframe.Jason stood protectively behind me as he spoke."Are you hungry? Dinner's ready."I hummed in acknowledgment, pullin
For me, time was the most precious thing I couldn't afford to waste now. I was discharged from the hospital the next day.Jason had barely lifted me out of the car when he said, "There. We're home."My eyes stung. My vision was blurry to the point that all I could make out was his vague silhouette
When I woke up, the ward was entirely silent. It seemed as though everything that had happened had been nothing but a dream.I could tell Jason was getting busier by the day. Sometimes, he would come by around two or three in the morning, only to leave a few hours later around six o'clock. I knew h
When it came to having me receive treatment in the hospital, Jason displayed an unshakeable decisiveness. Unfortunately, the person he was dealing with was me, and this was the one thing I refused to budge on.Sadly, I didn't hold out for more than a few hours. I suddenly developed a fever in the m
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.