INICIAR SESIÓN"Ya sudah, kalau ibu kamu tetap pada pendiriannya Aku pun begitu." tegas Hesti.
"Hes ... jangan begitu dong. Ibu aku kan juga ibu kamu. Masa kamu tega begitu."
"Gak mas ... aku bukannya tega. Tapi aku juga sudah terlalu lama tega kepada diriku sendiri. Aku ingin senang-senang. Menikmati uang yang aku hasilkan. Selama ini, aku tak menikmati hasil dari apa yang aku kerjakan. Boleh dong kalau aku egois?"
"Hes ... jangan begitu."
"Kalau Mas mau memberikan uang un
*2 Bulan Setelah Erika Divonis Penjara*Langit Jakarta tampak jingga. Angin pantai berembus pelan ke Restoran Sunset Deck yang sengaja dipesan Arga khusus malam itu.Hesti belum menaruh curiga. Katanya hanya “makan malam biasa untuk merayakan Raka naik kelas”.“Ar, tempatnya bagus sekali. Pasti mahal, ya?” ucap Hesti sambil merapikan gaun putih selututnya dengan gugup.Arga hanya tersenyum lalu menggandeng tangan Hesti. “Sekali-sekali, Hes. Kamu sudah bekerja keras. Raka juga juara satu.”Mereka duduk di meja paling ujung, tepat menghadap ke laut. Lilin-lilin kecil menyala di setiap meja.Hesti baru hendak membuka menu, tiba-tiba alunan keroncong Kemayoran versi akustik mulai dimainkan.“Eh? Ada live music?” Hesti menoleh.Dari ujung dek, Raka muncul. Ia mengenakan kemeja batik biru, rambut tersisir rapi, dan membawa kotak beludru kecil. Di belakangnya tampak Mama dan Papa Arga. Hesti langsung berdiri. “Lho... Om? Tante? Kok bisa ada di sini semua?” Matanya seketika berkaca-kaca.Arga
Hesti menendang tangan Erika sekuat tenaga. Suntikan itu jatuh, menggelinding.Di luar, suara sirine polisi udah kedengeran. Tetangga unit 1709 denger ribut-ribut dari tadi dan nelpon security.Erika panik. Dia ngeliat ke Hesti yang berdiri gemeter di pojokan, ke Arga yang nadanya napas berat, ke darah di tangannya sendiri.Terus dia tersenyum aneh."Kamu menang, Hesti," bisiknya. "Kamu mendapetkan Arga. Kamu mendapatkan Raka. Tapi ingat..." matanya nyalang natap Hesti, "...aku tak akan pernah berhenti. Di penjara sekalipun, aku akan keluar. Dan aku akan mencari kamu lagi."BRAK!Pintu kebanting kebuka. 4 polisi sama security masuk, senjata udah dikeluarin."TANGAN DI ATAS! JANGAN BERGERAK!"Arga langsung angkat tangan, memberikan jalan. Dua polisi cepet-cepet borgol Erika dan bodyguard yang terluka itu. Erika malah masih ketawa-ketiwi di lantai."Arga! Hesti! Selamat yaaa! Selamat berbahagia di atas penderitaanku! Karma pasti berlaku. Tuhan tidak tidur!" Erika teriak-teriak sambil di
Ternyata seorang pria tidak dikenal. "House Keeping!""Maaf, Pak. Saya tidak pesan.""Tapi tadi ada pesanan atas nama unit ini, Pak." jawab house keeping itu."Tidak ada, Pak. Tolong tidak perlu masuk." tolak Arga. Pria itu tak mau mengambil resiko sama sekali dengan kedatangan orang asing ke unit apartemennya. "Baiklah, Pak."Arga dan Hesti bisa bernafas lega sebentar. Setidaknya, tidak ada yang masuk ke dalam unit apartemen mereka. "Ar." panggil Hesti perlahan.Dua hari mereka di dalam apartemen dan tidak keluar sama sekali. Tentu saja bahan makanan sudah habis. "Kita belanja dulu untuk kebutuhan sehari-hari?" ajak Hesti. Kulkas sudah kosong. Tak mungkin juga mereka hanya makan angin bukan?"Ok. Kita ke supermarket terdekat saja. Jangan lupa masker, kacamata dan topi." Arga mengingatkan.Mereka berdua pun keluar dari unit apartemen kemudian mulai berbelanja. Terburu-buru. Tepatnya seperti itu. Setelah selesai, mereka pun kembali ke apartemen. Tapi baru saja akan menutup pintu
Akhirnya Arga turun dari pesawat dengan napas ngos-ngosan. Jasnya lepas, dasinya kendor. Tidak ada sopan-santun pengacara top. Yang ada cuma panik.HP-nya tidak berhenti menghubungi Hesti setiap 5 menit."Hes, aku sudah landing. Kamu di mana? Apa masih di kantor?""I-iya, Ar. Aku di lobby, sama security," suara Hesti gemeter di telepon. "Dari tadi ada wartawan menunggu di depan. Aku takut keluar.""Jangan keluar. 15 menit lagi aku sampai."Arga membanting pintu taksi. "Pak, cepetan bisa? Saya tambah 500 ribu."*Di kamar kos kumuh, Surabaya.Erika udah ganti penampilan. Wig hitam sebahu, kacamata tebel, pake seragam kemeja biru muda kayak pegawai bank. KTP palsunya tertulis: Dewi Lestari.Dia menatap foto Hesti yang dia print segede A4. Di foto itu ada alamat kantor Hesti yang tersebar di Twitter.Wanita itu tersenyum miring. "Security, ya? Wartawan juga ada? Bagus. Makin rame, makin gampang nyelip."Dia masukin cutter kecil, suntikan kosong, sama botol air mineral ke tas selempang."
Satu minggu setelah ketemuan di restoran pertama kali ketemu Raka. Hesti akhirnya luluh. Bukan balikan dengan Arga, tapi dia nggak nolak waktu Arga bilang, "Besok aku ke Surabaya lagi. Raka ikut. Dia pengen ketemu 'Tante Hesti'. Boleh ya?"Hesti nggak tega nolak. Raka masih kecil. Nggak ada salah apa-apa kepadanya. Lagipula Raka juga anak yang menyenangkan, sangat berbeda dari Erika.Sabtu pagi, Kebun Binatang Surabaya."Raka! Jangan lari-lari!" Hesti ketawa sambil ngejar anak kecil yang pake topi polo itu.Raka nengok, nyengir lebar. "Tante Hesti cepetan! Jerapahnya mau makan!"Di belakang mereka, Arga jalan pelan sambil nenteng tas ransel Raka dan dua botol minum. Matanya nggak lepas dari Hesti sama Raka.Anak itu narik tangan Hesti, nunjuk-nunjuk kandang jerapah. "Tante, lehernya panjang banget ya? Kayak leher Papa kalau lagi nyari Tante!"Hesti tersedak. Arga di belakang langsung batuk pura-pura nggak denger."Raka pinter ya," Hesti nyubit pipi Raka gemes. "Udah, sekarang foto ya.
Arga menelan ludah. Tangannya bergetar seperti mau menyentuh tangan Hesti di atas meja, tapi nggak jadi."Aku nggak mau apa-apa, Hes," jawabnya lirih. "Aku cuma... kangen. Kangen ngobrol sama kamu kayak gini. Tanpa teriak-teriak. Tanpa piring pecah. Tanpa ada yang harus pura-pura."Hesti ketawa kecil, pahit. "Kita dulu cuma pacaran sebentar, Ar.""Iya," Arga ngangguk. "Kita dulu cuma pacaran sebentar. Tapi kita sudah kenal sangat lama dan aku mencintai kamu juga sejak lama. Hatiku kosong."Angin sore masuk lewat pintu restoran yang terbuka. Membawa rasa dingin di tubuh Hesti setelah mendengar perkataan Arga."Raka gimana?" Hesti tiba-tiba nanya. Mengalihkan topik pembicaraan.Arga tersenyum, akhirnya. Tulus. "Dia baik. Sama Oma Opanya sekarang. Tiap malem video call.""Arga," panggilnya. Suaranya bergetar. "Kamu yang kuat ya."Arga mengangguk pelan. "Bisakah kita bersama lagi, Hes?"Hesti terdiam."Aku nggak akan maksa kalau kamu gak mau. Paling tidak, tolong kaasih aku kesempatan tem







