LOGINMenikah demi rumah sakit masih bisa ia terima. Tapi menghamili gadis ODGJ yang bahkan tak tahu arti pernikahan? Dokter Eryas dihadapkan pada dilema moral-dan misteri besar bernama Eira Ranieri. Moral atau modal, yang manakah yang Eryas pilih?
View More“Kepemilikan cabang rumah sakit di Cikitsapura?” Eryas Ardianza, pria berusia tiga puluh satu tahun dengan wajah awet muda bak pria dua puluh tiga, mengulang perlahan ucapan di hadapannya. Suaranya tenang, namun matanya menyimpan sorot curiga.
Di hadapannya, seorang pria paruh baya menyeringai lebar. Renaldi Ranieri. Pejabat publik yang dikenal masyarakat sebagai sosok dermawan, namun bagi mereka yang mengenalnya lebih dekat—ia bukan sekadar itu. “Hehe…” Renaldi terkekeh pendek, nadanya mengandung sesuatu yang sulit dijabarkan—antara ejekan, candaan, dan ancaman tersembunyi. “Eryas Ardianza…” katanya sembari menghela napas panjang, seolah akan memberi sebuah penghargaan, padahal belum tentu. “Kau adalah seorang dokter spesialis psikiatri dan virologi. Bukan hal yang mudah untuk bisa mencapai itu semua di usia semuda dirimu.” Eryas membalas tatapannya, tajam dan penuh kalkulasi. Ia mencoba membaca maksud di balik senyum licik itu, dan perlahan berkata, “Apa yang Anda inginkan dari saya?” Renaldi tidak menjawab. Ia hanya terkekeh sekali lagi, lalu bertepuk tangan. Sekali. Keras. Beberapa detik kemudian, pintu ruangan terbuka. Dua orang satpam masuk sambil menyeret seorang gadis yang tampak seperti remaja belasan tahun. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, rambutnya kusut, dan pakaiannya lusuh, bahkan ada beberapa bagian yang robek. Ia meronta liar, menggeliat dan berteriak seperti orang ketakutan. “Aahhh! Kyaaa!” Gadis itu menjerit keras, membuat suasana seketika tegang. Dua satpam itu terlihat kewalahan menahannya. “Eira! Diamlah! Jangan berisik!” bentak Renaldi keras. Seketika gadis itu terdiam, seolah kendali hidupnya diputar balik hanya dengan satu bentakan ayahnya. Ia memandang ruangan dengan sorot bingung, ketakutan. Matanya besar, kosong, dan tubuhnya gemetar hebat. “Eira! Kemari!” titah Renaldi lagi, kali ini lebih tenang—tapi nada otoritasnya terasa mengguncang. Seakan tanpa kendali atas dirinya, gadis itu berjalan sempoyongan, lalu berlutut tepat di bawah kaki pria itu. Renaldi mengusap rambutnya dengan lembut, kontras dengan sikap dinginnya sebelumnya. “Maaf atas sikap tidak sopan putri saya,” katanya dengan nada seolah tak terjadi apa pun. Eryas menghela napas. Sebagai psikiater, ia sudah terlalu sering melihat pasien dengan kondisi serupa. Namun kali ini, ada yang berbeda. Terlalu rapi. Terlalu... dipaksakan. “Jadi, syarat agar saya mendapatkan rumah sakit ini adalah dengan merawat putri Anda sampai sembuh?” tanyanya, masih menjaga nada profesional. Renaldi menyeringai lebar, tatapannya kini berubah lebih gelap. “Tepat.” Ia mendekat sedikit. “Termasuk memberinya keturunan.” “A–apa?” Eryas sontak berdiri, terperanjat oleh ucapan itu. Napasnya tercekat. Untuk sesaat, ia bahkan tak bisa berkata-kata. Renaldi menyodorkan sebuah berkas ke meja, bunyinya cukup keras di ruangan yang sunyi. Di atasnya tertera jelas: Kontrak Pernikahan. "Tandatangani kontrak pernikahan ini! Maka cabang rumah sakit ini akan menjadi milikmu," katanya dengan nada tenang, namun menyimpan tekanan kuat yang sulit ditolak. Eryas menatap dokumen itu sejenak, lalu mengangkat kepalanya. Tatapannya dingin menusuk, penuh ketegasan dan kejijikan. "Bagaimana jika saya tidak mau?" tanyanya datar. Renaldi menyeringai. "Aku adalah seorang pejabat. Kementerian Kesehatan." Ia berjalan memutari meja, mendekati Eryas. "Apa kau punya hak untuk menolak?" Ia berhenti di sisi Eira, menunduk untuk memandangi putrinya yang masih duduk di lantai dengan pakaian kusut dan rambut acak-acakan. Meski terlihat kacau, wajah gadis itu tetap memancarkan pesona alami. "Ayolah... Tidakkah anakku sangat cantik?" Renaldi menyentuh rambut Eira, membelainya sejenak lalu mencengkram dagunya kasar. "Kau hanya perlu sedikit mendandaninya dengan baik. Eira akan melayanimu dengan baik." Wajah Eryas menegang. Pupil matanya menyempit ketika melihat pria itu memperlakukan Eira seperti boneka rusak. "Benar kan, Eira?" Gadis itu hanya diam, menatap ayahnya dengan mata kosong. Tak ada reaksi. Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Eira, membuat kepalanya terhuyung ke samping. "Dasar tidak berguna!" maki Renaldi, sebelum menginjak punggung putrinya dengan sepatu kulitnya. Tubuh Eira jatuh tersungkur, bersujud di lantai dengan susah payah bernapas. "Cepat katakan bahwa kau mau menikah dengan Eryas!" "A–a... A..." Eira mencoba bersuara, namun tekanan di punggungnya terlalu menyakitkan. Napasnya sesak. "Pak Renaldi! Hentikan itu! Ini terlalu berlebihan!" Dengan gerakan cepat, Eryas menarik tubuh Eira dari lantai dan memeluknya erat. Matanya membara—bukan karena cinta, tapi amarah. Renaldi justru tersenyum puas. "Baguslah kalau kau sudah mulai menyukainya. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk menolak pernikahan kalian, bukan?" Eryas mengepalkan tangan. Otot-otot rahangnya menegang. Hatinya bergejolak. "Ada apa, Eryas?" Renaldi menatapnya dengan penuh kemenangan. "Ini adalah transaksi yang sepadan untuk kalian. Kalian hanya harus menikah dan melahirkan cucuku saja." "Ini sangat tidak bermoral!" Suara Eryas meninggi, tapi tetap terkontrol. Tatapannya menusuk tajam. Renaldi berjalan pelan ke arah pintu. Ia berdiri membelakangi Eryas, namun sebelum melangkah keluar, ia berhenti. "Eryas Ardianza..." katanya pelan namun penuh tekanan. Ia menoleh setengah, menatap pria muda itu dengan mata dingin. "Lalu, kau pikir dirimu sangat bermoral? Apa semua masa lalumu itu bisa dimaafkan, Eryas?" Senyumnya menghilang, berganti sorot tajam. "Tenaga medis yang sudah membahayakan ribuan nyawa seperti dirimu tidak pantas mengatakan tentang moralitas." "Eryas! Jangan kau pikir kau bisa terbebas dari dosa masa lalumu begitu saja! Jika bukan karena diriku, kau—" Belum sempat Renaldi menyelesaikan kalimatnya, suara dingin Eryas memotongnya tajam. "Saya terima keinginan Bapak." Hening sejenak. Renaldi menoleh perlahan, alisnya terangkat. Senyum licik mulai terukir di wajahnya. "Apa? Coba katakan sekali lagi!" Eryas mendongak, menatap Renaldi lurus-lurus. Rahangnya mengeras, dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Saya setuju menikah dengan Eira, putri Bapak. Dan menjadi pengelola salah satu cabang rumah sakit milik Bapak." Ucapannya jelas, mantap, dan dingin. Namun, sorot matanya mengandung sesuatu yang jauh lebih dalam—perlawanan yang ia kubur sendiri. Ada rasa muak yang tak bisa ia sembunyikan, tapi harus ia telan bulat-bulat. Di balik sikap tegasnya, ada sesuatu yang mengganjal di hati. Ia tahu keputusan ini akan menyeretnya lebih jauh ke dalam jurang penyesalan, tapi apa pilihan lain yang ia punya? Demi masa depan, demi hidupnya saat ini, dan demi mengubur kelamnya masa lalu... Eryas, sekali lagi, harus melakukan hal yang paling ia benci—mengkhianati dirinya sendiri.Udara malam yang tenang hanya dipecah oleh suara napas dua insan yang kini berada dalam ruang yang sama—ditemani aroma lembut minyak aromaterapi yang menyelimuti seluruh ruangan. Cahaya lampu redup memantul di kulit Eira, menciptakan bayangan halus di sepanjang lekuk punggungnya yang dipijat perlahan oleh tangan Eryas. "Jadi, kita tidak perlu melakukan hal seperti itu untuk mendapatkan anak?" tanya Eira dengan polos, suaranya terdengar lembut namun menggantung di udara. Eryas tersenyum kecil, tetap fokus pada pijatannya. "Sebenarnya hal itu diperlukan untuk foreplay. Tapi rencanaku adalah membuatmu relaks. Otot tubuhmu terlihat tegang. Ditakutkan jika melakukan penetrasi akan merasa sakit." Ia menekan lembut punggung Eira, suaranya terdengar lebih dalam namun tetap menenangkan. "Yang penting sekarang, nikmati dulu pijatannya. Buat dirimu relaks dan katakan jika ada yang membuatmu tidak nyaman!" Eira hanya mengangguk pelan. Ia menutup matanya perlahan, menyerahkan diri pada kehang
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit dalam balutan gelap pekat. Lampu di kamar menyala redup, menyebarkan cahaya hangat yang memantul di dinding. Di atas ranjang, sepasang suami istri itu telah berbaring berdampingan. Eryas memiringkan tubuhnya, menghadap Eira. Tatapannya lembut, namun di balik ketenangan itu ada aura dominan yang samar—seolah ia mengamati, menilai setiap reaksi kecil yang muncul di wajah Eira. Eira, yang menyadari tatapan itu, menoleh perlahan. Sorot matanya bertemu dengan mata Eryas, dan dalam sekejap udara di antara mereka menjadi begitu sunyi. Detak jam dinding terdengar jelas, berdenting pelan seperti menghitung waktu yang melambat. Eryas mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh pipi Eira dengan lembut. Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. “Sudah malam. Ayo tidur,” titahnya lembut. Eira menggeleng cepat. “Tidak mau! Aku belum bisa tidur. Aku masih penasaran.” Eryas mengangkat alis sedikit, suaranya tetap tenang. “Tentang apa? Tentang c
“Kau mau uang?” tanya Eryas dengan nada datar tapi matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang dalam. Ia kemudian merogoh sakunya perlahan, mengeluarkan dompet kulit berwarna hitam yang tampak sudah sering dipakai. Gerakannya tenang, penuh perhitungan, seolah bahkan tindakan sekecil itu memiliki makna tersendiri. Dari sela lipatan dompet, Eryas menarik selembar uang berwarna ungu, halus dan masih kaku, lalu menyerahkannya kepada Eira. “Karena kau baru pertama kali memegang uang, aku akan mengawasimu. Sekarang, ayo kita ke kantin dan aku akan mengajarimu cara menggunakan uang.” Eira menerima uang itu dengan kedua tangan, memandangi kertas berwarna ungu itu seperti benda asing dari dunia lain. Mata peraknya menatapnya penuh kebingungan dan kekaguman sekaligus. “Kantin?” gumamnya pelan, seolah kata itu sendiri terdengar aneh di telinganya. Eryas bangkit dari kursinya, jas dokternya berayun ringan. Ia mengulurkan tangan ke arah Eira dengan sikap penuh wibawa tapi lembut. “Benar. Kita a
Di ruang pemeriksaan, Eira hanya duduk diam di atas ranjang pasien yang terasa dingin. Bau antiseptik menusuk hidungnya, membuat dada terasa sedikit sesak. Tubuhnya tegang ketika alat-alat medis mulai dipasang satu per satu di kulitnya—beberapa terasa dingin, sebagian lainnya menggelitik. Eira menoleh ke samping, matanya menangkap gelembung aneh yang perlahan membesar di lengannya. Cairan transparan di dalamnya beriak lembut, seperti hidup. Jantungnya berdetak lebih cepat. 'Apa ini normal? Kenapa rasanya seperti tubuhku sedang diperiksa sampai ke tulang?' pikirnya, menelan ludah gugup. Beberapa menit kemudian, suara pena dokter yang menari di atas kertas terdengar begitu jelas di telinganya. Ketika pemeriksaan selesai, dokter itu menutup berkas hasil dengan suara klik lembut, lalu menyerahkan selembar catatan ke tangan Eira. "Ini adalah hasil pemeriksaan dan masa suburmu. Silakan tunjukkan ke suamimu," ucap dokter Marisa dengan suara lembut namun tegas. Eira memandangi lembaran it












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.