MasukDari luar, pernikahan Nayara Vismaya Pradipta dan Arga Wiranata Maheswara terlihat sempurna: keluarga harmonis, dua anak yang ceria, dan citra pasangan ideal yang dikagumi banyak orang. Namun di balik dinding rumah megah mereka, retakan kecil mulai menjalar. Kemunculan Shanaya—mantan kekasih Arga—membawa bara yang menguji kesetiaan. Ditambah intrik keluarga besar yang tak pernah benar-benar menerima Nayara, perlahan Nayara merasa dirinya sendirian melawan dunia. Antara cinta yang dulu manis dan kenyataan yang kini pahit, Nayara harus memilih: bertahan demi anak-anak, atau melawan demi harga dirinya sebagai istri sah. Inilah kisah tentang cinta yang diuji, rumah tangga yang terancam runtuh, dan seorang perempuan yang menolak padam meski terus diterpa badai. Nayara menyala—bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai dirinya sendiri.
Lihat lebih banyakCahaya matahari merambat masuk melalui tirai tipis di ruang makan keluarga Maheswara. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan harum roti panggang, menyebar ke seluruh ruangan. Lonceng kecil jam dinding berdentang, menandai pukul enam tepat. Suasana rumah besar itu hidup, penuh suara riang, tetapi juga menyimpan keheningan halus yang tak semua orang bisa tangkap.
Nayara Vismaya Pradipta sedang sibuk mengatur meja makan. Tangannya lincah menata piring, gelas, dan sendok di atas taplak berwarna krem. Rambut panjangnya yang hitam legam digelung setengah, menyisakan helai-helai lembut yang jatuh di sekitar wajah ovalnya. Meski baru pagi, ia sudah tampak rapi dalam balutan blus biru muda sederhana dan rok putih yang bemotif embos bunga, memancarkan keanggunan sekaligus kelembutan.
Di dapur, terdengar suara dua anak kecilnya. Dharma, delapan tahun, bersuara riang namun keras, selalu penuh energi. Sementara Shaila, enam tahun, dengan suara nyaringnya mencoba menandingi sang kakak. Mereka berebut sesuatu, seperti biasa.
“Ini punyaku! Aku duluan yang ambil!” seru Dharma sambil menggenggam sendok berisi selai cokelat.
“Tidak! Aku yang mau makan pakai itu dulu!” sahut Shaila, wajahnya memerah kesal.
Nayara mendesah, menoleh dari meja makan. “Dharma, Shaila, berapa kali Bunda bilang? Tidak perlu berebut. Semua dapat bagian yang sama.”
Dua anak itu terdiam sebentar, lalu menoleh ke arah ibu mereka. Tatapan Nayara tidak marah, namun penuh ketegasan yang membuat keduanya merasa bersalah. Dharma menurunkan sendoknya, sementara Shaila menyembunyikan wajah di balik gelas jus jeruknya.
“Ayo, cepat cuci tangan dan duduk. Sarapan sudah siap,” kata Nayara, suaranya lembut tapi tegas.
Anak-anak segera menurut. Tawa kecil kembali pecah di antara mereka.
Sesaat kemudian, langkah berat terdengar dari arah tangga. Arga Wiranata Maheswara muncul dengan penampilan rapi: kemeja biru muda yang disetrika sempurna, dasi abu-abu, dan jas hitam yang sudah tersampir di lengannya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, tatapannya memancarkan karisma seorang pria yang terbiasa memimpin.
“Selamat pagi,” ucapnya singkat, namun suaranya hangat.
“Pagi, Ayah!” seru Dharma dan Shaila bersamaan. Mereka segera berlari ke arahnya.
Arga terkekeh kecil, menurunkan jasnya ke sandaran kursi, lalu meraih kedua anaknya sekaligus. Ia mengangkat Dharma dengan satu tangan dan Shaila dengan tangan lainnya, memutar tubuhnya seolah sedang menari bersama mereka. Dua anak itu menjerit kecil, setengah ketakutan namun lebih banyak tawa yang pecah.
Nayara berhenti sejenak, menatap pemandangan itu. Ada rasa hangat merambat di hatinya. Setiap kali melihat Arga bersama anak-anak, ia selalu teringat alasan mengapa dulu ia jatuh hati padanya: sosok lelaki yang tidak hanya berwibawa, tetapi juga mampu menjadi ayah penuh kasih. Namun, di balik senyum samar yang menghiasi bibirnya, ada bayangan kecil—bayangan keraguan yang muncul entah dari mana.
“Duduklah, sarapan sudah siap,” kata Nayara sambil kembali mengatur roti dan omelet di piring besar.
Arga mendudukkan kedua anaknya, lalu ia sendiri mengambil tempat di ujung meja, posisi kepala keluarga. Tangannya meraih cangkir kopi yang sudah disiapkan Nayara.
“Terima kasih,” katanya, sekilas menatap istrinya.
Nayara hanya mengangguk. “Minumlah selagi hangat.”
Mereka mulai sarapan. Dharma sibuk menceritakan rencana perlombaan olahraga di sekolah. Tangannya bergerak cepat, matanya berbinar penuh semangat.
“Ayah, nanti kalau lomba lari aku juara, Ayah janji beliin aku sepeda baru, ya?” kata Dharma.
Arga mengangkat alis, pura-pura berpikir. “Hmm… sepeda baru, ya? Tapi Ayah dengar kamu jarang bangun pagi untuk latihan. Bagaimana mau juara?”
Dharma terdiam, wajahnya memerah. Shaila tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan mungil. “Mas Dharma memang malas!” katanya.
“Tidak, aku bisa!” protes Dharma. “Mulai besok aku janji latihan pagi. Bunda, bangunin aku ya!”
Nayara tersenyum, mengusap kepala putranya. “Kalau Dharma benar-benar niat, Bunda pasti bangunkan. Tapi ingat, semua butuh usaha, Nak.”
Arga menatap anak sulungnya dengan bangga. “Kalau begitu, Ayah tunggu buktinya. Kalau Dharma juara, Ayah belikan sepeda. Janji.”
Dharma bersorak gembira, sementara Shaila manyun. “Kalau aku? Kalau aku juara menggambar, Ayah kasih hadiah juga tidak?”
Arga terkekeh, lalu mencubit pipi putrinya dengan lembut. “Tentu saja. Ayah beri hadiah yang lebih besar, karena Ayah tahu Shaila paling rajin di kelas.”
Shaila tersipu, pipinya memerah. “Ayah harus janji, ya!”
“Janji.”
Tawa anak-anak mengisi ruangan.
Namun di balik keceriaan itu, Nayara hanya duduk diam, sesekali ikut tertawa, tapi pikirannya melayang. Ia memperhatikan bagaimana Arga begitu mudah menebar janji pada anak-anak, begitu hangat bersama mereka. Tapi mengapa, pikirnya, sikap itu semakin jarang ia rasakan untuk dirinya sendiri? Sejak beberapa bulan terakhir, percakapan mereka berdua semakin singkat, seringkali hanya seputar anak-anak atau urusan rumah tangga. Ia merindukan tatapan penuh cinta yang dulu selalu diberikan Arga.
“Bunda, kenapa tidak makan?” suara Shaila memecah lamunannya.
Nayara tersentak kecil, lalu tersenyum. “Bunda makan, kok.” Ia mengambil sepotong roti dan perlahan menggigitnya.
Arga melirik sekilas, namun cepat kembali menunduk ke piringnya. Ada jeda singkat yang ganjil, seolah ada kata-kata yang menggantung di udara namun tak diucapkan.
Usai sarapan, meja makan dipenuhi piring dan gelas yang belum sempat dibereskan. Bau roti panggang masih samar bercampur dengan aroma susu cokelat hangat.
Nayara, dengan blus biru muda dan rambut dikuncir sederhana, berjongkok di depan Shaila, putrinya yang duduk manis di kursi kecil. Tangannya lincah merapikan pita merah di rambut si bungsu. Shaila merengut sebentar karena pita yang dikencangkan terasa agak ketat, tapi wajahnya segera cerah saat bercermin pada kaca kecil di depannya.
“Cantik sekali,” ucap Nayara sambil tersenyum tipis, mencoba menularkan semangat pada dirinya sendiri.
Sementara itu, di sisi lain ruangan, Dharma sibuk mondar-mandir. Bocah laki-laki itu membuka-buka lemari sepatu, lalu jongkok ke bawah sofa. Dari sana, ia akhirnya menemukan sepatunya yang semalam ia tinggalkan sembarangan.
“Dharma, sudah berapa kali Bunda bilang, sepatu harus ditaruh di rak. Bukan di bawah sofa,” tegur Nayara, kali ini dengan nada agak tinggi.
Dharma menunduk, wajahnya penuh rasa bersalah. “Iya, Bunda. Maaf.” Ia buru-buru mengenakan sepatunya, lalu menegakkan tubuh, tersenyum seolah semua kesalahannya bisa hilang begitu saja.
Arga, yang sejak tadi duduk sambil memeriksa ponselnya, akhirnya bangkit. Ia meraih jas hitam yang tergantung di kursi, lalu mengenakannya. Gerakannya cepat, efisien, seperti seorang pria yang sudah terbiasa hidup dengan ritme padat. Jam tangan di pergelangan kirinya ia lirik sebentar, memastikan waktu tak terbuang.
Sebelum memasukkan ponsel ke dalam saku jas, matanya sempat berhenti pada satu pesan baru di layar.
Minggu berikutnya, rumah keluarga Arga Maheswara terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada suara riang Shaila yang berlarian mencari pita rambutnya, atau rengekan Dharma yang minta dicari sepatu kesukaannya. Sejak sore, kedua anak itu sudah bersama pengasuh mereka, sesuai pesan Nayara agar ditemani dan diberi makan malam tepat waktu dan tidak tidur terlalu larut.Di kamar utama, Nayara berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun malam berwarna navy—potongannya sederhana, jatuh anggun mengikuti tubuhnya, dengan detail lipit halus di bagian pinggang. Gaun itu bukan hasil rekomendasi perancang busana terkenal atau hadiah dari butik mahal, melainkan pilihannya sendiri dari koleksi butik kecil tempat ia biasa menghabiskan waktu. Baginya, busana bukan sekadar pakaian, tapi cerminan jati diri. Elegan tanpa berlebihan, berkelas tanpa harus membuktikan diri pada siapa pun.Rambut hitamnya ia tata sederhana, disanggul rendah dengan beberapa helaian jatuh natural di sisi wajah. Make-up-nya t
Matahari mulai condong ke barat saat mobil hitam milik Arga keluar dari gerbang rumah keluarga Maheswara. Dari balik kaca, jalanan kompleks perumahan elite itu perlahan menjauh. Di jok belakang, Shaila dan Dharma sudah terlelap, kelelahan setelah seharian berlarian bersama sepupu-sepupu mereka. Shaila bersandar di bahu kakaknya, napasnya teratur, sementara Dharma masih menggenggam mobil-mobilan kecil yang ia dapat dari pamannya.Suasana dalam mobil hening. Hanya suara mesin dan sesekali gesekan ban dengan aspal yang terdengar. AC berembus lembut, membuat keheningan itu kian terasa tebal.Arga mengemudi dengan pandangan lurus ke depan, kedua tangannya mantap di setir. Namun di sudut matanya, ia sesekali melirik istrinya yang duduk di kursi penumpang. Nayara diam, menatap keluar jendela, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Sinar sore yang keemasan memantul di pipinya, menyoroti guratan lelah yang tak bisa ia sembunyikan.Arga membuka mulutnya, hendak bicara, tapi urung. Ia menelan ludah, la
Arga menyapa ibunya dengan hangat, duduk di kursi samping. “Bagaimana kabar, Bu?”“Baik. Apalagi kalau melihat cucu-cucu ini,” jawab Ratna, mengelus kepala Dharma. “Mereka yang membuat hidup Ibu lebih berwarna.”Nayara menelan ludah. Ia tahu maksud tersiratnya: seolah-olah bukan dirinya yang memberi warna, melainkan hanya cucu-cucu.Tak lama kemudian, seorang wanita elegan memasuki ruangan. Rambut hitamnya disanggul rapi, perhiasan emas menghiasi pergelangan tangannya. Senyum manis menghiasi wajahnya, tapi matanya penuh kilatan sinis. “Wah, akhirnya adik iparku datang juga,” suara lantang terdengar begitu tidak bersahabat. Indira Maheswara. Kakak kandung Arga, istri dari seorang pengusaha properti yang namanya sering terpampang di majalah bisnis. Penampilannya glamor, gaun sutra biru tua yang berkilau dipadukan dengan perhiasan mencolok di leher dan telinganya. Senyum yang ia pasang terlihat ramah, tapi nada suaranya penuh sengatan.Nayara berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. “Se
“Sayang,” ucapnya, suaranya datar namun tegas, “aku ada rapat penting pagi ini. Kamu yang antar anak-anak ke sekolah, kan?”Nayara, yang masih jongkok mengikat tali sepatu Shaila, hanya mengangguk tanpa menoleh. “Ya. Setelah itu aku mau mampir sebentar ke butik.”Arga menepuk bahu Dharma sambil menunduk ke anak laki-lakinya itu. “Belajar yang rajin, jangan bikin masalah di kelas.”“Siap, Ayah!” seru Dharma dengan senyum lebar.Lalu giliran Shaila yang disentuh lembut rambutnya. “Kamu juga, jangan nakal.”Shaila menatap ayahnya dengan serius. “Ayah jangan pulang malam lagi, ya. Aku tidak suka.”Kalimat itu, polos dari bibir seorang anak, membuat ruangan sejenak terhenti. Arga mengerjap pelan, lalu membalas dengan senyum kecut. “Ayah usahakan, Sayang.”Nayara, yang mendengar kalimat itu, merasakan sesuatu menghunjam di dadanya. Usahakan. Kata itu seakan sudah basi di telinganya. Janji Arga untuk pulang tepat waktu sudah terlalu sering melayang tanpa bukti. Alasan rapat bisnis, klien yan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.