Se connecterLivia adalah seorang putri konglomerat dari Norvastia yang dipaksa memilih antara anaknya atau status nya sebagai istri dari pewaris Skyline Inc. Malam itu, ia kabur dengan pakaian rumah sakit dan satu tekad yaitu anaknya akan lahir meski dunia menolaknya. Hingga lima tahun kemudian ia kembali ke kota suaminya, yaitu kota Sentara. Lalu, apa yang akan dilakukan seorang Adrian, pria ambisius yang lima tahun lalu ingin memusnahkan anaknya sendiri? Apakah Livia akan mampu membesarkan anaknya dan membalaskan dendamnya pada keluarga Adrian?
Voir plus<プロローグ>
この先、自分がこれほどまでに不幸になり、二人の男から執拗なまでの執着を向けられ、どれほど逃げようとしても決して手放してもらえなくなると知っていたなら――あのとき、もっと遠くへ逃げておくべきだった。
誰にも見つけられないほど遠く、二人の手が決して届かない場所まで逃げてしまえばよかったのだと、星奈は今になって思う。
「何を考えてる?」
星奈が心ここにあらずなのに気づいたのか、ベッドの上にいた男が低く笑った。
そのまま当然のように唇を重ねようと顔を近づけてきたため、星奈は触れられるより先に顔を背ける。
「……婚約者のところへ行かなくていいの?」
「でも今は、お前のほうが欲しい」
その言葉を聞いた途端、心臓が何度も引き攣るように痛んだ。
星奈はそれ以上何も言わず、痛みに耐えるように固く口を閉ざした。
再び距離を詰めてきた男の身体を両手で押し返し、よろめきながらベッドから下りると、一刻も早くこの場所から離れようと、そのまま扉へ向かって歩き出す。
けれど、扉を開けた先にいたのは、星奈をこの上なく苦しめ、どれほど逃れようとしても決して逃がしてはくれない、もう一人の男だった。
部屋から出てきた星奈の姿を目にした途端、その男の目は瞬く間に赤く染まる。
まるで捨てられた子犬のような目で星奈を見つめると、今にもここから逃げ出そうとする彼女へ堪えきれないように駆け寄り、その背中へ縋りつくように抱き締めた。
「行かないでくれ……お願いだ。もう少しだけ、俺を見てくれないか」
その声を聞いた瞬間、星奈の脳裏には幾つもの夜の記憶が鮮明に蘇る。
かつては、星奈のほうが目の前の男へ必死に縋っていた。
床へ跪き、もう殴らないでほしいと懇願した。どうか許してほしいと、涙を流しながら何度も何度も頼み続けた。
それでも男は、一度として星奈の言葉へ耳を貸そうとはしなかった。
今は、ただ立場が入れ替わっただけだ。
だから星奈も、彼の願いを聞き入れるつもりなど微塵もなかった。
かつて男が自分へ浴びせた言葉を、そのまま返す。
「放して。これ以上、私に付きまとわないで。本当に気持ち悪い」
背後の男は、それでも腕を緩めようとはしなかった。
わずか数秒、重苦しい沈黙が二人の間に流れた。
やがて、その静寂を震わせるように、押し殺しきれない嗚咽混じりの泣き声が、星奈のすぐ背後からかすかに漏れ聞こえてくる。
すべては数か月前――二人と再会した、あの日から始まった。
***
<1>
「恵子さん、納品しておきますね」
二階へ向かって声をかけると、すぐに「お願いね」と明るい返事が返ってきた。
|柚木星奈《ゆずきせな》は抱えていた籠から、できたばかりの羊毛フェルトの人形を取り出し、一つひとつ丁寧に棚へ並べていく。
ここは小さな手作り工房だ。
二階は手芸教室、一階は作品を販売する小さな店になっている。広くはないものの、店内には羊毛フェルトや陶芸作品が種類ごとに並べられ、中央のショーケースには店の看板でもある恵子お手製の大きなぬいぐるみが飾られていた。
この店で働くようになって、もう数か月が経つ。
星奈は今でも、恵子と出会った日のことだけは鮮明に覚えていた。
――いや。
正確には、それ以前のことを何ひとつ覚えていない。
見知らぬ町の路上で目を覚ましたとき、星奈は古びた鞄を提げ、傍らには少し歪んだスーツケースが転がっていた。
転んだのか、右膝からはひどく血が流れ、わずかに動かすだけでも激痛が走った。それ以外の場所もひどい状態で、全身がずきずきと痛んでいた。
だが、外傷よりも深刻だったのは、自分に何が起きたのかまったく思い出せないことだった。
頭の中は真っ白で、自分が何者なのかさえ、きれいさっぱり忘れていた。
どうすればいいのか分からず、その場に座り込んでいた星奈を見つけたのが、朝のジョギング中だった恵子だった。
血まみれの星奈を見るなり、恵子は悲鳴を上げて救急車を呼び、病院まで付き添ってくれた。
検査の結果、車にはねられた可能性が高いと告げられた。
全身の擦り傷は、衝突したあと路面を滑った際にできたものらしい。幸い命に別状はなかったものの、頭を強く打った影響で、星奈は記憶を失っていた。
過去のことは何ひとつ思い出せない。
自分がどんな人生を歩み、誰と出会い、何を大切にしてきたのか――そのすべてが、跡形もなく消えてしまっていた。
幸い、鞄の中に入っていた健康保険証のおかげで身元だけは判明した。
分かったのは、「柚木星奈」という名前だけ。
住所や家族の情報は確認できず、鞄の中にも携帯電話は入っていなかった。何度探しても、自分を知っていそうな人へつながる手がかりは何ひとつ見つからない。
そんな星奈を放っておけなかったのだろう。心優しい恵子は、退院した星奈を自宅へ迎え入れてくれた。
もちろん、星奈も最初から甘えるつもりはなかった。
これ以上迷惑はかけられないと、身体が回復したらすぐに家を出るつもりでいた。けれど、記憶を失ったままでは帰る場所も、頼れる相手も分からない。
行く当てのない星奈は、結局、恵子の厚意に甘え、その家で暮らすことになった。
日中は手芸教室で助手を務め、給料をもらっている。教室が忙しくないときは、今のように一階の店番を手伝っていた。
ここは地図で見ても辺鄙な場所にある小さな町だ。それなのに、星奈の健康保険証に記載されていた所在地は東京だった。
自分がどうしてこんな場所まで来たのか、星奈には分からない。
恵子から「東京へ戻ってみる?」と聞かれたこともあった。
健康保険証には東京の住所が記されていても、その場所にどんな家があり、誰と暮らしていたのか、何ひとつ思い出せない。
そんな状態で戻ったところで、行く当てもなければ頼れる相手もいない。
星奈は、ひとまず東京へ戻ることを諦めた。
この町は居心地がよかった。
時間がゆっくりと流れ、穏やかで、傷を癒やすにはぴったりの場所だった。
星奈は次第にこの町での暮らしに馴染み、恵子と一緒に過ごす日々を好きになっていった。数か月のうちに二人の距離はすっかり縮まり、恵子は星奈をさまざまな面で支えてくれた。
そのため星奈は、ときどき思うようになった。
記憶を失ったことも、案外悪いことばかりではないのかもしれない。
過去を思い出せないのなら、これから新しい人生を始めればいいのだ、と。
完成した作品を棚へ並べ終えた星奈は、ずらりと並んだ愛らしい人形たちを満足そうに見つめた。
その中には、自分が作った作品も混じっている。
どうやら星奈には手芸の才能があったらしい。恵子に何度か教わっただけで、すぐに一人でも作れるようになった。
今日もいつもと変わらない、穏やかで幸せな一日になる。そう思っていたとき、一台の車が店の前に停まった。
この町では見かけたことのない高級車だった。
磨き上げられた黒い車体は、のどかな町並みからひどく浮いて見える。
「兄さん、あの女、本当にこんな辺鄙なところにいるのかよ」
助手席から降りてきた若い男が、不満そうな声を上げた。その声に、星奈は思わず顔を向ける。
続いて、もう一人の男が車を降りた。
長身で、息をのむほど整った顔立ち。
黒いシャツに黒のスラックスという簡素な装いでありながら、その無駄のない体躯がひどく目を引く。
星奈は思わず目を瞬かせた。
次の瞬間には、その端正な横顔から視線を逸らせなくなっていた。
Raut wajah Rayyan yang tadinya sumringah, mendadak pucat pasi dalam hitungan detik. Senyum manis yang baru saja tersungging pada Alana lenyap seketika, terganti oleh tatapan mata yang sangat dingin hingga mengubah suasana. Ia mengambil ponselnya dengan jemarinya bergerak secepat kilat dengan menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan satelit pusat Vanguard. Alana yang tubuhnya masih dibalut selimut bisa merasakan perasaan khawatir Rayyan. "Ada apa, Rayyan. Apa maksud pesan itu? Kenapa dengan Leo?" Suara Alana terdengar bergetar hebat. "Tidak. Kamu tetap disini, jangan kemana-mana sampai aku kembali ke ruangan ini. Mengerti!" Suara Rayyan terdengar sangat tegas, seolah tak menerima penolakan. Ia bergegas memakai kemejanya dengan tidak karuan dan mengambil pistol yang ia taruh di bawah laci meja kerjanya. Rayyan berlari keluar ke halaman belakang. Pikirannya terus dipenuhi oleh foto Leo yang di potret dari jarak jauh. Rayyan yakin, itu bukan sekadar kebetulan. Melainkan it
Alana masih terpaku di kursi, menatap punggung Rayyan yang perlahan menghilang di balik pintu kayu jati ruang kerjanya. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan tentang kunci perak yang terjatuh. Akan tetapi, rasa tidak percaya nya membuat Alana mengabaikan itu semua. Ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk memberikan semua kepercayaan nya pada Rayyan. Pria yang sudah bertaruh nyawa untuknya dan putra semata wayangnya.Untuk mengusir rasa curiganya pada Rayyan, Alana melangkah ke halaman belakang, mengawasi Leo yang sedang tertawa riang mengejar beberapa kupu-kupu yang singgah bersama bibi pengasuh. Tawa Leo membuat Alana merasa separuh bebannya luruh. Alana membiarkan Leo bersenang-senang setelah beberapa pekan terlibat pertikaian serius dengan ayahnya. Alana sendiri menyusul Rayyan. Bukan untuk mencari tau, tapi karena hatinya sudah sangat merindukan pria itu setelah berpisah lama.Alana mengetuk pintu ruang kerja Rayyan perlahan. Karena tak ada jawaban setelah ditunggu lama, i
Rayyan memapah Alana pelan kembali masuk ke dalam rumah. Begitu pintu teras tertutup, suasana dari rumah ditambah api unggun menambah kehangatan di rumah sederhana itu. Rayyan tidak langsung melepaskan Alana, melainkan menuntun pelan ke kamarnya yang terletak di samping kamar Leo."Silakan, istirahat yang nyenyak, Alana. Karena aku tidak ingin melihat wajah mu seperti zombie besok pagi." Perintah Rayyan sambil memutar knop pintu kamar yang sudah tertata rapi.Begitu Alana masuk, bau lavender yang menenangkan pun menelusuri indra penciuman nya. Menenangkan kondisi saraf-saraf nya yang sempat tegang berhari-hari. Alana kemudian duduk di tepi ranjang yang sangat empuk. Netranya menelusuri setiap inci tubuh Rayyan yang saat ini sedang sibuk memeriksa kunci jendela dan memastikan pemanas dalam kamar berfungsi sebagaimana mestinya. Perhatian kecil itu membuat Alana semakin merasa diperlakukan selayaknya manusia."Ray," panggil Alana pelan.Sang empunya pun menoleh, menghentikan sejenak semu
Mobil SUV hitam yang ditumpangi keduanya pun berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang terletak di lokasi tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus di pinggiran kota Sentara. Rumah ini bukan mansion milik Laurent, melainkan rumah kedua milik Rayyan dimana yang mengetahui lokasi rumah ini hanyalah orang-orang kepercayaan Vanguard.Rayyan dengan lembut mengecup kening Alana. "Sudah sampai, Sayang," bisik Rayyan lembut.Mendapat perlakuan tersebut, Alana membuka matanya perlahan. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi beban yang dipikulnya seolah menguar ketika melihat gerbang kayu rumah terbuka. Rayyan turun terlebih dahulu, kemudian menghampiri mobil tenaga medis yang membawa Leo dengan gerakan yang sangat lembut. Waktu itu, kondisi Leo sudah terlelap tidur.Rayyan mengabaikan kondisi nya sendiri akibat luka yang diperoleh nya beberapa waktu lalu, ia justru mengulurkan tangan satunya untuk membantu Alana keluar dari mobil. "Masuk dulu ya. Aku sudah minta bibi untuk menyiapkan a
Pemandangan yang ia lihat di parkir rumah sakit terus menghantuinya sepanjang perjalanannya menuju kediaman Laurent. Setiap ia memejamkan matanya, bayangan Adrian yang menyerahkan tas hitam pada pria bertato kalajengking terus berputar-putar di kepalanya. Apa isi tas itu? Segepok uang tutup mulut a
Suasana lorong rumah sakit Sentara terasa sangat dingin dan steril. Akan tetapi, aroma obat-obatan yang sangat mengganggu dan tidak mampu menenangkan suasana kacau yang sedang menyelimuti Alana. Ia masih menggenggam jam tangan mainan dengan sangat erat, bagaikan benda itu merupakan amunisi terakhir
Adrian berbalik, melangkah pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Livia yang hancur berkeping-keping di atas lantai dingin. Sepatu pantofelnya berbunyi berirama, menjauh tanpa sedikit pun niat untuk menoleh.Clara, yang sedari tadi diam menonton, tidak langsung mengikuti langkah Adrian. Ia tetap
"Hamil? Kamu yakin itu anakku?!" Bentakan Adrian Mahesa menggelegar, menghantam dinding-dinding ruang makan yang semula sunyi dan hangat. Livia mematung, jemarinya yang dingin masih bergetar hebat memegang selembar kertas hasil USG. Kertas yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan mereka setela
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus