เข้าสู่ระบบLivia adalah seorang putri konglomerat dari Norvastia yang dipaksa memilih antara anaknya atau status nya sebagai istri dari pewaris Skyline Inc. Malam itu, ia kabur dengan pakaian rumah sakit dan satu tekad yaitu anaknya akan lahir meski dunia menolaknya. Hingga lima tahun kemudian ia kembali ke kota suaminya, yaitu kota Sentara. Lalu, apa yang akan dilakukan seorang Adrian, pria ambisius yang lima tahun lalu ingin memusnahkan anaknya sendiri? Apakah Livia akan mampu membesarkan anaknya dan membalaskan dendamnya pada keluarga Adrian?
ดูเพิ่มเติม"Hamil? Kamu yakin itu anakku?!"
Bentakan Adrian Mahesa menggelegar, menghantam dinding-dinding ruang makan yang semula sunyi dan hangat. Livia mematung, jemarinya yang dingin masih bergetar hebat memegang selembar kertas hasil USG. Kertas yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan mereka setelah tiga tahun pernikahan, kini terasa seperti bara api yang membakar telapak tangannya. Seketika, hati Livia terasa seperti diremas-remas oleh tangan tak kasat mata. Rasa sakitnya begitu nyata, menjalar dari ulu hati hingga ke seluruh aliran darahnya. Yang membuat dadanya kian sesak adalah kenyataan bahwa kalimat penuh penghinaan itu dilontarkan Adrian tepat di depan Clara—sekretaris yang juga sahabat kecil suaminya yang berdiri di sana dengan dagu terangkat. Clara tidak menunjukkan rasa canggung sedikit pun, ia justru berdiri dengan pose posesif di samping Adrian, menatap Livia dengan pandangan merendahkan seolah dialah istri sah di sana. "Adrian... apa yang kamu katakan?" suara Livia parau, nyaris habis tertelan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. "Ini anak kita. Aku tidak pernah bersama lelaki lain. Kamu tahu itu..." Adrian tidak menunjukkan rasa iba sedikit pun. Wajah yang dulu pernah Livia puja kini tampak asing, dipenuhi oleh kilatan amarah dan jijik yang murni. Adrian tidak membalas pembelaan Livia dengan kata-kata manis, melainkan sebuah gerakan yang sangat menghina. Ia mengulurkan tangannya ke arah Clara tanpa mengalihkan pandangan dari mata Livia yang mulai banjir air mata. Dengan gerakan yang terlihat sangat terlatih dan penuh kemenangan, Clara memberikan sebuah amplop coklat ukuran A4 kepada Adrian. Plakk! Adrian melemparkan amplop tebal itu tepat ke wajah Livia. Ujung kertas yang kaku dan tajam sempat menyabet pipi Livia hingga meninggalkan goresan merah yang menyengat, namun rasa perih di kulit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan hancurnya harga diri Livia saat isi amplop itu berhamburan liar di lantai. Livia menunduk dengan tubuh gemetar hebat. Ia jatuh berlutut, mencoba mengumpulkan lembaran-lembaran yang terserak. Saat tangannya meraih salah satu foto yang jatuh tepat di kakinya, dunianya benar-benar runtuh. Matanya terbelalak kaget. Di dalam foto itu, terekam sosok wanita yang sangat mirip dengannya—potongan rambutnya, postur tubuhnya, bahkan gaun yang dikenakannya—tampak sedang memasuki sebuah kamar hotel dalam pelukan seorang pria asing. "Aku... aku tidak tahu ini apa... tapi ini bukan aku, Adrian! Sumpah! Aku tidak pernah melakukan ini!" Livia menggeleng histeris. Air matanya mulai bercucuran deras, jatuh membasahi permukaan foto yang ia yakini sebagai fitnah keji itu. "Sumpah? Kamu masih berani menggunakan kata itu setelah mengkhianatiku?" Adrian melangkah maju, memangkas jarak hingga bayangannya menutupi tubuh Livia yang bersimpuh. Auranya begitu mengintimidasi, mencekik napas Livia hingga ia merasa oksigen di ruangan itu telah habis. "Aku pergi business trip dua minggu dan tiba-tiba kamu mengumumkan kehamilan? Kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir aku akan percaya begitu saja pada drama murahmu?" Livia menatap suaminya dengan sisa-sisa keberaniannya. "Kamu bahkan tidak membaca berapa usia kandunganku, Adrian! Lihat hasilnya dengan jelas! Usia janin ini sudah tujuh minggu! Saat itu kamu ada di rumah! Kamu suamiku!" teriak Livia putus asa, mencoba menyadarkan Adrian pada logika medis yang seharusnya tidak bisa dibantah. Namun, kebencian tampaknya telah membutakan pria itu. Adrian justru tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan fisik. "Siapa tahu kamu sudah berselingkuh sejak lama dan baru ketahuan sekarang karena kamu ceroboh sampai hamil! Jangan pikir aku akan menjadi ayah dari anak yang asal-usulnya menjijikkan seperti ini!" Tiga tahun yang lalu, Livia rela meninggalkan segalanya demi Adrian yang begitu memuja dan mencintainya. Dua tahun pertama adalah surga, hingga Clara—cinta monyet masa kecil Adrian—kembali hadir sebagai sekretaris pribadinya dan mulai meracuni pikiran suaminya dengan benih keraguan. Livia secara insting memegang perutnya yang masih rata. Di dalam sana, ada kehidupan kecil yang telah ia tunggu selama 1.095 hari pernikahannya. Bayi yang ia harapkan akan menjadi jembatan untuk mencairkan sikap dingin Adrian selama setahun terakhir. "Aku tidak mau tahu apa alasanmu," desis Adrian dingin, suaranya kini merendah namun mengandung ancaman yang mematikan. "Kalau kamu ingin pernikahan ini berlanjut, gugurkan janin itu!" "Gugurkan?" Napas Livia tercekat. Detak jantungnya seolah berhenti sesaat. Tubuh Livia luruh sepenuhnya ke lantai. Kekuatannya menguap. Beberapa menit yang lalu, ia masih berdiri di dekat meja makan yang ia hias dengan lilin aroma terapi, menunggu dengan jantung berdebar kencang untuk merayakan anniversary ketiga mereka. Ia membayangkan Adrian akan memeluknya erat, mencium keningnya, dan menangis bahagia saat mengetahui mereka akan menjadi orang tua. Namun, realita menghantamnya dengan cara yang paling brutal. Pria yang ia cintai justru memintanya menjadi pembunuh bagi darah dagingnya sendiri. "Malam ini aku ada gala meeting. Aku tidak punya waktu untuk mengurus wanita kotor sepertimu," tambah Adrian tanpa sedikit pun rasa sesal. "Besok saat aku pulang, kamu sudah harus menggugurkan janin itu! Ibuku akan datang pagi-pagi untuk menjemput dan mengantarmu ke klinik. Jangan buat malu nama besar Mahesa dengan melahirkan anak haram!" “Tapi, Adrian……” “Aku tidak mau dengar alasan apapun, Livia!” ******Raut wajah Rayyan yang tadinya sumringah, mendadak pucat pasi dalam hitungan detik. Senyum manis yang baru saja tersungging pada Alana lenyap seketika, terganti oleh tatapan mata yang sangat dingin hingga mengubah suasana. Ia mengambil ponselnya dengan jemarinya bergerak secepat kilat dengan menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan satelit pusat Vanguard. Alana yang tubuhnya masih dibalut selimut bisa merasakan perasaan khawatir Rayyan. "Ada apa, Rayyan. Apa maksud pesan itu? Kenapa dengan Leo?" Suara Alana terdengar bergetar hebat. "Tidak. Kamu tetap disini, jangan kemana-mana sampai aku kembali ke ruangan ini. Mengerti!" Suara Rayyan terdengar sangat tegas, seolah tak menerima penolakan. Ia bergegas memakai kemejanya dengan tidak karuan dan mengambil pistol yang ia taruh di bawah laci meja kerjanya. Rayyan berlari keluar ke halaman belakang. Pikirannya terus dipenuhi oleh foto Leo yang di potret dari jarak jauh. Rayyan yakin, itu bukan sekadar kebetulan. Melainkan it
Alana masih terpaku di kursi, menatap punggung Rayyan yang perlahan menghilang di balik pintu kayu jati ruang kerjanya. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan tentang kunci perak yang terjatuh. Akan tetapi, rasa tidak percaya nya membuat Alana mengabaikan itu semua. Ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk memberikan semua kepercayaan nya pada Rayyan. Pria yang sudah bertaruh nyawa untuknya dan putra semata wayangnya.Untuk mengusir rasa curiganya pada Rayyan, Alana melangkah ke halaman belakang, mengawasi Leo yang sedang tertawa riang mengejar beberapa kupu-kupu yang singgah bersama bibi pengasuh. Tawa Leo membuat Alana merasa separuh bebannya luruh. Alana membiarkan Leo bersenang-senang setelah beberapa pekan terlibat pertikaian serius dengan ayahnya. Alana sendiri menyusul Rayyan. Bukan untuk mencari tau, tapi karena hatinya sudah sangat merindukan pria itu setelah berpisah lama.Alana mengetuk pintu ruang kerja Rayyan perlahan. Karena tak ada jawaban setelah ditunggu lama, i
Rayyan memapah Alana pelan kembali masuk ke dalam rumah. Begitu pintu teras tertutup, suasana dari rumah ditambah api unggun menambah kehangatan di rumah sederhana itu. Rayyan tidak langsung melepaskan Alana, melainkan menuntun pelan ke kamarnya yang terletak di samping kamar Leo."Silakan, istirahat yang nyenyak, Alana. Karena aku tidak ingin melihat wajah mu seperti zombie besok pagi." Perintah Rayyan sambil memutar knop pintu kamar yang sudah tertata rapi.Begitu Alana masuk, bau lavender yang menenangkan pun menelusuri indra penciuman nya. Menenangkan kondisi saraf-saraf nya yang sempat tegang berhari-hari. Alana kemudian duduk di tepi ranjang yang sangat empuk. Netranya menelusuri setiap inci tubuh Rayyan yang saat ini sedang sibuk memeriksa kunci jendela dan memastikan pemanas dalam kamar berfungsi sebagaimana mestinya. Perhatian kecil itu membuat Alana semakin merasa diperlakukan selayaknya manusia."Ray," panggil Alana pelan.Sang empunya pun menoleh, menghentikan sejenak semu
Mobil SUV hitam yang ditumpangi keduanya pun berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang terletak di lokasi tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus di pinggiran kota Sentara. Rumah ini bukan mansion milik Laurent, melainkan rumah kedua milik Rayyan dimana yang mengetahui lokasi rumah ini hanyalah orang-orang kepercayaan Vanguard.Rayyan dengan lembut mengecup kening Alana. "Sudah sampai, Sayang," bisik Rayyan lembut.Mendapat perlakuan tersebut, Alana membuka matanya perlahan. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi beban yang dipikulnya seolah menguar ketika melihat gerbang kayu rumah terbuka. Rayyan turun terlebih dahulu, kemudian menghampiri mobil tenaga medis yang membawa Leo dengan gerakan yang sangat lembut. Waktu itu, kondisi Leo sudah terlelap tidur.Rayyan mengabaikan kondisi nya sendiri akibat luka yang diperoleh nya beberapa waktu lalu, ia justru mengulurkan tangan satunya untuk membantu Alana keluar dari mobil. "Masuk dulu ya. Aku sudah minta bibi untuk menyiapkan a
Pemandangan yang ia lihat di parkir rumah sakit terus menghantuinya sepanjang perjalanannya menuju kediaman Laurent. Setiap ia memejamkan matanya, bayangan Adrian yang menyerahkan tas hitam pada pria bertato kalajengking terus berputar-putar di kepalanya. Apa isi tas itu? Segepok uang tutup mulut a
Suasana lorong rumah sakit Sentara terasa sangat dingin dan steril. Akan tetapi, aroma obat-obatan yang sangat mengganggu dan tidak mampu menenangkan suasana kacau yang sedang menyelimuti Alana. Ia masih menggenggam jam tangan mainan dengan sangat erat, bagaikan benda itu merupakan amunisi terakhir
Alana masih mencengkeram kuat kotak P3K di tangannya hingga ada beberapa jemarinya terluka. Namun keduanya tidak menyadari karena fokus pada layar televisi di hadapannya masih menunjukkan berita kepulan asap dari jendela ruangan ICU yang sudah hancur. Simbol kalajengking di dinding rumah sakit itu
Bau antiseptik menguar dan menusuk indra penciuman Alana ketika ia duduk di ruang tunggu VVIP rumah sakit pusat Sentara. Gaunnya yang tadi tampak elegan, kini compang-camping akibat terkena darah kering milik Adrian. Sedangkan, Leo tengah tertidur pulas di pangkuan Alana. Wajah lelah nya terpampan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม