Mag-log inLivia adalah seorang putri konglomerat dari Norvastia yang dipaksa memilih antara anaknya atau status nya sebagai istri dari pewaris Skyline Inc. Malam itu, ia kabur dengan pakaian rumah sakit dan satu tekad yaitu anaknya akan lahir meski dunia menolaknya. Hingga lima tahun kemudian ia kembali ke kota suaminya, yaitu kota Sentara. Lalu, apa yang akan dilakukan seorang Adrian, pria ambisius yang lima tahun lalu ingin memusnahkan anaknya sendiri? Apakah Livia akan mampu membesarkan anaknya dan membalaskan dendamnya pada keluarga Adrian?
view moreShe’s late.
Our first meeting and she was already 5 minutes late. If this didn’t signify the Vincenzo family’s slack way of dealing with the problem at hand, then I don’t know what did. I pick up my glass of bourbon and my eyes scan the restaurant; high end and extravagant, as to be expected. Politicians wooing investors, wealthy married couples on dates hoping to maintain public appearances; yes this was the perfect place to do a deal with the devil.
When Aldo Vincenzo called me earlier in the week with suggestions of an accord, I must admit that I was surprised. New York and Chicago have long been at one another’s throats, but now we have a common enemy; The Russian Bratva was taking more and more of our territory, and we needed to bring an end to them.
“I am so sorry for being late, Dante. We certainly were not prepared for New York traffic!” The whirlwind that was Sienna Vincenzo says and snaps me out of my thoughts as she takes a spot opposite me. I look at her with interest.
It was said that the Vincenzo Principessa is beautiful, but her pictures definitely did not do her justice.
She was striking: her long brunette curls framed her heart-shaped face, beautiful light blue eyes stared at me apologetically and her full bottom lip presently caught in between her teeth. A black dress clung to her curvaceous frame that Italian women were recognized for.
I might just enjoy this appointment after all.“No matter. Next time, rather call if you’re going to be late, Sienna. It’s impolite to make someone wait, especially if that someone is me.” I responded with a coldness to my tone and saw her pale, but an arrogant grimace crossed her lips.
Oh, obedient but bratty; she definitely had my attention now.
“Again, I do apologize. I honestly did not mean to insult you,” she says, clearing her throat and hailing a server over. I watch her as she orders a glass of 1998 Masseto Toscana red wine with interest. She knew her wines; a woman after my black heart.
“Alright, we need to get straight to business. Your father sent you here for a purpose, did he not?” I inquire as I take a sip of my neat bourbon. She nods, “Terms for an agreement between my family and yours.” She says as she meets my gaze, not wavering.
Terms. Aldo was not particularly forthcoming with his only daughter.
“And why would your father send you instead of, say, his Consigliere?” I ask her, assuming she would put two and two together as I have. Her brows furrow at my query.
“He is hoping I would ease over any arrangement that is made this evening as we have a common enemy that needs to be thwarted. The only way that can be done is through a negotiated marriage between our families. He has sent me out to do deals before, so I am not clueless at what needs to be done, Mr Dragonetti.” She answers confidently, and it makes me chuckle in amusement.
Ah, a spark. I like it.
I lean forward and thread my fingers together underneath my chin. Her flowery vanilla scent invaded my nose and assaulted my senses; a perfume I would clearly remember after tonight. “Very perceptive. Our marriage would need to be in the next six months after you turn 21.” I tell her and smirk as she almost chokes on her sip of red wine.
“Pardon me? Our marriage?” she asks with widened eyes, evidently confused at my statement.
Aldo Vincenzo sent his only daughter as a lamb to the slaughter, and she was none the wiser.
I sigh and pinched the bridge of my nose.“Yes, Sienna, our marriage. The only way to drive out the Russians would be through an arranged marriage between you and me. Your father owns Chicago and has ties to the MCs on the coasts, I own New York and have ties to Las Vegas, including the Cartels. The Bratva would never survive if we had to merge as there would be no other families willing to come to an accord with them.” I explain to her as boredom laces my voice.
I watch as she takes all of this in and she purses her lips, clearly deep in thought and wondering what else those lips could do. Then she meets my eyes and I see that she has come to a resolution.
“Of course, I understand. We will get married in December and have all the infamous and bigger Mafia families join us. It will be known far and wide that the daughter of Aldo Vincenzo is betrothed to Dante Dragonetti, Capo de Capi of New York.” She says and takes the last sip of her wine, causing me to smile triumphantly. I get up from my seat and walk over to her, taking her hand in mine.
“When your father called me this week, he already offered you to me, Sienna. He sent you here to sweeten the deal and I must say that I am not disappointed; you will make a fine bride.” I say and kiss the back of her hand, seeing her face pale and shiver under my touch.
I think I might have surprised her with that information. Aldo offered up his only daughter to the man he betrayed so long ago.She nods at this and I turn around to leave, making sure I paid the bill. I might be a cold and heartless killer, but there’s a common courtesy when it comes to things like this, especially since she is now my betrothed.
As I walk out of the restaurant, I turn around to get a last glimpse of Sienna as she sits at the table, alone. She looked as if her world was crumbling down around her and wore a forlorn expression.
This made me smile; Sienna had no inclination of what she was in for as my bride.
It would be fun making Aldo’s only daughter bend to my will, especially after what he did to my first love; the woman I would have killed for, who I loved above all else.
Breaking Sienna would be his just reward.
Raut wajah Rayyan yang tadinya sumringah, mendadak pucat pasi dalam hitungan detik. Senyum manis yang baru saja tersungging pada Alana lenyap seketika, terganti oleh tatapan mata yang sangat dingin hingga mengubah suasana. Ia mengambil ponselnya dengan jemarinya bergerak secepat kilat dengan menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan satelit pusat Vanguard. Alana yang tubuhnya masih dibalut selimut bisa merasakan perasaan khawatir Rayyan. "Ada apa, Rayyan. Apa maksud pesan itu? Kenapa dengan Leo?" Suara Alana terdengar bergetar hebat. "Tidak. Kamu tetap disini, jangan kemana-mana sampai aku kembali ke ruangan ini. Mengerti!" Suara Rayyan terdengar sangat tegas, seolah tak menerima penolakan. Ia bergegas memakai kemejanya dengan tidak karuan dan mengambil pistol yang ia taruh di bawah laci meja kerjanya. Rayyan berlari keluar ke halaman belakang. Pikirannya terus dipenuhi oleh foto Leo yang di potret dari jarak jauh. Rayyan yakin, itu bukan sekadar kebetulan. Melainkan it
Alana masih terpaku di kursi, menatap punggung Rayyan yang perlahan menghilang di balik pintu kayu jati ruang kerjanya. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan tentang kunci perak yang terjatuh. Akan tetapi, rasa tidak percaya nya membuat Alana mengabaikan itu semua. Ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk memberikan semua kepercayaan nya pada Rayyan. Pria yang sudah bertaruh nyawa untuknya dan putra semata wayangnya.Untuk mengusir rasa curiganya pada Rayyan, Alana melangkah ke halaman belakang, mengawasi Leo yang sedang tertawa riang mengejar beberapa kupu-kupu yang singgah bersama bibi pengasuh. Tawa Leo membuat Alana merasa separuh bebannya luruh. Alana membiarkan Leo bersenang-senang setelah beberapa pekan terlibat pertikaian serius dengan ayahnya. Alana sendiri menyusul Rayyan. Bukan untuk mencari tau, tapi karena hatinya sudah sangat merindukan pria itu setelah berpisah lama.Alana mengetuk pintu ruang kerja Rayyan perlahan. Karena tak ada jawaban setelah ditunggu lama, i
Rayyan memapah Alana pelan kembali masuk ke dalam rumah. Begitu pintu teras tertutup, suasana dari rumah ditambah api unggun menambah kehangatan di rumah sederhana itu. Rayyan tidak langsung melepaskan Alana, melainkan menuntun pelan ke kamarnya yang terletak di samping kamar Leo."Silakan, istirahat yang nyenyak, Alana. Karena aku tidak ingin melihat wajah mu seperti zombie besok pagi." Perintah Rayyan sambil memutar knop pintu kamar yang sudah tertata rapi.Begitu Alana masuk, bau lavender yang menenangkan pun menelusuri indra penciuman nya. Menenangkan kondisi saraf-saraf nya yang sempat tegang berhari-hari. Alana kemudian duduk di tepi ranjang yang sangat empuk. Netranya menelusuri setiap inci tubuh Rayyan yang saat ini sedang sibuk memeriksa kunci jendela dan memastikan pemanas dalam kamar berfungsi sebagaimana mestinya. Perhatian kecil itu membuat Alana semakin merasa diperlakukan selayaknya manusia."Ray," panggil Alana pelan.Sang empunya pun menoleh, menghentikan sejenak semu
Mobil SUV hitam yang ditumpangi keduanya pun berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang terletak di lokasi tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus di pinggiran kota Sentara. Rumah ini bukan mansion milik Laurent, melainkan rumah kedua milik Rayyan dimana yang mengetahui lokasi rumah ini hanyalah orang-orang kepercayaan Vanguard.Rayyan dengan lembut mengecup kening Alana. "Sudah sampai, Sayang," bisik Rayyan lembut.Mendapat perlakuan tersebut, Alana membuka matanya perlahan. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi beban yang dipikulnya seolah menguar ketika melihat gerbang kayu rumah terbuka. Rayyan turun terlebih dahulu, kemudian menghampiri mobil tenaga medis yang membawa Leo dengan gerakan yang sangat lembut. Waktu itu, kondisi Leo sudah terlelap tidur.Rayyan mengabaikan kondisi nya sendiri akibat luka yang diperoleh nya beberapa waktu lalu, ia justru mengulurkan tangan satunya untuk membantu Alana keluar dari mobil. "Masuk dulu ya. Aku sudah minta bibi untuk menyiapkan a
Pemandangan yang ia lihat di parkir rumah sakit terus menghantuinya sepanjang perjalanannya menuju kediaman Laurent. Setiap ia memejamkan matanya, bayangan Adrian yang menyerahkan tas hitam pada pria bertato kalajengking terus berputar-putar di kepalanya. Apa isi tas itu? Segepok uang tutup mulut a
Suasana lorong rumah sakit Sentara terasa sangat dingin dan steril. Akan tetapi, aroma obat-obatan yang sangat mengganggu dan tidak mampu menenangkan suasana kacau yang sedang menyelimuti Alana. Ia masih menggenggam jam tangan mainan dengan sangat erat, bagaikan benda itu merupakan amunisi terakhir
Alana masih mencengkeram kuat kotak P3K di tangannya hingga ada beberapa jemarinya terluka. Namun keduanya tidak menyadari karena fokus pada layar televisi di hadapannya masih menunjukkan berita kepulan asap dari jendela ruangan ICU yang sudah hancur. Simbol kalajengking di dinding rumah sakit itu
Bau antiseptik menguar dan menusuk indra penciuman Alana ketika ia duduk di ruang tunggu VVIP rumah sakit pusat Sentara. Gaunnya yang tadi tampak elegan, kini compang-camping akibat terkena darah kering milik Adrian. Sedangkan, Leo tengah tertidur pulas di pangkuan Alana. Wajah lelah nya terpampan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore