ログインLivia adalah seorang putri konglomerat dari Norvastia yang dipaksa memilih antara anaknya atau status nya sebagai istri dari pewaris Skyline Inc. Malam itu, ia kabur dengan pakaian rumah sakit dan satu tekad yaitu anaknya akan lahir meski dunia menolaknya. Hingga lima tahun kemudian ia kembali ke kota suaminya, yaitu kota Sentara. Lalu, apa yang akan dilakukan seorang Adrian, pria ambisius yang lima tahun lalu ingin memusnahkan anaknya sendiri? Apakah Livia akan mampu membesarkan anaknya dan membalaskan dendamnya pada keluarga Adrian?
もっと見るVior menyemprotkan parfum dengan wangi musk yang sangat kuat dan menyengat, hampir membuat hidung siapa pun yang menciumnya merasa pening.
Nyonya Saraswati, sudah menunggu di meja makan yang penuh dengan hidangan berkelas. Begitu pintu terbuka, wanita paruh baya yang terkenal sangat menjunjung tinggi etika itu mematung. Matanya membelalak menatap sosok blonde yang menggandeng putranya. "Kau... kau Vior, kan??" tanyanya dengan suara bergetar. Vior tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyeringai lebar, memperlihatkan lipstik merahnya yang mencolok. Elian menarikkan kursi untuk Vior di samping ibunya. "Vior... penampilanmu agak... berbeda" Nyonya Saraswati mencoba menahan diri, meski matanya terus melirik ke arah dada Vior yang terekspos karena jas Elian sudah diletakkan di sandaran kursi. "Oh, maaf ya, Tante. Eh, Ibu maksud saya," Vior tertawa dengan nada yang sengaja dibuat cempreng. "Di kantor saya memang harus pakai setelan pakaian kerja membosankan itu demi gaji. Tapi beginilah saya kalau sedang ingin bersenang-senang. Elian suka kok kalau saya tampil berani begini, ya kan, Sayang?" Vior mengedipkan sebelah matanya pada Elian. Elian sedikit tersentak, akting Vior jauh lebih natural dari yang ia bayangkan. Ia merasa bangga, sekaligus sedikit kesal melihat cara ibunya memandang Vior dengan jijik. "Makanlah dulu. Chef sudah menyiapkan steak dan wine terbaik," ucap Nyonya Saraswati, suaranya mendingin. Sandiwara dimulai. Vior langsung menyambar pisau dan garpu tanpa memperhatikan urutan etika makan fine dining. Ia mengambil potongan daging besar, memasukkannya ke mulut, dan mulai mengunyah dengan suara mengecap yang nyaring. Cap, cap, cap. Nyonya Saraswati meletakkan garpunya sendiri dengan denting pelan di atas piring porselennya. Ia tampak benar-benar kehilangan selera makan. "Ah, enak sekali! Maaf ya Bu, selera makan saya memang tinggi kalau habis 'main' sama Elian," ucap Vior tanpa malu, sengaja memberikan implikasi kotor dalam kalimatnya. Wajah Nyonya Saraswati memucat. Ia menatap Elian dengan pandangan menuntut penjelasan. Elian hanya diam, menyesap wine-nya dengan tenang, seolah perilaku Vior adalah hal yang wajar. *** Dua Minggu sebelumnya kejadian itu, undangan pernikahan berwarna perak itu tergeletak di atas meja kerja Vior, tampak kontras dengan tumpukan dokumen yang berantakan. Kertas bertekstur mahal itu memancarkan aura yang menyesakkan Nama Rio dan Enzy tercetak dengan tinta emas timbul yang berkilauan, seolah mengejek di bawah lampu kubikal kantor yang dingin. Vior terpaku. Dunianya seolah menyusut hanya sebatas meja kerja dan benda terkutuk di hadapannya. Tujuh tahun. Angka itu berputar di kepalanya seperti film rusak. Dua ribu lima ratus lima puluh lima hari yang ia lalui bersama Rio—pria yang mengenalnya lebih baik daripada dirinya sendiri, pria yang tahu persis takaran kayu manis dalam kopi paginya, pria yang dulu menggenggam tangannya di bawah meja perpustakaan kampus—kini telah menjadi orang asing. Dan yang lebih menyakitkan, pria itu memilih Enzy, rekan kerja satu divisi yang baru ia kenal beberapa bulan lalu. Ingatan tentang perpisahan mereka kembali menyerang. Rio mengakhiri tujuh tahun itu dengan kalimat klasik yang klise "Kita sudah tidak cocok lagi." Yang lebih perih adalah rahasia yang disimpan Rio selama ini. Pria itu tidak pernah mengunggah foto Vior di media sosial dengan alasan privasi—bahwa hubungan bukan konsumsi publik. Namun, lihatlah sekarang. Enzy dirayakan, diratukan, dan dipamerkan ke seluruh penjuru dunia maya. Enzy mendapatkan segalanya yang selama tujuh tahun Vior nanti-nantikan tanpa perlu menunggu lama. "Laporan kuartal terakhir, Vior. Sudah selesai?" tanya Elian. Suaranya datar, namun ada tekanan yang membuat Vior merasa terpojok. Vior menatap layar komputernya yang kosong, lalu beralih ke undangan perak itu. Pertahanan emosinya hampir runtuh. "Saya... saya minta waktu tambahan sedikit lagi, Pak. Hari ini saya agak sulit berkonsentrasi." Biasanya, jawaban seperti itu akan memicu badai. Vior sudah menyiapkan kupingnya untuk mendengar rentetan sindiran tentang profesionalisme. Namun, kali ini sunyi. Elian terdiam, tatapannya sedikit melunak saat melihat undangan yang masih terbuka di meja Vior, lalu beralih ke wajah wanita itu yang terlihat pucat. "Baik," jawab Elian singkat. Kemudian masuk kembali ke ruangannya. Vior menghembuskan nafas lega. Dengan gerakan perlahan namun mantap, Vior mengambil undangan pernikahan itu. Ia tidak merobeknya dengan penuh amarah seperti adegan film drama yang murahan. Ia justru melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam laci meja paling bawah, di bawah tumpukan dokumen kerja yang akan ia selesaikan malam ini. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Itu Elian, yang entah mengapa kembali lagi ke meja Vior. Pria itu membawa dua cangkir kopi panas di tangannya. "Kamu masih di sini?" tanya Elian sambil meletakkan salah satu cangkir di meja Vior. Vior mendongak, terkejut. "Saya sedang menyelesaikan laporan, Pak." "Istirahatlah sebentar," ujar Elian seraya menarik kursi kosong di depan meja Vior. "Kopi ini dengan satu sendok gula, karena saya dengar kamu tidak suka jika kopimu terlalu manis." Vior terpaku menatap cangkir itu. Bagaimana mungkin atasannya yang bengis tahu detail kecil tentang seleranya? Elian tersenyum tipis—sebuah pemandangan yang hampir tidak pernah dilihat karyawan lain di kantor ini. "Dunia tidak berakhir karena sebuah undangan pernikahan, Vior," lanjut Elian dengan nada yang jauh lebih manusiawi.Raut wajah Rayyan yang tadinya sumringah, mendadak pucat pasi dalam hitungan detik. Senyum manis yang baru saja tersungging pada Alana lenyap seketika, terganti oleh tatapan mata yang sangat dingin hingga mengubah suasana. Ia mengambil ponselnya dengan jemarinya bergerak secepat kilat dengan menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan satelit pusat Vanguard. Alana yang tubuhnya masih dibalut selimut bisa merasakan perasaan khawatir Rayyan. "Ada apa, Rayyan. Apa maksud pesan itu? Kenapa dengan Leo?" Suara Alana terdengar bergetar hebat. "Tidak. Kamu tetap disini, jangan kemana-mana sampai aku kembali ke ruangan ini. Mengerti!" Suara Rayyan terdengar sangat tegas, seolah tak menerima penolakan. Ia bergegas memakai kemejanya dengan tidak karuan dan mengambil pistol yang ia taruh di bawah laci meja kerjanya. Rayyan berlari keluar ke halaman belakang. Pikirannya terus dipenuhi oleh foto Leo yang di potret dari jarak jauh. Rayyan yakin, itu bukan sekadar kebetulan. Melainkan it
Alana masih terpaku di kursi, menatap punggung Rayyan yang perlahan menghilang di balik pintu kayu jati ruang kerjanya. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan tentang kunci perak yang terjatuh. Akan tetapi, rasa tidak percaya nya membuat Alana mengabaikan itu semua. Ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk memberikan semua kepercayaan nya pada Rayyan. Pria yang sudah bertaruh nyawa untuknya dan putra semata wayangnya.Untuk mengusir rasa curiganya pada Rayyan, Alana melangkah ke halaman belakang, mengawasi Leo yang sedang tertawa riang mengejar beberapa kupu-kupu yang singgah bersama bibi pengasuh. Tawa Leo membuat Alana merasa separuh bebannya luruh. Alana membiarkan Leo bersenang-senang setelah beberapa pekan terlibat pertikaian serius dengan ayahnya. Alana sendiri menyusul Rayyan. Bukan untuk mencari tau, tapi karena hatinya sudah sangat merindukan pria itu setelah berpisah lama.Alana mengetuk pintu ruang kerja Rayyan perlahan. Karena tak ada jawaban setelah ditunggu lama, i
Rayyan memapah Alana pelan kembali masuk ke dalam rumah. Begitu pintu teras tertutup, suasana dari rumah ditambah api unggun menambah kehangatan di rumah sederhana itu. Rayyan tidak langsung melepaskan Alana, melainkan menuntun pelan ke kamarnya yang terletak di samping kamar Leo."Silakan, istirahat yang nyenyak, Alana. Karena aku tidak ingin melihat wajah mu seperti zombie besok pagi." Perintah Rayyan sambil memutar knop pintu kamar yang sudah tertata rapi.Begitu Alana masuk, bau lavender yang menenangkan pun menelusuri indra penciuman nya. Menenangkan kondisi saraf-saraf nya yang sempat tegang berhari-hari. Alana kemudian duduk di tepi ranjang yang sangat empuk. Netranya menelusuri setiap inci tubuh Rayyan yang saat ini sedang sibuk memeriksa kunci jendela dan memastikan pemanas dalam kamar berfungsi sebagaimana mestinya. Perhatian kecil itu membuat Alana semakin merasa diperlakukan selayaknya manusia."Ray," panggil Alana pelan.Sang empunya pun menoleh, menghentikan sejenak semu
Mobil SUV hitam yang ditumpangi keduanya pun berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang terletak di lokasi tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus di pinggiran kota Sentara. Rumah ini bukan mansion milik Laurent, melainkan rumah kedua milik Rayyan dimana yang mengetahui lokasi rumah ini hanyalah orang-orang kepercayaan Vanguard.Rayyan dengan lembut mengecup kening Alana. "Sudah sampai, Sayang," bisik Rayyan lembut.Mendapat perlakuan tersebut, Alana membuka matanya perlahan. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi beban yang dipikulnya seolah menguar ketika melihat gerbang kayu rumah terbuka. Rayyan turun terlebih dahulu, kemudian menghampiri mobil tenaga medis yang membawa Leo dengan gerakan yang sangat lembut. Waktu itu, kondisi Leo sudah terlelap tidur.Rayyan mengabaikan kondisi nya sendiri akibat luka yang diperoleh nya beberapa waktu lalu, ia justru mengulurkan tangan satunya untuk membantu Alana keluar dari mobil. "Masuk dulu ya. Aku sudah minta bibi untuk menyiapkan a
Malam di Sentara tidak pernah benar-benar gelap, namun bagi Livia, kegelapan itu kini berpindah ke dalam sepasang matanya yang menyimpan amarah dan dendam. Di dalam suite mewah yang telah disiapkan asistennya, Livia berdiri di balkon, menatap kerlip lampu kota yang seolah mengejek masa lalunya.
Clara masuk ke dalam ruangan dengan wajah cemberut, langsung duduk di depan Adrian Nicholas Laurent. Adrian sedang sibuk menatap ponselnya, namun ia bisa merasakan aura negatif dari wanita di depannya."Ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan."Tadi di luar
Sentara masih sama. Kota yang dibangun dari beton dan ambisi, di mana lampu-lampu neon dipaksa terus menyala seolah-olah kegagalan adalah dosa yang tak termaafkan. Dari balik kaca jendela mobil yang gelap, Livia menatap gedung-gedung pencakar langit yang menusuk awan. Baginya, setiap sudut kota in
Seorang anak laki-laki berlarian di atas rumput taman sekolah, dengan sepatu yang sedikit kebesaran. Rambutnya sedikit berantakan karena tertiup angin sore."Mama lihat!"Anak itu berlari ke arah Livia. Sambil memamerkan piala kecilnya."Ethan juara dua, Ma!" Tambahnya.Livia berlutut dan segera me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評価
レビューもっと