LOGIN"Bu Citra saya sudah berusaha menahan Pak Yusuf, tapi beliau mengancam saya," jelas Ara. Citra pun menatap Yusuf dengan dingin, tatapan yang benar-benar tidak pernah dilihat Yusuf selama ini. Citra yang dulu begitu mudah tersenyum, manja dan banyak bicara kini terasa sangat dingin. Bahkan lebih dingin dari Yusuf. "Ini kantor saya, tolong patuhi peraturan yang ada!" tegas Citra. "Citra, tapi aku..." Yusuf bingung harus bicara apa sekarang. "Saya masih banyak urusan," Citra menatap jam dipergelangan tangannya, "saya permisi," kata Citra. "Citra," Yusuf pun cepat meraih tangannya. Tapi Citra pun melepaskan tangannya, perasaan itu sudah tidak ada. Tidak cinta dan tidak benci, biasa saja. Hebatnya hati yang sudah lama berjuang sendiri kini malah sangat hambar, mungkin karena sudah muak dengan segala tentang Yusuf. "Aku akan menunggu sampai kamu selesai," kata Yusuf kemudian. "Saya permisi," kata Citra lalu melangkah masuk ke dalam lift. Berikutnya Ara juga cepat menyu
Pintu ruangan Yusuf diketuk dua kali. "Masuk." Tama membuka pintu sambil membawa sebuah amplop berwarna putih. Wajahnya terlihat sedikit serius. "Pak, ada surat untuk Anda." Yusuf yang sedang membaca beberapa dokumen di atas meja hanya mengangkat pandangan. "Surat apa?" "Saya juga kurang tahu. Tadi diantar langsung oleh pihak Pengadilan Agama." Tangan Yusuf yang semula hendak membalik halaman berhenti. "Pengadilan Agama?" "Iya, Pak." Tama berjalan mendekat lalu meletakkan amplop itu di atas meja. Yusuf menatap amplop tersebut beberapa detik. Ada nama lengkapnya tercetak jelas di bagian depan. Yusuf Adithama. Tidak ada nama perusahaan. Tidak ada urusan bisnis. Perlahan Yusuf mengambil amplop itu dan membukanya. Matanya bergerak membaca bagian atas surat. Kemudian berhenti pada satu nama. Citra Mutiara Handoko. Dahi Yusuf langsung berkerut. Ia membaca kembali baris itu, seolah berharap dirinya salah membaca. Namun nama itu tetap sama. Citra. Tan
Yusuf kembali secepatnya ke rumah sakit, ia masuk ke ruang rawat Citra dengan tergesa-gesa. Citra tengah duduk sambil bermain ponsel. "Citra," panggil Yusuf. Citra pun menoleh, "Ya, ada apa?" tanyanya. "Apa maksudnya? Kenapa kamu ingin bercerai?" tanya Yusuf yang terlihat semakin bingung bercampur panik. "Cerai, ya cerai aja," kata Citra terlihat santai. "Iya, tapi kenapa? Apa alasannya?" desak Yusuf terus menerus, ia terlihat begitu frustasi karena Citra terlihat tenang memutuskan untuk bercerai. "Udah tanda tangan?" tanya Citra. Yusuf pun menahan rasa kesal, ia berbalik badan sejenak karena ingin menenangkan dirinya. Lalu kembali menatap Citra. "Citra, selama ini kita nggak pernah punya masalah. Karena tiba-tiba mau cerai?" tanya Yusuf tak ada habisnya. Citra pun mengangguk saja, menurutnya tak perlu menjelaskan apapun pada seseorang yang tidak peduli pada kita. Contohnya Yusuf, tidak perlu ia berkeluh kesah karena itu hanya mempermalukan dirinya sendiri. Sejak a
"Citra," terdengar suara Yusuf. Citra yang tengah makan pun menoleh, akhirnya setelah kemarin ia melahirkan sepasang bayi lucu hari ini ayah dari anak itu datang. Lalu Yusuf pun berjalan cepat ke arahnya dan memeluknya erat. Rasa bahagia itu jelas terpancar dari wajahnya. Sedangkan Miya memilih untuk keluar meninggalkan keduanya saja disana. "Terimakasih..." kata Yusuf. Lalu melepaskan pelukannya dan duduk di sisi ranjang. Citra tersenyum melihat kehadiran Yusuf. "Nenek bilang namanya Reyhan dan Reyna?" tanya Yusuf. "Iya, semoga kamu suka," kata Citra. "Aku suka, sangat suka sekali," kata Yusuf masih dengan perasaan haru, bahkan meskipun melepaskan pelukannya ia tetap menggenggam tangan Citra dengan sangat erat. "Syukurlah..." kata Citra tersenyum lega. "Aku nggak menyangka akhirnya jadi ayah, aku benar-benar jadi orang paling bahagia sekarang," ucap Yusuf tak ada habisnya. Cup. Ia mengecup kening Citra. Citra menarik nafas lega. "Kamu mau hadiah apa? Apa y
Maaf Teman-teman kalau salah ketik nama Citra ketukar jadi Indah, kebawa novel Hasrat Liar Suami Orang. Besok akan saya edit, terimakasih. *** Dokter keluar dari ruang oprasi, ia bisa melihat wajah khawatir orang-orang disana. "Bagaimana dengan putri saya, Dokter?" tanya Handoko dengan perasaan cemas. "Ibu Citra baik, walaupun belum sadar akibat obat bius. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat, dan selamat kedua cucu anda sehat, cantik dan tampan," ucap Dokter. Senyum di bibir Miya dan Handoko pun terbit, keduanya saling berpelukan karena hari ini bukan hanya hari dimana jantungnya hampir berhenti berdetak. Tapi juga hari bahagia kelahiran cucu mereka."Sekarang bayinya masih harus dirawat di inkubator, jadi bisa langsung melihatnya kesana," kata Dokter. "Akhirnya kita punya cicit," kata Nenek pada Kakek. "Iya, akhirnya," sahut Kakek juga.***Setelah Citra dibawa ke ruang rawat, anggota keluarga pun segera melihat keadaannya.Miya, menangis memeluk putrinya
Citra dan Maya pun di kampus, tapi tiba-tiba Citra merasa pusing. "Kenapa?" tanya Maya. "May, kepala aku tiba-tiba pusing," kata Citra. Mungkin karena dia tidak cukup istirahat. "Mending kita ke rumah sakit aja," kata Maya lalu mengemudikan mobilnya. "Pulang aja, May. Kayaknya aku cuma butuh sedikit istirahat," pintanya. "Kamu yakin?" tanya Maya. "Iya," jawab Citra. Sebenarnya ia tidak ingin ke rumah sakit karena takut bertemu dengan Naya dan Yusuf lagi secara tidak sengaja, ia tidak sanggup melihat keduanya bersama. Sejuta kali Citra berusaha untuk menepikan perasaannya, sejuta kali pula dadanya terasa sakit. Dan mungkin ia lebih memilih sendiri saja agar tak melihat lebih banyak kebahagiaan orang yang ia cinta bersama masa lalunya. *** Citra duduk di ruang tamu, hari-hari yang terus berlalu ini membuatnya semakin merasa sendiri. Sedangkan Yusuf lebih sering pergi daripada pulang. Dan karena rasa rindu itu ia pun memberanikan diri untuk menelepon Yusuf.







