Teilen

Bab 88

last update Veröffentlichungsdatum: 26.08.2026 08:07:05

Citra keluar dari kamar mandi, ia memakai handuk yang melilit di tubuhnya. Namun, ia melihat Yusuf sudah mengenakan kemeja.

"Mas, udah mandi?" tanyanya bingung.

"Ya, di kamar mandi kamar sebelah," jawab Yusuf sambil mengancing kemejanya.

"Oh," Citra mengangguk mengerti, hanya saja ia bingung kenapa Yusuf memakai kemeja bukan pakai tidur yang seharusnya, "Mas, mau kemana?" tanyannya akhirnya.

Yusuf pun menoleh kepadanya setelah selesai mengancing kemejanya, "Ada urusan," jawab Yusuf.

"
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Yot Charpalrela
citra gi mana. aduh penasaran
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 140

    Citra dan Maya pun di kampus, tapi tiba-tiba Citra merasa pusing. "Kenapa?" tanya Maya. "May, kepala aku tiba-tiba pusing," kata Citra. Mungkin karena dia tidak cukup istirahat. "Mending kita ke rumah sakit aja," kata Maya lalu mengemudikan mobilnya. "Pulang aja, May. Kayaknya aku cuma butuh sedikit istirahat," pintanya. "Kamu yakin?" tanya Maya. "Iya," jawab Citra. Sebenarnya ia tidak ingin ke rumah sakit karena takut bertemu dengan Naya dan Yusuf lagi secara tidak sengaja, ia tidak sanggup melihat keduanya bersama. Sejuta kali Citra berusaha untuk menepikan perasaannya, sejuta kali pula dadanya terasa sakit. Dan mungkin ia lebih memilih sendiri saja agar tak melihat lebih banyak kebahagiaan orang yang ia cinta bersama masa lalunya. *** Citra duduk di ruang tamu, hari-hari yang terus berlalu ini membuatnya semakin merasa sendiri. Sedangkan Yusuf lebih sering pergi daripada pulang. Dan karena rasa rindu itu ia pun memberanikan diri untuk menelepon Yusuf.

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 138

    "Indah," panggil Maya. Indah pun langsung membuka matanya, ia berharap Yusuf yang kembali tapi ternyata Maya. "Kamu kok tidur di sofa, tidur di ranjang gih...takutnya masuk angin," kata Maya. "Aku ketiduran kayaknya," jawab Citra menutupi rasa kecewanya. "Kamu mau makan dulu atau langsung tidur?" tanya Maya. "Kayaknya aku langsung tidur aja deh, udah ngantuk. Besok juga aku mau ke kampus," kata Citra lalu berpindah ke ranjang. "Ya udah, aku ke kamar juga. Besok ke kampus bareng ya, aku juga ke kampus," kata Maya. "Iya." Maya pun keluar dari kamar. Citra pun meraih ponselnya dan malam yang semakin larut ini ternyata Yusuf belum juga kembali. Lalu tiba-tiba tangannya memainkan ponselnya tak sengaja ia melihat postingan Naya. Disana foto Yusuf menemaninya dengan tulisan, "Terimakasih selalu ada". Citra merasa sesak, ia tau Yusuf bersama Naya. Tapi kenyataanya ia tetap saja terluka. *** Citra pun terbangun saat hari sudah pagi, sebenarnya ia baru saja tidur saa

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 137

    "Citra," panggil Nenek. Citra segera menuruni anak tangga kemudian, kemudian melihat Nenek dan Kakek disana. "Nenek," kata Citra menyambut dengan senyuman. "Sayang, sini duduk," Nenek pun membawanya untuk duduk di sofa. Lalu Kakek meletakkan kotak bekal di atas meja, keduanya benar-benar memiliki kerja sama yang sangat baik. "Ini masakan Kakek," kata Kakek tersenyum penuh semangat. "Hey, yang itu masakan Nenek," kata Nenek menujuk kotak bekal lainnya dengan tidak mau kalah. "Wah," Indah pun tersenyum, ia menatap kotak makanan itu dengan penuh bahagia, sebenarnya bukan tentang apa yang mereka bawakan. Tetapi tentang bagaimana cinta dan ketulusan yang mereka berikan, Citra benar-benar sangat terharu. "Kamu cobain punya Nenek dulu," kata Nenek, kemudian ia membuka kotak bekal dan langsung menyuapi Citra. "Punya Kakek juga," kata Kakek tidak mau kalah. Citra juga memakannya agar adil. "Kakek mu ini sudah hampir dua puluh tahun tidak pernah memasak, tapi sekarang di

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 136

    Suasana kini hanya ada keheningan semata setelah kedua orang tua Citra pulang, kejadian tadi sebenarnya bukan hanya melukai satu orang tapi juga melukai hati kedua orang tua Citra sendiri. Yusuf pun membuka pintu kamar, ia melangkah masuk dan melihat Citra berbaring di ranjang. "Gimana keadaan Naya?" tanya Citra. Keadaan Naya? Sebenarnya ia sangat terluka mengucapkannya, tapi ini sudah bagian dari keputusan yang ia ambil. Harusnya sakit itu bisa ia tepikan dengan mudah bukan? "Dia udah tenang," jawab Yusuf lalu berjalan ke arah Citra, "kamu mau pulang?" tanya Yusuf. Tatapan itu, tatapan yang begitu hangat membuat Citra merasa begitu dicintai meskipun kata cinta itu tak pernah terucapkan sama sekali. Tapi cara Yusuf menatap dan memperlakukannya seakan membuat Citra mengenal cinta. Entahlah... Andaikan saja itu benar maka ia akan sangat bahagia, dan andaikan ia salah maka biarkan ia tetap salah saja karena merasa dicintai sendiri. "Citra," panggil Yusuf. "Mas, aku

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 135

    "Yusuf?" suara Nenek terdengar, membuat yang lainnya menoleh bahkan bukan hanya Nenek. Bahkan Citra juga berdiri di sampingnya. "Lihat putriku, dia sedang berjuang untuk calon anakmu dan kamu apa?" tanya Miya menatap Yusuf dengan kecewa. "Bu Miya, kita bisa bicara baik-baik," kata Nenek berusaha untuk menengahi. "Pilihannya hanya satu, tinggalkan putriku atau wanita itu!" sahut Handoko. Untuk sesaat suasana benar-benar menegang, Yusuf menatap Citra lalu Naya. "Kenapa?" tanya Miya, "kamu tidak bisa serakah!" tambahnya. "Yusuf akan meninggalkan Naya!" sahut Kakek. Deg. Jantung Naya berdegup kencang, ia meremas dadanya dengan tatapan memohon pada Yusuf. "Bagaimanapun juga Citra adalah istri sahnya, sedangkan Naya hanya mantan kekasih," kata Kakek lagi. "Tapi aku kehilangan rahim karena dia," jawab Naya dengan suara bergetar. "Kalau begitu putriku yang mundur, aku nggak mau dia menjalankan hari-harinya penuh luka batin," kata Miya lagi. "Citra, kita pulang...besok

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 134

    "Naya?" panggil Yusuf saat melihat Naya di depan ruangannya. Naya mengangkat kepalanya lalu mengusap wajahnya dengan cepat. Yusuf pun berjongkok hingga akhirnya bisa menatap lebih dekat Naya yang sedang duduk di hadapannya. "Kenapa?" tanya Yusuf. Naya pun memeluk Yusuf dengan sangat erat. Saat itu, tangisnya kembali pecah tanpa bisa ditahan lagi. Yusuf hanya terdiam, membiarkan Naya menangis dalam pelukannya, mengeluarkan rasa sesak di dadanya yang selama ini ia tahan. "Yusuf, bisakah aku katakan bahwa aku iri pada Citra?" tanyanya dengan suara bergetar. Yusuf pun memeluknya erat. Kini ia tahu mengapa Naya menangis. "Harusnya aku yang berada di posisinya. Harusnya aku. Tapi kenyataannya bukan. Dan, kamu tahu betapa sesaknya aku?" tanya Naya dengan suara lirih. Yusuf hanya diam mendengarnya. Kenyataan yang ada sekarang memang sangat tidak mudah. Satu ada hati yang terluka, di sini lainnya ada batin yang tersiksa. Lantas, bagaimana akhirnya?Kenyataannya Naya seperti ini kar

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status