Masukꦲꦸꦫꦶꦥ꧀ꦲꦶꦏꦸ꧀ꦱꦢꦂꦩ꧀ꦤꦸꦩ꧀ꦥꦁ꧈ꦲꦗꦢꦸꦩꦼꦃUrip iku sak dermo numpang, ojo dumehHidup itu sekedar menumpang, jangan sokNasihat yang selalu diingat oleh Glagah setelah kematian Ratih Prana Jiwo, neneknya karena insiden penusukan oleh orang tak dikenal. Bulan madunya dengan Diara harus tertunda karena hal itu. Kemudian masalah semakin berkembang saat mereka menemukan fakta bahwa pelaku penusukan itu adalah orang tak pernah mereka duga. Petualangan mereka menguak pembunuhan itu membuat mereka menyadari bahwa keluarga adalah yang sangat berarti.
Lihat lebih banyakAden Bruce POV
I was happy because finally after so many years I was going back home. Although there was someone at home I really didn't like but I was excited to meet Mom, Dad, and my younger brother Jason.
I have completed my studies two years ago and Instead of Dad's company, I decided to struggle for my independence by myself staying here rather than in my country. I got a job in a multinational company and I was happy there. I didn't want to help Dad because Xavier my elder brother was already helping him.
I didn't like him and I knew we won't be able to handle the company together. I was avoiding this situation for a long. I always hated his selfish nature and that's why we never talked to each other properly. Apart from his selfish nature, there were some other reasons too.
But that day when I got a call from Mom and she told me about Dad's heart attack and she wanted me to come back. Dad was insisting too so I decided to move back to my country permanently. I wanted to stay with my mom Dad then. They needed me.
I packed up and went towards the airport immediately. I wanted to meet Dad as soon as possible. But the flight was late. I grabbed my ticket and was roaming around to pass my time.
I was buying the soft drink for myself when I saw someone and for a moment my heartbeat stopped. I was dreaming I thought. I was frozen at my place.
But It wasn't a dream. She was standing right in front of me talking to a girl. I wasn't believing my luck. I was looking for her for the last 2 years and here I found her at the airport. I didn't even know her name but I had feelings for her since the first time I met her.
I wanted to say hello to her at the moment but I was already so excited to see her. I didn't want to look desperate. I sat on a chair and after saying goodbye to her friend she was coming near me and my heart started beating fast. What if she recognized me? What if she remembered me?
I was thinking of all that but instead of saying something, she sat on the chair near me. There were two chairs between us. She was busy reading a book and I was unable to take away my eyes from her. How could that be possible? The face I remembered every moment in the last two years was finally in front of me. I wanted to jump with excitement but I controlled my emotions. I wasn't believing my luck.
She looked at me once and again started reading the book. At that moment my heart was dancing. I was seeing her beautiful hands and a bracelet was making it look more pretty.
She got a call. She was telling someone about her flight time and when she used my city name I was happy because she was going on the same flight and to my city.
I wasn't caring for anything. I decided to talk to her then but before I said anything she closed her book and I looked at her beautiful face. God, she had become more beautiful now. Her alcoholic eyes and beautifully carved lips with a beautiful sharp nose. She was just perfect.
Girl "What's your problem? Why are you staring at me?"
I forgot my words.
Aden " Oh! Hi, I am Aden. We have met before. Don't you recognize me?"Her facial expressions changed immediately.
Girl "Listen Mr. Aden. I am not the type of girl who would get impressed by your cheap tricks. Go find someone else for your Entertainment. You chose the wrong girl."
She was behaving as if was meeting with me for the first time. She was thinking I was a flirt. I wanted to clear the misunderstanding.
Aden "Listen you are taking me in a wrong sense. Don't you remember two years ago we met on that bridge?"
Girl "Listen Mr. I am not interested in your self-made stories. I know guys like you very well."
She immediately got up and went away. I was cursing myself for ruining the moment. I should have behaved like a gentleman. I was an Idiot.
I Never acted like that but my senses went numb when I saw her. It was totally unimaginable meeting. obviously, I was staring at her like I was seeing a girl for the first time.
I won't let her go this time.After the announcements for our flight, I got up and went there. As I entered the plane I saw her sitting away from me but I was able to see her properly. I was happy with that already.
She was busy on call and she looked at me and after giving me a death glare she turned her face away. I smiled at her cute action. I was trying to not look at her but how would that be possible. The person I looked for long was sitting right there.
I wanted to hug her but I had no right to that. had no idea about my feelings. She was already behaving rudely. She would kill me I knew. I was still looking at her when she called the stewardess.
Girl "I want to change my seat. Can you help me out?"
The seat near me was empty.
Aden "You can sit here miss!"Her face was turning red gradually. She didn't get any other seat and was again busy reading books. I was smiling.
Aden "My offer is still valid."
Girl "I really wonder how you managed to get this business class ticket. Now if you wouldn't stop staring at me I would complain against you for harassing me."
Aden "What? Look miss whatever your name is. I was just trying to talk because I wanted you to remember me but I guess you have no idea about that."
Girl "Not again. Stop this drama. just shut up. "
Her beautiful eyes and red tomato face were making her look more gorgeous.
I had no other choice than to forcefully look away from her. We landed safely and after coming out I was looking for her but she wasn't there. I came out of the airport and was looking around. She must have left.
I didn't tell anyone at home about my plan so I hired a cab and got in. I was still thinking about her and I was praying to meet her soon. I never imagined that my prayer would be fulfilled soon.
Diara, Bintang, Laut berkumpul di apartemen Anton. Menunggu Glagah kembali dari kantor polisi.Sementara di televisi, media sudah memberitahukan soal penangkapan Randu sebagai pembunuh Ratih Prana Jiwo. Keberadaan Glagah di kantor polisi bahkan tersorot kamera dan memperkuat opini publik tentang hal itu.“Pelaku penusukan Ratih Prana Jiwo ditengarai sudah ditangkap. Seorang wanita muda yang belum diketahui secara detail identitasnya. Beberapa orang juga ikut ditangkap, dan sepertinya hanya sebagai saksi. Bahkan Glagah sendiri yang menangani kasus ini.” Penjelasan pembawa berita itu membuat mereka bertiga saling pandang lalu tersenyum bersamaan.“Suamiku terlihat tampan di televisi.” Diara membanggakan wajah Glagah yang terlihat di sana.Bintang dan Laut seketika mencibir ke arahnya lalu tertawa. “Besok, Ayah dan Ibu ingin berziarah ke makam Nenek. Mas Laut mau ikut?” tanya Diara.“Aku masih harus mengurusi bebe
Gita terkejut dengan keakraban Rana dan Laut.“Paman dalam keadaan sehat saja aku sudah tenang. Aku kira Paman sudah pulang ke kampung, karena tak pernah memberiku kabar.” Laut menepuk pundak Rana.“Aku harus menjaga agar rumah itu tak jatuh ke tangan yang salah,” jawab Rana membuat Laut menganggukkan kepalanya.“Ini, bukti dari kejahatan Randu. Aku memungutnya saat dia membuangnya ke tempat sampah di rumah setelah kejadian itu,” kata Rana.“Dia tidak begitu pintar.” Gita menambahkan informasi yang membuat Laut paham.“Maafkan aku telah membiarkan dia sampai sejauh ini. Kedatangan Non Gita sudah memberiku kekuatan untuk menemuimu,” kata Rana lirih.Selama ini dia berusaha untuk mengekang Randu, terlebih setelah wanita itu pulang ke rumah. Tapi, semua perkataannya tak pernah didengar. Laut menerima pisau yang berada di dalam kantong plastik itu. Bersih.“Dia sudah membersihkanny
[Besok datang dan bawa buktinya ke Heritage]Rana membaca pesan dari nomor asing. Tapi dia menyimpulkan ini Laut, karena Gita sudah menghubungi Laut tadi.Dengan langkah mengendap, Rana menuju kamar Gita. Memastikan Randu tak melihatnya. Dia mengetuk pintu kamar Gita perlahan. Saat Gita membuka sedikit celahnya, Rana mengulurkan ponsel dan menutup pintu. Kembali ke kamarnya.Gita membaca pesan itu, dan mengerti apa yang harus dilakukan. Dia menatap jendela dan langit malam tertangkap oleh matanya. Menatap bulan yang mengantung di sana. Ingatannya melayang kepada Bulan, adik yang dia bunuh dengan tangannya sendiri. Hanya sebuah ambisi. Menuruti keinginan orang yang bahkan tak peduli tentang orang lain.Randu masih tak bisa memejamkan matanya. Dia duduk di tepi ranjangnya. Rencananya tak mengarah ke mana pun, yang menandakan ini akan berhasil. Satu per satu orang yang dia harap bisa menjembatani keinginannya sudah pergi.Keinginannya untuk membantu Daya Cipta
Laut menatap tajam Frasa yang menunduk di depannya. Tak percaya wanita itu sudah membuatnya kelimpungan. Tidak terlihat kalau dia mempunyai kemampuan yang mumpuni. Kecil, tak terawat, walau jelas terlihat gurat kecantikan di sana. Seperti gelandangan yang tak punya rumah.“Siapa yang menyuruhmu?’ Tanpa basa-basi Laut langsung menanyakan hal itu.Frasa terlihat gelisah, jika dia menyebut nama Randu, dia tak tahu apakah Laut akan mengenal wanita itu atau tidak.“Randu, dia yang menyuruhku, karena aku mempunyai hutang budi dengan Ibu angkat dari wanita itu,” kata Frasa pada akhirnya.“Randu?” Laut langsung teringat dengan rumah masa kecilnya yang sudah beralih tangan atas nama Randu.“Bagaimana rupa orang itu?” selidik Laut.“Dia tak lebih tinggi dari aku, berwajah lonjong dan mempunyai mata bulat yang khas,” papar Frasa mencoba mengingat rupa Randu yang hanya ditemuinya sesekali.Kriterianya
Wira berjalan mondar-mandir, sementara Sangka duduk dengan enggan di kursinya. Kekuatan mereka seperti meluruh.Ponsel Sangka berbunyi, membuyarkan keheningan mereka. Gama. Nama laki-laki itu membuat Sangka mendesah.“Di mana?” tanya Gama tanpa berbasa-basi.“Aku
Suara ketukan pintu membuat Diara beranjak dari balik meja. Setelah membuka pintu kayu berat itu, sepasang laki-laki dan wanita berdiri di depannya, dengan tatapan mengintimidasi.“Saya Sangka dari PT. Daya Cipta, ini Wira, Paman saya.” Wanita itu mengenalkan dirinya. Diara
“Jebak dia,” kata Laut di ponselnya setelah Glagah membuat harinya bertambah pusing.“Bagaimana? Anton harus menemuinya dan mengonfrontasinya?” tanya Glagah di seberang sana.“Ya, lakukan saja dan buat dia mengaku. Kita harus tahu intensi dia yang sebenarny
Anton sedang mengunyah ayam kare yang Glagah masak saat layar monitornya memberikan tanda ada penyusup. Tangannya secepat kilat meletakkan piring di meja dan menyambar keyboard komputernya untuk membentuk firewall agar penyusup itu tak bisa masuk ke sistemnya.“Ada apa?” tanya Gl
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak