Mommy, Give Daddy A Second Chance; The Billionaire’s Ex Wife

Mommy, Give Daddy A Second Chance; The Billionaire’s Ex Wife

last update최신 업데이트 : 2022-12-13
에:  Theodore Ivy 연재 중
언어: English
goodnovel16goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
3챕터
1.6K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

시놉시스

Arranged to marry a man she had never met at age twenty, Caroline wasn’t keen about it, but ended up reluctantly agreeing to the contract marriage on realizing there was going to be a huge sum of money involved. The marriage ended up being a complete whirlpool of different things for Caroline and her husband, Richard, and they ended up getting a divorce, before parting ways. Five years into the future, a freshly shot patient gets rushed to the hospital in which Caroline works, who surprisingly turns out to be her ex-husband, Richard. Love really does bloom in unexpected situations and Richard ends up falling for Caroline harder than he ever thought possible, realizing that he could never let her go this time, especially now that he knew she had bore him a son in secret.

더 보기

1화

Chapter 1

Kanya memandang ke sekelilingnya dengan tatapan bingung. Kamar besar tempatnya berada sekarang adalah tempat yang sangat asing baginya. Tadi ia baru saja dibawa ke sini setelah menjalani serangkaian prosesi pernikahan yang digelar secara tertutup.

Kanya tidak mengenal siapa suaminya. Ia hanya tahu bahwa lelaki itu adalah pemilik perkebunan tempat orang tuanya bekerja. Raven namanya.

Kanya terpaksa menikah dengan Raven demi melunasi hutang orang tuanya yang sudah menggunung. Bahkan rumah tempat tinggalnya yang dijadikan agunan terancam akan disita jika mereka masih tidak membayar hutang itu.

Raven bersedia membantu melunasi semua hutang orang tua Kanya dengan syarat Kanya mau menikah dan menjadi istrinya.

Awalnya Kanya menolak. Namun, setelah perperangan batin yang sangat hebat, ia pun bersedia. Semua demi menyelamatkan orang tua dan adik-adiknya yang masih kecil.

Suara pintu yang dibuka membuyarkan lamunan Kanya. Ia sontak berdiri dari duduk ketika mengetahui Ravenlah yang masuk.

Raven mengamati dengan ekor matanya. Kanya terlihat gugup. Selain itu perempuan tersebut juga sangat sopan. Selama beberapa hari sebelum menikah Raven sudah mengamati tingkah dan gerak-gerik Kanya. Perempuan itu tidak berbuat yang aneh-aneh. Dia normal dan begitu lugu.

Demi mengklaim warisan dari orang tuanya, Raven harus memiliki anak. Raven meminta bawahannya untuk mencarikan seorang perempuan guna dijadikan sebagai istri. Saat foto Kanya disodorkan padanya, Raven langsung terpikat. Perempuan itu cantik, masih muda dan tampak sehat meski penampilannya apa adanya.

Sementara Raven mengamatinya, Kanya berdiri sambil menundukkan kepala dengan tangan saling menggenggam di depan perutnya.

Raven berjalan mendekat. Setiap langkah kakinya membuat bulu kuduk Kanya berdiri. Raven tidak banyak bicara, akan tetapi aura dingin pria itu begitu kuat, membuat Kanya sedikit ketakutan.

Dan kini jarak mereka hanya beberapa senti. 

Kanya gemetar ketika tiba-tiba Raven mengulurkan tangan lalu mengangkat dagu Kanya dengan ujung telunjuknya hingga muka mereka bertatapan.

“Jangan takut, saya suami kamu,” ucap Raven pelan.

“Iya, Pak,” jawab Kanya lebih pelan. Semula Kanya mengira jika suaminya adalah seorang pria tua seumuran ayahnya. Dugaan Kanya salah besar. Raven adalah pria gagah dan kharismatik yang umurnya hanya selisih lima tahun di atas Kanya. Raven juga terlihat seperti pria baik-baik dan tidak banyak tingkah.

Begitu mengetahui betapa ‘sempurna’ sosok suaminya, Kanya menanam harapan bahwa pernikahan ini akan membuatnya bahagia. Kanya yakin Raven akan memperlakukannya dengan baik dan menjaganya sepanjang hidup.

“Dan mulai sekarang jangan panggil saya bapak, nama saya Raven.” Lelaki itu menyambung perkataannya.

Kanya diam sesaat. Memanggil Raven tanpa embel apapun, apa itu sopan?

“Apa kamu mengerti apa yang saya katakan?” Raven menanyakannya lantaran Kanya tidak merespon.

“Saya mengerti.” Jawaban lirih terlontar dari bibir Kanya. 

“Bagus. Dan sebagai seorang istri apa kamu tahu apa saja kewajiban kamu?”

Kanya menggigit bibir. Sebelum menikah ia memang sudah mendapat wejangan dari petugas pernikahan tentang hak dan kewajiban serta tata cara kehidupan berumah tangga.

“Apa kamu tahu apa kewajiban kamu?” Raven mengulangi pertanyaannya.

“Tahu, Pak, eh, Raven.” Lidah Kanya terasa kelu kala menyebut nama itu.

“Jadi kamu siap untuk melaksanakannya sekarang?”

Detak jantung Kanya seketika menghentak dengan sangat kencang. Apakah yang Raven maksudkan adalah mengenai hubungan badan? Kanya bergidik membayangkannya. Alih-alih akan melakukan hubungan intim, ia malah belum pernah disentuh sekali pun oleh laki-laki.

“Bagaimana? Apa kamu sudah siap?” Suara Raven terdengar lebih tegas.

“Si- siap …” Berbeda dengan Raven, Kanya terdengar gemetar. Ia takut. Sekilas yang ia dengar dari cerita teman-temannya, malam pertama setelah menikah sangatlah menyakitkan bagi wanita. Bahkan ada yang mengatakan hal itu membuat kesulitan berjalan sampai berhari-hari. Semoga saja cerita itu tidak benar.

Raven meletakkan kedua tangannya di atas pundak Kanya. Lalu dibalikkannya tubuh perempuan itu membelakanginya. Dengan perlahan ia menurunkan zipper dress Kanya hingga terlepas dan menumpuk di kaki perempuan itu. Satu demi satu penutup tubuh mulai terlepas dari badan Kanya hingga ia benar-benar polos tanpa pelapis apa-apa.

Raven tertegun. Inilah mahakarya pencipta paling sempurna yang pernah ditemuinya. Kanya begitu indah meski dilihat dari belakang. Tubuhnya berlekuk di mana-mana. Raven berharap Kanya akan memberikan anak secepatnya. Tempo hari sebelum menikahi perempuan itu Raven sudah membawanya untuk pemeriksaan kesehatan reproduksi. Dan ahli medis menyatakan bahwa Kanya dan dirinya sama-sama sehat serta siap untuk memiliki keturunan. Apalagi saat ini Kanya sedang berada di masa-masa subur. Perempuan itu baru saja selesai menstruasi. Jadi Raven pikir mereka tidak butuh waktu yang lama untuk memiliki keturuanan.

Jantung Kanya bertalu-talu. Ia menundukkan kepala, malu pada Raven dan dirinya sendiri dalam keadaan tanpa busana begini. Ia meremang ketika pundaknya dicium dari belakang. Bibir dingin Raven yang bersentuhan dengan kulitnya membuat Kanya merasakan sensasi indah yang ia tidak tahu apa namanya.

Dalam hitungan detik kecupan lelaki itu menjalar ke lehernya, sedang kedua tangannya melingkari Kanya dengan begitu erat. Kanya merasakan tungkainya lemas. Rasa geli, nikmat dan sedikit asing membuatnya melayang. 

Kanya melangkah patuh ketika Raven menggandeng ke ranjang lalu membaringkan tubuhnya di sana. Pipinya merona malu ketika menyadari pria itu juga tidak berpakaian sama sepertinya.

Raven mulai menjamah. Bibir pria itu menyapu mili demi mili permukaan kulitnya. Hingga … sesuatu yang asing terasa ingin memasukinya dan membuat Kanya terdesak.

Kanya memejamkan mata sambil menggigit bibir. Ia mengerang pelan. Raven berhasil menembusnya. Sebagian dari pria itu kini berada di dalam Kanya.

Mereka menyatu …

Beberapa jam kemudian saat Kanya membuka mata ternyata semua sudah berakhir. Tidak ada Raven di sebelahnya. Yang ada hanya sakit di bagian organ kewanitaan serta bercak darah di atas sprei.

Kanya langsung duduk setelah menyadari sesuatu. Tadi ia ketiduran setelah bercinta dengan Raven. Dan ia tidak tahu kapan laki-laki itu pergi. Terakhir yang berhasil ia ingat adalah ketika Raven melabuhkan kecupan lembut di keningnya sebelum mengangkat tubuh.

Menyingkap selimut, Kanya baru tahu tidak selapis pun kain menutupinya kecuali selembar selimut putih tadi. Ia buru-buru mengenakan pakaiannya. Gerakannya tidak seleluasa biasa lantaran perih di pangkal pahanya.

Suara deheman lalu terdengar. Seketika Kanya merasa lega ketika tahu itu Raven. Laki-laki itu masih di sana.

“Sekarang siap-siap, mandi dan pakai baju ini.” Raven memberi paper bag pada Kanya.

“Kita mau ke mana?” tanya Kanya ingin tahu.

“Nanti kamu akan tahu sendiri.”

Kanya terdiam dan tidak lagi bertanya. Namun satu pertanyaan mengganjal di kepalanya yang langsung ia suarakan.

“Kalau begitu boleh saya tahu kenapa orang tua saya tidak datang saat kita menikah? Atau mereka baru akan datang besok?”

Raven tak langsung memberi jawaban. Ia menatap Kanya lekat dan dekat. 

“Mereka tidak akan pernah datang,” jawabnya datar.

“Kenapa? Apa ibu dan bapak saya sakit?” Kanya jadi cemas.

“Karena saya sudah membeli kamu dari mereka. Mulai saat itu kamu menjadi milik saya. Kamu tidak punya hubungan lagi dengan mereka dan tidak boleh lagi berhubungan.”

Kanya terkejut. Suara dingin Raven terdengar seperti halilintar di telinganya. Langit seperti akan jatuh menimpanya mendengar pengakuan pria itu.

***

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

댓글 없음
3 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status