LOGINDoctor Santiara Dy, kilala biglang isang magaling na Neurologist at isang sikat na writer sa social media. Perfect is the best description about her. Having a face like a Barbie, beautiful eyes with a long and thick eye lashes. But the most attractive is when she smile dahil lumalabas ang kaniyang malalim na biloy. The way she walk, mapapatingin ka dahil sa ganda ng katawan. Perfect size of boobs, small waistline and nice ass. Pero kahit nasa kaniya na ang lahat ay hindi pa rin siya kontento sa buhay niya. Hindi siya nagtatagal sa mga Hospital na pinagtatrabahuhan niya at kapag nagsawa na siya ay nagkukulong lang siya sa bahay niya at nagsusulat sa online Platform kung saan isa siyang sikat at kilalang writer. Si Dominick ay isang Ruthless Mafia Boss at nagmamay-ari sa lahat ng Hospitals na nakapangalan sa kaniya ang Saint Dominick Hospital. Bukod doon, isa rin siyang kilalang magaling na negosyante. Hinahabol ng mga babae sa taglay na ka guwapuhan. Guwapo pero nakakatakot na halos hindi ka makakatitig kapag siya ay nakatingin sa'yo dahil sa tingin pa lang niya ay parang mamamatay ka na sa takot. Matatakot kaya ang isang topakin, maldita at palaban ngunit friendly at palangiti na si Santiara sa isang mapanganib na Mafia Boss?
View More"Jangan menungguku. Aku lembur malam ini.”
Suara Albert di ujung telepon terdengar datar, nyaris tanpa emosi.
Elyssa, yang memegang ponsel dengan tangan gemetar, menatap meja makan yang sudah tertata rapi. Lilin-lilin kecil di atas meja berkelap-kelip, memancarkan cahaya hangat yang kontras dengan dinginnya jawaban suaminya.
"Lembur lagi, Mas? Apa kamu tau ini hari apa? Ini hari jadi—"
"Kamu bisa melihat sendiri di kalender. Aku gak punya banyak waktu, Elyssa. Aku sibuk!"
Belum sempat Elyssa melanjutkan kalimatnya, panggilan itu sudah terputus. Ponselnya kembali ke layar utama, menunjukkan foto dirinya dan Albert saat mereka menikah tiga tahun lalu, sebuah pengingat pahit tentang janji yang kini terasa kosong.
Malam itu terasa dingin dan mencekam.
Elyssa mematikan lilin satu per satu, seolah memadamkan harapan yang tersisa di hatinya. "Mau sampai kapan kamu giniin aku, Mas? Aku capek," lirihnya.
Air mata perlahan menetes membasahi pipi. Elyssa kembali mengingat masa-masa awal pernikahan mereka. Albert Han, suaminya, selalu bersikap romantis, memberikan perhatian kecil, bahkan untuk hal-hal sepele.
Namun, setelah Albert diangkat menjadi Direktur Keuangan, segalanya berubah. Albert semakin sibuk, jarang memberikannya waktu, dan bersikap dingin.
Awalnya Elyssa memaklumi. Ia berpikir mungkin perubahan sikap suaminya itu pengaruh terlalu lelah bekerja. Tapi genap setahun, Albert masih saja bersikap dingin dan seperti menghindarinya. Hal ini membuat Elyssa makin tersiksa oleh rasa sepi.
“Padahal hari ini anniversary kita, Mas, tapi kamu malah lupa,” gumamnya.
Akhirnya, Elyssa pun menikmati makan malam yang ia siapkan sendirian.
****
Keesokan paginya, Elyssa dan Albert menikmati sarapan bersama di meja makan. Suasana terasa sunyi dan dingin, hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang beradu.
Elyssa, yang merasa tak nyaman dengan keheningan ini, akhirnya membuka suara. “Mas, kamu semalam pulang jam berapa? Aku nungguin sampai jam sebelas, tapi kamu belum pulang.”
Semalam, Elyssa memang menunggu kepulangan Albert, hingga ia ketiduran di sofa. Saat terbangun, ia masih berada di tempat yang sama, sedangkan Albert sudah terlelap di ranjang.
Hati Elyssa terasa perih. Ia teringat saat dulu, di mana Albert akan menggendongnya ke kamar, memindahkannya dengan hati-hati agar tidak terbangun. Tapi semalam, ia diabaikan, dibiarkan sendirian di sofa yang dingin.
"Harusnya kamu bangunin aku, Mas. Gak enak tau tidur di sofa. Badan aku jadi pegel," keluh Elyssa dengan suara manjanya, berharap Albert akan memperhatikannya.
Namun, Albert tidak merespon. Ia terus mengunyah makanannya, berpura-pura tidak mendengar.
"Mas?" panggil Elyssa lagi, suaranya terdengar ragu.
Albert menyahut, tapi dengan topik yang berbeda. “Nanti sore dandan yang cantik! Pakai baju yang paling bagus!”
Elyssa diam sejenak. Lalu ia spontan mengukir senyum. Ia berpikir kalau Albert akan mengajaknya makan malam, menggantikan hari kemarin untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka.
“Iya, Mas. Aku akan dandan yang cantik,” sahutnya. Senyumnya merekah, dengan mata penuh binar.
****
Sore itu, Elyssa sudah tampil memukau dalam balutan gaun malam. Potongan gaun yang elegan menampilkan lekuk tubuhnya dengan anggun, sementara aroma parfum musk yang memikat menyebar di udara. Ia begitu bahagia.
Setelah sekian lama, akhirnya Albert meluangkan waktu untuknya, dan Elyssa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Tepat pukul lima sore, suara mobil Albert terdengar. Elyssa bahkan sudah menunggu di depan pintu, bersiap menyambut sang suami.
“Akhirnya kamu pulang, Mas.”
Saat itu juga, Elyssa langsung mematung. Albert ternyata tidak sendirian. Seorang pria ikut bersamanya dengan sebuah koper.
Pria itu menatap Elyssa cukup lama dengan senyum di bibirnya. Senyum yang terasa hangat, berbeda dengan senyum Albert yang terkesan kaku.
“Ayo, silakan masuk!” seru Albert.
Elyssa lalu menarik Albert ke sisi lain, meninggalkan tamu yang masih melihat sekeliling rumah mereka.
“Mas, dia siapa?” bisiknya.
“Dia Sean, temanku waktu kuliah. Dia ini lagi nyari tempat tinggal sementara, jadi aku membawanya ke sini,” jelas Albert.
Elyssa mengernyit heran, menatap Sean yang melempar senyum dengan bingung. Kemudian kembali menatap suaminya. “Maksudmu, dia akan menumpang di sini?”
“Iya. Dia baru pindah ke kota ini karena kerjaan. Dan belum dapat tempat tinggal, makanya aku nawarin dia untuk nginap sementara di sini.”
Elyssa terlihat tidak suka. Ia merasa tidak nyaman jika ada orang asing tinggal bersamanya di rumah. “Harusnya kamu ngomong dulu sama aku, Mas.”
"Gak semuanya harus aku ngomongin sama kamu, Elyssa! Pendapatmu itu gak penting!”
Ucapan Albert terasa seperti pukulan, langsung menusuk hati Elyssa. Ia mematung saat melihat suaminya berbalik dan kembali berbincang dengan temannya.
Albert lalu membawa Sean ke kamar tamu. “Buat dirimu nyaman. Anggap saja rumah sendiri.”
“Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini. Pasti kubalas suatu hari nanti,” jawab Sean dengan senyum yang tampak tulus.
“Haha. Jangan terlalu sungkan begini! Kau itu temanku!”
Elyssa berdiri di samping Albert, berusaha ikut dalam percakapan mereka. Ia mencoba menimpali sekali dua kali, tapi suaranya tenggelam begitu saja di antara obrolan bisnis dan kehidupan masa lalu kedua pria itu.
Tawa keduanya yang tenggelam dalam percakapan membuat Elyssa seolah tidak ada.
Elyssa yang merasa kikuk, tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa membenahi rambutnya. Rambut panjang yang tadinya terurai menutupi bagian dada ia alihkan ke belakang punggung.
Pada saat yang sama, Sean melirik Elyssa. Tatapannya penuh arti pada wanita itu, penuh kekaguman yang mendalam
“Oh ya, kamu istirahat aja dulu. Nanti kupanggil lagi kalau makan malam sudah siap,” ujar Albert menyudahi percakapan.
Detik berikutnya, Albert langsung menyuruh Elyssa ke dapur, tanpa berpikir dua kali.
Elyssa menahan napas kecewa. Harapannya untuk makan malam romantis dengan Albert hancur berantakan.
"Kenapa kamu nyuruh aku dandan kalau cuman buat nyambut temenmu?” tanya Elyssa dengan nada suara yang menahan kekecewaan. "Aku pikir kamu mau ngajak aku makan di luar, Mas.”
“Biar temanku tau kalau aku punya istri yang cantik! Oh ya, nanti masaknya yang enak! Jangan malu-maluin aku di depan dia!”
Elyssa hanya menghela napas. Lagi-lagi, Albert hanya ingin pamer.
“Iya, Mas. Tapi aku ganti baju dulu.”
Saat hendak berganti pakaian, Albert melarangnya. “Kamu mau masak pakai daster atau piyama lusuhmu itu? Jangan bodoh, Elyssa! Jangan buat aku malu! Istri seorang direktur keuangan harus selalu rapi dan cantik, terutama saat ada tamu!"
“Tapi kalau pakai gaun ini ribet, Mas.”
Elyssa tetap kekeh berganti pakaian dengan blouse yang tertutup dan celana kain panjang.
“Jangan buang waktu! Sebentar lagi jam makan malam!” tegur Albert, mulai kesal.
Elyssa hanya mengangguk pelan. Riasannya bahkan masih sempurna, tapi ia harus bertempur dengan bahan makanan di dapur.
Satu jam kemudian, Elyssa akhirnya selesai memasak. Ia kembali menemui suaminya di kamar untuk memanggilnya makan.
“Panggilkan Sean juga!”
Elyssa mengomel dalam hati. Tapi ia sudah tak berani membantah. Ia pun berjalan menuju kamar tamu dan mengetuk pintu.
Tak lama, pintu terbuka.
Elyssa sontak mematung. Di hadapannya, Sean berdiri hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Rambutnya basah, dadanya yang atletis terekspos jelas, dan bulir air masih membasahi kulitnya, membuatnya terlihat seksi dan maskulin.
Pemandangan itu membuat Elyssa merasa canggung dan panas. Seketika darahnya berdesir cepat. Bibirnya dengan kaku berkata, “M-maaf. Aku gak tau kamu baru kelar mandi.”
Elyssa makin salah tingkah karena Sean terus menatapnya tanpa berkedip. Tanpa aba-aba pria itu mengulurkan tangannya, mengusap pipi Elyssa dengan ibu jarinya.
Nasa Anim na buwan na ang aking tiyan at ngayon pa lang ay nakahanda na ang gamit ng aming magiging Anak.Lahat ay kulay pink dahil isa itong Babae at lahat ay si Dominick ang namili dahil medyo maselan ang aking pagbubuntis.Kagigising ko lang nang biglang pumasok ang aming Isang katulong dahil pinapasundo Ako nang aking Asawa. "Bakit Ikaw ang inutusan Manang at hindi na lang siya ang umakyat dito?" Nakabusangot kong tanong sa aming katulong."May ginagawa po kasi Young Lord!" Maikling sagot nito na ikinataas lang ng aking kilay but I didn't argue and ask again.Naligo Ako at nagbihis ng kulay yellow na bestida at nagpahid lang ng lip tint sa labi.Dahil nga maselan ang pagbubuntis ko kaya nagpagawa si Dominick ng elevator para hindi Ako mahirapan sa pag-akyat baba ko ng hagdan pero walang ibang gumagamit nito dahil dito lang ito naka direct sa aming kuwarto.Nagtaka Ako kung bakit dumeritso kami sa labas at hindi sa kusina at noong tatanungin ko na sana ito ay sumalubong na sa akin
"Love, I'm horny!" Bulong ko kay Dom habang nagmamaneho ito nang kaniyang kotse."What the hell , Love! You know I'm driving!?""I don't care! You good in driving right? I will do my thing also!" Hinubad ko ang aking panty at pagkatapos ay sinunod ko naman alisin ang butones at binuksan ang zipper nang kaniyang pantalon.Hinahagod ko ang kaniyang alaga na 'agad namang nagalit at tumigas kaya naman pinaangat ko ito upang mahubad ko ang kaniyang underwear."The heck, Love! Ohhhh," napalitan ng ungol ang reklamo nito dahil isinubo ko na ang kaniyang sobrang tigas na alaga.I lick it and feel his hardness. I want to suck his manhood untill he beg for me to stop."Drive properly, Love! Watch the driveway! Don't bother me here," natatawa kong sabi rito."Really, Love? How can I concentrate? Damn! You're crazy again, Love! Ahhh!!!" pa ungol na sabi nito."You're going to pay me later for doing this to me, Love!" pahabol pa nitong sabi."Hmmm, I'm exited Love! I'm born to be ready!" "You wa
"Stop the car, Love!" Sigaw ko kay Dom."Why? What happen? May masakit ba?" Tarantang tanong nito sa akin.Binuksan ko ang sasakyan at lumabas Ako na hindi sinagot ang tanong ni Dominick sa akin.Naglakad Ako papunta sa gilid ng basurahan at sobrang awang awa sa batang Babae na aking nakita."Hello Baby, where is your Mom?" Nakatingin lang ito sa akin at nakatitig sa akin na parang kinikilala Ako.Umupo Ako at pinantayan ito. "Nasaan ang Mommy mo? Ikaw lang mag-isa?" Ulit kong tanong rito."Ako lang po mag isa, patay na po Nanay at Tatay ko. Ang Kuya ko naman po may kumuha na Lalake kaya Ako na lang po mag-isa," malungkot nitong sabi na mangiyak ngiyak pa."Gusto mo bang sumama sa akin? Ilang kaon ka na?" Hawak ko ang kamay nito para hindi ito matakot sa akin."Hindi po Ikaw bad? Baka po sasaktan ni'yo lang po Ako!" Naawa Ako sa sinabi nito kaya nginitian ko ito ng matamis."I won't, promise! Aalagaan kita tapos mag aaral ka at maraming foods sa Bahay ko kaya hindi ka magugutom." Napa
While on the way kami ay napa-isip Ako kong bakit iba ang way nang pupuntahan at hindi sa office ni Dom pero hinayaan ko na lang at hindi na Ako nagtanong pa.Nagtataka na talaga Ako at dalawang oras ang biyahe bago namin narating itong napaka tahimik at napakalawak na Lugar. Wala rin akong nakikita maski anong gusali. "Where are we Love?" Kunot noong tanong ko rito.Sasagot na sana ito nang biglang may nagsidatingan pang mga sasakyan.Binilang ko itong lahat at 9 na mga sikat at mamahaling mga sasakyan ang mga pumarada ngunit ni isa sa mga ito ay walang bumaba na tao.Nakiramdam lang Ako ngunit umabot ng 15minutes ay wala pa rin kumikilos maski isa sa kanila. Magtatanong na sana ulit Ako nang biglang may bumukas sa ilalim ng lupang puro damuhan.Napa mura Ako sa aking nakita. It's an underground at kasabay ng pagbukas nito ay nagsibabaan na rin ang mga sakay sa kaniya-kaniyang kotse.Inalalayan Ako ni Dom sa pagbaba sa hagdan at gusto kong murahin si Dom dahil hindi niya sinabi sa
Nasa eroplano na kami papuntang Japan, medyo matagal rin akong hindi nakabalik sa mahal kong Lugar. Hindi Ako papayag na mawala na lang ito ng basta-basta sa akin. "Are you okay Love?" pukaw ni Dom sa aking pananahimik pero hindi ko ito sinagot at sumandal na lang Ako sa dibdib nito.4 hours and 5
"So what's the plan Love?" Nasa office na kami at nagkakape."I need to pretend that I'm pregnan, maybe if I'm in that situation baka maglakas loob na siyang kalabanin Ako because she know that I won't take the risk."I think that's a good idea Love. We really need to get rid of that woman!" sang a
"Watashitachiha kono basho o katsute no eikō ni modoshimasu, wakaki omo yo. Yakusoku shimasu." huling sinabi nila sa akin bago "Hey, let's celebrate Bro dahil sa wakas ay matatahimik na ang Buhay ninyo!" salubong sa amin ni Darco. Palinga linga pa ito na parang may hinahanap ganoon din ang ginawa
HANNA POV"Arg! Who do you think you are Santiara? Akala mo hindi kita kayang patayin? Gusto ko lang namang makita kang nasasaktan dahil sa pagkawala ng mga mahal mo sa Buhay bago kita tuluyang patayin." Galit na sigaw ko sabay balibag sa mga gamit na nahahawakan ko.Gusto kong maramdaman mo ang sa





![The Seven Killer Man [Tagalog]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ratings
reviewsMore