My Alpha From Hell

My Alpha From Hell

last updateLast Updated : 2023-03-28
By:  Mark FavourCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
74Chapters
5.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sephora's life is about to be changed forever when she was Chosen against her will to be the bi-anual Sacrifice to the powerful and mysterious cursed  werewolf prince of Ardanam  living beyond the Veil of their two worlds, her 19 years of existence seemed to have all been for nothing.           When the yearly "chosen"  sacrifice was performed,  She was chosen as one who was to be sacrificed to maintain the thousand years old peace treaty which the Humans made with the werewolves a long time ago.             Until fate gives her a second chance….           She was later rescued from her perilous fate after she successfully passed the VEIL, a living hell on Earth barrier that separates the humans from the werewolves. Unfortunately, she was caught by the prince guards and  was made to serve  the mysterious cold-hearted prince.            Thrown into the complexities of living and serving in a powerful Court and chained to one of the most feared Prince's in Igritann was never her expectations.          Can Sephora survive in this power-hungry new world?           Not when darkness is beginning to gather overhead, Century old grudges start to fester and history threatens to repeat itself as the tenuous relationships between the princes of Ardanam begin to crumble.         With the Mortal World at threat and her family along with it, Sephora is forced to step up to the fold and strive to bring peace to her old world as well as her new one….        And what if this cold hearted prince was bent on changing the rules and rewriting histories just for a weak human girl….?        

View More

Chapter 1

Very Beginning

“Nisa! Kamu pikir hidup di rumah ini serba gratis?” Ibu Atik berteriak kencang saat sang menantu tak kunjung datang.

Wanita dengan rambut memutih itu lalu mengambil keranjang berisi baju kotor miliknya. Ia tak tahan melihat keranjang itu masih berisi dan Anisa malah santai-santai.

“Bu, ada apa berteriak. Aku sedang merapikan bekas masak, sebentar lagi Mas Wisnu pulang,” bantah Anisa.

“Kamu kerja aja lelet, masak dari tadi belum kelar juga, bagaimana sih kamu? Cepat masukan ini ke mesin cuci, sudah bagus anak saya mau menikah dengan gadis kampung seperti kamu,” cerca Bu Atik.

Anisa hanya bisa beristighfar di hati. Demi kebaikan bersama pun akhirnya ia hanya diam dan tak melawan apa yang di katakan sang mertua.

Dengan kasar Bu Atik menendang keranjang baju itu hingga berantakan. Anisa pun menunduk memungut baju yang kini berserakan di lantai. Ia tak tahu bagaimana bisa ibu mertuanya begitu membencinya.

Bu Atik kembali ke ruang TV, ia duduk sembari minum teh dengan cemilan kue brownis yang baru saja di belinya di toko kue. Sesekali ia meneteskan air mata karena drama rumah tangga itu sangat sedih.

Sementara, Anisa berkutat di dapur dengan cucian segunungnya. Sesekali ia menyeka keringat yang menetes di kening.

“Di rumah Bapak pun aku tak di perlakukan seperti ini, kenapa di rumah yang harusnya nyaman aku harus seperti ini?” Anisa bergumam sendiri.

***

Baru saja menyelesaikan cucian, sang suami pun sudah pulang. Ia gegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ia takut saat sang suami melihatnya masih dalam keadaan tak enak di pandang.

Untung saja sang suami, masih berbincang dengan ibunya hingga bisa membuat Anisa gegas merapikan diri. Setelah itu ia menghampiri sang suami yang masih menemani ibunya.

“Mas,” sapa Anisa.

Sang suami menarik napas panjang, lalu memberikan tasnya untuk di simpan.

“Nu, bilang sama istri kamu itu, jangan lelet. Harus gesit, masa masak saja berjam-jam mencucinya. Bilangin juga kalau bayar air mahal,” oceh sang ibu.

Anisa merasa kesal karena mendengar hal itu. Lagi pula ada dirinya di tempat itu, tapi terabaikan.

“Aku lapar, makan temani aku makan, Nis,” ajak sang suami. Wisnu tidak mau terjadi pertengkaran antara sang istri dan ibunya.

Anisa menurut, ia menemani sang suami makan. Sesekali Wisnu berbincang tentang pekerjaannya di kantor.

Namun, Anisa tak menceritakan bagaimana lelahnya dia di jadikan pembantu oleh ibu mertua. Ia ingin baik-baik saja, sama seperti yang Wisnu pikirkan.

“Apa Ibu membuat kamu lelah?” tanya Wisnu.

“Aku enggak mengerti, aku sudah melakukan apa pun yang ibu kamu katakan. Tapi, tetap saja aku di matanya selalu salah. Aku ini menantu, Mas, bukan pembantunya.” Anisa menahan bening bulir di pipi. Ia merasa lega sudah menceritakan semua pada sang suami.

“Kamu sabar saja, nanti juga ibu berubah.” Wisnu mencoba menangkannya.

“Sampai kapan, Mas? Aku lelah seperti itu,” ujar Anisa.

 Wisnu hanya bergeming, sampai kapan pun ia paham jika sang ibu tidak akan berbaik hati selama Anisa belum memiliki anak. Apalagi sang ibu sangat menginginkan keturunan. Wisnu tak melanjutkan pembicaraan dan kembali makan.

***

“Cuh, kamu mau bikin darah tinggi mama semakin tinggi, masak kok asin,” oceh Bu Atik.

Wanita itu semakin kesal dengan Anisa, sedangkan Anisa masih menunduk walau hatinya sudah gondok bercampur kesal. Bu Atik tak hentinya mengomeli Anisa yang sama sekali tak bersalah. Bahkan perabotan rumah pun turut di komplen.

“Kalau Ibu enggak mau makan, ya sudah. Tapi jangan terus menerus memarahi aku. Aku punya batas kesabaran!”

“E—eh kamu pintar bantah Ibu, ya. Mau Ibu usir kamu dari rumah ini?” Bu Atik kembali mengoceh, ia sangat kesal dengan Anisa.

“Sudah, Bu. Sudah, Nis. Aku pusing melihat kalian bertengkar,” ujar Wisnu.

Anisa memilih meninggalkan dapur dan mengurung diri di kamarnya. Tidak lama Wisnu datang dan membuatnya tenang. Namun, rasa sakit di dada pun masih sangat kental, apalagi dengan jelas sang ibu sudah menyentil dirinya.

“Kamu mengerti sikap Ibu?”

“Mas, sebelum Ibu tinggal bersama kita, semuanya baik-baik saja. Bukannya aku durhaka tak mau di tumpangi, tapi sikap ibu bikin aku sakit hati, Mas.” Anisa kembali menegaskan kalau dirinya begitu sakit hati.

Wisnu serba salah mengambil keputusan, apalagi ia tak bisa mengusir ibunya saat ini karena tak ada yang mau mengurusnya lagi. Tidak mungkin ibu ikut dengan adiknya karena sudah pasti akan menolak ibu.

Wisnu tak membahasa masalah ibunya lagi. Ia pun melangkah ke luar dengan wajah kusut karena dilema dengan permasalahan di rumahnya. Pertengkaran ibu dan istrinya. Belum lagi pertanyaan tentang anak yang selalu ibunya bahas.

Sementara, Anisa terduduk di pinggir tempat tidur. Ia merasa tak kuat menghadapi ibu mertuanya yang bersikap seperti itu. Hatinya menangis, hanya karena dia miskin dan ibu mertuanya mempermalukan dirinya. Entah, ia akan bertahan sampai kapan.

“Nisa!”

Nisa mengelap sisa air mata, ia gegas menghampiri suara yang bergema kencang itu. Bu Atik sudah bertolak pinggang, Anisa kembali kesal. Kenapa hanya piring kotor saja dia tidak mau membersihkan. Kenapa harus berteriak memanggilnya terus.

“Bersihkan piring itu, kamu pikir saya pembantu harus mengerjakan semuanya? Dasar menantu miskin tak tahu diri. Sudah bisa tinggal enak, malah mau sok jadi nyonya.” Mulut pedas ibu mertuanya kembali menorehkan luka.

Anisa mencengkeram ujung baju, ia merasa sudah tak kuat lagi. Apalagi selalu menyakiti hatinya.

“Ibu bersihkan sendiri, aku lelah. Kalau ibu enggak bisa, panggil saja pembantu untuk bekerja di sini. Apa susahnya,” ujar Anisa.

“Heh, kamu pikir bayar orang enggak mahal?”

“Lalu, ibu pikir tenaga aku gratis? Ak ih juga capek, Bu. Belum kelar satu, ibu sudah berteriak. Anisa, Anisa, Anisa. Bisa enggak sih, enggak narik urat terus. Hati-hati darah tinggi naik dan cepat mati,” ujar Anisa. Ia berlalu dari hadapan ibu mertuanya.

“Heh, Anisa! Kamu doain ibu cepat mati? Dasar menantu enggak tahu sopan santun!” Bu Atik menahan amarah.

Anisa tak sanggup lagi, ia memilih berontak dari sikap ibunya. Sementara, Wisnu pun menghampiri Anisa lagi. Ia mencoba menenangkan sang istri lagi.

“Apalagi, Mas?”

“Ibu itu sebenarnya baik, kamu saja yang nggak bisa mengambil hatinya. Lalu, harusnya kamu mencari tahu keinginan dia. Coba kalau kamu bisa hamil, ibu pasti senang dan sayang sama kamu. Apa kamu enggak kesepian?”

“Aku enggak pernah kesepian karena setiap hari aku sibuk dengan pekerjaan rumah tangga. Lagi pula aku sudah memeriksakan semua dan hasilnya bagus. Stop Mas, jangan bahas masalah anak lagi. Atau kita lakukan saja bayi tabung,” ujar Anisa.

“Stop!”

***

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
74 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status