LOGINShanra Croft joined the Black Assassin's Squad so she can find the killer who murdered her whole family. She became the best assassin and is well-known as "Silent Assassin." It's because all of her victims died silently and in a peaceful way. She meets her childhood crush, Craig De Silva, who is now a police team captain and has a mission to capture her alive. What if Craig discovers that she is the assassin that he'd been looking for? And what if she discovers that the murderer she'd been looking for a long time is just beside her and that person is the one she trusted the most?
View MoreSuara ayam berkokok bersahut-sahutan berhasil mengusik tidurku, terpaksa aku membuka mata yang sebenarnya masih sangat mengantuk ini. Ternyata hari sudah pagi. Entah mengapa aku merasa malamku sangat singkat. Bagaimana tidak? Aku sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ulah ayah dan kakakku yang suka mengajak teman-temannya datang ke rumah untuk berjudi dan mabuk-mabukan. Aku sangat benci kebiasaan yang mereka lakukan itu. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya bisa diam dan menyaksikan semua itu. Rumahku memang berada di pelosok desa dan melewati gang sempit, sangat aman digunakan untuk segala sesuatu yang melanggar hukum. Itulah mengapa rumahku menjadi tempat favorit untuk judi dan mabuk-mabukan. Aku sempat berpikir untuk pergi dari sini, tapi itu tidak akan mengubah apa pun. Hanya akan membuat ayah dan kakakku semakin leluasa dan terjerumus dalam hal yang tidak baik. Setidaknya, keberadaanku di sini untuk menasihati mereka. Meskipun nasihat itu sama sekali tak pernah didengarkan oleh mereka.
Aku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Aku segera keluar dari kamar untuk mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Hari ini, aku libur kerja. Ya, biasanya setiap habis subuh aku selalu pergi ke pasar untuk bekerja sebagai kuli panggul. Dari sana aku bisa mendapatkan uang untuk makan sehari-hari. Sejak duduk di kelas 5 SD, aku sudah dibiarkan oleh ayah dan kakakku. Mereka bilang aku harus mandiri dan tidak boleh terlalu bergantung pada siapa pun. Itulah yang membuatku terbiasa mencari uang sendiri. Banyak pekerjaan yang pernah aku jalani, menjadi tukang kebun di rumah tetangga yang kaya raya, membantu mencuci piring di warung makan, sampai akhirnya menjadi kuli panggul di pasar. Sedangkan ayah dan kakakku setiap hari hanya sibuk berjudi dan mabuk-mabukan.
Namaku Ardan Rakha Wisesa, dilahirkan oleh wanita cantik yang bernama Hana Pradipta. Perempuan yang bahkan tidak pernah kulihat sama sekali dalam hidupku. Ya, dia meninggal tepat setelah aku lahir ke dunia ini. Itulah yang menyebabkan ayah dan kakakku tidak begitu peduli padaku. Mereka bilang, hidupnya berubah 180° semenjak aku lahir dan menjadi bagian dari keluarga mereka. Ayahku, Dedi Sanjaya dulu adalah seorang petani yang sangat sukses. Hampir semua tanah persawahan di kampung itu adalah miliknya. Hidup dalam keadaan yang mewah dan bergelimang harta. Kakakku, Edwin Abraham masih bisa menikmati semua kekayaan itu. Hingga ia menjadi anak yang manja. Namun semua itu hanya bertahan sampai ia berusia sembilan tahun, tepat ketika aku lahir ke dunia. Ibuku meninggal dan ayahku menjadi frustasi sehingga tidak mampu menangani semua usahanya dan diserahkan kepada seseorang yang sudah dipercaya menjadi tangan kanannya. Namun justru ia ditipu oleh orang tersebut dan kehilangan semua kekayaan yang dimilikinya. Ayah bilang semua itu adalah kesalahanku, aku dilahirkan ke dunia ini hanya untuk memberikan kesialan yang bertubi-tubi bagi keluarga ini. Aku hanya bisa diam dan menerima semua ucapan buruk yang ditujukan padaku itu.
“Kalah lagi. Kapan kita akan beruntung lagi, Ayah?” tanya Edwin pada Ayah. Pasti mereka sedang membahas tentang judi.
Aku yang baru keluar dari kamar mandi dan hendak kembali ke kamar tidak begitu memedulikan mereka. Namun lagi-lagi aku mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan hati.
“Kita hanya akan beruntung jika anak pembawa sial itu enyah dari muka bumi ini.” Jawab Ayah terdengar sangat santai. Seperti ia mengatakan hal yang biasa dan tidak menyakiti hati orang lain.
Edwin yang mengerti maksud perkataan Ayah, memandangku dengan tatapan penuh kebencian. Aku sempat melirik sekilas, namun kembali memilih untuk mengabaikan mereka. Aku segera menuju ke kamar dan bergegas berangkat ke sekolah.
Ketika hendak berangkat pun, kembali kudengar mereka menyinggungku.
“Sekolah tinggi-tinggi buat apa? Anak orang susah ya sudah pasti hidupnya akan susah juga. Tidak usah bermimpi terlalu tinggi.” Kata Edwin yang memang memilih untuk putus sekolah, bahkan ijazah SMP pun dia tidak punya. Sedangkan aku? Aku masih terus bersekolah karena otakku yang pintar sehingga mendapat beasiswa dan bahkan bisa bersekolah di sekolah yang elite.
Membahas tentang sekolah, juga bukan tempat yang nyaman bagiku. Di sana, aku hanya dijadikan sebagai sumber contekan dan juga target bullying. Namun tak apa, setidaknya aku bisa lepas dari bau alkohol di rumah yang selalu membuatku pusing.
“Dia sama sekali tidak mendengarkan kita, biarkan saja dia. Biar dia cari hidupnya sendiri.” Kata Ayah.
Aku memilih untuk diam dan bergegas pergi ke sekolah. Jarak sekolah dari rumahku cukup jauh. Aku menempuhnya dengan naik angkot atau menumpang teman yang searah. Aku berjalan santai menuju angkot yang memang biasa mangkal di depan gang. Aku segera masuk ke dalam angkot yang sudah hampir penuh itu. Tak kudapati satu pun dari mereka yang mengenakan seragam sekolah sepertiku. Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu yang hendak berangkat ke pasar.
“Ardan.” Panggil seseorang berhasil mengagetkanku.
Ternyata itu adalah Darwin. Teman sekolahku semasa SMP. Dia juga hendak berangkat sekolah, namun sekolahnya berbeda denganku. Dia bersekolah di sekolah swasta yang berjarak tak jauh dari sekolahku.
“Darwin, tumben naik angkot. Di mana motormu?” tanyaku pada Darwin.
“Sebenarnya aku juga malas sekali berdesak-desakan seperti ini. Tapi apa boleh buat, motorku rusak parah akibat balapan malam tadi. Masih untung aku tidak apa-apa.” Jawabnya.
Tak perlu kaget, selain judi dan mabuk-mabukan, anak-anak muda di kampungku juga suka sekali balapan liar di jalanan dekat hutan. Tentu saja dengan taruhan yang besar.
“Masih rame balapan liar itu? Bukannya pernah ketahuan pihak kepolisian?” tanyaku karena aku pernah mendengar tentang balapan liar yang didatangi banyak aparat kepolisian.
“Tak akan ada yang peduli dengan polisi. Lagi pula juga tidak setiap hari mereka beroperasi di daerah ini.” Kata Darwin terdengar sangat santai seperti tak takut akan hal apa pun.
Aku tidak menanggapi ucapannya. Aku tahu hal itu. Warga kampungnya memang terkenal sangat suka membuat kerusuhan. Beberapa menit kemudian angkot itu berangkat, karena memang penumpangnya pun sudah penuh. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai di sekolah. Aku mengisi kejenuhan duduk di angkot dengan membaca buku pelajaran yang terjadwal di hari ini. Ya, aku memang terkenal sebagai Kutu Buku.
Angkot berhenti tepat di depan sekolahku. Aku menepuk bahu Darwin. Dia mengangguk. Seperti biasa, setiap turun dari angkot aku selalu menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Aku yang naik angkot sangat berbeda dengan mereka yang bawa mobil pribadi atau antar jemput kendaraan mewah, bahkan yang naik motor pun jarang. Maklum, orang-orang kaya.
“Ih, bau apa nih?” tanya salah satu perempuan yang memang terkenal paling suka membully, namanya Citra Devana. Ia dan kedua pengawalnya satu kelas denganku. Kelas XI IPA 3.
“Bau angkot lah, Cit.” Jawab dua pengawal setianya, Rachel Graciela dan Divya Helena.
Seperti biasa, setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak dan lalu pergi. Aku tak pernah begitu memedulikan mereka. Bisa sekolah saja aku sudah sangat beruntung.
Baru saja aku hendak melangkahkan kaki menuju kelas, sudah ada seseorang yang memanggilku. Indira Jovanka, dia adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki. Dia sama sepertiku, berkacamata dan Kutu Buku. Dia juga target bullying.
“Ardan, kamu dipanggil pemilik yayasan. Sudah sejak tadi, tapi aku baru melihatmu sekarang.” Kata Indi terlihat panik. Entah apa yang terjadi sehingga aku dipanggil oleh pemilik yayasan sekolah ini. Dipanggil oleh orang yang memberiku beasiswa.
“Ada apa, Indi? Mengapa aku dipanggil.” Tanyaku penasaran.
Bukannya menjawab, Indi justru menarik tanganku menuju ke ruangan pemilik yayasan. Ada beberapa orang di sana. Termasuk salah satunya adalah anak perempuan yang memakai seragam sama denganku, anak perempuan yang tak pernah kulihat sebelumnya.
“Kamu Ardan?” Tanya Pak Adam Ivander, pemilik yayasan dari sekolah ini.
Aku hanya mengangguk. Pikiranku kacau, aku takut beasiswaku dicabut dan aku harus berhenti sekolah. Namun ternyata aku terlalu berpikir secara berlebihan. Justru hal baik yang terjadi padaku, hal yang tidak pernah aku bayangkan.
“Perkenalkan, dia anakku. Namanya Vanda Valeria Ivander. Aku ingin kamu membimbingnya, menjadi guru les privat untuknya. Aku dengar kamu adalah siswa paling pintar di sekolah ini.
Aku hanya mengangguk, hampir pingsan mendengarnya. Itu artinya aku akan sering bertemu dengan perempuan cantik itu. Jujur saja, aku merasakan detak jantungku berdetak berkali lipat lebih cepat saat menatapnya dan saat tatapan kami bertemu. Apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?
Craig Pov I angrily dropped my two fists on the top of my desk. I had already met the assassin but I unintentionally let him go. He was already in front of me but I had no idea that he was the Silent Assassin I had been looking for, for a long time. Maybe he's laughing at me now because of my stupidity. And this idea makes me even angrier. Earlier, I went to my female cousin who checked in at the Grand Hotel owned by James Mondragon. There was a rumor that the owner of the hotel was a rapist so my uncle was worried about the safety of my cousin Tiffany, so he sent me to the Grand Hotel to talk and convince my cousin to move to another hotel. James Mondragon has a powerful backer inside the police department so he always gets away with his case and what happened to his hotel remained rumors. While I was walking earlier a man wearing a black jacket and hat accidentally ran into me. He walked without looking his way so he didn't see me walking that's why he bumped into me. I couldn'
CHAPTER 5 I spend a few days to learn James Mondragon's routine. In the days that I secretly followed him I discovered where he was staying. He often stays at the Grand Hotel which is the largest of the three five star hotels he owns. He also sleeps there. In the morning he jogs with his bodyguards. Then he goes to the coffee shop below his hotel and has coffee there. Then he will tour his two hotels. I don't know what he is doing because I no longer follow him inside his hotel. I was patiently waiting outside for him to come out. After visiting his two hotels, he will return to the Grand Hotel and stays there. His routine is very simple. Maybe at the Grand Hotel he also rapes his victims. I easily got into one of the hotels he owned using my fake IDs. I knew there were many CCTV cameras around so I spoke to Denver. Also a member of BAS and good at hacking the system. He is not my enemy in BAS but he is not my ally either. Because like me, he also seems to have his own world. And I
Chapter 4 I parked my car in front of a building with more than three floors. After I parked the car properly, I immediately walked into the building. “Good morning, Ma’am,” Mae, who is also a member of the Black Assassin’s Squad, greeted me with a smile. But she’s not like me or Henry who kills people. She only became a member of BAS because she is the lady guard who watches over the first floor of the building which is the coffee shop. But even though she is only a guard, she is also capable of fighting. Because all BAS members, even the lowest members, also went through intense training. “Good morning,” I greeted her without smiling. She is used to my face being serious every time I pass by so she doesn’t hesitate to greet me every time I enter and leave the building. When I got to the elevator, I immediately pressed the third floor where the headquarters of BAS was located on the last floor. The coffee shop was on the first floor while the clinic is on the second floor. But al
ShanraWith full of caution, I approached the door slowly. My senses were active at this moment just in case this person who entered my yard will bring danger to me. I didn't feel scared to know that danger is coming to me. When my family died my fears of dying also go with them. I'm just worried that I will die without giving justice to my family's tragic ends.If my breath is the key to coming inside my house, my palm is the key to coming out. So when I tap my palm in the scanner the door automatically opens. And even before I could come out of the door, a man hiding beside my door suddenly attacked me with his knife. But I was already alert so I successfully escaped from his attack. But if I hadn't escaped quickly, I would have been stabbed in my chest with his knife.At the same time as I successfully avoided my body to his attack, I quickly holds the back of his hand and twisted his arm tightly to force him to let go of the knife that he was holding in his hand. And then I stron






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.