LOGINAt 23, Emilia Jones signed a contract that made her Billionaire Steven Riorsorn’s secret mistress because she was blinded by a teenage crush and had the hope that one day she would be more than a secret. Then his ex-girlfriend returned, and Steven ended everything with barely a goodbye. Heartbroken and pregnant, Emilia disappears to rebuild her life. She won't be anyone's second choice ever again. Two years later, she's a rising force in the business world, with a daughter Steven doesn't know exists. But when their paths cross at a corporate event, the past comes crashing back. Steven wants answers. His ex wants him back. And a dangerous enemy wants to destroy them all. This time, Emilia isn’t fighting for love. She is fighting for her daughter, her future and the woman she had worked hard to become. But what happens when the man who broke her heart finally realises what he lost?
View More"Morning, Babe."
Ashley Wilson merasakan sebuah tangan besar merangkul pinggangnya membuatnya tertinggal dengan kedua temannya yang sudah berjalan di depannya, dan ia mendengar sapaan menggelikan itu tadi di telinga kanannya sampai membuat bulu-bulu halus di lengannya langsung berdiri karena suara asing itu, ia membalikan tubuhnya lalu tangan besar itu menariknya lebih dekat sehingga ia berhadapan dengan dada seorang pria yang membuatnya langsung mengandahkan kepalanya untuk melihat wajah pemilik tubuh tersebut membalasnya dengan senyuman hangat.
"Bagaimana pagimu, Honey?"
Sebutan apa lagi itu?
Babe?
Honey?
Dasar pria gila!
Pria asing itu sekarang mencium bibirnya!
Sekali lagi, mencium bibirnya!
Dasar pria mesum!!!
Perbuatan pria itu sangat gila, Ashley melepaskan paksa ciuman itu lalu secara spontan berteriak juga mendorong tubuh pria itu menjauh darinya tapi pelukan pria tersebut padanya semakin erat di tubuhnya sehingga tubuh mereka menyentuh satu sama lain yang membuat jantungnya berdebar karena berhadapan dengan pria sedekat ini, ini adalah debaran karena ia terkejut dengan perlakuan pria itu padanya.
Pria asing tersebut lalu meletakan telapak tangannya tepat di mulutnya dan mendekatkan kepalanya ke telinga kirinya untuk meminta padanya tidak berbicara apapun dengan bisikan tepat di depan telingannya.
"Jangan berteriak atau kau akan menyesal!" Ancamnya dengan nada lembut, "Aku hanya ingin sesuatu darimu Ashley Wilson."
Ashley tidak peduli, ia masih mencoba untuk melepaskan pelukan pria itu darinya. Meminta bantuan apa sampai harus menciumnya di depan banyak orang bahkan di depan kedua teman baiknya yang hanya diam melihat kearah mereka berdua tanpa tau apa yang di pikiran mereka sekarang ini setelah melihatnya berciuman dengan pria asing.
Padahal mereka baru saja memulai semester baru setelah musim panas tapi belum apa-apa Ashley sudah bertemu dengan pria gila ini. Tadi ia baru saja berjalan sama kedua temannya, Linda dan Jane. Mereka sedang berjalan bersama di halaman kampus membicaraan liburan musim panas mereka yang bagi Ashley membosankan.
Linda membicarakan tentang kekasihnya, mereka berlibur bersama lalu mengunjungi nenek kekasihnya itu di Mexico dan dia mengeluh karena menurutnya ia terlalu cepat di perkenalkan ke keluarga kekasihnya itu, tapi ia tidak bisa menolaknya padahal mereka sudah berkencan hampir satu tahun. Jane hanya membicarakan tentang pekerjaan paruh waktunya di perpustakaan dan restaurant, ia mendapatkan banyak bonus karena bersedia mengambil shift malam lalu karena ini musim liburan juga, jadi Jane sangat menikmati liburannya.
Mereka sudah berteman lebih dari dua tahun, sejak mereka tinggal di asrama tapi sayangnya Ashley tidak lama tinggal disana sampai ia kembali ke rumahnya. Linda adalah orang pertama yang ia temui ketika pertama kali masuk kamps ini, wanita berambut pirang sedikit kecoklatan itu sangat cantik dan cukup populer di jurusannya, dia juga memiliki kepribadian ceria dan menarik sehingga ia memiliki banyak teman. Linda adalah mahasiswi jurusan seni. Sedangkan Jane sendiri memiliki kepribadian hampir sama dengannya, wanita itu tidak mudah berbaur dan hanya bergaul dengan teman- yang cocok baginya saja. Jane memiliki rambut pendek berwarna hitam dan berkaca mata bulat yang lebih sering ia pakai saat kuliah saja, tapi penampilannya sangat modern dan ia juga cantik. Jane memiliki daya tarik sendiri lewat gaya bicaranya dan kecerdasanya, dia adalah mahasiswi jurusan sains yang sangat cocok dengannya.
Mendengar itu semua membuat Ashley iri, tidak banyak yang ia lakukan selain melakukan pekerjaan paruh waktu juga tapi itu biasa saja bukan sesuatu yang bisa ia nikmati seperti pekerjaan malamnya. Ah, pekerjaan malamnya itu.
Pria tersebut lalu kembali melihat wajahnya sambil tersenyum manis dan mengelus pelan rambut Ashley lalu kali ini dia kembali berbisik di telinga kiri wanita itu sementara Ashley sendiri melihat waspada kepadanya.
"Aku tau rahasiamu sayang, kamu bekerja di klub malam sebagai wanita penghibur-kan? Kamu pasti suka menuangkan minuman pada tamu-tamu vip itu."
Dugaannya benar. Ashley sudah menebak bahwa pria ini mengetahuinya tapi agaimana bisa pria di depannya ini mengatakan kata-kata itu sembari tersenyum padanya, tapi Ashley tidak bisa berkutik mendengar itu. Tubuhnya menegang, dan pikirannya kosong karena salah satu rahasianya terbongkar.
Sebenarnya siapakah pria ini?
Ashley merasa asing tapi semakin ia melihatnya ia merasa setidaknya sekali mereka pernah bertemu, tapi tidak tau kapan dan bagaimana. Itu tidak penting sekarang, ia harus bertanya tentang apa yang pria itu inginkan darinya.
"Aku harus membantumu apa?"
Hidupnya selama ini sangat datar dan hampa, semua orang mengenalnya sebagai gadis penurut. Ashley hanya terus melakukan apa yang dikatakan Ayahnya, ia tidak mengenal banyak orang karena sebelumnya ia bersekolah di rumah bahkan bagi kedua teman baiknya itu ia hanya seorang gadis polos tapi perlahan hidupnya mulai berwarna setelah ia bertemu teman-temannya dan bertemu banyak orang lainnya sehingga ia merasa bahwa kehadirannya itu ada, mereka mengakui.
Ia tidak mau kehilangan kehidupannya sekarang karena salah satu rahasianya terbongkar. Ashley tidak siap jika harus kehilangan teman-temannya karena kebohongannya itu yang memang sudah ia lakukan lama sebelum bertemu mereka.
Pria itu tersenyum lalu melihat pada kedua teman Ashley- Linda dan Jane yang berada di depan sana.
"Kalian adalah sahabat Ashley kan? Linda...dan Jane?" Kata pria itu menunjuk pada Linda dan Jane bergantian secara benar.
Mereka berdua mengangguk secara bersamaan. Linda langsung memanggil nama pria itu yang tentu saja ia mengenalnya jelas.
"Evan Louis Johnson, aku tau. Jadi, Kamu....dan Ashley?"
Evan merangkul bahu Ashley, tersenyum lebar pada wanita itu lalu melihat kembali kepada dua teman Ashley disana, juga orang-orang di sekitar mereka.
"Kami sepasang kekasih."
Pengakuan pria yang ternyata bernama Evan itu membuat Ashley tersadar dari lamunannya, ia tidak percaya dengan perkataan Evan dan langsung mengetahui bahwa ini adalah yang diinginkan Evan, menjadi kekasih palsu bagi Evan tapi mengapa dirinya?
Ashley masih tidak mengerti dengan ancaman Evan lalu menjadikannya kekasih palsu pria itu di hadapan semua orang, sebanyak ini. Matanya melihat ke sekitar, banyak orang yang berhenti melihat padanya dan Evan.
Linda dan Jane, kedua temannya itu bahkan melihat padanya sambil membuat ekspresi yang ia sendiri tidak tau, mereka tersenyum lebar lalu mencoba mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui tapi jelas ada yang salah disini.
Lalu, Evan kembali menciumnya. Kali ini, mencium puncak kepalanya lalu bibirnya kembali. Ashley mendorong tubuh Evan menjauh ketika pria itu tengah lengah.
"Kau gila, brengsek!"
STEVEN“Mr Riorson, the annual industry conference is coming up next week,” Alexander spoke from the front seat as we rode back to my house. “It’s drawing quite a bit of attention this year because they are allowing smaller companies as well”I couldn’t bring myself to be interested so I answered flatly. “Sure. Let them know that I will be attending”He nodded, and continued to tap away on his tablet. “I have sent the details to your email. The event will happen for three days and you don’t have to attend them all. A day would suffice”The house was quiet as always when I entered.I used to pride myself in this place. It was the house I had bought with hopes of it being for my family, but it didn’t feel like a home despite me having one.Maybe it had been when I just married Bianca, but now, it was just a place where people resided under the same roof.I loosened my tie slightly as I walked in, but I stopped when I heard voices in the living room.Bianca.A frown appeared on my face a
EMILIAI stared at Tommy, unable to answer his question. His behavior was unsettling. Something about him felt off.Tommy had always been easy, warm, and safe in a way that was familiar. He never demanded anything from me. Never pushed, but today, he was different.I didn’t understand why he was pressuring me like this. I studied him for a little time before I answered.“What does this have to do with anything?” I asked.His gaze didn’t waver. “It has everything to do with it.”“I appreciate your concern, but this is none of your business." I turned to leave, but he rushed forward and grabbed my arm.“Emilia.” I ripped my hand from his hold.“What is it? Why do you keep pushing? This has nothing to do with you." My voice was hostile when it spoke, and Tommy was stunned for a bit. I had never spoken to him like this before.He sighed and stepped back. “I’m sorry. I was too harsh. I didn’t mean it like that. I was just worried. You know a lot happened before you settled here. I don’t wa
EMILIA“I find it hard to believe that you aren’t going to be working today." I lifted my head from the stove to stare at Sunny as she lounged lazily on the couch while munching chips.“Why? It’s the weekend, and weekends are for resting."She snorted. “That doesn’t apply to you," she reminded. “Ever since we came here, all you do is study and then work.”“Well…”She scoffed. “You know I’m not lying.” She sat up, her face turning solemn. “But seriously, Emi. I get you want to make sure Lily never lacks anything, but I want you to have fun as well. You are still young."“This is enough fun for me," I told her with a grin, trying to make sure my thoughts didn’t wander where they shouldn’t. “As long as Lily is happy, I am okay."For the past five years, I have rebuilt my life after leaving everything behind. I couldn’t risk letting anything take this happiness I had struggled to fight and get for myself.Sunny looked like she wanted to argue, but a knock interrupted her.Lily, who I thou
EMILIA“I don’t recall working without one," I answered. “Or as a businessman, are you saying you never stick to time and are okay if the people you work with come to the office whenever they like?”His brow ticked, and I expected a rebuttal, but he smirked. “Interesting”“No. I’m just efficient and have a lot of work to do rather than waste time waiting for someone who doesn’t care for simple decency."This wasn’t me. I didn’t understand why he was grating on my nerves.“You don’t need to be so hostile with words, Ms. Jones.” He said, taking a seat. “Let’s proceed."I knew I should have refused the consultation after that introduction. Cole was a difficult person to work with.He challenged everything and questioned every recommendation I made like it was an insult to who he was, but I didn’t get this far by letting entitled rich brats walk over me.I pushed back with everything I had. By the end of the consultation, Cole’s smug expression had been wiped and was replaced with barely
EMILIAI sat up with a loud gasp as a painful cramp twisted my abdomen. My hand pressed flat against my stomach, as panic wrapped around me.“No,” I whispered, my heart pounding as the pain faded to a dull ache.I threw the sheets back, checking for any sign that my baby was in danger, but I couldn
STEVENThe door had barely closed before Bianca started. I walked towards the glass windows with my back to her and let her complaints wash over me the way I had learned to deal with people like her.It was a skill I had spent most of my life perfecting.“I told you that I wasn’t comfortable with y
EMILIAMy alarm buzzed at five-thirty, pulling me from a dream where everything had been pleasures and rough hands – Steven’s hands – before everything shattered.I slapped the alarm clock silent – don’t say why I still use a manual clock when I have my phone – and lay in bed for a moment, holding
EMILIA“So?” Tommy asked, a brow raised.“Fine.” I finally agreed and fought back the smile trying to show as he grinned. “But I won’t stay long."He looked like he could barely contain his smile, which finally made me let go of mine. “I’ll take what I can get."Tommy took me to a small place that












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.