Share

My Possesive Cassanova
My Possesive Cassanova
Penulis: Daisychan

Prolog

Jakarta 18.30 wib

"Bukankah sudah aku katakan kalau kau hanya sebuah objek taruhan??." Tegas Amanda sambil berjongkok menatap lurus pria yang bersimpuh di hadapannya "Lihatlah air matamu itu?? How cute?? Sepertinya bayaranku mahal malam ini." sambungnya dengan kekehan menyebalkan.

"Harusnya kau tahu jika seorang pria menangis itu artinya kau berharga untuknya." Pria yang bernama Giorgino itu tersenyum getir, berusaha menahan isakan di dalam dadanya, gadis ini. Gadis dihadapannya, entah mengapa sanggup membuatnya sampai seperti ini.

"Kutekankan lagi padamu, jika suatu saat nanti kau jatuh cinta, hindari wanita manis berhati iblis sepertiku, karena air matamu itu akan berakhir sia sia."

Amanda tersenyum manis, senyum yang cukup sanggup membuat dunia pria runtuh di bawah kakinya, jika saja pria ini cerdas maka dia akan tahu jika senyum itu hanyalah ilusi indah yang Amanda ciptakan hanya untuk menjebak mangsa masuk dalam perangkapnya "Go away from my life darling, dan jangan pernah sekalipun menampakkan wajahmu di depanku lagi." seru Amanda sebelum berlalu.

"PLEASE, DONT LEAVE ME AMANDA!!! AKAN KUBERIKAN SEMUA UNTUKMU, HARTAKU, ASET ASETKU BAHKAN JIKA KAU MEMINTA SELURUH DUNIA PASTI AKAN KUBERIKAN PADAMU!!" Gino berteriak kencang nadanya terdengar sangat frustasi, Amanda yang mendengarnya pun semakin tersenyum sinis, see? Pria selalu menilai wanita dengan uang, bukan?? mereka selalu merasa bisa mendapatkan segalanya dengan uang, apa mereka pikir bisa membeli perasaan Amanda dengan uang begitu?. Sayangnya Amanda bukan gadis mainstream yang bisa tergoda dengan seberapa tebalnya dompetmu, jadi kaum adam apa salahnya sekarang jika cinta kalian ditukar pula dengan uang?

Rasanya menyenangkan bukan?

***

"Dua puluh juta Has."

Amanda bersorak girang menerima amplop coklat berisikan sejumlah uang dari tangan Hasri lalu menoleh ke arah Samuel yang juga harus menyetorkan uang kepadanya "Mana dari lo Sam?" dia memalingkan wajah ke arah pria yang bersandar di ujung sofa.

Laki-laki yang bernama Samuel tersebut lantas memberikan sebuah amplop tipis bewarna putih, Amanda mengernyitkan dahi sebelum membuka lipatan amplop tersebut, dan detik kemudian mengeluarkan lembaran-lembaran kertas bewarna merah dan menghitungnya.

"Kok Cuma lima juta sih Sam? kan harusnya lima belas." tanya Amanda heran.

"Sisanya gue cicil." jawab Sam seraya mengangkat bahu cuek.

"Yeee kelabang, lu kira kontrakan di cicil-cicil, gue gamau tauuuuu .. sekarang!!" rajuknya yang di balas Sam dengan decakan seraya mengibas telapak tangan tanda tak peduli, baginya tak ada yang lebih menyebalkan dari mengeluarkan jutaan uang hanya untuk sebuah permainan.

"Itu udah lebih dari cukup Amanda, ini taruhan terbesar yang pernah kita lakuin, lu serakah banget sih! emang seberapa mahal harga makan lo sampai uang segitu gak cukup"

Sambung Hasri, wajahnya terlihat menahan kesal, hari ini ia dan Samuel harus kalah taruhan dengan telak, seperti kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, trio kardus ini selalu melakukan taruhan konyol yang berujung dengan penderitaan kepada siapapun yang kalah, dan seperti sebelum-sebelumnya pula, Hasri dan Sam yang selalu mendapat sial karena selalu kalah padahal beberapa waktu yang lalu mereka sempat menang, tapi ternyata keberuntungan mereka tidak berlangsung lama karena hari ini adalah kekalahan tertelak yang mereka berdua alami.

Hasri dan Samuel mengira jika Amanda tidak akan mudah mendapatkan hati seorang kontraktor muda yang  mereka dengar terkenal dengan julukan ice princebut heyshe's Amanda—Amanda Daniela. Gadis yang nyaris memiliki kesempurnaan fisik, selain fisik yang menggoda dan wajah yang mendukung, bibir wanita itu juga sangat mahir dalam merayu, Hasri dan Sam masih mengingat betul bagaimana pria yang memiliki julukan ice prince itu menangis dan berlutut di kaki Amanda ketika Amanda berhasil menghancurkan hatinya.

Padahal beberapa waktu yang lalu sebelum taruhan itu di gelar, sebelum sang pria di tunjuk. Has dan Sam sudah yakin jika pria itu bukan pria sembarangan, di lihat dari peragainya, juga di lihat dari wajahnya yang terlihat begitu dingin dan kaku, belum lagi dengan yang "katanya" Susah di dekati. Tapi siapa tahu jika begini akhirnya.

Sepertinya Hasri dan Sam sudah memandang remeh iblis cantik yang sudah menjadi sahabat mereka sejak duduk di bangku sekolah menengah itu. Terlihat Amanda masih belum jua mau mengalah berdebat dengan Samuel.

"Ini terakhir gue sia siain tabungan gue buat elo Nda, sialan!" maki Sam yang hanya di balas gelagak tawa dari Amanda.

"C'mon, lo bahkan bisa ngumpulin sepuluh juta hanya dengan tiga hari pemotretan Sam, jangan pelit sama temen, kalian itu bank berjalan buat gue."

Hasri memutar bola matanya jengah sahabatnya ini memang kepalang matrealistis, dan herannya Sam dan Hasri masih betah berteman dengannya. Di teguknya segelas martini yang sedari tadi bertengger di tangan kanannya—netra hitamnya mengedar ke arah dance floor yang di penuhi manusia yang saling menggeliat kesana kemari, bergoyang dengan penuh irama seolah mereka semua tidak akan menjumpai esok pagi, Has sudah hampir berdiri hendak menuju dance floor namun wurung  dilakukan ketika telinganya menangkap suara Amanda yang berteriak berlomba kencang dengan debuman musik diskotik.

"Lagian jangan salahin gue, salahin para cowok ogeb itu dong, mau aja jadi korban gue," teriak Amanda dengan sedikit mensejajarkan dirinya di telinga Has.

"Tapi seneng kan lo!" Tukas Has malas.

"Of course, karena ke tololan mereka gue gak kehabisan stok pembalut, lo bisa bayangin seberapa kayanya gue tanpa harus kerja hanya modal ke ogeban mereka."

"Dengerin gue ya Manda, gue sumpahin suatu saat lo bakalan jatuh sama cowok yang sama kuatnya sama lo Nda, dan di saat itu lo bakalan ngerasain gimana rasanya merjuangin seseorang!!" Ucap Hasri penuh penekanan.

Amanda semakin tertawa mendengarnya "Itu gak mungkin Has! Gue gak akan biarin hati gue jatuh buat siapapun!" tegas Amanda dengan senyuman yang mampu membuat kedua sahabatnya meradang.

Ayolah, Amanda bahkan tidak mengetahui apa itu cinta, ia mengenal kasih sayang tapi bukan sejenis perasaan sampai meggilai pria apalagi sampai harus menangis karenanya, ia bahkan sangsi jika bisa merasakan rasa tertarik yang lebih melebihi ketertarikan fisik.

Bukankah perasaan itu hanya sebuah kamuflase dari sebuah nafsu belaka? Memang apa yang di harapkan dari sebuah hubungan serius berdasar embel-embel cinta? Membayangkannya saja sudah membuat Amanda mual.

Omong-omong soal cinta, kemana perginya jiwa Has yang sama seperti dirinya? Amanda membalikkan tubuhnya menatap sahabat wanitanya yang masih saja memberengut sebal.

"Lo gak beneran kutuk gue bakalan jatuh cinta kan? C'mon cinta itu cuma akal-akalan penulis picisan. Cinta itu gak ada, bestie." Amanda tergelak sedangkan Has masih serius sebelum kemudian menjawab.

"Liat aja nanti." Sambung hasri dengan nada serius.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status