LOGIN"Mas bangun, makanannya udah sampai" Rika membangunkan suaminya dengan menepuk sedikit bahu Dimas dan mengusap-usapnya. Dimas yang menyadari ada yang membangunkannya pun tersadar dari tidur, perlahan membuka mata."Kamu ngapain?" Dimas terkejut melihat Rika yang begitu dekat dengannya."Bangunin mas""Ya..ngga usah terlalu dekat juga" Dimas langsung terbangun dari tidurnya dan duduk sambil bersandar pada dinding di bagian belakangnya. "Maaf.." ucap Dimas tanpa menatap Rika."Ooh hahaha iya kebiasaan, biasanya malah lebih dekat dari pada tadi, maaf..mas" ucap Rika sambil meremas ujung bajunya menahan rasa sakit yang berada di hatinya. "Aku ambilkan makanannya dulu ya mas" Rika pergi menuju meja yang berada di dekat sofa, mengambil bungkus makanan yang sudah di sediakan umi dan Abi untuk Dimas."Umi sama Abi mana?" Tanya Dimas yang sedang melihat sekitar karna tidak ada kehadiran umi dan abi nya di ruangan tersebut."Umi sama Abi pergi lagi mas" jawab Rika sambil membuka bungkus makanan
Dimas sedang dalam masa pemeriksaan dan kenapa bisa Dimas melupakan seseorang yang bahkan sangat dia cintai. Ya, dokter menjelaskan bahwa Dimas mengalami amnesia. Dokter masih mencari lebih lanjut apakah ini hanya amnesia sementara atau bahkan permanen. Dokter meminta bantuan dari keluarga pasien untuk membantu pasien agar bisa perlahan mengingat kembali kejadian yang hilang dari ingatannya."Untuk sementara waktu, pasien akan di rawat selama masa penyembuhan sekitar seminggu. Kemudian bisa di lanjutkan pengobatan dengan bantuan keluarga pasien di luar rumah sakit" ucap dokter kepada umi dan Abi. Rika yang mendengar hanya bisa menahan tangis dan berfikir, kenapa hanya dirinya yang tidak di ingat oleh suaminya."Baik, kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan buat resep obatnya dan mengantar ke tempat pembuatan obat untuk segera diberikan kepada pasien" ucap dokter tersebut dan berjalan keluar dari ruangan.'Kalau ini yang kamu maksud mas untuk aku bersabar dan berjuang. Aku siap mas,
"Abi, kira-kira mas Dimas lagi ngapain ya" tanya Rika dengan wajah cerianya."Tadi pas Abi mau pergi lagi di usap-usap kepala Dimas sama umi" ucap Abi. Rika hanya mengangguk tanda mengerti.'Aku juga pengen ngelus mas Dimas juga..' batin Rika yang tak sabar ingin cepat-cepat sampai Turkey. "Abi masih lama ya nyampenya" "Baru aja 2 jam di dalam pesawat nak. Kamu istirahat aja dulu, nanti kalau udah sampai Abi bangunin" Rika pun mengiyakan tawaran Abi. Rika mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sebagai pengganti tidur yang tadi tertunda./\"Mas Dimas..." Rika berlari kearah Dimas dan memeluknya sangat erat, begitupun dengan Dimas."Sayang, mas kangen.." ucap Dimas sambil mengelus kepala Rika."Aku juga kangen mas, banget malah" ucap Rika. Setelah cukup lama berpelukan, Dimas melepaskan pelukan itu. "Sayang, maafin mas ya udah ninggalin kamu cukup lama""Mas tau.. Rika kaget banget pas Abi ngasih tau kalau mas kecelakaan. Rika takut mas kenapa-kenapa""Iya sayang..maafin mas ya""Iya mas
2 Tahun kemudian.."Deg-degan aku ndra""Santai aja Rik. Kamu kan udah giat banget belajar, pasti naik kelas kok""Lah kamu kan pinter..wajar aja santai. Lagian aku pasti naik kelas dong..ngga mungkin ngga naik. Maksud nya tuh, aku takut aja nilai aku tuh turun""Iya iya paham deh""Kira-kira udah di pajang belum ya nilai kita di Mading""Pajang..emang kamu kira apaan. Di tempel kali" "Iya iya di tempel maksudnya" ucap Rika sambil menyedot habis teh obeng miliknya. "Yuk coba liat""Sabar elah...masih makan nih. Ngga usah cepet-cepet Napa. Nantikan bisa liat juga""Beneran udah di tempel?""He'e" ucap Indra yang sedang menyeruput kuah bakso."Kok kamu tau? Kamu udah liat? Ih ngga ngajak-ngajak" "Cuma liat kertasnya di tempel doang, belum liat nilainya" Indra pun meminum teh obengnya sampai habis."Udah?" Tanya Rika"Udah apanya""Makannya, udah?""Alhamdulillah udah.."Rika pun langsung menarik Indra menuju mading."Yuk kita liat ndra" "Iya iya, ngga usah lari-lari Rik. Kayak mau da
"Ndra""Mmm" ucap Indra yang sedang mengunyah bakso yang ada di mulutnya. Rika dan Indra sedang makan bakso di kantin karna sudah waktunya istirahat."Kamu ngga ada mau ngingetin sesuatu gitu ke aku?""Ingetin apa?" Indra mencoba mengingat-ingat, tetapi nihil. Tak ada yang perlu di ingatkan untuk Rika."Tas ku berat banget tau""Lah kok bisa, bawa apa aja kamu. Harusnya ringan sih, kan Senin mapel nya ngga banyak" "Bawa buku""Jangan bilang semua mapel kamu bawa..hahaha" ucap Indra sambil tertawa bercanda."Iya""Ha? Ngapain..kurang kerjaan banget""Kan kamu yang nyuruh aku bawa buku tulis mapel yang udah kamu list di pesan WhatsApp 3 hari yang lalu, kamu juga bilang..bawanya hari ini aja buat di selesaikan semua karna kamu kemarin sibuk..lagi ada urusan. Lupa?""He...Oia astaghfirullah hahaha aku lupa Rik, ya ampun sorry ya""Kayaknya kalau aku ngga ngomong gini..bisa-bisa aku pulang dengan bawa tas berat tanpa hasil apa-apa" ucap Rika dengan wajah datarnya."Hehehe sorry Rik, bener
Waktu yang di pakai untuk hari ke dua hingga lima, Rika gunakan dengan kegiatan mengajak suaminya mengobrol apapun itu..maupun hal yang sepele sampai hal yang membuat Rika ingin sekali bercerita ke suaminya. Selama di Turkey Rika tak pernah menyentuh handphonenya, Rika benar-benar tak mau membuang waktunya untuk memainkan handphone. Karna hanya 5 hari sajalah Rika bisa melihat wajah suaminya secara langsung. Karna esok adalah hari di mana Rika harus berangkat pulang ke Indonesia. Hari dimana Rika akan berpisah jauh dengan suaminya, Rika tidak mau egois dan tidak mau merepotkan umi dan Abi. Jadi Rika serahkan semuanya kepada Allah dan dokter yang berusaha untuk menyembuhkan suaminya. ...Keesokan harinya, Dimana Rika harus berkemas pergi meninggalkan Turkey. Berat rasanya untuk berpisah jauh dengan suaminya, tapi itu adalah keputusan yang Rika buat dan harus bisa menerima konsekuensinya."Mas.." Rika mengelus punggung tangan Dimas dengan lembut."Aku pergi ya mas. Cepet sembuh, biar k







