LOGINSiapa sangka, niat melamar pekerjaan dengan gaji tinggi demi mengumpulkan biaya pengobatan sang ayah, malah membawa Kiran pada pria yang pernah dia sakiti hatinya. Enam tahun menghilang tanpa kabar, Kiran kembali bertemu dengan Elvano Radjasa–pria yang dia campakkan begitu saja tanpa alasan. Menjadi bawahan mantan kekasih yang membencinya, apakah hari-hari Kiran akan bisa dilalui dengan mudah?
View More"Akhirnya, Sang Tuan Putri ingat jalan pulang," sindir Widya dingin.
Saat pintu terbuka, bukan sambutan hangat yang dia terima. Ibunya, Widya, berdiri di samping ranjang dengan wajah kaku. Tatapannya jatuh pada pakaian kerja Kiran yang tampak kusut, dan itu adalah satu-satunya pakaian yang dia bawa karena terburu-buru mengejar penerbangan paling awal.
Kiran tak menjawab. Matanya tertuju pada sosok pria tua yang terbaring lemah di ranjang.
Ayahnya.
Pria yang dulu begitu gagah, kini tampak ringkih dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.
"Ayah ...." bisik Kiran, suaranya bergetar.
"Jangan hanya memanggil," potong Widya, langkahnya mendekat tatapannya mengintimidasi. "Ayahmu butuh operasi bypass jantung. Biayanya dua ratus juta. Dan rumah sakit tidak akan melakukan tindakan sebelum kita membayar deposit tujuh puluh persen."
Kiran tertegun. "Dua ratus juta? Tapi, Bu ... setiap bulan aku selalu mengirim—"
"Uang itu habis untuk biaya perawatan rutinnya selama ini, Kiran! Kamu pikir obat jantung itu murah?" Widya membuang muka, suaranya sedikit merendah namun penuh penekanan. “Kalau saja kami tidak menguliahkan dan menghidupimu, keluarga kita tidak akan jatuh miskin seperti ini. Kamu berutang nyawa pada ayahmu."
Ibunya melipat kedua tangan di depan dada lalu kembali berucap kasar, seolah tidak pernah puas untuk menyalahkannya. “Ayahmu selalu mengusahakan apa pun untukmu, jadi sudah sepatutnya kalau sekarang kamu juga mengusahakan kebutuhannya.”
Kiran menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah yang selama ini dia tekan, mendadak meledak lagi. Dia mendekat ke ranjang, menyentuh tangan ayahnya yang terasa kasar dan dingin.
"Aku akan cari uangnya, Bu," ucap Kiran pelan namun tegas.
“Itu memang kewajibanmu! Jika terjadi sesuatu pada ayahmu, itu tanggung jawabmu. Ingat itu!” desis Widya. "Aku tidak mau tahu uang itu harus ada. Atau kamu akan menyesal seumur hidup." Setelahnya, Widya meninggalkan Kiran dan ayahnya begitu saja.
Kiran menatap ayahnya yang tertidur. “Yah.” Suaranya lirih dan berat memanggil nama pria yang bertahun-tahun ini memberikan peran ‘ayah’ dalam hidupnya.
“Aku pasti akan mengusahakan kesembuhan Ayah, hm ….” Suaranya semakin berat kala matanya berkaca-kaca. “Setelah sembuh, aku akan mengajak Ayah jalan-jalan, ke tempat yang selalu Ayah inginkan, oke. Jadi, bertahan, ya.” Kemudian setelah memandangi ayahnya untuk beberapa saat, Kiran menjauh dari ranjang ayahnya.
Dengan bahu merosot, dia keluar dari ruangan itu. Kiran duduk di kursi tunggu koridor yang dingin, lalu merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Dia menghubungi satu-satunya sahabat yang masih dia miliki di kota ini.
"Sab, aku butuh bantuanmu."
Di ujung telepon, Sabrina terdengar terkejut sekaligus cemas. “Ada apa? Kamu di mana?”
Setelahnya Kiran menjelaskan keberadaan dan situasinya saat ini pada Sabrina. Hanya Sabrina yang bisa memahami dan membantunya.
Dari ujung sana, Sabrina mendesah pelan, “Setelah enam tahun, akhirnya kamu memutuskan kembali dan tinggal lagi, Kiran.”
“Aku terpaksa.”
“Sebenarnya aku bisa membantu tapi … aku tidak yakin.”
Tubuh Kiran langsung menegak. Antusias mendengar ucapan Sabrina meskipun merasa bingung mengapa sahabatnya itu tidak yakin dengan bantuan yang akan dia berikan. “Kenapa? Kamu bisa membantuku?”
“Sebenarnya di kantorku yang sekarang sedang membuka lowongan pekerjaan. Tapi, aku benar-benar tidak yakin kamu akan melamar ke sana.”
Kening Kiran berkerut. “Kamu pindah tempat kerja? Di mana? Dan … tapi … kenapa kamu tidak yakin? Dengar, Sab, untuk saat ini di mana pun itu aku tidak peduli, yang terpenting aku bisa mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan Ayah.”
“Di RDJ, Kiran. Kamu tahu ‘kan perusahaan siapa itu?”
Mendengar nama perusahaan itu, tubuh Kiran langsung menegang.
Sabrina melanjutkan ucapannya, seolah sudah menduga reaksi Kiran. “Tapi, hanya perusahaan ini yang bisa memberikanmu gaji besar. Yang aku tahu gaji cleaning service saja sangat besar.”
Kiran menatap pintu kamar rawat ayahnya, sambil masih mendengar Sabrina berbicara, “Jika kamu yakin, datang besok untuk wawancara.”
Kepala Kiran bersandar di dinding koridor dengan mata terpejam setelah menutup panggilannya dengan Sabrina.
RDJ.
Haruskah dia ke sana?
Wajah Elvano begitu datar melihat senyum Kiran yang begitu lepas. Matanya sedikit menyipit ketika Kiran terkejut saat saling tatap dengannya.“Dapat pesan dari siapa?” Nada suara Elvano datar saat tatapannya mengintimidasi.Kiran melipat bibir sejenak sebelum balas. “Dari temanku.”“Dia dari luar kota dan menyempatkan datang kemari karena kebetulan ada dinas di kota ini juga, apa aku boleh menemuinya sebentar?” Kiran bertanya dengan hati-hati.Melihat senyum Kiran yang berbeda, membuat tatapan Elvano semakin waspada.“Apa boleh? Sekalian ini ‘kan sudah mau jam istirahat?” Kiran kembali membujuk. Dia tidak bisa menolak permintaan temannya yang sudah menunggu di lobby perusahaan.Elvano melirik sang kakak yang masih ada di sampingnya. Sampai akhirnya dia berkata, “Baiklah, tapi segera kembali sebelum jam istirahat selesai.”Kiran tersenyum lebar. “Baik, aku pergi dulu.” Dia membungkuk ke Arlo dan Elvano bergantian.Setelahnya Kiran melangkah cepat meninggalkan ruang rapat.Sedang Elvano
Kiran tersentak karena tiba-tiba ditodong pertanyaan oleh sahabatnya. Belum juga dia bertanya apa yang temannya maksud, Kiran sudah disodori berita yang ada di grup chat karyawan perusahaan.“Seingatku, jumat kemarin kamu turun ke basement bersama Pak Elvano, ‘kan? Apa kamu tahu atau melihat, siapa yang membonceng Pak Elvano?”Tubuh Kiran membeku melihat berita yang rekannya maksud, apalagi ada foto saat dia dan Elvano keluar dari basement, walau tak ada yang mengenalinya karena memakai helm fullface.“Aku tidak tahu.” Kiran menggeleng dengan senyum canggung di wajahnya.Rekannya menatap tak percaya. “Masa sih kamu tidak tahu? Aku ingat, kamu tidak keluar di lobby dan ikut Pak Elvano ke basement. Masa kamu tidak tahu?”Senyum Kiran semakin kaku. “Itu … aku hanya membawakan berkas Pak Elvano sampai basement, setelah sampai di sana, aku keluar lebih dulu sebelum beliau,” kilahnya dengan wajah panik.Rekannya mengangguk-angguk. “Tapi siapa karyawan beruntung ini yang sampai dikencani Pak
Keluar dari bioskop. Elvano memakai lagi maskernya sesuai permintaan Kiran. Keduanya berjalan sambil saling bergandengan tangan.“Apa ada yang mau kamu beli?”Pertanyaan Elvano membuat Kiran menoleh. Dia menggeleng. “Tidak ada. Sudah, jalan-jalan saja.”Baru saja selesai bicara, tatapan Kiran tertuju pada beberapa wanita yang melintas tak jauh dari tempat Kiran dan Elvano berjalan.Dengan cepat Kiran menarik tangan Elvano, membawa sang kekasih bersembunyi di balik tiang besar yang ada di sana.“Ada apa?” Mata Elvano menyorot bingung.Telunjuk Kiran diletakkan di bibirnya, mengisyaratkan agar Elvano tidak bicara.Perlahan Kiran melongok ke arah dua wanita yang merupakan rekan kerjanya. Dia kembali bersembunyi ketika melihat dua rekannya ini melangkah melewati tiang tempat Kiran dan Elvano bersembunyi.Menyadari alasan Kiran mengajaknya bersembunyi, Elvano menatap Kiran yang masih panik.Elvano diam karena tubuh mereka sangat dekat hampir bersentuhan, bahkan lehernya bisa merasakan napa
Keesokan harinya.Kiran mematut bayangan dirinya di depan cermin. Bedak dipoles tipis, dengan pewarna bibir yang natural.Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, Kiran kembali memiliki keinginan mempercantik dirinya.Bukan untuk dirinya, tetapi untuk pria yang menjadi semestanya.Melirik ke ponsel yang berdering di atas meja, satu tangan Kiran buru-buru meraihnya.“Halo, El.” Kiran segera membalas panggilan itu.“Aku sudah di depan.”Senyum Kiran terangkat lebar. “Kamu bawa motor, ‘kan?” Kiran melirik ke pakaiannya, dia siap pergi memakai celana panjang.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore