เข้าสู่ระบบSiapa sangka, niat melamar pekerjaan dengan gaji tinggi demi mengumpulkan biaya pengobatan sang ayah, malah membawa Kiran pada pria yang pernah dia sakiti hatinya. Enam tahun menghilang tanpa kabar, Kiran kembali bertemu dengan Elvano Radjasa–pria yang dia campakkan begitu saja tanpa alasan. Menjadi bawahan mantan kekasih yang membencinya, apakah hari-hari Kiran akan bisa dilalui dengan mudah?
ดูเพิ่มเติมNoah mengembuskan napas kasar dari mulutnya. Dia meletakkan kedua siku di lutut lalu menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.Noah lagi-lagi mengembuskan napas kasar lalu bicara. “Entahlah, kalau hanya karena cemburu, menurutku dia sudah keterlaluan.” Nada bicara Noah terdengar pasrah. “Tapi aku juga tidak bisa berbuat banyak. Statusnya saat ini adalah klien utama untuk proyek ini.”Kiran ikut mengembuskan napas panjang. Dia menopang dagunya dengan sebelah tangan, ikut memikirkan jalan keluar untuk masalah kakaknya.Sampai Kiran menatap lagi ke wajah Noah yang seperti sedang menanggung beban berat.“Noah, kalau memang Pak Edo terus-terusan mempersulitmu seperti ini, bagaimana kalau proyek ini diserahkan saja ke orang lain saja?” Kiran memberikan saran demi kebaikan kakaknya juga. “Maksudku, biarkan tim direksi lain yang memegang kendali penuh. Jadi kamu tidak perlu berinteraksi langsung lagi dengan Pak Edo.”Noah menegakkan punggungnya lagi. Dia menoleh pada Kiran dengan ekspres
Sore hari. Di kediaman BimantaraKiran yang baru saja turun dari mobil Elvano. Dia melambai ke arah mobil Elvano yang perlahan menjauh darinya.Saat mobil Elvano sudah menghilang dari pandangannya. Kiran membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah.Tetapi, langkah Kiran terhenti saat tatapannya tertuju pada Noah sedang duduk di bangku taman samping rumah.Kiran mengerutkan kening melihat Noah duduk di bangku sambil memejamkan mata, bahkan Noah masih memakai setelan jas lengkap.Kiran melangkah menghampiri. Saat sudah berdiri di dekat ayunan, Kiran melihat guratan lelah dan beban berat tercetak jelas di kening Noah.Tanpa menyapa lebih dulu, Kiran langsung duduk di samping Noah. “Apa ada masalah di kantor? Wajahmu kenapa kusut begitu.”Noah terkejut mendengar suara adiknya, dia langsung membuka mata dan menoleh hingga mendapati Kiran sudah ada di sampingnya. Noah menegakkan posisi duduknya sembari mengembuskan napas pelan. “Hanya urusan pekerjaan biasa.”Kiran menyipitkan mata, me
Kiran memaksakan senyum ramah di wajahnya saat menatap pada Edo yang masih memandangnya.Kiran tenang meski isi kepalanya dipenuhi tanda tanya besar karena sikap Edo ini. “Ah, iya, Pak Edo. Kebetulan sekali.” Kiran bicara dengan nada suara begitu tenang. “Kami baru saja menyelesaikan pertemuan dengan klien.” Kiran menjelaskan singkat.Edo mengangguk-angguk paham. Senyumnya tidak luntur sedikit pun, bahkan binar matanya terlihat begitu bersahabat, sangat berbeda dengan kilat penuh amarah yang terlihat malam tadi di UGD.“Anda sendiri?” Kiran berbalik bertanya, dia ingin melihat sikap Edo apakah akan berubah seperti semalam.Di luar dugaan Kiran, Edo tersenyum dan tak menunjukkan tanda-tanda kesal atau tak suka.“Hanya baru saja makan siang dan sekarang harus kembali ke kantor.” Nada bicara Edo begitu tenang tanpa emosi.Kiran mengangguk-angguk pelan. Melihat perubahan Edo ini, Kiran berinisiatif bertanya, “Bagaimana dengan kondisi Nona Nandira, Pak? Apa keadaannya sudah membaik?”Jika
Keesokan harinya.Kiran keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi. Saat baru saja menutup pintu kamarnya, dia melihat Noah yang juga baru saja keluar dari kamar.Kiran melangkah mendekat. Saat berdiri di dekat sang kakak, Kiran memperhatikan penampilan sang kakak yang tampak kontras dengan setelan jas mahalnya. Wajah Noah terlihat sedikit lesu, ada lingkaran hitam samar di bawah mata Noah.“Sini, aku rapikan dasimu. Agak miring itu.” Kiran mengulurkan tangan ke kerah kemeja Noah yang baru saja menghadapnya.Noah tidak menolak. Dia hanya berdiri diam, membiarkan jemari adiknya lincah membetulkan simpul dasinya yang sedikit longgar. Saat Kiran selesai merapikan ikatan dasinya, senyum Noah terangkat kecil. “Terima kasih.”Kiran mengangguk pelan, dia menatap lekat-lekat wajah Noah yang benar-benar terlihat lesu tak bersemangat. “Apa semalam kamu begadang?”Noah langsung memalingkan wajahnya sedikit ke samping, menghindari kontak mata dari Kiran. “Tidak. Aku tidur tepat waktu.”“


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม