LOGINSiapa sangka, niat melamar pekerjaan dengan gaji tinggi demi mengumpulkan biaya pengobatan sang ayah, malah membawa Kiran pada pria yang pernah dia sakiti hatinya. Enam tahun menghilang tanpa kabar, Kiran kembali bertemu dengan Elvano Radjasa–pria yang dia campakkan begitu saja tanpa alasan. Menjadi bawahan mantan kekasih yang membencinya, apakah hari-hari Kiran akan bisa dilalui dengan mudah?
View More“Letakkan berkasnya di meja, dan keluarlah dulu?”
Kirana Calissa bergeming dengan jantung berdegup cepat dan matanya yang membola lebar kala mendengar suara yang sama sekali tak asing baginya. ‘Tidak, bukan dia, ‘kan?’ Kepanikan menyergah hatinya. Kedatangan Kiran kemari untuk mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji tinggi demi mendapatkan biaya operasi bypass jantung ayahnya yang tak sedikit. Tetapi suara ini, memukul mundur tekad Kiran untuk bekerja. Kiran menelan ludah kasar. Wajahnya memucat. Tatapannya masih lurus tertuju ke depan, ketika wanita yang mengantarnya baru saja menyingkir dari hadapannya. Sampai, pandangan Kiran kini terpusat pada sosok yang duduk dengan gagah di balik meja. Pria itu adalah Elvano Radjasa. Mantan kekasih yang dia hancurkan hatinya, dan kini... adalah atasannya? ** 2 hari yang lalu. "Akhirnya, Sang Tuan Putri ingat jalan pulang," sindir Widya dingin. Saat pintu terbuka, bukan sambutan hangat yang dia terima. Ibunya, Widya, berdiri di samping ranjang dengan wajah kaku. Tatapannya jatuh pada pakaian kerja Kiran yang tampak kusut, dan itu adalah satu-satunya pakaian yang dia bawa karena terburu-buru mengejar penerbangan paling awal. Kiran tak menjawab. Matanya tertuju pada sosok pria tua yang terbaring lemah di ranjang. Ayahnya. Pria yang dulu begitu gagah, kini tampak ringkih dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya. "Ayah ...." bisik Kiran, suaranya bergetar. "Jangan hanya memanggil," potong Widya, langkahnya mendekat tatapannya mengintimidasi. "Ayahmu butuh operasi bypass jantung. Biayanya dua ratus juta. Dan rumah sakit tidak akan melakukan tindakan sebelum kita membayar deposit tujuh puluh persen." Kiran tertegun. "Dua ratus juta? Tapi, Bu ... setiap bulan aku selalu mengirim—" "Uang itu habis untuk biaya perawatan rutinnya selama ini, Kiran! Kamu pikir obat jantung itu murah?" Widya membuang muka, suaranya sedikit merendah namun penuh penekanan. “Kalau saja kami tidak menguliahkan dan menghidupimu, keluarga kita tidak akan jatuh miskin seperti ini. Kamu berutang nyawa pada ayahmu." Ibunya melipat kedua tangan di depan dada lalu kembali berucap kasar, seolah tidak pernah puas untuk menyalahkannya. “Ayahmu selalu mengusahakan apa pun untukmu, jadi sudah sepatutnya kalau sekarang kamu juga mengusahakan kebutuhannya.” Kiran menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah yang selama ini dia tekan, mendadak meledak lagi. Dia mendekat ke ranjang, menyentuh tangan ayahnya yang terasa kasar dan dingin. "Aku akan cari uangnya, Bu," ucap Kiran pelan namun tegas. “Itu memang kewajibanmu! Jika terjadi sesuatu pada ayahmu, itu tanggung jawabmu. Ingat itu!” desis Widya. "Aku tidak mau tahu uang itu harus ada. Atau kamu akan menyesal seumur hidup." Setelahnya, Widya meninggalkan Kiran dan ayahnya begitu saja. Kiran menatap ayahnya yang tertidur. “Yah.” Suaranya lirih dan berat memanggil nama pria yang bertahun-tahun ini memberikan peran ‘ayah’ dalam hidupnya. “Aku pasti akan mengusahakan kesembuhan Ayah, hm ….” Suaranya semakin berat kala matanya berkaca-kaca. “Setelah sembuh, aku akan mengajak Ayah jalan-jalan, ke tempat yang selalu Ayah inginkan, oke. Jadi, bertahan, ya.” Kemudian setelah memandangi ayahnya untuk beberapa saat, Kiran menjauh dari ranjang ayahnya. Dengan bahu merosot, dia keluar dari ruangan itu. Kiran duduk di kursi tunggu koridor yang dingin, lalu merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Dia menghubungi satu-satunya sahabat yang masih dia miliki di kota ini. "Sab, aku butuh bantuanmu." Di ujung telepon, Sabrina terdengar terkejut sekaligus cemas. “Ada apa? Kamu di mana?” Setelahnya Kiran menjelaskan keberadaan dan situasinya saat ini pada Sabrina. Hanya Sabrina yang bisa memahami dan membantunya. Dari ujung sana, Sabrina mendesah pelan, “Setelah enam tahun, akhirnya kamu memutuskan kembali dan tinggal lagi, Kiran.” “Aku terpaksa.” “Sebenarnya aku bisa membantu tapi … aku tidak yakin.” Tubuh Kiran langsung menegak. Antusias mendengar ucapan Sabrina meskipun merasa bingung mengapa sahabatnya itu tidak yakin dengan bantuan yang akan dia berikan. “Kenapa? Kamu bisa membantuku?” “Sebenarnya di kantorku yang sekarang sedang membuka lowongan pekerjaan. Tapi, aku benar-benar tidak yakin kamu akan melamar ke sana.” Kening Kiran berkerut. “Kamu pindah tempat kerja? Di mana? Dan … tapi … kenapa kamu tidak yakin? Dengar, Sab, untuk saat ini di mana pun itu aku tidak peduli, yang terpenting aku bisa mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan Ayah.” “Di RDJ, Kiran. Kamu tahu ‘kan perusahaan siapa itu?” Mendengar nama perusahaan itu, tubuh Kiran langsung menegang. Sabrina melanjutkan ucapannya, seolah sudah menduga reaksi Kiran. “Tapi, hanya perusahaan ini yang bisa memberikanmu gaji besar. Yang aku tahu gaji cleaning service saja sangat besar.” Kiran menatap pintu kamar rawat ayahnya, sambil masih mendengar Sabrina berbicara, “Jika kamu yakin, datang besok untuk wawancara.” Kepala Kiran bersandar di dinding koridor dengan mata terpejam setelah menutup panggilannya dengan Sabrina. RDJ. Haruskah dia ke sana?Nindy melipat bibirnya saat mendengar pertanyaan sang mama. Dia diam beberapa detik, berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi sebenarnya kepada sang ibu."Dulu, aku dan Noah pernah membohongi Bibi Kamila, Ma." Nindy jujur karena masalah ini dia belum pernah membicarakan dengan sang mama. "Aku dan Noah berpura-pura pacaran di depan Bibi. Karena itu Bibi Kamila masih kesal padaku, padahal sekarang kami benar-benar pacaran." Nindy menatap canggung ke sang mama, karena dia sudah berani membohongi orang tua.Indah tersentak sampai matanya membola lebar. Meski dia tak percaya dengan apa yang baru saja Nindy katakan, tetapi Indah hanya bisa menghela napas panjang."Kenapa kamu bisa bohong begitu, Nindy?" tanya Indah dengan nada tertahan, tak menyangka anak perempuannya melakukan hal sejauh itu.Nindy kembali diselimuti penyesalan jika ingat akan kejadian itu. Tetapi, dia juga salah."Dulu aku dan Noah masih sama-sama baru kenal, Ma. Keadaannya rumit saat itu," balas Ni
Nindy melirik ke Kamila setelah mendengar pertanyaan ibunya. Dia tak langsung menjawab, Nindy sedikit panik saat mendapati Kamila memandangnya dengan tatapan datar. Namun, Nindy sadar kali ini dia harus berani. Dia harus membuktikan kepada Kamila bahwa tidak ada lagi hal yang dia sembunyikan.Nindy menarik napas pelan, menguasai dirinya agar tidak tegang, lalu menatap ibunya dengan tenang. "Kenal, Ma. Beliau ini Bibi Kamila ... mamanya Noah."Indah seketika terkejut. Matanya membola lebar saat kembali menatap pada Kamila dengan ekspresi tidak percaya. Indah tentu sudah tahu soal Noah, pria yang kini sedang menjalin hubungan dengan putrinya.Atmosfer di meja itu mendadak tegang. Saat Indah ingin membuka bersuara, Kamila sudah lebih dulu memotong."Apa Ibu tahu kalau Nindy dan putra saya pacaran?" tanya Kamila dengan nada suara yang sulit ditebak.Indah melihat ekspresi Kamila yang begitu datar. Dia berdeham pelan dan berusaha tetap tenang. "Tahu, Bu. Noah sering main ke toko juga, ka
Keesokan harinya. Kamila mendatangi alamat toko kue yang tertera di kartu nama pemberian Indah. Sore ini Kiran akan tiba setelah liburan 7 hari, jadi Kamila membeli kue untuk menyambut putrinya.Begitu melangkah masuk ke dalam toko, aroma harum mentega dan vanila yang khas langsung menyapa indra penciumannya. Interior toko bergaya minimalis itu terasa sangat bersih, rapi, dan nyaman.Kamila berjalan menuju etalase kaca dan mulai melihat-lihat pilihan kue yang tertata cantik. Seorang pelayan toko melangkah mendekat untuk melayaninya."Selamat siang, Bu. Ada yang bisa dibantu?" sapa pelayan itu ramah."Saya mau mencari kue stroberi," sahut Kamila lembut ketika menoleh pelan ke pelayan yang berdiri di sampingnya.“Ada, Bu. Di etalase sana, silakan dilihat-lihat dulu, mau kue yang mana.” Pelayan menunjuk sopan ke etalase yang dituju.Kamila melangkah mendekat, dia memandangi kue-kue yang terpajang di sana, semuanya cantik-cantik dan serba strawberry.Saat Kamila sedang memilih kue yang
Beberapa hari kemudian.Kamila ada di supermarket. Dia sedang memilih beberapa keperluan di luar kebutuhan dapur. Kamila berjalan sendiri sambil menenteng keranjang belanjanya. Dia menyusuri deretan rak, dan sesekali mengambil barang yang diinginkan.Sampai langkahnya terhenti di depan rak makanan ringan, lalu tangannya terulur hendak mengambil sebuah kemasan cookies rasa strawbery.Namun, di saat yang bersamaan, sebuah tangan lain juga terulur ke arah kemasan yang sama.Kamila menoleh cepat, tatapannya tertuju pada wanita paruh baya berpakaian sederhana yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi terkejut seperti dirinya.Kedua wanita paruh baya itu sempat membeku sejenak sebelum sama-sama menarik tangan masing-masing. Wanita di samping Kamila mengulas senyum ramah, lalu tertawa kecil menutupi rasa canggungnya."Aduh, maaf ya, Bu. Saya tidak sengaja, main ambil saja," ucap wanita yang tak lain Indah—Ibu Nindy, dengan nada sopan dan penuh penyesalan.Melihat sikap dan tutur kata wanit






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore