LOGINBagi Adriana Brown, Evelyn Sterling adalah mimpi buruk berjalan. Sejak kuliah, wanita itu selalu merebut apa yang menjadi milik Adriana. Puncaknya adalah ketika Adriana menemukan tunangannya sendiri berselingkuh dengan Evelyn tepat satu bulan sebelum pernikahan mereka. Lelah dengan perilaku Evelyn, Adriana memutuskan untuk membalas dendam dengan cara menargetkan satu-satunya pria yang tidak bisa direbut Evelyn darinya. Victor Sterling. CEO Sterling Industries. Pria yang dingin, berkuasa, dan... ayah kandung dari Evelyn sendiri.
View More“Adriana Brown?”
“Ya?” Adriana menegakkan tubuhnya, ia mendapati dadanya berdetak jauh lebih keras dari yang ia duga.
“Silakan menuju ruang Presdir.”
Adriana mengangguk, lalu bangkit dari tempat duduknya. Tangannya secara refleks meraih rok mini yang ia kenakan, menahan agar kain itu tidak tersingkap berlebihan di pahanya.
Keringat dingin mulai mengalir di dahinya saat ia menangkap tatapan wanita yang memanggil namanya tadi. Alis wanita itu terangkat, jelas mencurigai motif kedatangan Adriana.
Tapi Adriana hanya membalas dengan senyum kecil sambil berjalan dengan langkah canggung sambil terus memegang sisi roknya.
Mengenakan rok mini yang sulit dikendalikan saat melakukan interview kerja jelas merupakan keputusan yang buruk. Dan sejujurnya Adriana telah membuat terlalu banyak keputusan buruk sejak tahun kedua masa kuliahnya.
Keputusan buruknya yang pertama adalah mengambil jalan yang berbeda dari yang biasa ia lewati untuk menuju kelasnya hanya karena ia punya banyak waktu.
Awalnya, kehidupannya berjalan datar, nilai yang biasa-biasa saja, pacar yang biasa, dan rutinitas normal. Adriana tidak pernah mengharapkan drama, ia hanya ingin lulus dan melanjutkan hidup.
Ia bukan Evelyn Sterling, si 'drama berjalan' yang selalu sukses menarik perhatian setiap orang yang dilewatinya.
Tapi semua rutinitas membosankan itu berubah hanya karena satu kalimat yang bahkan tidak keluar dari mulut Adriana. Ia tidak sengaja bertemu dengan Theo, pria yang menjadi incaran Evelyn sepanjang semester dan tersenyum padanya karena pria itu memanggil namanya.
“Menurutku, Adriana jauh lebih cantik dibanding Evelyn.”
Adriana berniat mengabaikan pujian itu dan berpura-pura tidak mendengarnya. Lagipula, ia sudah tahu dari lama kalau pria itu menyukainya. Ia hampir saja berhasil mengabaikannya jika saja saat itu Evelyn tidak berdiri di seberangnya, dengan wajah memerah dan tangan yang mengepal.
Kesialan Adriana dimulai hanya satu minggu sejak hari itu.
Sore itu baru pulang dari kelasnya, bajunya basah karena hujan yang mengguyur sejak pagi. Jadi alih-alih kembali ke asrama yang ia tempati, Adriana mendatangi apartemen milik kekasihnya.
Apa yang ia temukan membuat Adriana terpaku di depan pintu, sepasang heels yang terlalu mahal untuk ia miliki diletakkan dengan sembarang di dekat sofa milik pria itu.
Lalu…
“Ahh… Alex…” suara desahan yang jelas bukan milik Adriana mulai terdengar dari kamar milik kekasihnya.
Adriana mendobrak pintu kamar milik kekasihnya itu, dan menemukannya berada di atas tubuh Evelyn tanpa sehelai benang pun.
“Adriana, ini…” Alex berdiri dengan panik, mencari kain terdekat untuk menutupi dirinya dan berusaha membawa Adriana keluar dari kamarnya.
Tapi Adriana, matanya terpaku pada satu titik. Pada Evelyn yang menatap mereka dengan satu tangan di dagunya. Senyuman merekah di wajahnya seolah wanita itu tidak sadar ia telah menghancurkan hubungan seseorang.
“Sepertinya aku lebih cantik di mata kekasihmu.”
Ucapan itu mengotori pikiran Adriana lebih dari yang ingin ia akui.
Adriana tidak pernah menyangka ia akan melakukan hal serendah itu, tetapi ketika Evelyn berhasil mengencani Theo, Adriana tidak menunggu lama untuk merebut pria itu hanya untuk balas dendam. Adriana bahkan tidak menyukainya.
Tapi saat ia melihat wajah Evelyn yang menangkap basah mereka berciuman di mobil pria itu, Adriana tidak pernah merasa lebih puas.
Sejak saat itu, Adriana dan Evelyn menjadi legenda di kampus. Jika seseorang berhasil mengencani Evelyn, maka kemungkinan besar mereka akan mengencani Adriana, dan begitu sebaliknya.
Persaingan mereka meluas dari pria ke hal lain, nilai, penampilan, bahkan hingga barang terkecil yang mereka miliki.
Hingga akhirnya mereka lulus di tahun yang sama. Adriana yang lelah dengan semua persaingan yang menguasai pikirannya, mendatangi Evelyn terlebih dahulu.
“Kita sudahi saja.” Adriana dengan tulus. “Aku tidak ingin membawa masalah yang terjadi karena kesalahan masala lalu terus menghantui kita.
Saat itu Evelyn tersenyum dan membalas uluran tangan Adriana. “Ya, mari kita sudahi saja.”
Adriana mengira semua sudah berakhir, hubungannya dan Evelyn membaik. Hingga saat Adriana menginjak usia dua puluh lima dan hampir menikah, Adriana dilempar kembali ke masa lalu.
Adriana yang baru pulang dari perjalanan dinasnya, menemukan sepasang heels dengan cara yang sama seperti tujuh tahun yang lalu. Dibiarkan sembarangan di sofa di apartemen yang merupakan milik tunangannya.
Dan saat ia membuka pintu kamar, ia menemukan pria itu tertidur di samping Evelyn yang seolah sengaja menunggu Adriana.
“Sayang sekali, bahkan sampai saat ini pun tunanganmu masih menganggap diriku lebih cantik.”
Adriana berakhir melemparkan cincin pertunangannya ke lantai, menjambak rambut Evelyn, dan melayangkan beberapa pukulan pada Darren, mantan tunangannya.
Peristiwa itu adalah alasan yang mengantar Adriana ke depan pintu Presdir Sterling Industries.
Ia membaca papan nama yang terukir di sana.
Victor Sterling.
“Silakan masuk.” Wanita yang mengantarnya mempersilakan.
Untuk sejenak, Adriana sempat ragu, hingga ia kembali terbayang wajah Evelyne. Mata birunya yang licik dan cara wanita itu memainkan rambut dengan jemarinya sambil tersenyum sinis ke arah Adriana.
Bayangan itu clukup untuk kembali membakar perasaan benci yang seperti api abadi dalam diri Adriana.
Baiklah. Jika Evelyn menolak berhenti, maka begitu juga dengan Adriana. Evelyn boleh memiliki mantan tunangan Adriana. Dan kini, Adriana akan memiliki pria yang tidak akan pernah bisa direbut oleh Evelyn.
Victor Sterling. Atau pria yang juga dikenali sebagai Ayah dari Evelyn Sterling.
Malam itu adalah malam perayaan besar bagi keluarga Sterling, hari pesta resepsi pernikahan Victor dan Adriana dilaksanakan..Saat pintu masuk terbuka lebar, hampir seketika, sorot mata para tamu seolah ditarik oleh magnet tak kasat mata menuju dua sosok yang baru saja melangkah masuk. Davian dan Evelyn berjalan bersisian dengan jemari yang bertaut erat.Evelyn menghela napas pelan, pikirannya melayang sejenak pada kejadian beberapa hari yang lalu. Pemandangan di depannya saat ini terasa seperti sebuah kemenangan kecil. Ia masih ingat dengan jelas momen ketika Davian, dengan suara yang begitu mantap dan tanpa keraguan sedikit pun, mengumumkan kepada Victor keputusannya untuk meneruskan pernikahan mereka. Saat itu, raut wajah ayah Evelyn itu tidak bisa menyembunyikan kelegaan dan rasa bahagia yang luar biasa. Saking senangnya, Victor bahkan tidak segan bertindak impulsif. Hari itu juga, sang ayah mertua langsung menawarkan posisi eksekutif kepada Davian, memintanya untuk kembali ke
Sebelum jam makan siang berakhir, tumpukan undangan pernikahan berdesain sangat elegan dengan ukiran tinta emas mulai didistribusikan ke seluruh penjuru departemen. Bersamaan dengan undangan fisik tersebut, sebuah email dari sekretaris Victor masuk ke kotak masuk setiap karyawan. Email itu berisi pengumuman resmi mengenai resepsi pernikahan sang Presdir, diiringi penjelasan bahwa Victor Sterling dan Adriana sebenarnya telah mencatatkan pernikahan mereka secara hukum sejak beberapa waktu yang lalu.Langkah ini diambil untuk membungkam total rumor yang sempat disebarkan oleh 'Claudia'.Meski kebenaran tentang status Adriana telah terang benderang, gosip di kalangan karyawan justru semakin liar dan bercabang, membelah opini mereka menjadi dua kubu. Sebagian besar staf merasa muak dan langsung membenci Clara. Mereka mengutuk wanita itu sebagai mata-mata perusahaan dan ular berbisa yang manipulatif.Namun, di sudut-sudut pantry dan koridor sepi, bisik-bisik simpati untuk Clara mulai ter
"Dan kau..."Suara Adriana yang sangat sedingin es tiba-tiba memecah keheningan. "Kau mengatakan pada semua staf di sini bahwa kau ingin menjadi Nyonya Sterling yang baru?"Dalam satu gerakan yang sama sekali tidak terduga, tangan Adriana melesat dan langsung mencengkram kerah kemeja Clara dengan kuat. Tarikan itu begitu bertenaga hingga tubuh Clara sedikit terhuyung ke depan, membuat wajah kedua wanita itu hanya berjarak beberapa sentimeter."Adriana!"Victor berseru kaget melihat tindakan agresif istrinya. Pria itu segera melangkah lebar menghampiri Adriana. Dengan cepat, kedua tangan besar Victor langsung memegang bahu dan lengan istrinya dari belakang, berusaha menenangkan wanita yang tengah hamil itu. Victor sangat khawatir lonjakan adrenalin dan emosi yang meledak-ledak akan membahayakan kondisi kandungan Adriana.Namun Adriana sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya dari kerah Clara. Ia mengabaikan usapan menenangkan dari suaminya dan terus menatap Clara dengan mata yang
Pertengkaran brutal di tengah departemen analisis itu tidak berlangsung lama. Baru beberapa detik mereka saling menjambak dan membanting, sebuah tarikan bertenaga luar biasa menyentak tubuh Evelyn dari arah belakang.Memaksa wanita itu mundur dan melepaskan cengkeramannya dari kerah Clara."Evelyn, kau ini apa-apaan?!"Suara bariton yang tiba-tiba terdengar itu menghentikan seluruh kekacauan di ruangan tersebut.Evelyn terhuyung ke belakang, namun dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya. Ia menoleh dengan napas terengah-engah dan rambut yang berantakan, mendapati ayahnya berdiri menjulang di belakangnya dengan raut wajah murka. Victor Sterling baru saja tiba setelah Adriana mengarahkan mereka untuk ke lantai ini, dan ia justru melihat putrinya berkelahi secara fisik dengan karyawannya di tengah jam kerja.Namun, Evelyn sama sekali tidak merasa bersalah. Dengan dada yang masih naik-turun menahan emosi, ia mengangkat tangannya dan menunjuk lurus ke arah Clara yang kini terduduk di lantai
Davian berjalan kembali menuju paviliun dengan langkah lebar, pikirannya masih dipenuhi tawaran Victor. Langit sudah mulai gelap, lampu-lampu taman mulai menyala otomatis, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan.Namun, langkah Davian terhenti mendadak saat ia mendekati area paviliun.Mata
"Oh ya, aku pasti datang. Selamat, ya."Adriana tersenyum tipis sambil menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu mengakhiri panggilan. Ia meletakkan benda pipih itu ke atas nakas di samping tempat tidur."Siapa?"Suara bariton yang tenang terdengar dari arah pintu masuk. Victor baru saja kembali dari
"Aku Tidak mengeluarkan suara aneh!" protes Evelyn.Davian tidak menjawab. Ia menggulung lengan kemejanya lebih tinggi, mengambil spons mandi, dan menuangkan sabun cair.Keh
Davian membuka matanya seketika. Ia menoleh perlahan, menatap Evelyn dengan raut wajah tak percaya."Apa Anda baru saja menggunakan kebodohan Anda sendiri sebagai senjata untuk menahan saya di sini?" tanya Davian, nadan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore