FAZER LOGINTanganku yang hendak menonjok sudah dihentikan oleh seorang pemuda. Rambutnya biru seperti langit musim panas yang cerah. Playboy kelas kakap yang siap memangsa gadis manapun di akademi ini. Bahkan aku tahu, guru pun berani ia setubuhi.Felix si duyung playboy."A-Apa yang kau- ukh!"Felix yang sudah menggenggam pergelangan tanganku justru menariknya hingga aku jatuh ke pelukan pria ini. Wajahnya dekat. Dan ia tersenyum begitu mempesona kepadaku. Aku tak bisa menebak apa isi otak di balik kepala berambut birunya itu. Lalu Felix mendekapku di depan semua orang. “Kan sudah kubilang, tanganmu cuma boleh menyentuhku, Sayang.”“Ha?”Lalu tanganku ia sentuhkan kepada pipinya yang hangat dan berkulit mulus.“Ya. Begini,” ucapnya seakan mengajariku cara menyentuhnya. “Benar begini. Ahh … aku suka sekali. Aku ingin disentuh di seluruh tubuh. Boleh kan?”Bulu kudukku berdiri saking merindingnya.Hiiiiihh!Geli banget!“A-Apa-apaan kalian berdua?!” hardik Elina yang masih tersungkur di tanah.
Tanganku terangkat, sudah mengepal siap untuk meninju. Di bawahku terbaring tak berdaya Elina si Putri Duyung yang tersohor karena kecantikannya. Gadis itu ketakutan dengan wajahku yang sudah merah bengis. Sebentar lagi mungkin ketenarannya akan musnah karena aku sudah kebelet merontokkan gigi-gigi depannya. Ucapkanlah selamat tinggal pada wajah cantik nan sempurna itu.Mengapa aku bisa ada di posisi ini?Yah. Ini terjadi beberapa menit yang lalu. Mungkin setengah jam.Seperti biasa aku, May, Mimi, Mina dan Momo, kami bergerombol membawa baki-baki makan siang kami. Bercanda tawa dan mengobrol seperti biasa. Kami duduk di salah satu meja bulat seperti biasa.Hingga sesuatu yang tak biasa terjadi."Wah-wah ... lihatlah siapa yang sedang makan! Rupanya sekumpulan gadis pecundang di akademi!" Seseorang berseru. Rupanya para gadis duyung telah berada di dekat meja mengelilingi kami. Dan yang menyerukan ejekan itu tidak lain tidak bukan, Elina si Putri Duyung.Aku menghela malas. Mimi, Mina
"Saya berpikir hari ini Nona Lysa merenung di kuil, mungkin itu salah satu penyebabnya," terka Ikaruz.Aku menarik napas dalam. “Tidak juga. Masalahku terlalu rumit.”“Saya bisa mendengarkan jika Nona Lysa berkenan.” Aku menoleh kepadanya. “Ahh … ma-maksud saya tentu jika Nona tidak keberatan. Maaf jika saya lancang.”“Tidak. Aku cuma sedang tidak bisa menjelaskan. Dijelaskan bagaimana pun, kupikir pasti kau tidak akan mengerti. Tidak akan ada yang bisa memahami.”Aku merenung, tertunduk lengang. Cukup lama hingga pikiranku kembali penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Juga gambaran ramalan dalam bola kristal. Ramalan tragis penuh dengan kematian.“Nona ….” Ikaruz menyodorkanku setangkai bunga putih cantik yang wangi. Entah kapan dia memetiknya. “Segala hal pasti akan punya jalan keluar. Mau serumit apapun itu.”Ikaruz tersenyum manis kepadaku. Wajahnya ringan tanpa beban. Seperti seorang anak kecil manis yang masih polos.‘Aku melihat kau mati’.Ingin aku berkata begitu kepadanya. Namu
Aku duduk, mungkin entah sudah berapa lama di kursi ini. Kursi di dalam kuil di depan tiga lukisan dewa yang berdiri terpajang dengan pose yang sama. Aetherion, Terravon dan Vorthys. Setelah beberapa minggu lebih semenjak kematian Lilia, atau gadis sungguhan yang bernama Reyna. Akhirnya aku bisa menemui salah satu dari mereka lagi. Sang Game Master. Atau para dewa dalam dunia ini. Mereka penentu nasib setiap makhluk di dunia ini.Kuil lengang. Waktu doa harian sudah usai. Lilin yang ada di tanganku sudah padam. Aku memerhatikan Aetherion dengan sepasang sayap dan jubah putihnya. Persis dengan yang kulihat dalam mimpi. Aku mulai mempertanyakan yang mana yang kenyataan dan mana yang ilusi."Apa kau belum selesai berdoa?" seseorang menegurku. Suaranya familiar. Kakek Daruz. Ia sudah duduk di sampingku dengan sayap compang-campingnya. Ia tersenyum kepadaku dengan lembut. Kali ini Ikaruz berada di sampingnya. Ia melambai singkat dan meringis ke arahku."Oh ... Kakek Daeruz. Sudah. Saya cum
Langit berubah kemerahan. Semakin lama semakin gelap. Abu hitam berterbangan di udara. Aku tak tahu aku tengah berdiri di mana. Mungkin seperti tebing di suatu tempat. Dekat Ashen Peak? Aku mengedarkan pandangan kepada seluruh bagian tempat yang bisa kujamah. Mataku terbelalak. Tubuh Felix seluruhnya berubah biru. Ia terbaring terkapar di tanah bebatuan dengan mata merah terbelalak. Ikaruz tak jauh dari sana, sayap emasnya telah hancur berkeping-keping. Ia tak bergerak. Profesor Jin juga tengkurap, tubuhnya terbelah menjadi dua entah bagaimana. Seseorang dengan tubuh hangus berlutut. Kupikir aku tahu itu siapa. Telinga anjingnya sedikit mencuat meski kulitnya sudah lumer sebagian besar. Pastilah itu Rex. Dan ... aku melihat diriku dan Aegon berbaring bersebelahan. Tubuh Aegon biru dengan mata merah. Dan aku ... sebuah belati menanjap di tenggorokanku. Aku berlumuran darah. Tanganku gemetar. Kupejamkan mata ini dengan penuh rasa takut. "Lysa ... Lysa!" Tubuhku digoyang-goyangkan ol
Langsung kusembunyikan diriku di balik daun pintu. Rasa takut menggelayuti hati ini. Apa yang akan dia pikirkan jika aku tahu kalau dia dan Profesor Cleon diam-diam telah ....Ah! Aku harus pergi dari sini!"Ukh!"Baru saja aku melangkah pergi, namun tanganku sudah tertahan oleh sebuah cengkeraman. Saat aku berbalik, benarlah itu adalah Felix. Ia menutup pintu itu rapat-rapat. Kemejanya belum terkancing, tapi ia sudah memakai celana bermotif sisik itu."Kau lihat semuanya?" tanyanya dengan sebuah senyuman.Aku menelan ludah. Apa mungkin jawabanku berikutnya akan menentukan rantai di leher pria ini? Saat ini lehernya masih dililit oleh rantai putih yang berkedip-kedip. Angkanya satu persen. Masih belum berubah dari terakhir kali kami berinteraksi.Aku diam. Menolak menjawab."Seberapa banyak yang kau lihat?" ia bertanya lagi."A-Aku tidak akan bilang kepada siapapun," ucapku."Aku tahu," katanya dengan percaya diri. Aku mengernyit, hendak protes dan bertanya mengapa ia bisa seyakin itu







