LOGINTOO HOT FOR DAYLIGHT. READ THIS AT NIGHT, LIGHTS OFF. This book will wreck your panties and your soul. No safe words, no apologies. This book contains the hottest erotica stories which spins the art of sweet erotic romance, forbidden romance,taboo, dark romance, submissive romance. Get ready to be blown away.
View More"alin, kamu selalu membuat ku kecanduan di pagi ini... kamu itu selalu terasa nikmat.. aaahh"
desahan suara berat seorang pria terdengar di balik pintu yang tidak tertutup rapat dengan sempurna. terdengar suara desahan pelan yang terdengar begitu dalam. Aksa yang baru saja ingin mengetuk pintu rumah, langsung terpaku di tempat. jantung nya berdegup kencang tak karuan. suara-suara itu menganggu pikiran nya,suara yang memuji sang kekasih. wanita yang ia perjuangkan, wanita yang ingin di lamarnya hari ini. "apa yang sedang mereka lakukan" gumamnya. pikiran nya berlari liar di otak nya. mencoba menepis kemungkinan buruk di dalam pikiran nya. apa mungkin mereka sedang bercanda? atau mungkin itu bukan alin? namun nama itu.. "sayang... pelan-pelan yah...! " kali ini suara alinea yang terdengar, suaranya parau. seperti menahan sesuatu, suara napas yang tersengal dalam irama yang tak pantas. tubuh Aksa pung menegang, tangannya pung gemetar. ia ingin menepis suara itu dari indra pendengarnya tapi iya tak bisa. ia ingin mundur, dan pergi saja tapi tak bisa otak ini menuntut jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya. "mendesah sayang ayo mendesah aku ingin mendengar desahan dari mulut mu sayang.. ayolah" dada Aksa semakin berdegup kencang napasnya mulai tersengal di saat mendengar panggilan 'sayang' yang di berikan lelaki itu kepada sang kekasih. "mas aaahh... lebih cepat lagi, mas! aahh sampai dalam lagi mas" mata Aksa membola sempurna dan terpaku pikiran nya jelas bisa membaca situasi yang terjadi saat ini. namu,hatinya ingin memastikan semuanya. takut terjadi salah paham. dengan dada yang berdegup, ia memberanikan diri untuk membuka pintu pelan-pelan, ia berusaha tak membunyikan suara. namun begituh celah pintu terbuka, matanya langsung membelalak. di depan sana, sang kekasih yang selama ini di perjuangkan selama bertahun-tahun, yang ia jaga dan lindungi. tengah berada di dekapan lelaki lain di atas sofa ruang tamu. nyaris tanpa busana, desahan yang keluar dari mulut mereka Bersahut-sahutan. pandangan di depan matanya menghantam hatinya seperti serangan berturut-turut. buke bunga yang di bawahnya terjatuh ke lantai, suaranya cukup keras. tapi dua manusia yang memadu kasih itu tak kunjung sadar. sakit yang teramat sangat di rasakan. seakan seluruh tubuhnya tertusuk ratusan duri. dadanya sesak, napasnya tercekik oleh kenyataan di depan nya yang terlalu pahit untuk di Terima. "berengsek! kurang ajar kau! " teriak nya meledak tanpa bisa di tahan lagi. mendengar suara teriakan barulah dua manusia yang memadu kasih itu tersentak. alinea_alin menjerit kecil dengan gerakan cepat mendorong tubuh pria yang masih menindih badanya. panik di wajah alin terlihat jelas. namun berbeda dengan sang pria, yang terlihat begitu santai nya berdiri perlahan memungut dres dan memakaikan nya ke tubuh alin, seolah hal begitu udah biasa. "mas Aksa ... ini.. aku bisa jelasin, tapi jangan marah dulu oke" Aksa melangkah masuk, napasnya mulai memburuh, matanya memerah menahan gejolak amarah yang kian menumpuk. "apa kurang dan salahku sampai kamu berbuat begini hingga mengkhianati ku seperti ini"suaranya mulai bergetar " belum cukup semua yang ku lakukan selama ini untuk mu? aku menanggung pendidikan mu, dan biaya hidupmu tapi ini yang kau berikan untuk ku, sebuah penghianatan " alin berdiri membenahi rambut dan dress nya, berusaha berbicara "tolong.jangan marah dulu, oke! kita bicarakan secara baik-baik?... sebenarnya aku.. " "sudah lah buat apa lagi sih di sembunyikan" ucap sang pria santai. memotong ucapan yang belum selesai dari alin yang berada di sampingnya, dan kini pria itu mengenakan celana nya dengan santai. "kita bahkan udah dua tahun pacaran kan, dan juga sebentar lagi kita akan menikah bukan, lagi pula, kamu kan sendiri yang bilang lebih mencintai ku yang kaya ini. dari pada si dia yang cuma modal tampang doang, yang jadi babu di luar negeri. Aksa mengepalkan tangan, tubuhnya bergetar karena amarah, tapi dia berusaha menahan diri. matanya seakan ingin membakar pria itu Hidup-hidup. "dua tahun yah? selama itu, berarti sejak aku pergi kamu malah malah berdua dengannya yah? lalu untuk apa semua penantian ku ini, kamu sengaja untuk membohongi ku, dan menipu ku" sebelum alin menjawab, tersengar suara lain dari arah belakang. "aku pun tidak setuju kalau putirku menikah denganmu" ibunya alin berdiri di ambang pintu. wajahnya, dagunya terangkat penuh kesombongan. "coba lihat lelaki yang bersama alin sekarang, dia itu orang kaya. dia punya minimarket dan beberapa toko. kalau kamu itu tidak sepadan. jadi lupakan mimpi mu untuk menikahi putri ku" ia berjalan maju berdiri di samping alin sang putri "putri ku berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik dari kamu. lebih sekedar lelaki yang hanya menjadi babu di luar negeri". Aksa terpaku, mendengar ucapan dari ibunya alin seakan dirinya di tampar berkali-kali. bukan saja sang kekasih, bahkan ibunya pun ikut adil menusuk nya diri di dalam hatinya. Aksa tak dapat berkata apa apa lagi. menghela napas dalam-dalam, menatap sang kekasih, lalu memasukkan kalung yang tadi hendakbia berikan ke dalam saku celananya. "baik kalau begitu, jika kita ketemu, anggap saja kita tidak pernah saling kenal sebelum nya,dan jangan pernah sebut namaku" alin yang mendengar itu mendengus kesal, "pergi sana! dasar pria miskin! memangnya kamu kira saya pengen ketemu dengan mu" Aksa menutup mata sebentar lalu menarik napas dalam-dalam, kemudian membelikan badan dan keluar dari rumah itu. cincin lamaran yang sudah ia siapkan untuk sang kekasih entah jatuh di mana. mungkin jatuh bersama buket nya atau mungkin semesta pun tak merestui rencana ini. Aksa berjalan tak tentu arah ,menyusuri jalan yang juga begitu sepih, seperti hatinya saat ini. namun entah kenapa, langkah kakinya malah membawa nya berbelok dan duduk di samping jalan dekat sebuah gedung "berengsek kau! kamu pikir bisa memperlakukan diriku seperti ini? memang nya mereka pikir mereka siapa" Aksa seperti orang gila yang tertawa sendirih.Michael heard Kelly come in to find Rita. He stood up quickly and pulled Rita up with him. Rita quickly stuffed her tits in her blouse and pulled down her skirt. She knelt in front of him with the measuring tape. "We just need one more measurement sir" Rita placed the measuring tape on the inside of his leg for an inseam measurement. Michaels cock was at her face and a huge bulge it was. "Then I can get this off to the seamstress. " She continued the conversation quickly so Kelly would leave. "Just a sec I have to get more pins. ' Kelly had hear them talking and left. Rita went out to check where Kelly was and came back to Michael. "Your turn' she sad as she rubbed the front of his pants again. "Mmmmmmmmmmm I think it's a little big, " she giggled. "Let take it out and see. " Rita unzipped his pant and they fell to the floor. Michael wasn't wearing a
Michael, tall, dark, and handsome with a muscular build, needed a suit for a Christmas party. At Mr. Big and Tall, his eyes locked on Rita — a curvy 5'5" clerk with perky breasts, a short skirt, and a plunging blouse. Rita noticed him watching her, especially when she bent over. She smiled as she helped him, her eyes drifting to the growing bulge in his pants. She led him to the large, private fitting room at the back. “Call me when you have it on,” she said, brushing against him as she left. Michael changed quickly. When he stepped out, Rita returned, her gaze appreciative. She stepped close to check the fit, her hands smoothing over the fabric. “It feels good?” she asked softly. “Depends,” Michael replied, his voice low and sexy. Rita looked up at him, biting her lip. “Depends on what?” She folded her arms under her tits and that made them jut out further. She had on the most seductive look. "On t
I thought about you last night. I was all alone. Something about what you said about craving my lips started a fire inside me. I brushed my teeth. I changed into a big t-shirt. I programmed the coffee maker and turned off the lights. And then I slipped, bare-legged, under the cool sheets. I thought about you last night. I imagined what that first kiss would feel like... soft at first, and then hungry. Ravenous. A dam breaking. Hard enough to bruise my mouth. Travelling from my lips to my neck and... elsewhere. I turned from my side onto my back, my legs opening. I thought about you last night. How it would feel letting your strong hands wander over my body. Perhaps they'd start on the sides of my face. Then tangle themselves in my hair. Maybe they'd press tightly against my back. My lower back... my hips. My ass. I let my hands wander along with the fantasy. Mmmm..
I was driving home when I got the call. Well it was more like I was sitting in rush hour traffic, but still, there I was behind the wheel when the phone interrupted my music stream. It was a very pleasant surprise to see my phone light up with the picture of one of my long-time FWB. More specifically, it was a picture I'd taken that just showed her from her open mouth down to her beautiful bare breasts. With a grin, I clicked to answer. "Hey Cris, what's up?" Her voice was sweet and breathy, filling my car with a little giggle. "Hey you." She paused just a moment. "Wait, am I on speaker?" "You caught me driving home. I'm alone though." A little gasp and a low sultry moan was all I heard in response at first. "Oh good. I'm so fucking horny and wanted to hear your voice." Traffic was moving slowly again, and my eyes darted side to side as I drifted forward at a slow 15 mph on the interstate. "You should come over then. Would love to help you with that." Another little moan fille
The silence in her in-laws’ sprawling suburban home was a heavy, oppressive thing. Lois was two days into a week of house-sitting, and the novelty of unlimited cable and a fully stocked fridge had worn off. She’d cleaned everything that wasn’t nailed down, rearranged the pantry by food group, and w
My best friend Jade and I have been having sex to avoid getting pregnant. We didn’t want to end up a trailer park cliché, pregnant teen. But we needed sex. So we had sex with each other. It's great, but I’ve always felt like it wasn’t enough. Like I need to have a cock in me. I’ve never had sex with
Sara Johnson was three months post-divorce and horny. At thirty-six years old, she was done with playing the good girl after leaving her sexless marriage and had just spent the evening literally charming the pants off of her date. They had agreed to meet at a local bar, and after a few drinks, she
"That's it, sweetheart. Just like that. Take it all."Nick's voice was a low, gravelly command, utterly unlike the soaring tenor that had electrified the stadium just an hour before. It was intimate, raw, and it vibrated through Adrienne’s skull as her lips stretched around the thick head of his co


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.