Share

Bab 16. Aku Ikut Membantu

Author: Nychinta
last update Last Updated: 2025-10-07 19:48:22
Baru saja Kevin akan membuka mulutnya Vanya langsung berkata dengan cepat, “Jangan salah paham dulu, itu maksudku … maksudku, karena kamu menarik tanganku, aku setidaknya harus menyesuaikan langkah kakiku, langkahmu cukup lebar dan cepat jadi aku ….”

Vanya kembali memberanikan diri melihat ke arah Kevin dan menambahkan, “Jadi aku terpaksa lari-lari kecil. Kamu lihat sendiri, tubuhku sangat kecil, langkah kakiku juga tidak sebesar … punyamu.”

Kevin langsung menggeleng-gelengkan kepalanya singkat
Nychinta

Selamat malam semuanya! Terima kasih atas dukungan kalian semua ya! Sayang kalian banyak2... ditunggu kelanjutannya besok pagi ya...

| 23
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Andriani Setiarini
jadi penasaran. jangan² sebenarnya Kevin udah tau kalo selama ini Vanya diperlakukan buruk sama mrk
goodnovel comment avatar
sayara
seru banget cerita ini bikin deg degan serius
goodnovel comment avatar
Nurliana Ali
Kevin hrs liat
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Nona, Tuan Hanya Ingin Menikah Denganmu!   Bab 273. Penanggung Jawab Acara

    Senyum Febiola membeku sepersekian detik. Tatapannya mengeras, tetapi sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara lembut menyela dari samping.“Sepertinya kalian sangat dekat sekali ya?”Nyonya Hudson mendekat dengan langkah anggun. Senyumnya ramah, tetapi sorot matanya tidak untuk sekadar basa-basi. Ia melirik bergantian pada Vanya dan Febiola, jelas menangkap sisa ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.Vanya segera menghadiahkan senyum sopan. “Nyonya bisa saja.”Belum sempat percakapan berkembang, langkah lain menyusul. Nyonya Arthur menghampiri, kipas kecil di tangannya bergerak perlahan. “Nyonya Hudson, kau jangan berkata seperti itu, kan, Nyonya Kevin dan Nyonya Lesmana punya hubungan keluarga yang erat. Sebagai anak dan ibu, tentulah mereka sangat akrab.”Kalimat itu diucapkan dengan nada santai yang terdengar polos. Namun, di lingkungan seperti ini, tidak ada kalimat yang benar-benar santai.Vanya merasakan perubahan udara di sekitarnya. Ia tidak menoleh lebih dulu pada Febiola.

  • Nona, Tuan Hanya Ingin Menikah Denganmu!   Bab 272. Perlawanan Elegan

    Mendengar jawaban Kevin barusan membuat suasana hening sejenak, kemudian Walikota terkekeh ringan menanggapi dan berkata, “Kita semua tidak pernah meragukan kualitas keluarga Wicaksana. The K punya standar yang sangat jelas. Saya yakin tahun ini akan menjadi salah satu yang terbaik.”Hal ini kembali membuat suasana mencair. Makan malam itu tetap berlanjut. Namun, setelah percakapan singkat antara Vanya dan Febiola sebelumnya, suasana tidak lagi selembut awalnya. Senyum-senyum masih terpasang, tetapi ada lapisan tipis ketegangan yang tak bisa disembunyikan.Lesmana yang duduk tidak jauh dari Febiola akhirnya angkat bicara, nadanya tenang dan ambigu.“Dalam penyelenggaraan acara sebesar itu,” katanya sambil menyilangkan jari di atas meja, “yang terpenting adalah koordinasi dan pengalaman. Terkadang semangat saja tidak cukup.”Kalimat itu terdengar umum. Namun beberapa pasang mata mengerti arah yang dituju. Febiola tersenyum tipis, seolah ucapan itu hanyalah opini profesional.Kevin hanya

  • Nona, Tuan Hanya Ingin Menikah Denganmu!   Bab 271. Tidak Mau Merepotkan

    Suara Vanya nyaris tak terdengar. Namun cukup untuk membuat Kevin sedikit memiringkan kepala. Ia mengikuti arah tatapan istrinya.“Ah, maaf,” gumam Kevin pelan, suaranya nyaris hanya untuk Vanya. “Aku lupa memberitahumu. Keluarga yang menangani acara ini enam tahun terakhir dan tentu saja keluarga Dirgantara termasuk di dalamnya.”Jari Vanya tanpa sadar mencengkeram lengan jas Kevin lebih erat. Ia baru menyadari betapa sengajanya pria itu menyebutkan informasi tadi seolah-olah terlambat.“Kau sengaja,” gumamnya pelan, setengah menuduh, setengah gugup.Kevin tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya hanya terangkat tipis, alih-alih membantah, ia justru melepaskan lengan yang dicengkeram Vanya dan dengan gerakan yang jauh lebih tegas, menyelipkan jari-jarinya di sela jemari wanita itu. Genggamannya hangat. Mantap.Vanya kembali berpikir, kalau enam tahun belakangan, artinya termasuk 4 keluarga besar, kalau dipikir lagi acara itu adalah acara yang sukses lalu gagal, kemudian sukses lagi da

  • Nona, Tuan Hanya Ingin Menikah Denganmu!   Bab 270. Kembali Bertemu

    “Bukan undangan biasa maksudnya?” tanya Vanya, masih berdiri di samping tempat tidur dengan wajah yang jelas belum sepenuhnya mencerna informasi itu.Kevin berdiri sambil merapikan pakaiannya. “Seharusnya ini sedikit akan membahas terkait acara nanti.”Mata Vanya langsung membulat. “Acara fashion itu?”Kevin mengangguk ringan.“Kenapa mendadak sekali?” Vanya hampir setengah berbisik, setengah protes.Kevin menggaruk alisnya, kebiasaan kecil yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain. “Sepertinya aku lupa.”Vanya benar-benar terdiam kali ini.Lupa?Dalam bayangannya, Kevin adalah sosok yang selalu satu langkah lebih dulu. Terorganisir. Terkendali. Hampir tak pernah keliru.“Aku pikir besok,” lanjut Kevin tenang. “Untung saja Nico mengingatkanku.”“Memangnya jam berapa acaranya?” tanya Vanya dengan nada hati-hati, seolah masih berharap jawabannya tidak separah yang ia pikirkan.“Jam tujuh malam ini.”Vanya mengerjap.“Jam tujuh… malam ini?” Ternyata benar dia memang tidak salah mendeng

  • Nona, Tuan Hanya Ingin Menikah Denganmu!   Bab 269. Undangan Makan Malam

    Empat tahun lalu.Saat itu Vanya masih mengenakan seragam sekolah menengahnya. Ia masih berusia tujuh belas tahun, usia di mana seharusnya ia memikirkan ujian akhir dan cita-cita. Namun, hari itu menjadi akhir dari semuanya.Acara besar keluarga Dirgantara, sebuah pagelaran yang seharusnya menaikkan nama mereka gagal total. Sorotan media berubah menjadi cibiran. Para tamu meninggalkan aula dengan wajah kecewa. Ayahnya pulang dengan amarah yang tak tertahankan.Dan entah bagaimana, kesalahan itu jatuh padanya.Padahal Vanya hanya menjadi kurir kecil. Ia hanya sering dimintai oleh Ibu dan saudara tirinya mengantar beberapa bahan ke vendor dekorasi. Ia tidak tahu-menahu tentang keputusan teknis, tentang koordinasi yang kacau, tentang anggaran yang membengkak. Tetapi saat kegagalan itu meledak, seseorang harus disalahkan. Dan orang itu adalah dirinya.“Kau pembawa sial!” Dira menudingnya dengan mata merah. “Kalau bukan karena kau salah mengantar bahan itu—”“Aku tidak terlambat .…” suara

  • Nona, Tuan Hanya Ingin Menikah Denganmu!   Bab 268. Acara Bergengsi

    Pagi itu mereka sarapan di lounge eksklusif lantai teratas hotel, khusus tamu President Suite. Restorannya terpisah dari area umum, dengan dinding kaca tinggi yang memperlihatkan garis pantai Mareva yang tenang. Udara pagi terasa bersih, dan aroma kopi premium mengambang tipis di ruangan.Di salah satu meja dekat jendela, Kakek dan Nenek Kevin sudah duduk lebih dulu.“Nenek cerah sekali hari ini,” sapa Vanya begitu mendekat.Nenek itu tersenyum lebar, matanya yang sudah dipenuhi garis usia tetap bersinar hangat. “Ya tentu dong!” jawabnya ringan. “Liburan singkat seperti ini membuatku merasa sepuluh tahun lebih muda.”Kakek Kevin terkekeh pelan, melipat koran paginya. “Jangan percaya. Dia bilang begitu setiap kali dapat kamar bagus.”Nenek memukul ringan lengan suaminya. Lalu menoleh lagi pada Vanya. “Kata kakekmu, kau dan Kevin tidak ikut menghadiri acara pernikahannya si Arven Wicaksana minggu depan?”Vanya mengangguk lembut. “Iya, Nek. Jadwal kami cukup padat.”Vanya lalu tersenyum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status