Se connecterSebagai anak haram keluarga Dirgantara, Vanya selalu dipandang rendah dan menjadi pelampiasan amarah ibu serta kakak-kakak tirinya. Hingga suatu hari, ia dipaksa menghadiri pesta pemilihan calon istri Kevin Wicaksana—pewaris keluarga Wicaksana yang terkenal kejam dan penuh rumor gelap. Vanya yakin dirinya tak akan terpilih, namun— “Vanya Dirgantara, aku hanya ingin menikah denganmu.” Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa pria paling kejam di ibu kota justru berlutut dan memohon untuk menikahinya!?
Voir plusDira masih sulit mempercayai kenyataan bahwa dirinya benar-benar kalah telak dari Vanya.Bukan hanya kalah, dia bahkan sudah berada di titik di mana tidak tahu lagi bagaimana cara membalikkan keadaan.“Vanya benar-benar kurang ajar!” geramnya sambil menghantam setir mobil. Entah sudah berapa jam dia berada di parkiran ini, dia benar-benar dibuat semakin kesal oleh keadaan.Bahkan, semakin hari, semakin banyak orang yang menyerangnya. Umpatan, cibiran, hingga pesan-pesan misterius terus berdatangan tanpa henti. Bahkan sejak tadi ada satu nomor asing yang berkali-kali menghubunginya.Dira tidak tahu apakah semua ini ada hubungannya dengan Vanya atau tidak. Yang jelas, semuanya membuat kepalanya terasa ingin meledak. Apalagi ibunya masih belum bisa memberikan dukungan apa pun. Pada akhirnya rasa penasaran mengalahkan segalanya.Dira menekan nomor itu dan menelepon balik. Nomor yang mengirim fotonya dengan sangat tragis! Sayangnya, panggilan itu tidak dijawab.“Brengsek!”Dengan kesal, di
Sementara itu, di ruangan Luna.Selagi Vanya menunggu, dia kembali berpikir tentang kejadian yang sangat marak di internet, tentang perseteruan keluarga besar yang melibatkan dirinya.Beberapa hal dipikirkan memang agak janggal. Beberapa kali dia menghubungkan semuanya dan mencoba mengingat detail kecil yang mungkin dilewatkan, hingga akhirnya pikirannya mengarah pada sesuatu—“Vanya, maaf sudah membuatmu menunggu lama.” Suara Luna membuat pikiran Vanya terpecah.“Aku sudah membawakan semua yang kau butuhkan kemarin.” Luna menyambung kalimatnya lalu meletakkan beberapa file di atas meja, tepat di depan Vanya.Vanya mengangguk dengan senyumannya. “Terima kasih Kak Luna.”“Itu semua hasil data terakhir, kau bisa melihatnya lagi. Kalau memang ada yang kurang paham bisa dikomunikasikan lagi, sekalian nanti siang aku akan mengajakmu ke ruang penelitian untuk melihat beberapa hasil yang kemarin kita diskusikan. Aku harap hasilnya bisa langsung sesuai.”Setelah mengatakan hal itu Luna langsu
Vanya benar-benar terkejut.Ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang tadi menyeretnya ke tangga darurat itu kini … berlutut di depannya.Tubuh wanita itu sedikit membungkuk dengan bahu yang bergetar pelan.“Vanya … tolong aku ….” suara itu terdengar sangat miris, nyaris putus asa.Vanya membeku di tempatnya. Ia bahkan sempat berpikir apakah pendengarannya sedang salah.“Aku … benar-benar menyesal,” lanjut wanita itu dengan napas yang tidak stabil. “Aku menyesal sudah memperlakukanmu seperti itu selama ini.”Tangga darurat itu mendadak terasa sangat sunyi.Vanya masih tidak bergerak. Pemandangan di depannya terasa begitu janggal sampai sulit dipercaya.“Vanya .…” suara itu kembali memanggilnya, lebih pelan, hampir memohon. “Aku tahu … kau masih punya hati nurani. Jadi … aku mohon … bantulah aku kali ini. Aku akan mengingat bantuanmu seumur hidupku.”Vanya menarik napas dalam-dalam.Pikirannya berputar cepat, mencoba mencerna situasi yang terasa tidak masuk akal ini.Di depannya
Pagi yang cukup cerah, seolah-olah tidak ada masalah besar yang sedang terjadi, baik Vanya atau Kevin tidak membahas hal yang sebelumnya terjadi.“Aku akan langsung ke Evara hari ini dan mungkin siang nanti akan ke tempat Bibi Barbara,” ucap Vanya pada Kevin saat mereka sedang menikmati sarapan pagi ini.Kevin hanya mengangguk singkat. Lalu, ponselnya berdering, Vanya melihat sekilas, lagi-lagi Lesmana Dirgantara tertulis di sana. Namun, kali ini Kevin mengabaikannya.“Kenapa tidak dijawab?” tanya Vanya.“AKu sedang menikmati sarapan dengan istriku, dan juga ini masih belum jam kerja, kan?” Kevin melanjutkan sarapannya, lalu membuat ponselnya dalam keadaan diam.Vanya tidak bertanya apapun, lagipula dia sudah tidak terlalu peduli dengan Keluarga Dirgantara dan apa yang akan menimpa keluarga ini setelah kejadian besar ini. Mungkin … hatinya sudah mati rasa.Selesai sarapan Vanya mengantar Kevin ke depan rumah.“Nanti aku sudah menyuruh sopir untuk mengantar jemputmu. Kau hubungi aku ka
Restoran itu mendadak terasa lebih sempit.Suara sendok dan piring masih terdengar, tetapi bisik-bisik kecil mulai menyebar seperti riak di permukaan air. Vanya bisa merasakannya.Tatapan yang berasal dari kanan dan kiri terutama dari meja tim Evara dan juga meja teman-teman Dira. Hampir semua oran
Kevin masih memeluknya ketika Vanya akhirnya sedikit menjauh, menatap wajah pria itu dengan mata berbinar.“Bukankah kau bilang aku hanya sebentar di Mareva?” tanyanya pelan. “Aku hanya menyerahkan sampel saja. Besok aku juga sudah pulang ke Cavendra.”“Ah, apa kau tidak merindukanku?” Kevin berkata
Empat tahun lalu.Saat itu Vanya masih mengenakan seragam sekolah menengahnya. Ia masih berusia tujuh belas tahun, usia di mana seharusnya ia memikirkan ujian akhir dan cita-cita. Namun, hari itu menjadi akhir dari semuanya.Acara besar keluarga Dirgantara, sebuah pagelaran yang seharusnya menaikka
Pertanyaan barusan tak disangka mendapat jawaban dari Pablo.“Ada cara lain, Nyonya.”Vanya yang tadinya setengah melamun langsung menoleh. “Benarkah?”“Saya tahu Tuan pasti tidak akan setuju jika Nyonya tinggal di asrama. Memang ada asrama khusus untuk yang sudah berkeluarga, tetapi tetap saja tida






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus