LOGINBagi Binar Gendhis Rarasita, hidup itu sederhana— kuliah, nongkrong, dan sesekali bikin drama kecil biar nggak bosan. Sampai suatu hari, tanpa rasa malu, dia berdiri di depan seorang pria mapan yang usianya jauh diatasnya dan dengan percaya diri berkata, "Hai Om, aku calon istrimu!" Om yang dimaksud? Bukan sembarang om. Dialah Kais Arfan Zaydan, pria dingin berusia tiga puluh dua tahun, pemilik perusahaan besar sekaligus sahabat baik ayah Binar! Kais jelas menolak mentah-mentah ide gila itu. Baginya, Binar hanya gadis manja yang doyan cari perhatian. Tapi siapa sangka, keadaan justru membuat mereka terjebak dalam situasi yang memaksa Kais mempertimbangkan ulang kata-katanya. Antara perbedaan usia, ego, dan perang mulut yang tiada henti, Binar justru semakin yakin— dialah takdir Kais. Pertanyaannya, apakah Kais bisa bertahan dari gempuran rayuan absurd sekaligus manis seorang “calon istri” yang nekat ini?
View More“Saga, Jangan lari-lari! Nanti jatuh!”Aku berteriak sambil mengejar Sagara yang berlari menuju bibir pantai. Anak itu kalau di suruh lari kencang sekali!“Ibu, Saga mau main pasir,” jawabnya tanpa menoleh ke belakang. Di umur lima tahun, Sagara tumbuh menjadi anak yang sangat tampan. Wajahnya duplikat Mas Kais, hehe… sekarang panggilanku berubah. Rambutnya hitam lebat, mata tajam, hidung mancung, kulit putih bersih. Sampai sifatnya pun menuruni Ayahnya, cuek dengan orang tak dikenal dan hangat dengan keluarga.“Saga, tunggu Ibu!” Nafasku sudah mulai ngos-ngosan mengejarnya. Mas Kais yang membawa tas piknik terkekeh di belakang. Jalannya santai banget—selalu begitu kalau aku sedang panik mengejar putranya. “Sayang, kamu kurang olahraga. Masak lari kalah sama Saga.”“Mas!” protesku. “Kamu aja yang ngejar dia. Aku capek banget!”Sebelum mengejar Sagara, Mas Kais menaruh tas piknik terlebih dulu, memintaku agar menatanya.“Maaf merepotkan Ibu,” ujarnya sambil mengecup pipiku. “Hmmm,”
“Aduh, sakit banget, Mas!”Aku berteriak kesakitan saat kontraksi datang kembali. Perutku rasanya kencang sekali kayak mau pecah.“Sabar, Sayang.”Om Kais memelukku sambil mengusap keringat di pelipisku. Menunggu perawat datang membawa brankar.Tak lama kemudian, Mama Maya datang dengan langkah lebar. Beliau masih memakai scrub hijau—sepertinya baru selesai operasi caesar pasiennya.“Ayo dipindahkan ke brankar, Kais,” ujar Mama Maya saat dua orang perawat datang. “Pelan-pelan saja.”Om Kais pun mengangguk. Lalu turun dari mobil sambil menggendongku. Pelan, takut jika aku terjatuh.“Ssshhh, sakit banget, Ma.” Aku menarik tangan Mama begitu berbaring di atas brankar.“Tahan ya, Sayang,” ujar Mama Maya.Perawat langsung mendorong brankar masuk ke dalam ruang IGD. Tangan Om Kais tak lepas dari tanganku. Sesampainya di ruang IGD, Mama Maya langsung memakai sarung tangan steril, mulai memeriksa pembukaan. “Sudah pembukaan tiga. Kontraksi teratur tiap lima menit,” ujar Mama Maya. Lalu mena
Matahari pagi hangat menyentuh kulitku. Kini aku tengah duduk di kursi taman dengan bantal penyangga punggung—dibeli Om Kais buat aku karena perut udah besar banget. Dipangkuanku ada mangkuk besar berisi salad buah. Campuran semangka, melon, anggur, stroberi dan kiwi dengan yogurt. Camilan kesukaanku semenjak hamil. “Sayang, kamu mau pot bunga yang warna apa? Pink atau biru? Om Kais berteriak dari ujung taman sambil mengangkat kedua pot yang baru datang.“Yang pink aja, Bunny. Biar kelihatan lucu tamannya.”Ceritanya tuh aku ingin membuat taman bunga. Aku sendiri yang berniat menata ulang. Tapi Om Kais gak kasih ijin. Jadilah suamiku yang turun tangan sendiri, dibantu tukang kebun saat mengangkat pot besar dan tanaman bonsai yang baru dikirim oleh toko bunga.“Pak Kais, pot mawar merahnya di taruh di sini?” tanya salah satu tukang kebun.“Iya, disana aja. Biar kelihatan dari sini,” jawab Om Kais sambil menunjuk area dekat gazebo.Aku senyum-senyum sendiri melihat Om Kais sibuk kesa
"Mbak Maya, ini box bayinya ditaruh di sini aja atau di sebelah jendela?”"Di sebelah jendela saja, Dek. Biar kena sinar matahari.”Aku duduk di sofa yang kelak akan aku gunakan untuk menyusvi Dedek Bayi, sambil melahap stroberi dan ceri. Perutku sudah membesar sekali—hingga bergerak ke sana kemari pun terasa sulit.Di depanku, dua mama—Mama Maya dan Mama Retha—sedang heboh banget mengatur kamar bayi. Box bayi dipindah sana-sini, boneka ditata ulang berkali-kali, lampu tidur dicoba berbagai posisi."Dek, menurutmu warna curtain ini cocok nggak sama wallpaper?" Mama Maya mengangkat curtain warna cream."Cocok, Mbak! Tapi kayaknya lebih bagus yang ada motif bintang-bintang deh. Biar lebih playful." Mama Retha membuka katalog curtain di ponselnya.Aku mengunyah ceri sambil geleng-geleng kepala. Dua mama ini lebih excited dari aku sendiri yang mau melahirkan."Mama, aku boleh kasih masukan nggak?" tanyaku."Ngak boleh!" jawab mereka berdua kompak sambil nggak ngeliatin aku."Ih, Mama—" pr
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore