Home / Romansa / OBSESI Ternikmat / 3. Hadiah yang Anya Inginkan

Share

3. Hadiah yang Anya Inginkan

Author: CacaCici
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-19 01:58:10

"Apa kau tidak punya sopan santun, Hah?!" bentak Gillian dengan nada yang benar-benar murka.

Anya membeku di ambang pintu, matanya memanas ingin menangis akan tetapi ia tahan sebisa mungkin. Dadanya bergemuruh hebat dan hatinya teramat sakit. Dia ingin datang untuk mendapatkan perlindungan dari Gillian, tetapi sepertinya kehadirannya tak diharapkan.

"Gillian, sudahlah." Suara lembut seorang perempuan menyahut. Perempuan itu tak lain adalah Tamara Aryatama, sepupu Anya. Usianya sama dengan Gillian, 27 tahun.

Tamara menoleh sejenak pada Anya, senyum tipis sambil memberi isyarat supaya Anya masuk. "Masuk saja, Anya."

Anya segera masuk. Sekalipun hatinya sakit dibentak oleh Gillian, tetapi dia sangat membutuhkan bantuan Gillian untuk menolongnya dari jeratan Malik.

"Kak Gillian, aku mau bicara." Tanpa peduli pada Tamara yang duduk di sofa dan sedang minum teh, Anya langsung menghampiri Gillian ke meja kerja pria itu.

"Kau lihat aku sedang sibuk?" Nada Gillian begitu ketus, menatap kesal dan sinis pada Anya.

"Kali ini tolong dengarkan aku, Kak. A-aku barusan menerima perlakuan tidak baik. A-aku habis dilecehin sama orang--" Suara Anya bergetar dan serak pada akhir kalimat, nadanya seperti terjepit di tenggorokan—tertahan. Air matanya kembali jatuh saat mengingat apa yang Malik lakukan padanya.

"Kau dilecehkan?" Suara Gillian berubah rendah, tatapannya juga berubah lembut dan perhatian. "Siapa yang berani melecehkanmu?" ucapnya lagi, terlihat khawatir.

Anya menganggukkan kepala. Air matanya jatuh lagi. "A-aku hampir diperkosa sama Kak M--"

"Ahahaha." Ucapan Anya sontak berhenti karena tiba-tiba saja Tamara tertawa pelan. Namun, tawa itu terkesan merendahkan. "Anya Sayang, aku tahu kamu sangat ingin mendapatkan perhatian Gillian. Tapi tidak begini caranya, Anya. Ini namanya kamu sedang merendahkan dirimu sendiri loh, Dek."

"A-aku tidak sedang mencari perhatian!" pekik Anya, menatap kesal campur marah pada Tamara, "kalau memang kamu tidak punya rasa simpati padaku, mending kamu diam, Kak! Jangan menuduhku yang bukan-bukan!" tambah Anya, menatap tajam pada Tamara.

Selama ini Anya masih menahan diri karena masih menghormati sepupunya yang lebih tua darinya. Tapi hari ini, Anya tidak bisa lagi. Dia muak dengan Tamara yang sok anggun dan sok baik padanya.

"Anya, sikapmu yang begini terlihat problematik tahu." Tamara berkata rendah, "semua orang tahu kamu kekasih Gillian. Jadi mana mungkin ada yang berani melecehkanmu. Atau memang kamu yang kepengen diperkosa yah? Kamu berharap diperkosa seseorang?"

"Jaga mulutmu!" teriak Anya marah. Dada Anya panas, sakit hati mendengar ucapan Tamara. Tega sekali Tamara mengatakan itu padanya!

Brak'

Gillian memukul meja dengan kuat setelah itu melayangkan tatapan tajam dan membunuh pada Anya.

"Kau yang jaga mulutmu!" bentak Gillian, "kalau kau ingin mencari perhatianku, selesaikan pendidikanmu dengan benar. Dapatkan nilai yang bagus, pasti aku akan mengapresiasimu. Bukan malah mengarang cerita sampah seperti ini!"

Pundak Anya seketika melorot dan jatuh. Sejenak dia diam dengan perasaan sakit yang mencabik habis hatinya. Ternyata kejadian buruk yang Anya alami ini hanya cerita sampah bagi kekasihnya. Wah!

"Hari ini aku wisuda." Anya mendongak, menatap Gillian dengan mata berkaca-kaca tetapi sorot yang kosong, "aku cumlaude," tambahnya.

"Kau wisuda? Cumlaude?" Gillian mengerutkan kening, nadanya pelan dan terkesan kaget. Dia menatap penampilan Anya dari atas hingga bawah. Lalu dia menoleh ke pergelangan tangannya sendiri untuk melihat jam. Ternyata sudah jam setengah lima, berarti acaranya sudah selesai, "kenapa kau tidak memberitahuku, Anya?"

Anya senyum tipis lalu tertawa kecil.

"Jangan drama! Jawab! Jawab kenapa kau tidak memberitahuku kalau hari ini kau ada acara wisuda?" Gillian berkata dingin, melayangkan tatapan tajam pada Anya.

"Bahkan sebelum aku daftar wisuda, sebulan lalu, aku sudah bilang ke Kakak." Anya berkata lemah.

"Ya wajar lah. Gillian mungkin lupa, An. Orang kamu kasih tahunya sebulan lalu. Gillian itu banyak kesibukan, bukan hanya ngingatin jadwal wisuda kamu," sahut Tamara dari tempatnya.

"Ya, aku lupa karena aku sangat sibuk, An." Gillian membenarkan ucapan Tamara.

"Sebulan lalu itu pertama kalinya aku ngasih tahu Kakak. Pas aku mau beli baju kebaya untuk wisuda, aku kembali ngasih tahu Kakak. Itu kedua. Saat aku ambil toga wisuda ke kampus, aku kembali ngasih tahu Kakak. Itu ketiga. Saat aku ke kampus untuk gladi bersih, aku kembali ngasih tahu. Itu ke empat. Malamnya aku chat Kakak kalau aku sudah titip undangan wisuda dariku ke satpam rumah Kakak, soalnya Kakak nggak ada di rumah dan aku buru-buru. Jam dua tadi, saat aku mau berangkat ke tempat make up, aku kirim pesan ke Kakak, lagi-lagi mau bilang kalau hari ini aku bakalan Wisuda. Pas aku sudah di gedung aula kampus, dan terakhir kalinya aku kirim pesan ke Kakak supaya Kakak datang," ucap Anya panjang lebar, menatap sendu pada Gillian.

Gillian tidak ingat bukan karena sibuk, tetapi pada dasarnya Anya tidak terlalu penting untuk pria ini.

"Aku minta maaf. Aku lupa karena sibuk," ucap Gillian dengan nada pelan.

Anya menganggukkan kepala secara pelan. "Aku nggak mepermasalahkan."

"Bagus. Kau memang sudah dewasa dan pengertian. Jika begini Kakak akan semakin sayang padamu," ucap Gillian sambil senyum. Dia berdiri lalu mengusap pucuk kepala Anya penuh kasih sayang. "Jadi kau ingin hadiah apa sebagai hadiah wisudamu?" tanyanya kemudian.

Anya senyum tipis, sedikit lega karena sepertinya dia masih ada kesempatan untuk selamat dari Malik. Dengan ragu, Anya mengatakan permintaannya. Ini permintaan mendesak.

"Aku ingin Kakak menikahiku."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • OBSESI Ternikmat   7. Ancaman Hukuman

    "Kau … kenapa ada aroma pria yang menempel di rambutmu, Anya?!" marah Gillian, membuat Anya berhenti membuka hadiah dan menoleh padanya. "Jawab!" bentak Gillian. Anya tak mengatakan apa-apa, tetapi dia mengendus tubuhnya sendiri. 'Aroma Kak Malik.' batin Anya. "Aku habis ketemu dengan Ka--" Anya berniat menjawab dengan jujur karena dia ingin melihat seperti apa respon Gillian jika pria ini tahu dia habis berkencan dengan Malik. Namun, ucapan Anya tersebut tertahan karena tiba-tiba saja seorang pelayan masuk begitu saja ke kamar Anya. "Tu-Tuan … eh, Nona Anya, maafkan saya karena langsung masuk. Itu ... saya ke sini mencari Tuan Gillian. Nona Tamara …-" "Ada apa dengan Tamara?!" ucap Gillian cepat, terlihat panik dan khawatir. Dia segera berdiri dan beranjak keluar dari kamar Anya. Padahal maid belum mengatakan jelas, tetapi Gillian sudah sepanik itu. "Ma-maafkan saya, Nona." Pelayan itu berkata takut-takut pada Anya, merasa bersalah karena membuat Gillian pergi.

  • OBSESI Ternikmat   6. Aroma Pria di Tubuh Anya

    Gluk' Anya meneguk saliva secara kasar. Bulu kuduknya kembali meremang dan tubuhnnya sudah panas dingin. Anya langsung memasang senyum kaku, berusaha terlihat riang sekalipun takut pada perkataan Malik barusan. 'Aku belum menikah dengannya tetapi dia sudah seenaknya memanggilku istri dan mengubah nama belakangku. Gila! Kak Malik gila dan aku benci berurusan dengan orang yang ada gila-gilanya. Demi Tuhan, semoga istrimu kelak perempuan yang ada gila-gilanya juga biar kalian sejenis. Trus kamu sakit kepala sama darah tinggi setiap hari karena kelakuan istrimu yang rada itu.' batin Anya, masih senyum fake pada Malik. Namun, mendadak dia mengerjap berulang-ulang dan ekspresinya refleks berubah tegang saat ingat kalau dialah perempuan yang ingin Malik nikahi. Seketika itu juga dia menarik doa dalam batinnya tersebut. 'Maksudku … bukan aku, Tuhan. Aku masih berusaha agar tidak terjerat sama Kak Malik. Jadi bukan aku istrinya. I-iya kan, Tuhan? Bu-bukan aku kan istri Kak Malik di masa

  • OBSESI Ternikmat   5. Dibawa Malik

    "Oh yah?" Gillian seketika senyum sumringah saat mendengar kalimat terakhir Tamara. Benarkah Anya cinta mati padanya? "Ya." Tamara menganggukkan kepala ragu. Dalam hati, dia kesal karena Gillian begitu senang saat dia berkata Anya cinta mati pada Gillian. "Anak itu cuma cari perhatian sama kamu." "Kau benar Tamara. Dia hanya mencari perhatian." Gillian senyum miring. Anya cinta mati padanya itu adalah kabar yang menggembirakan, "salahku juga. Bisa-bisanya aku lupa datang ke acara wisudanya." "Kamu kan sibuk kerja, Gillian," jawab Tamara, "sebagai kekasihmu, sudah seharusnya Anya mengerti sama keadaan kamu. Jika dia mempermasalahkan ini, berarti dia kurang dewasa dan tidak bijak." "Tapi aku harus memberikan hadiah padanya agar dia memaafkanku dan kembali padaku." Gillian berkata pelan, "menurutmu hadiah apa yang cocok untuk gadis nakal seperti Anya?" "Tas saja, Lian." Tamara menjawab acuh tak acuh. "Tadi Anya bilang dia tidak suka tas, Tamara," ucap Gillian rendah, mendongak pa

  • OBSESI Ternikmat   4. Lebih Baik Berakhir

    "Aku ingin Kakak menikahiku." "Apa?!" Wajah Gillian seketika berubah marah, "pernikahan bukan area bermain, Anya! Kau masih sangat muda, tubuhmu saja masih seperti anak kecil!" "Aku tahu, aku juga nggak mau nikah muda. Impianku masih banyak yang belum tercapai." Anya berkata frustasi, "tapi aku nggak punya pilihan. Seseorang sudah melamarku dan Kakek sudah menerima lamaran itu. Kalau Kakak nggak …-" "Gillian, menurutmu tas ini bagus tidak?" sela Tamara, tiba-tiba menghampiri Gillian lalu memperlihatkan gambar sebuah tas di tablet pada Gilian. "Menurutmu cocok nggak untukku?" Gillian dengan cepat mengubah atensinya, langsung menatap gambar tas di tablet miliknya. Sebenarnya itu tablet kerjanya. Hanya saja, karena Tamara datang berkunjung, dia meminjamkan tablet itu supaya Tamara tidak bosan di sini. "Bagus. Tasnya elegen, cocok denganmu yang juga elegan dan anggun," ucap Gillian lembut sambil senyum manis pada Tamara. "Kak, aku sedang bicara denganmu," ucap Anya pelan, me

  • OBSESI Ternikmat   3. Hadiah yang Anya Inginkan

    "Apa kau tidak punya sopan santun, Hah?!" bentak Gillian dengan nada yang benar-benar murka. Anya membeku di ambang pintu, matanya memanas ingin menangis akan tetapi ia tahan sebisa mungkin. Dadanya bergemuruh hebat dan hatinya teramat sakit. Dia ingin datang untuk mendapatkan perlindungan dari Gillian, tetapi sepertinya kehadirannya tak diharapkan. "Gillian, sudahlah." Suara lembut seorang perempuan menyahut. Perempuan itu tak lain adalah Tamara Aryatama, sepupu Anya. Usianya sama dengan Gillian, 27 tahun. Tamara menoleh sejenak pada Anya, senyum tipis sambil memberi isyarat supaya Anya masuk. "Masuk saja, Anya." Anya segera masuk. Sekalipun hatinya sakit dibentak oleh Gillian, tetapi dia sangat membutuhkan bantuan Gillian untuk menolongnya dari jeratan Malik. "Kak Gillian, aku mau bicara." Tanpa peduli pada Tamara yang duduk di sofa dan sedang minum teh, Anya langsung menghampiri Gillian ke meja kerja pria itu. "Kau lihat aku sedang sibuk?" Nada Gillian begitu ketus, mena

  • OBSESI Ternikmat   2. Meminta Bantuan pada Kekasih

    Cup' Anya berniat menolak akan tetapi bibir Malik lebih dulu menempel di atas bibirnya. Kali ini, Anya membiarkan. Walau dia benci! Ciuman tersebut berlangsung cukup lama, Anya benar-benar mual dan jijik. Akan tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya, dia takut menyinggung pria ini lalu Malik akan melakukan hal yang lebih gila padanya. "Hah hah hah …." Anya terengah-engah setelah Malik melepas ciuman tersebut. Tangannya naik untuk mengusap bibirnya, sungguh dia benci sentuhan pria ini. Namun, karena Malik terus menatapnya secara tajam, Anya mengurungkan niat. "Cih." Malik berdecih pelan, mengulurkan tangan untuk mengusap bibir Anya—menyekat sisa pergulatan mereka dari sana, "sekarang kau sangat penurut, Heh? Di mana Anya Shivani Edelsteen yang suka melawanku, Humm?" Anya meraih bantal lalu menutup tubuhnya dengan bantal tersebut. "Namaku Shivani Aryatama, bukan Edelsteen." "Kembali ingin melawanku, Humm?" gertak Malik. Anya refleks menggeleng lalu menunduk penuh ketakutan.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status