Home / Romansa / OBSESI Ternikmat / 2. Meminta Bantuan pada Kekasih

Share

2. Meminta Bantuan pada Kekasih

Author: CacaCici
last update publish date: 2026-09-19 01:56:40

Cup'

Anya berniat menolak akan tetapi bibir Malik lebih dulu menempel di atas bibirnya. Kali ini, Anya membiarkan. Walau dia benci!

Ciuman tersebut berlangsung cukup lama, Anya benar-benar mual dan jijik. Akan tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya, dia takut menyinggung pria ini lalu Malik akan melakukan hal yang lebih gila padanya.

"Hah hah hah …." Anya terengah-engah setelah Malik melepas ciuman tersebut. Tangannya naik untuk mengusap bibirnya, sungguh dia benci sentuhan pria ini. Namun, karena Malik terus menatapnya secara tajam, Anya mengurungkan niat.

"Cih." Malik berdecih pelan, mengulurkan tangan untuk mengusap bibir Anya—menyekat sisa pergulatan mereka dari sana, "sekarang kau sangat penurut, Heh? Di mana Anya Shivani Edelsteen yang suka melawanku, Humm?"

Anya meraih bantal lalu menutup tubuhnya dengan bantal tersebut. "Namaku Shivani Aryatama, bukan Edelsteen."

"Kembali ingin melawanku, Humm?" gertak Malik.

Anya refleks menggeleng lalu menunduk penuh ketakutan.

"Ma-maksudku kita belum menikah. Aku masih bagian dari keluarga Aryatama, Kak Malik." gumam Anya, menatap was-was pada Malik.

"Keluarga itu tidak pernah menganggapmu bagian dari mereka," bisik Malik rendah dan serak, dia menggigit pelan daun telinga Anya—membuat perempuan itu mengangkat pundak karna terdentak dan menunjukan ekspresi takut.

Malik sangat menikmati wajah takut Anya. Perempuan keras kepala ini akhirnya tunduk!

"Tapi aku …-" Malik kembali berbisik tepat di daun telinga Anya, "aku bukan hanya menganggapmu keluarga, kau bagian dari hidupku, Wifey," lanjutnya.

Anya meneguk saliva secara susah payah. Dia bahkan belum menikah dengan pria ini akan tetapi Malik sudah memanggilnya istri. Bukankah ini bukti jika Malik memang gila?!

Tiba-tiba saja Malik menurunkannya dari pangkuannya. Tanpa mengatakan apa-apa, Malik segera masuk ke dalam kamar mandi. Anya memanfaatkan itu untuk mengenakan kebayanya kembali. Dia bergegas dan terburu-buru, takut Malik keluar lalu kembali mengulang kejadian tadi.

Setelah mengenakan kebaya, Anya merapikan penampilannya kemudian bergegas ingin kabur. Namun, dia mengurungkan niat. Dia yakin sekali anak buah Malik ada di depan untuk berjaga, Anya jelas tidak bisa pergi. Masalahnya jika dia nekat kabur lalu tertangkap, Malik bisa menggila!

Pada akhirnya Anya memilih duduk di atas ranjang, menunggu Malik.

Tak lama, Malik keluar dari kamar mandi. Pria berwajah tampan dan penuh karisma tersebut menatapnya tajam. "Kau ingin kabur?!"

Anya menggeleng pelan. "A-aku tidak kabur. Aku menunggu Kak Malik untuk pulang bersama," gugup Anya. Dia sengaja bersikap baik dan penurut supaya Malik membebaskannya dan membiarkannya pulang.

"Humm." Malik berdehem rendah, segera memakai pakaiannya kembali.

Namun, setelah dia mengenakan pakaiannya, Malik tak langsung pergi. Pria berwajah dingin itu memilih duduk di sebuah sofa, menghadap pada Anya. Dia mengeluarkan kotak rokok.

Malik mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kotak hitam yang terkesan mewah tersebut. Namun, saat dia akan menyalakan rokok, Malik mendapati Anya memalingkan wajah. Perempuan itu juga mengibas tangan di depan wajah. Padahal rokok saja belum Malik nyalakan.

Pada akhirnya Malik menyimpan rokok tersebut—dia batal merokok. Dia bersedekap di dada, menatap lekat dan intens pada Anya yang masih memalingkan wajah.

"Biasanya mulutmu sangat keras. Tetapi sekarang-- kau bahkan tidak berani bersuara," gumam Malik rendah, masih menatap ke arah Anya.

Anya menoleh kaku pada Malik, dia mengerjap beberapa kali—cukup terkejut karena Malik tidak jadi merokok.

"Mau pulang?" tanya Malik, mendapatkan anggukan kepala dari Anya.

Malik segera bangkit dari sofa, "ayo," ucapnya kemudian.

Anya buru-buru turun dari ranjang dan segera menghampiri Malik. Sosok ini sangat ia takuti, tetapi untuk sekarang dia hanya bisa patuh agar selamat dari perbuatan gila Malik. Masalah menikah dengan Malik, Anya akan pikirkan nanti. Yang jelas dia tak mau terjebak dengan Malik. Pria ini sangat buruk!

Tadi Anya hanya pura-pura mau, supaya Malik bersedia melepasnya.

"Hadiahmu sudah kusiapkan," ucap Malik saat mereka kaluar dari kamar hotel.

Anya sejenak terpaku. Benar saja! Di depan kamar hotel ada 4 orang pria berseragam serba hitam yang berjaga—bodyguard Malik.

Anya mendongak pada Malik. "Hadiah apa, Kak?" tanyanya baik-baik. Posisinya masih belum selamat jadi dia harus tetap bersikap baik pada Malik.

"Hadiah wisuda-mu, Amora," ucap Malik, menatap intens pada Anya sambil menepuk pelan pucuk kepala perempuan itu.

Anya mengerjap beberapa kali. Hadiah dari Malik jelas bukan yang ia harapkan. Akan tetapi entah kenapa dia dia yakin hanya pria ini yang memberikannya hadiah. Keluarga dan kekasihnya mungkin tidak karena tak ada dari mereka yang datang ke acara wisuda Anya.

Hanya pria ini!

"Terima kasih, Kak," ucap Anya tiba-tiba sambil senyum tipis. Pria ini baru saja melakukan hal menjijikkan padanya. Namun … pria ini datang ke wisudanya dan jadi wali untuknya.

Walau pada akhirnya pria ini menculiknya setelah acara wisuda selesai.

Malik menaikkan sebelah alis, cukup terkesima dan kaget karena ini kali pertama Anya senyum padanya. Tumben!

"Humm." Malik berdehem rendah. Sekalipun heran, tetapi Malik menikmati senyuman Anya. Sekalipun dusta, Malik tetap akan memuja senyuman gadis kecilnya ini!

***

Saat ini Anya ada di kantor kekasihnya. Setelah Malik mengantarnya ke kediaman Aryatama, Anya langsung bergegas mengganti pakaian dan segera pergi ke kantor Gillian—pacarnya.

Sebenarnya perusahaan ini milik Malik, akan tetapi ayah Gillian dan Gillian sendiri berkerja di sini—punya posisi tinggi. Ayahnya CEO di sini dan Gillian sendiri seorang manager.

Bagi Anya tempat teramannya saat ini adalah Gilian, dan dia berniat mengadukan masalah pelecehan yang dia alami tadi pada kekasihnya.

Anya adalah gadis yatim piatu. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tragis saat usianya masih 5 tahun. Setelah orang tuanya meninggal, Anya tinggal dengan kakek neneknya. Namun, hanya neneknya yang sayang padanya karena kakeknya menganggapnya pembawa sial. Di usia 15 tahun, nenek Anya meninggal dunia. Setelah itu hidupnya benar-benar keras, membuat Anya tumbuh jadi gadis yang suka memberontak tetapi haus kasih sayang.

Di usianya yang ke-20 tahun, Gillian datang. Pria dari keluarga Wijaya yang bersahabat dengan keluarga Aryatama. Pria itu sering melindungi Anya dari emosi kakeknya serta tekanan keluarga Aryatama yang sangat berat. Namun, tiga bulan terakhir ini Gillian berubah. Semenjak kakak sepupu Anya pulang dari luar negeri, Gillian seperti tak punya waktu untuknya. Bahkan pria itu tak datang ke acara wisuda Anya.

Untuk sekarang Anya mengaggap ini sebagai kekeliruan sesaat. Kakak sepupu Anya adalah sahabat Gillian. Karena kakak sepupunya baru pulang, mungkin Gillian yang sudah merindukan sahabatnya itu masih butuh ruang untuk mengobati rindunya dengan cara menghabiskan banyak waktu bersama sahabatnya itu.

"Hah." Anya menghela napas cukup panjang, berjalan di lorong perusahaan—menuju lift, dengan langkah berat.

Setelah dalam lift, wajah Anya tampak murung. Dia mengingat kembali perlakuan tak senonoh Malik padanya. Itu menjijikkan! Anya berharap dia bisa bebas dari jeratan menakutkan Malik.

Ting'

Pintu lift terbuka dan Anya segera keluar.

Sebentar lagi dia akan sampai ke ruangan Gilian, tetapi hatinya malah semakin tak tenang. Anya takut di ruangan Gillian ada kakak sepupunya.

Sejujurnya, Anya sudah mulai muak melihat kedekatan Gillian dengan Kakak sepupunya. Dia mencoba maklum tetapi dia juga mulai lelah. Apalagi Gilian tidak hadir di acara wisudanya, sampai detik ini tak ada hadiah yang dikirim ataupun ucapan selamat untuk Anya. Hati Anya sangat gelisah dan sesak. Rasanya dia sudah putus asa dan ingin merelakan hubungan 2 tahunnya dengan Gillian. Namun, Anya sangat takut pada Malik. Apalagi hari ini Malik hampir merenggut mahkotanya. Jadi Anya sangat butuh perlindungan. Dia berharap Gillian bisa menolongnya.

Keluarganya? Kakeknya tahu Anya berpacaran dengan Gillian, tetapi diam-diam kakeknya sudah menerima lamaran dari Malik. Bahkan Anya dimaki-maki oleh kakeknya karena waktu itu Anya sempat menolak lamaran dari Malik di hadapan Malik sendiri.

Sungguh, saat ini harapan Anya hanya Gillian!

"Semoga kali ini Kak Gilian peduli padaku dan kembali menatapku, Tuhan! Ini harapan terakhir yang kupunya," cicit Anya pelan, bersama dengan air mata yang jatuh dari pelupuk. "Jika Kak Gillian menolak membantuku, maka … aku nggak berdosa kan kalau menyerahkan diriku pada Kak Malik?" gumam Anya, meremas bajunya di bagian dada sambil memejamkan mata—meresapi kekhawatiran di hatinya.

Anya melangkah cepat ketika pintu ruangan Gillian sudah terlihat. Karena sudah sangat tertekan dan takut—masih teringat dengan pelecehan yang dia alami, tanpa mengetok pintu, Anya langsung masuk ke ruangan Gillian.

"Kak Gillian, aku mau …-"

Brak'

Ucapan Anya terpotong oleh suara keras gebrakan meja. Tatapan murka seorang pria langsung melayang padanya.

"Apa kau tidak punya sopan santun, Hah?!" bentak Gillian dengan nada yang benar-benar murka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OBSESI Ternikmat   7. Ancaman Hukuman

    "Kau … kenapa ada aroma pria yang menempel di rambutmu, Anya?!" marah Gillian, membuat Anya berhenti membuka hadiah dan menoleh padanya. "Jawab!" bentak Gillian. Anya tak mengatakan apa-apa, tetapi dia mengendus tubuhnya sendiri. 'Aroma Kak Malik.' batin Anya. "Aku habis ketemu dengan Ka--" Anya berniat menjawab dengan jujur karena dia ingin melihat seperti apa respon Gillian jika pria ini tahu dia habis berkencan dengan Malik. Namun, ucapan Anya tersebut tertahan karena tiba-tiba saja seorang pelayan masuk begitu saja ke kamar Anya. "Tu-Tuan … eh, Nona Anya, maafkan saya karena langsung masuk. Itu ... saya ke sini mencari Tuan Gillian. Nona Tamara …-" "Ada apa dengan Tamara?!" ucap Gillian cepat, terlihat panik dan khawatir. Dia segera berdiri dan beranjak keluar dari kamar Anya. Padahal maid belum mengatakan jelas, tetapi Gillian sudah sepanik itu. "Ma-maafkan saya, Nona." Pelayan itu berkata takut-takut pada Anya, merasa bersalah karena membuat Gillian pergi.

  • OBSESI Ternikmat   6. Aroma Pria di Tubuh Anya

    Gluk' Anya meneguk saliva secara kasar. Bulu kuduknya kembali meremang dan tubuhnnya sudah panas dingin. Anya langsung memasang senyum kaku, berusaha terlihat riang sekalipun takut pada perkataan Malik barusan. 'Aku belum menikah dengannya tetapi dia sudah seenaknya memanggilku istri dan mengubah nama belakangku. Gila! Kak Malik gila dan aku benci berurusan dengan orang yang ada gila-gilanya. Demi Tuhan, semoga istrimu kelak perempuan yang ada gila-gilanya juga biar kalian sejenis. Trus kamu sakit kepala sama darah tinggi setiap hari karena kelakuan istrimu yang rada itu.' batin Anya, masih senyum fake pada Malik. Namun, mendadak dia mengerjap berulang-ulang dan ekspresinya refleks berubah tegang saat ingat kalau dialah perempuan yang ingin Malik nikahi. Seketika itu juga dia menarik doa dalam batinnya tersebut. 'Maksudku … bukan aku, Tuhan. Aku masih berusaha agar tidak terjerat sama Kak Malik. Jadi bukan aku istrinya. I-iya kan, Tuhan? Bu-bukan aku kan istri Kak Malik di masa

  • OBSESI Ternikmat   5. Dibawa Malik

    "Oh yah?" Gillian seketika senyum sumringah saat mendengar kalimat terakhir Tamara. Benarkah Anya cinta mati padanya? "Ya." Tamara menganggukkan kepala ragu. Dalam hati, dia kesal karena Gillian begitu senang saat dia berkata Anya cinta mati pada Gillian. "Anak itu cuma cari perhatian sama kamu." "Kau benar Tamara. Dia hanya mencari perhatian." Gillian senyum miring. Anya cinta mati padanya itu adalah kabar yang menggembirakan, "salahku juga. Bisa-bisanya aku lupa datang ke acara wisudanya." "Kamu kan sibuk kerja, Gillian," jawab Tamara, "sebagai kekasihmu, sudah seharusnya Anya mengerti sama keadaan kamu. Jika dia mempermasalahkan ini, berarti dia kurang dewasa dan tidak bijak." "Tapi aku harus memberikan hadiah padanya agar dia memaafkanku dan kembali padaku." Gillian berkata pelan, "menurutmu hadiah apa yang cocok untuk gadis nakal seperti Anya?" "Tas saja, Lian." Tamara menjawab acuh tak acuh. "Tadi Anya bilang dia tidak suka tas, Tamara," ucap Gillian rendah, mendongak pa

  • OBSESI Ternikmat   4. Lebih Baik Berakhir

    "Aku ingin Kakak menikahiku." "Apa?!" Wajah Gillian seketika berubah marah, "pernikahan bukan area bermain, Anya! Kau masih sangat muda, tubuhmu saja masih seperti anak kecil!" "Aku tahu, aku juga nggak mau nikah muda. Impianku masih banyak yang belum tercapai." Anya berkata frustasi, "tapi aku nggak punya pilihan. Seseorang sudah melamarku dan Kakek sudah menerima lamaran itu. Kalau Kakak nggak …-" "Gillian, menurutmu tas ini bagus tidak?" sela Tamara, tiba-tiba menghampiri Gillian lalu memperlihatkan gambar sebuah tas di tablet pada Gilian. "Menurutmu cocok nggak untukku?" Gillian dengan cepat mengubah atensinya, langsung menatap gambar tas di tablet miliknya. Sebenarnya itu tablet kerjanya. Hanya saja, karena Tamara datang berkunjung, dia meminjamkan tablet itu supaya Tamara tidak bosan di sini. "Bagus. Tasnya elegen, cocok denganmu yang juga elegan dan anggun," ucap Gillian lembut sambil senyum manis pada Tamara. "Kak, aku sedang bicara denganmu," ucap Anya pelan, me

  • OBSESI Ternikmat   3. Hadiah yang Anya Inginkan

    "Apa kau tidak punya sopan santun, Hah?!" bentak Gillian dengan nada yang benar-benar murka. Anya membeku di ambang pintu, matanya memanas ingin menangis akan tetapi ia tahan sebisa mungkin. Dadanya bergemuruh hebat dan hatinya teramat sakit. Dia ingin datang untuk mendapatkan perlindungan dari Gillian, tetapi sepertinya kehadirannya tak diharapkan. "Gillian, sudahlah." Suara lembut seorang perempuan menyahut. Perempuan itu tak lain adalah Tamara Aryatama, sepupu Anya. Usianya sama dengan Gillian, 27 tahun. Tamara menoleh sejenak pada Anya, senyum tipis sambil memberi isyarat supaya Anya masuk. "Masuk saja, Anya." Anya segera masuk. Sekalipun hatinya sakit dibentak oleh Gillian, tetapi dia sangat membutuhkan bantuan Gillian untuk menolongnya dari jeratan Malik. "Kak Gillian, aku mau bicara." Tanpa peduli pada Tamara yang duduk di sofa dan sedang minum teh, Anya langsung menghampiri Gillian ke meja kerja pria itu. "Kau lihat aku sedang sibuk?" Nada Gillian begitu ketus, mena

  • OBSESI Ternikmat   2. Meminta Bantuan pada Kekasih

    Cup' Anya berniat menolak akan tetapi bibir Malik lebih dulu menempel di atas bibirnya. Kali ini, Anya membiarkan. Walau dia benci! Ciuman tersebut berlangsung cukup lama, Anya benar-benar mual dan jijik. Akan tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya, dia takut menyinggung pria ini lalu Malik akan melakukan hal yang lebih gila padanya. "Hah hah hah …." Anya terengah-engah setelah Malik melepas ciuman tersebut. Tangannya naik untuk mengusap bibirnya, sungguh dia benci sentuhan pria ini. Namun, karena Malik terus menatapnya secara tajam, Anya mengurungkan niat. "Cih." Malik berdecih pelan, mengulurkan tangan untuk mengusap bibir Anya—menyekat sisa pergulatan mereka dari sana, "sekarang kau sangat penurut, Heh? Di mana Anya Shivani Edelsteen yang suka melawanku, Humm?" Anya meraih bantal lalu menutup tubuhnya dengan bantal tersebut. "Namaku Shivani Aryatama, bukan Edelsteen." "Kembali ingin melawanku, Humm?" gertak Malik. Anya refleks menggeleng lalu menunduk penuh ketakutan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status