LOGINBagi Alya, Pak Aris adalah definisi dosen paling tidak punya perasaan di kampus. Sudah dingin, kaku, muka tembok, dan tidak segan memberi nilai E hanya karena keterlambatan lima menit. Alya bersumpah akan membenci pria itu seumur hidupnya. Namun, bagaimana jadinya jika saat pulang ke rumah, pria bertopeng "dosen nyebelin" itu justru duduk santai di ruang tamu dan dikenalkan sebagai calon suaminya? "Kamu terlambat lima belas menit di kelas saya, tapi di kehidupan saya, kamu datang tepat waktu." Di kampus mereka berpura-pura saling asing, namun di rumah mereka terikat pernikahan rahasia. Mampukah Alya bertahan hidup dalam satu atap bersama dosen killer yang ternyata punya sisi tersembunyi yang sangat menyebalkan sekaligus bikin baper?
View MorePagi ini, semesta sepertinya sedang bersekongkol untuk menghancurkan kewarasan Alya Natasya.
Pertama, alarm ponselnya mati karena lupa ia-cas semalam. Kedua, ban motor matic kesayangannya mendadak bocor saat ia baru keluar dari kompleks perumahan. Dan ketiga—yang menjadi puncak dari segala kesialan hari ini—gerbang kampus Fakultas Hukum ditutup tepat di depan hidungnya, menyisakan celah sempit yang hanya bisa dilewati oleh kucing kelaparan. "Pak! Tolong buka dikit aja, Pak Satpam! Saya cuma telat lima menit!" mohon Alya dengan wajah melas, menempelkan kedua telapak tangan di balik jeruji besi gerbang. Pak Satpam bergeming, menggeleng pelan sambil menunjuk papan pengumuman di samping pos. "Maaf, Neng Alya. Peraturan baru dari Dekanat, gerbang dikunci tepat pukul delapan. Kalau telat, silakan urus izin ke dosen pengampu mata kuliah masing-masing." Alya mendengus pasrah. Sial banget! Kalau tahu begini, tadi ia tidak usah repot-repot berdandan rapi demi mata kuliah paling mengerikan pagi ini: Hukum Perdata. Dan bicara soal Hukum Perdata, dosen pengampunya adalah sosok paling dihindari seantero fakultas. Aris Pratama, S.H., M.H. Pria berusia 27 tahun, berstatus sebagai dosen termuda sekaligus paling kaku di kampus. Aris memiliki ciri khas: kacamata minus berbingkai hitam yang bertengger di pangkal hidung mancungnya, kemeja rapi berdasi, serta ekspresi wajah sedingin es batu yang nyaris tidak pernah tersenyum pada mahasiswa. Konon, mahasiswa yang terkena skakmat oleh Aris di kelas dijamin bakal trauma seumur hidup. Dengan langkah gontai dan perasaan cemas, Alya berjalan menuju ruang kuliah. Suasana di koridor lantai dua sudah sepi. Pintu kelas 304 tertutup rapat, namun suara bariton yang tegas dan berat terdengar jelas sampai ke luar. Alya menarik napas dalam-dalam. Berusaha berjalan mengendap-endap dari pintu belakang agar kehadirannya tidak disadari. Satu langkah... dua langkah... kursi kosong di pojok tinggal sedikit lagi... "Saudari Alya Natasya." Langkah Alya terhenti seketika. Tubuhnya menegang seperti patung pancoran. Dua puluh lima pasang mata mahasiswa di dalam kelas langsung menoleh serempak ke arahnya. Di depan sana, Aris menghentikan penjelasannya di dekat papan tulis. Pria itu perlahan membalikkan badan, membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk, lalu menatap Alya dari atas sampai bawah melalui lensa beningnya dengan tatapan yang mampu membekukan darah. "Jam berapa sekarang, Alya?" tanya Aris datar, tanpa nada ramah sedikit pun. Alya menyengir kaku, memasang senyum paling manis yang ia punya. "Hehe... jam delapan lewat lima belas menit, Pak. Maaf banget, tadi ban motor saya bocor di jalan, terus—" "Saya tidak menanyakan alasan atau kronologi kejadian hidup kamu," potong Aris dingin, memotong penjelasan Alya tanpa ampun. "Di silabus kelas saya, batas toleransi keterlambatan adalah sepuluh menit. Kamu terlambat lima belas menit." "Tapi cuma beda lima menit, Pak! Kan nanggung banget..." protes Alya kecewa, mulai kesal karena harga dirinya dipertaruhkan di depan satu kelas. Aris melangkah pelan mendekati meja dosen, melipat kedua tangannya di dada. "Lima menit di dalam ruang sidang atau di dunia hukum bisa menentukan nasib seseorang bebas atau mendekam di penjara, Alya. Disiplin dimulai dari hal kecil." Alya mengepalkan kedua tangannya di samping paha. Dosen gila! Sok banget! Mentang-mentang ganteng, hobi banget nyari-nyari kesalahan mahasiswi! "Jadi, silakan keluar dari kelas saya," lanjut Aris tegas. "Kamu tidak diperbolehkan mengikuti perkuliahan saya hari ini." "Tapi Pak—" "Keluar, atau nilai akhir semester mata kuliah ini saya pastikan berbuah huruf E sekarang juga?" Ancaman itu telak menghantam ulu hati Alya. Dengan wajah memerah karena malu, kesal, dan harga diri yang diinjak-injak, Alya mendengus keras. Brak! Alya sengaja menutup pintu kelas sedikit keras sebagai bentuk protes, lalu berjalan pergi dengan hati yang membara. Awas saja kau, Pak Aris Muka Tembok! Suatu saat nanti bakal kupermalukan juga kamu! Sore harinya, kekesalan Alya di kampus belum juga luntur. Ia merebahkan diri di atas sofa ruang tamu rumahnya, melampiaskan amarah dengan memukuli bantal sofa berulang kali. "Pokoknya Alya benci banget sama Pak Aris! Dosen paling nyebelin, kaku, nggak punya hati, sok paling benar se-Indonesia!" cerocos Alya pada mamanya yang baru saja datang membawa nampan berisi teh manis hangat. Mamanya hanya tersenyum tipis, duduk di sofa seberang sambil menatap putrinya penuh arti. "Jangan terlalu sering mengucap benci, Ya. Nanti malah beralih jadi cinta, lho." "Hiiiy! Amit-amit jabang bayi, Ma! Mending Alya jomblo seumur hidup daripada harus berurusan sama cowok kulkas dua pintu kayak gitu!" sangkal Alya cepat-cepat bergidik ngeri. Tak lama berselang, bel rumah berbunyi nyaring. "Nah, itu tamu Papa sudah datang. Alya, tolong bukakan pintunya ya, Mama mau ke dapur sebentar," suruh Mamanya. Dengan muka cemberut dan masih mengenakan kaus rumahan kebesaran bergambar kucing malas, Alya berjalan malas ke arah pintu depan. Hari ini Papa memang bilang akan mengenalkan anak dari rekan bisnis lamanya untuk dijodohkan. Tapi Alya sama sekali tidak peduli—paling-paling pria pilihan Papanya itu tipikal pria membosankan. Klek. Alya membuka pintu lebar-lebar dengan senyum terpaksa yang terlihat kaku. "Selamat sore—" Kata-kata Alya tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, nyaris copot dari soketnya. Pria jangkung di hadapannya mengenakan kemeja kasual warna abu-abu tua, menenteng keranjang buah segar di tangan kiri, dan menatapnya tenang dari balik kacamata minus berbingkai hitam. Itu Aris. Dosen Hukum Perdatanya yang paling dibenci sedunia. "Kamu...?" bisik Alya syok luar biasa, menunjuk wajah Aris dengan jari yang bergetar. Aris menurunkan sedikit kacamatanya, menatap penampilan Alya dari kepala sampai kaki dengan tatapan menyelidik. "Etika mahasiswa kepada dosennya di luar kampus ternyata sama buruknya ya, Alya," ucap Aris santai dengan suara beratnya, lalu melangkah masuk melewati Alya begitu saja tanpa merasa bersalah. Sebelum Alya sempat protes, Papa Alya muncul dari ruang keluarga dan langsung merangkul pundak Aris dengan akrab. "Wah, Aris! Datang juga kamu. Nah, Alya, kenalkan... ini Aris. Dia anak om Rama sahabat Papa, sekaligus pria yang akan menjadi calon suami kamu mulai bulan depan." BUM! Dunia Alya mendadak runtuh seketika di sore hari yang cerah itu. "APAAA?! CALON SUAMI?!" jerit Alya histeris, menatap bergantian ke arah Papanya dan Aris. Aris berbalik perlahan, menatap Alya yang sedang dilanda keputusasaan tingkat dewa, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat misterius dan menyebalkan. "Senang bertemu denganmu di luar kampus, calon istri," bisik Aris pelan penuh kemenangan.Kata-kata Aris yang mengalun tegas nan lembut di dalam mobil yang gelap itu menyapu seluruh dinding pertahanan Alya. Sentuhan hangat jemari Aris di kedua pipinya membuat napas Alya tertahan, sementara degupan dadanya bergemuruh begitu kencang hingga ia takut Aris bisa mendengarnya. "Nadia itu masa lalu. Dan satu-satunya wanita yang statusnya sah menjadi istri saya saat ini... cuma kamu." Alya menelan ludah dengan susah payah. Manik mata Aris di balik remang lampu garasi menatapnya sangat lekat, tanpa ada sedikit pun keraguan atau kebohongan. "T-tapi... tadi di ruangan Mas Aris..." bisik Alya pelan, suaranya menciut canggung, "dia buatin Mas Aris kopi hitam tanpa gula. Katanya dia inget banget kebiasaan Mas Aris dulu..." Aris menghela napas pelan, mengulas senyum samar yang sangat tipis. Pria itu mengusap lembut pipi Alya dengan ibu jarinya sebelum perlahan menarik tangannya kembali. "Saya tidak meminum kopi itu, Alya," terang Aris tenang seraya meraih kembali kacamata minusnya d
Beberapa hari setelah kehebohan soal kotak bekal di taman kampus, suasana di Fakultas Hukum kembali diwarnai kasak-kusuk baru. Kali ini, topik pembicaraan bukan lagi mengenai mahasiswi yang terlambat atau skripsi yang ditolak, melainkan tentang kedatangan seorang dosen tamu baru di mata kuliah Hukum Internasional. Nadia Rahma, S.H., LL.M. Seorang wanita anggun berusia 26 tahun, lulusan S2 dari Inggris, yang tidak hanya berparas cantik menawan tetapi juga memiliki latar belakang keluarga terpandang. Namun, hal yang paling membuat seisi fakultas gempar adalah rumor bahwa Nadia merupakan mantan kekasih Aris sewaktu mereka masih menempuh studi S1 bersama. Alya yang sedang duduk di sudut perpustakaan bersama Maya dan Dira tidak sengaja mendengar bisik-bisik dari mahasiswa di meja sebelah. "Katanya Bu Nadia itu mantan terindahnya Pak Aris, lho. Dulu pas S1 mereka serasi banget, sama-sama pinter dan berprestasi," bisik seorang mahasiswi. "Iya, terus denger-denger Bu Nadia masuk ke faku
Keesokan harinya, suhu tubuh Alya sudah kembali normal завв berkat perawatan ekstra dari Aris sepanjang malam. Meskipun kepalanya masih sedikit terasa ringan, Alya memaksa diri untuk berangkat ke kampus karena hari ini ada presentasi kelompok yang tidak bisa ditinggalkan.Pukul 06.45 WIB di dapur.Alya yang sudah mengenakan kemeja kasual dan celana jins rapi berdiri di depan meja makan. Di atas meja, sudah tersaji dua kotak bekal makanan berwarna pastel. Alya tersenyum-senyim sendiri mengingat bagaimana Aris bangun lebih pagi tadi hanya untuk menyiapkan sarapan dan memasakkan bekal untuk mereka berdua."Sudah siap?" suara bariton Aris memecah keheningan saat pria itu turun menuruni tangga dengan pakaian dosen yang selalu disetrika licin dan wangi."Sudah, Mas," jawab Alya manis. Ia menyerahkan satu kotak bekal berwarna biru ke tangan Aris. "Ini bekal buat Mas Aris. Jangan lupa dimakan nanti pas jam istirahat."Aris menerima kotak bekal itu, menatapnya sejenak dengan raut wajah kaku ya
Dua hari berlalu setelah insiden pengerjaan tugas bersama di meja makan. Hubungan rahasia antara Alya dan Aris di rumah tampak semakin cair dan tidak sekaku awal pernikahan mereka, meskipun begitu melangkah keluar dari pintu pagar rumah dan tiba di kampus, keduanya tetap mempertahankan kesepakatan awal berpura-pura menjadi dua orang asing yang hanya terikat hubungan akademis antara dosen dan mahasiswi. Namun, cuaca akhir-akhir ini terasa sangat tidak bersahabat. Hujan deras berangin yang mengguyur ibu kota sejak siang hari membuat suhu udara malam itu turun drastis. Sialnya lagi bagi Alya, ia sempat basah kuyup sore tadi karena harus berlari tanpa payung dari gedung perpustakaan menuju lobi utama fakultas demi menyusul jadwal bimbingan yang mendadak. Pukul 22.30 WIB. Di dalam kamar di lantai atas, Alya menggigil hebat di bawah balutan selimut tebalnya. Tubuhnya meringkuk seperti udang. Kepalanya terasa sangat berat, berdenyut-denyut seperti ditimpa beban berkuintal-kuintal. Tenggo






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.