登入“Nanti aku pulang malam, sampai barang berangkat.” “A-” “Bu Mirah nanti juga bantu tapi sore sudah pulang, jangan lupa kunci pintu.” Begitu mereka sampai di halaman rumah dan Ica turun dari mobil, Saka langsung putar mobil kembali. Ica bahkan belum sempat menanggapi ucapan suaminya. Wanita itu hanya berdiri bengong sambil menatap mobil suaminya yang menghilang di tikungan jalan. Tahu begini tadi lebih baik dia minta izin ke rumah orang tuanya, paling tidak di sana dia tidak sendiri dan nggak sungkan kalau mau ngapa-ngapain.“Mbak Ica tadi saya kira- oh maaf kaget ya.” Ica melotot saat melihat bu Mirah yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Dia meatap wanita paruh baya itu dengan seksama, terutama bagian kaki. Apa masih menyentuh tanah atau sudah melayang, sayangnya bu mirah pake daster panjang yang sampai menutup mata kaki, jadi terpaksa Ica berjongkok melongok kaki si ibu. “Mbak ada apa, tho?” Tanya wanita itu penasaran. Dia ikut melangkah mundur khawatir di kakinya menginja
Setelah sarapan Saka buru-buru mengajak Ica untuk kembali ke rumah sakit. Bahkan saat Ica masih di kamar mandi, Saka sudah menggedor-gedor pintunya tak sabar. “ibu baik-baik saja kan?” “Iya,” jawabnya tanpa menghentikan langkah. untung saja dia tadi sudah sempat sarapan dengan roti yang dibelinya tadi malam. Saka… menghabiskan dua bungkus nasi yang dia beli tadi malam karena Ica sedang malas makan nasi. “Terus ini kenapa ini buru-buru.” “Aku mau lihat pohon pete.” “Hah!!! Memang petenya kenapa? Nggak dibawa malingkan?” Tanya Ica asal. Saka sedikit memelankan langkahnya dan melirik Ica dengan pandangan… yah begitulah…. Dikira Ica alien kali. “Aku lupa ada pesanan pete dan stock habis.” “Oh ya tinggal suruh pak Sarmin panen.” Saka menatap Ica lagi kali ini ada kesal di matanya tapi tak lama pria itu melengos. “Mana bisa, jumlahnya besar. Satu kwintal.” “Hah!!! Memang diminta kapan?” “Acaranya lusa.” “Lusa, masih ada waktukan.” “Kirimnya ke kalimantan.”
Yang dimaksud mini market di samping rumah oleh Saka adalah toko serba ada milik sang ibu yang buka dua puluh empat jam yang ditata mirip mini market yang setiap tikungan ada itu. Ica mau pesen makanan lewat ojol saja ijinnya sulit minta ampun. Nah bisa dipastikankan siapa target market toko ini. Di perumahan yang sunyi begini, mungkin mbak kunti juga bagian dari pelanggannya. Mungkin karena letaknya yang agak menjorok ke dalam Ica tadi tidak terlalu memperhatikannya. Ica segera turun dari boncengan suaminya, sedangkan Saka dengan tenang masuk ke dalam pagar rumah ibunya. “Lho mas tidak temani aku belanja.” “Harus aku temani?” Astaga. Memang sih letaknya hanya di samping rumah tapi ini sudah malam, harusnya ini salah satu kesempatan mereka untuk berduaan. “Aku nggak kenal orang sini.” Saka mengangkat alisnya dengan kening berkerut, gaya santainya dengan memasukkan tangan ke dalam saku celana malah membuat Ica sebal. Terserah sih! Ica bukan wanita manja, Cuma segitu doang tap
Saat Saka mengatakan akan mengajaknya makan di luar, Ica tak berani berekspektasi lebih. Saka bukan cowok romantis yang akan membawanya makan malam romantis di tempat mewah hanya untuk membuatnya senang. Bagi Saka. Lapar ya harus makan, tanpa peduli tempat dan makanan yang dia makan. Asal tidak jorok dan beracun saja. Baru hari ketiga menikah Ica sudah sangat paham hal itu, karena beberapa kali Saka memang hanya mengajaknya makan di warung tenda dari pada rumah makan mewah. Terbuktikan. Begitu Ica keluar rumah, Saka sudah siap dengan motor matic yang entah milik siapa. “Pintu sudah dikunci?” “Sudah.” “Ya sudah yuk naik, tapi jangan duduk miring.” Ica tak menjawab tapi dalam diam melakukan perintah Saka. “Kita mau makan di mana?” tanya Ica. Angin malam memang terasa sangat dingin, untung saja dia tadi memakai jaket. Jalanan perumahan yang sepi membuat suaranya terdengar cukup jelas. “Di depan gerbang ada warung tongseng kambing kita makan di sana saja.” Kan! Ica tak lagi bi
“Kenapa diam? Kamu capek ya. Aku anterin ke kamar dulu.” Tuh kan suaminya ini nggak pekanya pol-polan. “Iya, capek dibandingin sama mantan,” sahut Ica ketus lalu meraih tasnya, kalau saja ini bukan malam Ica pasti akan lebih memilih memesan ojek online dan pulang ke rumah orang tuanya. Meski butuh setidaknya setengah jam perjalanan tapi paling tidak di sana dia tidak perlu melihat suaminya yang menyebalkan ini. “Ica.” Lagi-lagi tangan Ica ditarik dan dipaksa kembali duduk. Terpaksa Ica duduk lagi. “Aku dan Sita sudah lama berpisah, lebih dari lima tahun. Meski rumahnya tak jauh dari rumah kita.” Alis Ica terangkat, tak jauh dari rumah kita, artinya mantan istri suaminya satu desa dengan mereka saat ini. Gawat… bisa saja kan mereka CLBK, meski pernikahan mereka bukan atas dasar cinta tapi Ica ogah ya menjadi janda. “Berarti mas sering ketemu dia?” “Pernah beberapa kali,” jawab Saka kalem. “Ngapain ketemuan itu?” tanya Ica tak santai. “Mau CLBK?” Saka menatap Ica dengan keni
Pantas saja, Ibu mertua dirawat di rumah sakit kota ini, ternyata rumahnya tak jauh dari sini. Hanya dua puluh menit perjalanan itupun Ica tidak perlu khawatir karena jalanan sudah mulus dan mobil mahal Saka ini AC nya terbukti seratus persen normal. Jika Ica berpikir rumah yang dihuni ibu mertuanya tak jauh beda dengan rumah yang baru saja dia tinggalkan, dia salah besar. Rumah ini memang tidak sebesar rumah Saka, tapi arsitekturnya yang cantik membuat siapapun betah di sini. Tidak ada halaman luas, ataupun kebun yang mengelilingi, hanya ada taman kecil di sudut halaman dan pagar pendek yang membatasi. Untuk ditinggali orang tua, rumah ini sangat nyaman. Bahkan apabila butuh bantuan darurat. Di depan rumah persis ada pos satpam yang dijaga tiga orang pria yang tadi menyapa Saka dengan ramah. “Ini rumah masa kecil, mas?” tanya Ica tak bisa menahan rasa penasarannya. Kalau boleh memilih Ica pasti lebih suka tinggal di sini. Lokasinya strategis dekat dengan fasilitas umum dan yang
Seharian Ica mengurung diri di dalam kamar mengerjakan revisi skripsinya. Tahun terakhir memang dia jarang datang ke kampus. Terlalu tenggelam dengan pekerjaannya sampai dia tak menyadari waktu sudah sore. Meja makan rumah ini memang sejak tadi menjadi tempatnya bekerja, sambil menemani bu Mir
“Oalah ini tho istrimu, Ka. Cantik sekali. Kamu memang pinter milih istri.” Begitu mobil yang dikemudikan Saka masuk ke halaman sebuah rumah yang luas dengan banyak pohon buah di depannya. Beberapa tetangga yang tadinya sibuk dengan kegiatannya buru-buru mendekati mereka. Ica sama sekali tak men
“Katakan padaku, sebenarnya mas kerja apa? nggak mungkin tanam pete bisa punya mobil bagus dan sekarang belikan aku mobil juga?” Ica suka duit, apalagi dimanjakan dengan fasilitas mewah. Hello!! cewek mana sih yang nggak mau dikasih dua hal itu, bahkan orang gila sekalipun pasti pingin mendapat f
Ica duduk kaku sambil mencengkeram tas selempangnya dengan erat. Dia takut bergerak. Mobil ini mobil mahal, takutnya kalau dia lasak, mobilnya nanti tergores dia mau ganti pakai apa? “Kami turun di terminal saja, Ka,” kata bulek yang diangguki oleh paklik. “Saya antar saja, mau kemana?” “Tidak







