LOGINKeinginan Minari Halden adalah keluar dari rumah papanya yang bagaikan penjara. Hal itu bisa ia dapatkan setelah membuat perjanjian dengan Papa. Jika ia mau dijodohkan dengan Zian, putra keluarga Ravenshow yang bisa membantu bisnis Papa dari kebangkrutan, maka Minari boleh pergi dari rumah Papa. Namun selama menjadi tunangan Zian, Minari justru dekat dengan seorang pria bernama Evan yang selalu membuatnya teringat masa lalu. Masa-masa yang pernah Minari lupakan. Siapa sebenarnya Evan, apakah ia pernah memiliki hubungan dengan Minari sebelum wanita itu menderita amnesia? Lalu, apa Zian akan diam saja melihat seorang pria misterius terus berusaha mendekati tunangannya?
View MoreMalam itu, taman utama kawasan mansion berubah menjadi lautan cahaya.Lampu-lampu kristal menggantung di antara pepohonan, memantulkan warna keemasan ke segala arah. Musik orkestra mengalun lembut, bercampur suara gelas yang saling beradu dan percakapan orang-orang yang terdengar terlalu ramah untuk terasa tulus.Minari datang bersama Zian.Ia mengenakan gaun hitam sederhana dengan potongan elegan yang membuatnya terlihat anggun tanpa perlu berusaha terlalu keras. Sementara di sampingnya, Zian berdiri dengan setelan gelap mahal dan senyum publik yang tampak sempurna.Begitu mereka melangkah masuk, beberapa penghuni mansion langsung menghampiri.“Selamat datang!”“Akhirnya bertemu langsung dengan putri keluarga Halden.”“Kalian terlihat serasi sekali.”Minari membalas dengan senyum tipis. Senyum yang selama bertahun-tahun telah ia pelajari.Sopan. Anggun. Sulit ditebak.Namun di sela keramaian itu, matanya bergerak pelan.Ia mencari sesuatu. Dan langsung menemukannya.Evan.Rupanya pri
“Aku hitung sampai tiga. Keluar dari sini!”Wanita itu langsung panik.Dengan tergesa-gesa ia turun dari tubuh Zian, meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya sembarangan.Tak sampai satu menit, wanita itu sudah berlari keluar mansion tanpa berani menoleh lagi.Suasana mendadak sunyi.Zian masih duduk santai di sofa. Seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan.Ia mengenakan celananya perlahan, lalu menatap Minari dengan sorot mata tajam bercampur kesal.“Sialan,” gerutunya. “Kau tidak bisa masuk ke rumah orang seenaknya.”Minari melipat tangan di depan dada.“Kurasa kau belum paham ucapanku waktu itu.”“Oh?” Zian menyandarkan tubuhnya. “Yang mana?”“Tahan dirimu sampai kita menikah.” Nada suara Minari meninggi. “Hanya tiga bulan. Apa sesulit itu?”Zian tertawa pendek.“Aku melakukannya di rumahku.” Zian mendengkus. “Tidak ada yang tahu.”“Justru karena ini rumahmu!” balas Minari cepat. “Tetangga bisa melihat wanita keluar masuk mansionmu. Orang-orang tahu kau be
Pintu terbuka, lalu—“Hai, aku tetangga baru. Aku mau memberikan camilan sebagai tanda perkenalan."Minari membeku.Bukan hanya karena kedatangannya yang tiba-tiba, tetapi juga karena pria yang berdiri di depan pintunya adalah sosok bermata hazel yang ia temui di pesta pertunangan minggu lalu.“Loh… kamu pria yang di pesta itu, kan?”Pria itu tampak sama terkejutnya.“Minari Halden?” Ia tersenyum kecil. “Jadi kau tinggal di sini?”“Ya. Aku baru pindah siang ini.” Minari menyandarkan tubuh di daun pintu. “Lalu beberapa jam kemudian kau muncul di depan rumahku.”Ekspresi pria itu terlihat jauh lebih santai dibanding pertemuan pertama mereka.“Wah, kebetulan yang langka.” Ia terkekeh pelan. “Aku juga baru pindah pagi tadi. Baru selesai membereskan barang-barang. Kupikir tidak ada salahnya berkenalan dengan tetangga sambil membawa sesuatu.”Ia mengulurkan sebuah kotak kecil. Minari menerimanya perlahan.Saat kotak itu dibuka, mata Minari langsung menangkap deretan macaron berwarna-warni y
“Aku melihatmu dengan pelayan itu.”Zian terkesiap. Namun hanya sepersekian detik.Setelah itu, ia kembali pada ekspresi santainya, seolah tidak terjadi apa-apa.“Apa maksudmu?” tanyanya ringan.Minari tersenyum miring.“Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu semuanya.” Tatapannya tajam. “Termasuk hobimu yang senang bermain wanita.”Zian tidak tersinggung. Sebaliknya, senyum sinis justru terangkat di bibirnya.“Kau keberatan?” balasnya santai, nyaris meremehkan. “Papamu yang menginginkan perjodohan ini. Baginya, ini hanya soal bisnis.”Ia melirik sekilas ke arah Minari.“Keluargamu butuh suntikan dana. Keluargaku menyediakannya. Jadi, menurutku aku tidak perlu berpura-pura menjadi pria baik.”Minari terkekeh pelan.Sopan santun yang biasa ia kenakan, ia lepaskan sepenuhnya di hadapan pria ini.“Itu karena Papa belum tahu siapa kamu sebenarnya.” Ia menatap lurus ke depan. “Dia pikir keluarga Ravenshow bersih. Tidak ada pria brengsek sepertimu di dalamnya.”Senyum Zian menghilang.Untuk perta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.