Se connecterKeinginan Minari Halden adalah keluar dari rumah Papa yang bagaikan penjara. Hal itu bisa ia dapatkan asalkan mau dijodohkan dengan Zian, putra keluarga Ravenshow yang bisa membantu bisnis Papa dari kebangkrutan. Namun selama menjadi tunangan Zian, Minari justru dekat dengan seorang pria bernama Evan yang selalu membuatnya teringat masa lalu. Masa-masa yang pernah Minari lupakan. Siapa sebenarnya Evan, apakah ia pernah memiliki hubungan dengan Minari sebelum wanita itu menderita amnesia? Lalu, apa Zian akan diam saja melihat seorang pria misterius terus berusaha mendekati tunangannya?
Voir plus“Pelayan, kenapa lampunya mati?” seru Minari saat seluruh kamar mendadak tenggelam dalam gelap.Tak lama kemudian, salah seorang pelayan masuk sambil membawa senter.“Maaf, Nona. Sepertinya sedang terjadi pemadaman listrik di kawasan ini. Mansion tetangga juga ikut padam.”Minari mengernyit. “Benarkah?”Seumur hidupnya, ia belum pernah mengalami pemadaman listrik di kawasan elite seperti kompleks Ravenshow. Rasanya sulit dipercaya.“Kalau begitu tolong siapkan beberapa lilin untuk kamarku, ya. Aku tidak terlalu suka gelap.”“Baik, Nona.”Pelayan itu segera pergi.Minari kembali naik ke tempat tidur, berniat melanjutkan istirahatnya. Namun, semakin ia memejamkan mata, semakin sulit ia tertidur. Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri. Tetap saja gelisah.Saat itulah ponselnya berdering. Nama Zian muncul di layar.Minari segera mengangkatnya. “Halo?”“Minari...” Suara di seberang terdengar t
Kondisi Minari jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Setelah menjalani pemeriksaan terakhir, dokter akhirnya mengizinkannya pulang.Zian mengantar Minari menggunakan mobilnya sendiri.Sepanjang perjalanan, pria itu tidak berhenti mengingatkan.“Kau dengar sendiri apa kata dokter, kan?” katanya sambil tetap fokus pada jalan. “Beberapa hari ini jangan banyak berpikir. Istirahat yang cukup. Jangan memaksakan diri bekerja atau keluar rumah.”Minari yang duduk di kursi penumpang hanya menggumam pelan.“Hmm...”“Kau benar-benar mendengarkan aku atau tidak?”“Hm.”Zian mengembuskan napas panjang. “Kau ini, ya.”Minari memilih memalingkan wajah ke luar jendela. Pepohonan dan kendaraan berlalu begitu saja di depan matanya. Entah karena efek obat atau tubuhnya yang masih lemah, kelopak matanya terasa semakin berat.“Aku mengantuk,” gumamnya lirih.Zian sempat melirik sekilas.Kalau b
Monica mengusap pelan punggung tangan Minari sebelum kembali melanjutkan ceritanya.“Ada satu bagian lagi yang perlu kau ketahui.”Minari mengangguk pelan. Dadanya kembali berdebar. Sejak tadi, setiap kalimat yang keluar dari mulut Monica selalu berhasil mengubah cara pandangnya terhadap masa lalu.“Setelah bertahun-tahun tinggal di Amerika, kau dan Alistair akhirnya kembali ke negeri ini. Waktu itu usiamu sekitar delapan belas tahun.”Monica mengembuskan napas panjang.“Dari luar, semuanya tampak normal. Kalian hidup seperti ayah dan anak pada umumnya. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi...”Nada suara Monica berubah lebih pelan. “Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.”Minari otomatis menegakkan tubuhnya. “Apa maksud Ibu?”“Pertama... Alistair mengganti namamu.”Minari menggenggam selimut.“Nama Rooha menghilang. Sejak saat itu semua orang hanya mengenalmu sebagai Minari. Alasan yang diberikann
Monica akhirnya datang ke kamar rawat Minari.Wajah keibuan itu dipenuhi kecemasan yang tidak berhasil ia sembunyikan. Begitu melihat Minari sudah sadar, ia mengembuskan napas lega.Minari menatapnya. Ia berusaha menegakkan tubuh untuk menyambut kedatangan Monica, tetapi rasa nyeri di sekujur tubuh membuatnya mengurungkan niat.“Ibu...”“Tidak usah bangun.” Monica segera menghentikannya. “Berbaring saja. Dokter bilang tubuhmu masih perlu banyak istirahat.”Minari mengangguk pelan.Monica menarik kursi ke sisi ranjang, lalu duduk tepat menghadap Minari. Tatapan matanya berkeliling, memperhatikan wajah hingga tangan Minari seolah memastikan tidak ada luka yang terlewat.“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyanya lembut.“Sudah jauh lebih baik.”Ruangan kembali hening.Tak ada yang segera membuka pembicaraan. Minari bingung harus memulai dari mana, sementara Monica tampak menyimpan banyak kegelisaha
Minari bermimpi lagi. Masih seperti sebelumnya. Seorang pria berlutut di hadapannya. Bahu pria itu bergetar. Tangisnya terdengar menyayat hati, seolah ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan darinya. “Rooha...” Suara itu kembali memanggil nama yang tidak dikenali Minari. “Rooha...” Pria
Malam itu, taman utama kawasan mansion berubah menjadi lautan cahaya.Lampu-lampu kristal menggantung di antara pepohonan, memantulkan warna keemasan ke segala arah. Musik orkestra mengalun lembut, bercampur suara gelas yang saling beradu dan percakapan orang-orang.Minari datang bersama Zian.Ia me
“Aku hitung sampai tiga. Keluar dari sini!”Wanita itu langsung panik.Dengan tergesa-gesa ia turun dari tubuh Zian, meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya sembarangan.Tak sampai satu menit, wanita itu sudah berlari keluar mansion tanpa berani menoleh lagi.Suasana mendadak
Pintu terbuka, Minari terbelalak kaget melihat tamunya yang datang.“Hai, aku tetangga baru. Aku mau memberikan camilan sebagai tanda perkenalan."Minari membeku.Bukan hanya karena kedatangannya yang tiba-tiba, tetapi juga karena pria yang berdiri di depan pintunya adalah sosok bermata hazel yang i






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires