LOGINSaat Saka mengatakan akan mengajaknya makan di luar, Ica tak berani berekspektasi lebih. Saka bukan cowok romantis yang akan membawanya makan malam romantis di tempat mewah hanya untuk membuatnya senang. Bagi Saka. Lapar ya harus makan, tanpa peduli tempat dan makanan yang dia makan. Asal tidak jorok dan beracun saja. Baru hari ketiga menikah Ica sudah sangat paham hal itu, karena beberapa kali Saka memang hanya mengajaknya makan di warung tenda dari pada rumah makan mewah. Terbuktikan. Begitu Ica keluar rumah, Saka sudah siap dengan motor matic yang entah milik siapa. “Pintu sudah dikunci?” “Sudah.” “Ya sudah yuk naik, tapi jangan duduk miring.” Ica tak menjawab tapi dalam diam melakukan perintah Saka. “Kita mau makan di mana?” tanya Ica. Angin malam memang terasa sangat dingin, untung saja dia tadi memakai jaket. Jalanan perumahan yang sepi membuat suaranya terdengar cukup jelas. “Di depan gerbang ada warung tongseng kambing kita makan di sana saja.” Kan! Ica tak lagi bi
“Kenapa diam? Kamu capek ya. Aku anterin ke kamar dulu.” Tuh kan suaminya ini nggak pekanya pol-polan. “Iya, capek dibandingin sama mantan,” sahut Ica ketus lalu meraih tasnya, kalau saja ini bukan malam Ica pasti akan lebih memilih memesan ojek online dan pulang ke rumah orang tuanya. Meski butuh setidaknya setengah jam perjalanan tapi paling tidak di sana dia tidak perlu melihat suaminya yang menyebalkan ini. “Ica.” Lagi-lagi tangan Ica ditarik dan dipaksa kembali duduk. Terpaksa Ica duduk lagi. “Aku dan Sita sudah lama berpisah, lebih dari lima tahun. Meski rumahnya tak jauh dari rumah kita.” Alis Ica terangkat, tak jauh dari rumah kita, artinya mantan istri suaminya satu desa dengan mereka saat ini. Gawat… bisa saja kan mereka CLBK, meski pernikahan mereka bukan atas dasar cinta tapi Ica ogah ya menjadi janda. “Berarti mas sering ketemu dia?” “Pernah beberapa kali,” jawab Saka kalem. “Ngapain ketemuan itu?” tanya Ica tak santai. “Mau CLBK?” Saka menatap Ica dengan keni
Pantas saja, Ibu mertua dirawat di rumah sakit kota ini, ternyata rumahnya tak jauh dari sini. Hanya dua puluh menit perjalanan itupun Ica tidak perlu khawatir karena jalanan sudah mulus dan mobil mahal Saka ini AC nya terbukti seratus persen normal. Jika Ica berpikir rumah yang dihuni ibu mertuanya tak jauh beda dengan rumah yang baru saja dia tinggalkan, dia salah besar. Rumah ini memang tidak sebesar rumah Saka, tapi arsitekturnya yang cantik membuat siapapun betah di sini. Tidak ada halaman luas, ataupun kebun yang mengelilingi, hanya ada taman kecil di sudut halaman dan pagar pendek yang membatasi. Untuk ditinggali orang tua, rumah ini sangat nyaman. Bahkan apabila butuh bantuan darurat. Di depan rumah persis ada pos satpam yang dijaga tiga orang pria yang tadi menyapa Saka dengan ramah. “Ini rumah masa kecil, mas?” tanya Ica tak bisa menahan rasa penasarannya. Kalau boleh memilih Ica pasti lebih suka tinggal di sini. Lokasinya strategis dekat dengan fasilitas umum dan yang
Ica menyeruput teh hangat yang baru saja dibuatkan Saka untuknya. Perjalanan yang melelahkan dan udara yang dingin membuatnya menggigil, dan suasana di ruangan ini makin membuatnya menggigil malu. Wanita itu masih menatap Ica dengan pandangan seolah dirinya adalah barang antik yang butuh diteliti. “Kamu sengaja ya nyusul Saka kemari?” tanya wanita itu. Meski nadanya ramah dan ada senyuman dibibirnya tetap saja membuat Ica deg-degan. “Ica hanya ingin jenguk ibu,” jawab Saka sambil sedikit melirik Ica. Dia merasa terjebak di sini, dia seperti orang bodoh yang sama sekali tak tahu apa-apa tentang keluarga pria yang menikahinya. “Iya, karena aku dengar dari Bu Mirah, mas Saka menjaga ibu di rumah sakit.” “Lho memangnya Saka tidak mengajakmu tadi?” Ica melirik suaminya sejenak, dia bukan maksud mengadu lho tapi yang akan dia katakan ini kebenaran. “Aku kira mas Saka tadi malah kerja, tidak kesini.” “Kerja? Di hari pertama kalian menikah?” wanita itu menoleh pada Saka seolah memint
Ica tidak menyangka kalau rumah sakit yang dimaksud sampai sejauh ini. “Ehm… berapa lama lagi kita sampai, pak?” tanya Ica, sudah setengah jam perjalanan yang sangat menguras adrenalin ini mereka lalui. Ica yang biasanya cerewet memang lebih memilih diam, bukan karena dia tidak mau berbicara dengan pak Sarmin, tapi jalanan yang mereka lalui saat ini sangat ekstrim. Pantas saja pak Sarmin lebih memilih memakai mobil pickup Saka dari pada mobilnya yang baru beli setelah dia bilang. “Ayo pak, cari jalan tercepat untuk sama ke rumah sakit.” Ica takut kalau dia ngomong pak Sarmin malah tidak konsen menyetir. Nggak lucu bukan kalau niatnya menyambangi mertuanya yang sakit tapi malah dia ikut masuk rumah sakit karena kecelakaan. Dia tanya inipun saat jalanan sudah mulai rata dan tak ada lubang ataupun tikungan yang membuatnya harus merapalkan semua do’a yang dia hapal. “Mbak Ica takut ya?” pak Sarmin sedikit menoleh pada Ica yang duduk di sampingnya. Syukurlah kali ini dia tidak duduk d
Ica memimun habis air putih yang dia ambil dari dispenser tadi lalu meletakkan gelas di atas nakas dan menarik napas panjang. Harusnya dia biasa saja. Sebagai suami istri hubungan mereka belum sedekat itu, bisa dikatakan mereka masih dalam tahap penjajakan. Saka mungkin merasa sungkan memintanya ikut ke rumah sakit menjaga sang ibu, padahal pernikahan mereka baru beberapa hari, makanya dia tidak bilang apa-apa, malah meminta Bu Mirah menginap di sini menemaninya. Akan tetapi dia tidak berencana menikah untuk bersama dalam suka saja. Dia ingin pernikahannya sekali seumur hidup. Dia ingin keluarga Saka yang memang belum diketahuinya menerimanya dengan tangan terbuka sebagai bagian keluarga. Pernikahan mereka sah secara agama dan negara, meski harus dia akui bapak harus mengeluarkan uang ekstra untuk mengubah data Adam menjadi Saka di KUA. Bapak dan ibu sudah berusaha sebaik mungkin untuk kebahagiannya, bodoh amat kalau Saka dulu tiba-tiba melamarnya karena kasihan atau apa, bukanka
“Masnya diambilin dulu, Ca.” Nikah itu ribet ya, padahal inginnya Ica mendapat laki-laki seperti bapak. Yang mengerti kesulitan ibu. Kalau ibu sudah masak, bapak yang mengambilkan makanan untuk ibu bahkan dulu seingat Ica sebelum tugas mencuci piring bekas makan sekeluarga dia ambil alih, bapak
“Ini benar suaminya mbak nggak keteker kok.”Tawa semua orang menyambut kalimat itu. Astaga dia ketahuan. Ica makin grogi, apalagi sejak tadi dia sudah mencuri pandang pada pria yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu. Suami? Ih kok rasanya Ica bangga ya, dengan beskap putih itu, wajahnya b
“Icaaa!!!”Ica melotot galak pada temannya itu. Kok bisa ya, dia punya teman suaranya mirip toa begini, mana sekarang sedang hening, persiapan mau acara ijab qobul. Ica memang tak langsung keluar, dia akan menunggu di kamar sampai kata “Sah” terucap baru dia bisa menemui suaminya. “Diam kenapa s
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas







