เข้าสู่ระบบAlesha menatap Lavienna yang masih menggenggam tangannya erat, hatinya tersentuh melihat betapa rapuhnya wanita yang biasanya begitu anggun dan tenang itu kini duduk terpuruk dengan wajah penuh harap. Ia menghela napas pelan, memantapkan hati sebelum akhirnya mengangguk yakin.
"Baik, Tante. Aku akan menemani Tante dan Om di sini," ucap Alesha lembut, menggenggam balik tangan Lavienna yang dingin dengan penuh ketulus
Pesan itu masih terngiang di kepala Kaivan saat ia keluar dari restoran bersama Alesha. Ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya, tapi keraguan perlahan tumbuh dan memenuhi pikirannya. Mengapa ayah Alesha mengirim pesan seperti itu? Apakah ia benar-benar tidak setuju, atau ada hal lain yang tersembunyi? Yang lebih mengganggu pikirannya adalah sikap Alesha. Perempuan itu hanya diam, tidak menjelaskan apa-apa, dan tidak berusaha menenangkannya. Sepanjang perjalanan pulang, mereka tidak bicara satu sama lain, dan jarak yang tadinya terasa dekat perlahan kembali memisahkan mereka. Kaivan menahan diri untuk tidak bertanya, menunggu waktu yang tepat, tapi setiap kali ia melirik Alesha, ia justru merasa semakin jauh.Beberapa hari kemudian, saat Kaivan sengaja melintas di depan kampus tempat Alesha bekerja, ia berhenti mendadak. Di sana, seorang pria berdiri dengan senyum hangat, menatap Alesha seakan pere
Suasana hening sejenak setelah suara itu terdengar jelas di ruangan yang tenang. Alesha menatap sosok di ambang pintu, napasnya tertahan sejenak, namun tidak ada rasa takut yang mencengkeram hatinya seperti biasanya. Sebaliknya, ia justru merasakan kehadiran Kaivan di sampingnya. Tenang, kokoh, dan tidak berniat menyerah. Namun sosok itu hanya berdiri diam sejenak, lalu seakan menyadari sesuatu yang membuatnya ragu, akhirnya berbalik dan pergi begitu saja tanpa menambah sepatah kata pun. Pintu tertutup pelan di belakangnya, menyisakan keheningan yang perlahan kembali mengisi ruangan. Alesha menghela napas panjang, melepaskan kekhawatiran yang tanpa disadari ia tahan sejak tadi. Ia menoleh ke arah Kaivan, dan melihat pria itu juga menatapnya bukan dengan cemas atau marah, melainkan dengan pandangan yang lembut, seakan memastikan ia baik-baik saja.“Dia pergi,” ucap Alesha pelan, suaranya masih s
Kalimat itu terhenti di udara, berat dan belum selesai, namun Kaivan sudah mengerti maknanya. Bahaya yang paling besar baginya bukanlah Vanessa, bukan ancaman dari luar, melainkan dirinya sendiri. Cara ia mencintai Alesha dengan menindas kebebasannya. Ia menunduk, merasakan kebenaran itu menembus lebih dalam daripada penolakan apa pun. Ia tidak berhak meminta lebih, tidak berhak menuntut kesempatan, namun satu hal terakhir masih tersisa di hatinya, sesuatu yang terasa begitu kecil namun berarti segalanya baginya.“Aku tahu aku bukan tempat yang aman bagimu,” ucap Kaivan pelan, suaranya rendah dan tulus, tanpa ada sedikit pun keangkuhan yang tersisa. “Tolong beri aku satu kesempatan terakhir bukan untuk memperbaiki masa depan kita, tapi hanya untuk menemani kamu satu malam. Makan malam bersama, sekali saja. Tanpa pembicaraan tentang janji, tanpa rencana apa pun, tanpa tekanan.”
Suasana hening sejenak setelah suara Kaivan pergi. Angin sore masih berhembus pelan, namun udara di antara mereka terasa berat dan dingin. Alesha menatapnya lekat-lekat, seakan berusaha melihat kebenaran di balik setiap kata yang baru saja diucapkan. Ia ingin sekali percaya, ingin sekali membiarkan dirinya terbuai harapan yang sempat lama ia pendam, namun rasa sakit yang tertanam begitu dalam terus menahan langkahnya kembali. Baginya, kata maaf tidak cukup untuk menjahit luka yang robek berkali-kali dan janji perubahan kini terdengar seperti janji yang sudah tidak ada gunanya.“Aku mengerti kamu menyesal,” ucap Alesha pelan, suaranya tenang namun penuh kepastian, tanpa sedikit pun tersisa keraguan yang dapat ia sembunyikan. “Tapi penyesalanmu tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang, Kaivan. Luka ini sudah terlalu dalam, dan bagiku… semuanya sudah selesai.”
Matahari mulai turun saat Kaivan mengemudi cepat ke villa keluarga tempat Alesha menyendiri. Jantungnya berdebar gelisah, teringat kata-kata perpisahan yang diucapkan Alesha tadi. Sepanjang jalan, wajah Alesha yang tampak lelah dan terluka terus muncul di pikirannya. Ia sadar: selama ini ia hanya merasa benar, mengira ia sedang memperbaiki keadaan, tanpa pernah benar-benar bertanya apa yang diinginkan Alesha. Ia pikir perlindungannya adalah bentuk kasih sayang, padahal justru itulah yang membuat Alesha makin merasa terkurung seolah hidupnya bukan miliknya sendiri.Langkah kaki Kaivan terasa berat saat ia berdiri di depan pintu rumah itu. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum mengetuk pelan. Pintu terbuka, menampilkan Alesha yang menatapnya dengan tatapan dingin dan jauh, tatapan yang seakan menempatkan dinding tinggi di antara mereka. Kaivan menelan ludah, menatapnya lekat-lekat
Sosok yang keluar dari mobil hitam itu ternyata adalah Bimo, wajahnya begitu tegang dan terengah-engah karena baru saja mengemudi dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke tempat itu secepat mungkin. Alesha yang tadinya begitu ketakutan mengira sosok itu adalah ancaman lain dari Vanessa, kini menghela napas sedikit lega meski dadanya masih berdebar begitu kencang."Maaf mengganggu, Bu Lavienna, Bu Alesha," ucap Bimo cepat, suaranya begitu terburu-buru, matanya menatap keduanya bergantian dengan raut wajah yang begitu serius, "saya diminta Pak Kaivan untuk memastikan keselamatan Bu Alesha. Dia sangat panik sejak menerima telepon aneh tadi."Alesha mengernyitkan dahi mendengar penjelasan itu, dadanya kembali terasa begitu berat menyadari bahwa dirinya kini telah menjadi pusat kekhawatiran begitu banyak orang, sesuatu yang justru semakin membuatnya merasa begitu ter







