Obsesi Tuan Kaivan

Obsesi Tuan Kaivan

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-06-16
Oleh:  Ibu3DaraOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
5Bab
2Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Alesha Wijanarka jatuh cinta pada Kaivan Adhitama sejak pertama kali mereka bertemu. Namun harapannya hancur ketika pertunangan yang telah diatur keluarga mereka justru berakhir dengan penolakan yang memalukan. Kaivan terang-terangan memilih wanita lain di hadapannya. Dengan hati yang remuk, Alesha memutuskan untuk berhenti mengejar pria yang tidak pernah melihatnya, dan pelan-pelan ia membangun kembali hidupnya dari puing-puing rasa sakit itu. Takdir berkata lain. Kaivan dikhianati oleh kekasih yang ia pilih, kehilangan segalanya akibat sebuah kecelakaan yang mengubah hidupnya selamanya. Di titik paling gelap dalam hidupnya, saat dunia terasa tidak lagi punya tempat untuknya, satu-satunya orang yang bertahan di sisinya adalah Alesha. Wanita yang pernah ia tolak tanpa belas kasihan. Namun waktu tidak bisa diputar kembali. Ketika Kaivan akhirnya menyadari bahwa Alesha adalah cinta yang selama ini ia abaikan, perempuan itu sudah belajar berdiri tanpanya. Kini Kaivan harus berjuang untuk memenangkan hati wanita yang dulu ia sia-siakan sebelum ia benar-benar kehilangan Alesha untuk selamanya.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1 Pertunangan yang Memalukan

"Aku tidak pernah menyetujui pertunangan ini."

Kalimat itu meluncur dingin dari bibir Kaivan Adhitama, menghancurkan kebahagiaan yang sejak tadi berusaha dipertahankan Alesha.

"Apa maksudnya, Kai?" tanya Alesha dengan suara bergetar, masih berusaha mencari kesalahpahaman di balik kalimat itu.

Ballroom Hotel Grand Arcadia mendadak sunyi. Alunan biola yang sejak tadi mengalun lembut terasa lenyap begitu saja dari telinganya, seakan seluruh ruangan menahan napas bersama-sama. Dengan tangan gemetar menggenggam buket bunga putih, Alesha menatap pria di hadapannya. Kaivan berdiri sempurna dalam jas hitam mahal, namun sorot matanya hanya dipenuhi kebencian. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa iba hanya penolakan yang begitu nyata di depan semua tamu undangan.

Di momen yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya, Kaivan justru menghancurkan harga diri Alesha tanpa ragu sedikit pun. Tatapannya tajam dan dingin, seolah pertunangan itu adalah kesalahan besar yang seharusnya tidak boleh terjadi. Di tengah ruangan yang dipenuhi orang-orang penting, Alesha hanya bisa berdiri membeku, menyadari bahwa pria yang selama ini ia cintai tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah menginginkannya.

"Apa kamu mendengarku, Alesha?" suara Kaivan kembali terdengar rendah. "Aku tidak pernah menginginkan pertunangan ini."

Napas Alesha tercekat. Jantungnya berdebar kencang, tetapi anehnya tubuhnya terasa kaku, seolah seluruh dirinya menolak menerima apa yang baru saja didengarnya.

Puluhan pasang mata mulai menatap mereka bergantian. Bisik-bisik pelan terdengar dari meja-meja tamu undangan, perlahan menjalar seperti riak air yang menyebar ke seluruh ruangan.

Alesha mencoba tersenyum kecil meski bibirnya terasa mati rasa. "Kai, kita bisa bicarakan ini lagi."

"Untuk apa?" potong Kaivan tanpa memberi kesempatan. "Agar mereka berpikir aku menerima semua ini?"

Kaivan melirik sekilas pada kotak cincin yang tergeletak di atas meja kecil di antara mereka, lalu mundur selangkah tanpa menyentuhnya sedikit pun. Gerakan sederhana itu terasa seperti tamparan keras bagi Alesha. Napasnya terasa sesak ketika menyadari semua mata tertuju pada mereka, sementara pria yang baru beberapa menit lalu menjadi tunangannya bahkan tidak mau berpura-pura menghargainya di depan para tamu.

Alesha tahu sejak awal Kaivan tidak pernah mencintainya. Ia tahu pria itu masih memiliki kekasih yang benar-benar ia cintai. Namun jauh di dalam hati, Alesha tetap berharap Kaivan setidaknya bisa belajar menerima pertunangan mereka, meski hanya sedikit. Sayangnya, harapan kecil itu kini hancur berkeping-keping di depan matanya sendiri, dan untuk pertama kalinya Alesha merasa dirinya begitu bodoh karena masih berani berharap pada pria itu.

"Aku datang ke sini hanya karena menghormati kedua orang tua kita," lanjut Kaivan datar. "Bukan karena aku ingin bertunangan denganmu."

Alesha menunduk pelan, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Ballroom yang semula dipenuhi kebahagiaan kini berubah menjadi canggung. Beberapa tamu sengaja mengalihkan pandangan, tidak sanggup melihat situasi memalukan yang terjadi di depan mereka. Di barisan depan, Mahesa Wijanarka tampak menegang, rahangnya mengeras, sementara Helena terlihat pucat melihat putrinya dipermalukan di depan semua orang.

Namun Kaivan sama sekali tidak peduli. Dengan wajah dingin, ia tetap melanjutkan ucapannya tanpa sedikit pun rasa bersalah, seolah ia memang sengaja ingin menghancurkan harga diri Alesha di depan orang banyak.

"Sejak dulu aku mencintai Vanessa," katanya tegas.

Nama itu terasa seperti pisau yang menembus dada Alesha.

"Bahkan sampai detik ini aku hanya mencintai Vanessa. Dan itu tidak akan berubah hanya karena keluarga kita memaksakan pertunangan ini."

Suasana ballroom semakin terasa menyesakkan bagi Alesha. Bisik-bisik para tamu mulai terdengar samar di telinganya, bercampur dengan rasa malu yang perlahan menghancurkan harga dirinya. Ia berdiri mematung di tempatnya, berusaha tetap tegar meski dadanya terasa sesak dan tangannya dingin serta gemetar. Ia menghitung detik dalam hati, berharap waktu bisa berjalan lebih cepat agar momen ini segera berakhir.

Sementara itu, Kaivan justru terlihat begitu tenang, seolah seluruh kekacauan ini bukan salahnya. Tatapannya tetap dingin ketika memandang Alesha, tanpa sedikit pun penyesalan karena telah mempermalukannya di depan keluarga besar dan para tamu undangan.

"Jadi, berhenti berharap aku akan menjadi tunangan atau suami yang kamu inginkan."

Alesha menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh di depan semua orang. Ia bisa merasakan tatapan iba, penasaran, bahkan ejekan yang mengarah padanya dari berbagai sudut ballroom. Di tengah gemerlap lampu dan dekorasi mewah, ia justru merasa menjadi perempuan paling menyedihkan malam itu.

Namun rasa sakit terbesar bukan datang dari bisikan para tamu, melainkan dari sikap Kaivan yang tetap berdiri dingin tanpa sedikit pun rasa bersalah. Pria itu sama sekali tidak mencoba menjaga harga dirinya, seolah pertunangan mereka hanyalah beban yang ingin segera ia lepaskan di depan semua orang.

"Alesha…" suara Helena terdengar lirih, penuh kekhawatiran.

Alesha menggeleng pelan ketika ibunya hendak mendekat. Ia tahu dirinya tidak akan mampu bertahan jika ada seseorang yang memeluknya sekarang. Dadanya sudah terlalu sesak menahan malu dan sakit hati di depan semua tamu undangan, sementara Kaivan terlihat sama sekali tidak peduli dengan kehancurannya.

Tidak lama kemudian, suasana ballroom kembali berubah saat seorang perempuan bergaun merah marun berjalan masuk dengan penuh percaya diri. Vanessa Callista melangkah ke arah Kaivan dengan senyum di bibirnya, menarik perhatian semua orang yang hadir. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya yang terlihat justru kebanggaan, seolah ia sengaja ingin menunjukkan bahwa dialah perempuan yang dipilih Kaivan.

"Aku pikir kamu akan sampai lebih lama," kata Vanessa lembut pada Kaivan.

Vanessa berhenti tepat di sisi Kaivan dan langsung menggenggam lengan pria itu dengan mesra. Pemandangan itu membuat napas Alesha terasa semakin berat, karena di depan semua orang, Kaivan tidak menolak sentuhan Vanessa sedikit pun. Sikap dingin yang tadi ia tunjukkan pada Alesha kini berubah menjadi kelembutan saat bersama perempuan itu.

Bisik-bisik tamu semakin ramai memenuhi ballroom. Beberapa orang mulai memahami alasan Kaivan menolak pertunangan itu, sementara yang lain hanya menatap Alesha dengan rasa iba. Berdiri sendirian di tengah ruangan mewah itu, Alesha akhirnya sadar bahwa dirinya memang tidak pernah benar-benar dianggap oleh Kaivan.

"Urusanku sudah selesai dan aku tidak suka berada di sini terlalu lama," ucap Kaivan dingin, namun kali ini nadanya jauh lebih lembut dibanding saat berbicara pada Alesha.

Perbedaan itu terlalu jelas. Terlalu menyakitkan.

Vanessa melirik Alesha sekilas sebelum tersenyum tipis. Tatapan penuh kemenangan itu membuat tenggorokan Alesha terasa pahit.

"Ayo kita pergi, Sayang," ujar Vanessa pelan.

Kaivan menoleh pada Vanessa dengan tatapan yang jauh lebih lembut dibanding saat memandang Alesha. Tanpa ragu, ia menggenggam tangan perempuan itu di depan semua tamu undangan, seolah ingin memperjelas siapa yang benar-benar ada di hatinya. Tindakan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua kata-kata penolakan yang baru saja diucapkannya.

Alesha menahan napas yang mulai bergetar. Ia berdiri sendirian di tengah ballroom mewah, sementara pria yang baru saja menjadi tunangannya memilih pergi bersama perempuan lain tanpa sedikit pun rasa bersalah. Di detik itulah Alesha sadar bahwa malam ini bukan hanya menghancurkan pertunangannya, tetapi juga harga dirinya.

"Alesha…"

Suara di sekitar Alesha terasa semakin jauh dan samar, seperti didengar dari balik dinding tebal. Lampu kristal di atas kepalanya yang tadi begitu terang kini terasa menyilaukan, membuat pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia melihat punggung Kaivan menjauh bersama Vanessa, langkah mereka begitu ringan, begitu bahagia sementara dirinya berdiri sendiri, ditinggalkan di tengah kerumunan yang menatapnya seperti tontonan.

Kuku Alesha menekan telapak tangannya kuat-kuat hingga meninggalkan bekas merah, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh di depan semua orang. Namun tubuhnya tetap gemetar, terlebih ketika bisikan para tamu mulai terdengar semakin jelas, seolah mempertegas kehancuran harga dirinya malam itu.

"Kasihan sekali…"

"Kaivan sangat keterlaluan."

"Jadi selama ini memang hanya paksaan?"

"Sangat memalukan…"

Setiap bisikan terasa seperti jarum yang menusuk satu per satu. Dadanya semakin sesak, napasnya semakin pendek, dan untuk pertama kalinya malam ini, Alesha merasa lantai di bawah kakinya seolah berputar.

Ia ingin berjalan keluar dengan kepala tegak, ingin membuktikan bahwa dirinya masih bisa berdiri meski hatinya hancur. Namun tepat saat Alesha mengangkat satu langkah, pandangannya mendadak gelap. Suara musik, bisikan tamu, dentingan gelas kristal semuanya melebur menjadi satu dengungan panjang yang semakin menjauh.

Lututnya kehilangan tenaga.

Dan sebelum Alesha sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya jatuh ke lantai marmer ballroom yang dingin, tepat di hadapan ratusan tamu undangan yang baru saja menyaksikan kehancurannya.

“Aleshaaaaaaa…” 

Teriakan Helena adalah hal terakhir yang samar-samar masih bisa didengar Alesha, sebelum kegelapan benar-benar menelannya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status