Home / Romansa / Obsesi Tuan Kaivan / Bab 50 Kalung yang Dikembalikan

Share

Bab 50 Kalung yang Dikembalikan

Author: Ibu3Dara
last update publish date: 2026-09-02 13:00:49

Malam itu, Kaivan pulang ke rumah orang tuanya dengan pikiran yang masih dipenuhi berbagai persoalan yang begitu rumit, mulai dari penolakan Alesha di taman kampus, kedatangan Vanessa yang penuh ancaman terselubung, hingga kabar mengejutkan dari Bimo tentang tender paksa yang diumumkan Abitama. Namun di antara semua itu, kotak beludru berisi kalung yang dikembalikan Alesha masih terus terngiang di pikirannya, mengingatkannya pada satu hal yang selama ini belum

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 85 Kegigihan Kaivan

    Kata-kata itu menggantung berat di udara, membuat napas mereka tertahan sejenak. Mahesa duduk kembali di kursinya, menatap ke depan tanpa melihat apa pun, seakan kembali ke masa puluhan tahun lalu. Helena merangkul lengannya erat, berusaha menenangkan sekaligus menahan kegelisahan yang tiba-tiba menyeruak. Kaivan berdiri tegak, menyadari bahwa ini bukan lagi sekedar rahasia. Ada pihak yang sengaja memanfaatkan perpecahan itu demi keuntungan sendiri dan orang itu kemungkinan besar masih ada di antara mereka. Alesha menatap ayahnya, menunggu penjelasan lebih lanjut, namun Mahesa hanya menggeleng pelan, seakan belum sanggup menceritakan semuanya sekaligus.“Siapa orang itu, Pa?” tanya Alesha pelan, suaranya bergetar.Mahesa menarik napas panjang, lalu menatap mereka bergantian. “Dia tidak menyebutkan namanya. Hanya berkata… waktu akan membuktikan siapa yang sebenarnya mendapat keuntungan dari semua ini.” Ia terdiam sejenak, lalu menatap Kaivan dengan pandangan yang jauh lebih lembut dari

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 84 Masih dengan Kegigihan Kaivan

    Kata-kata itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mencekam. Kaivan melangkah mendekat, namun Alesha mundur selangkah, seakan takut kehadirannya justru membawa bahaya. Ia menatap layar ponsel itu kembali, lalu menatap Kaivan dengan bingung dan takut. Ancaman itu bukan lagi sekedar peringatan, ia menunjuk ke arah lingkaran terdekat mereka, dan itulah yang paling membuat Alesha gemetar. Kaivan mengerti ketakutan itu, namun ia juga tahu bahwa menyerah bukanlah jawaban. Ia harus meyakinkan Alesha bahwa bersamanya berarti perlindungan, bukan bahaya. Ia meraih ponsel di tangan Alesha perlahan, menatapnya lekat-lekat agar perempuan itu tidak merasa terancam.“Dengarkan aku, Alesha,” ucap Kaivan lembut namun tegas, berusaha menembus kepanikan yang mulai menyelimuti perempuan itu. “Orang yang mengirim pesan ini ingin memisahkan kita. Itu tujuannya, menanamkan ketakutan agar kita salin

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 83 Masih dengan Kegigihan Kaivan

    Kata-kata Mahesa menggantung berat di udara, namun sebelum ia sempat melanjutkan, suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Alesha muncul di ambang pintu, wajahnya tenang namun matanya tetap waspada. Ia melihat Kaivan duduk di sana, lalu menatap ayahnya seakan menanyakan apa yang sedang dibicarakan. Kaivan segera berdiri, tidak ingin terlihat seakan mengorek rahasia tanpa izin. Ia menyapa dengan sopan, lalu berpamitan agar tidak menimbulkan ketegangan lebih lanjut. Alesha tidak menahannya, namun ia juga tidak berpaling. Ia hanya berdiri diam, memperhatikan kepergian Kaivan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkah kaki Kaivan terasa berat, namun tekadnya tidak goyah sedikit pun; ia tahu menembus tembok ini membutuhkan waktu lebih lama dari yang ia kira.Hari-hari berikutnya, Kaivan tetap datang. Ia tidak membahas percakapan sore itu, tidak mendesak Mahesa untuk melanjutkan cerita. Ia kembali melakukan hal-hal kecil yang bermanfaat, membantu memindahkan barang yang berat, merapi

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 82 Langkah yang Tidak Menyerah

    Suara ancaman di ujung telepon masih terngiang di telinga Kaivan saat ia melangkah keluar dari halaman rumah Wijanarka. Namun alih-alih takut, justru tekadnya semakin menguat. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk rahasia masa lalu, memisahkan dirinya dari Alesha. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah; pintu hati Alesha tertutup rapat, dan larangannya begitu tegas. Namun Kaivan juga menyadari satu hal, menyerah sekarang berarti membiarkan masa lalu menang, dan ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Setiap pagi, ia datang membawa sesuatu yang sederhana bukan bunga yang mewah, melainkan makanan kesukaan Alesha yang disiapkan sendiri, atau sekedar menanyakan kabar keluarga Wijanarka. Ia tidak memaksa bertemu, hanya menitipkan lalu pergi, memberi ruang agar kehadirannya tidak terasa menekan.Pagi ketiga, saat Kaivan berdiri di depan pagar, Helena keluar menyambutnya. Ia tidak langsung mengizinkanny

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 81 Keputusan Alesha

    Suasana di ruang tamu seketika mencekam. Wajah Helena pucat pasi, tangannya gemetar menahan ponsel di telinga. Mahesa langsung bangkit berdiri, napasnya tertahan di tenggorokan mendengar kabar itu. Kaivan dan Adrian saling berpandangan, kekhawatiran langsung menyelimuti hati mereka. Alesha pergi dan dia pergi setelah mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan dari dirinya. Kaivan tidak membuang waktu, ia segera melangkah maju, berniat mencarinya, namun Mahesa menahannya dengan isyarat tangan yang gemetar.“Tunggu dulu, Kaivan,” ucap Mahesa pelan namun tegas, berusaha menenangkan diri sekaligus orang lain. “Biarkan Alesha menenangkan pikirannya sendiri dulu. Dia butuh waktu untuk mencerna semuanya.”Kaivan menatapnya dengan cemas, kakinya terasa gatal ingin segera berlari mencari keberadaan perempuan itu. “Tapi Om, dia sendirian di luar sana… siapa yang tahu ke mana dia pergi.”Helena meletakkan ponselnya perlahan, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, lalu beralih menatap K

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 80 Melanjutkan Perjodohan

    Kaivan menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras, pesan Vanessa itu membuat dadanya bergemuruh antara amarah dan kekhawatiran. Ia menunjukkan pesan itu kepada Adrian yang duduk di kursi pengemudi, wajah papanya langsung berubah tegang membaca kalimat yang begitu penuh ancaman itu."Vanessa ada di depan rumah Alesha, Pa. Kita harus segera berangkat sebelum dia membuat keributan lagi," ucap Kaivan cepat, suaranya begitu tegang, tangannya sudah bersiap membuka pintu mobil.Adrian mengangguk tegas, segera menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. "Kita akan hadapi bersama, Nak. Jangan biarkan dia mengacaukan rencana kita hari ini."Sesampainya di depan kediaman keluarga Wijanarka, mereka justru menemukan halaman rumah itu begitu sepi, tidak ada tanda-tanda kehadiran Vanessa sama sekali, membuat Kaivan mengernyitkan dahi dengan perasaan campur aduk antara lega dan curiga."Sepertinya dia hanya menggertak, Nak. Untuk sementara kita fokus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status