LOGINTanpa sepengetahuan Rania, di balik jendela besar ruang depan rumah itu, sepasang mata tajam mengawasinya dengan tenang. Lelaki itu berdiri, menyandarkan bahu pada kusen, memperhatikan gerak-gerik Rania yang terlihat jelas dari balkon kamarnya. Senyum miring tersungging di bibirnya.
"Lucu," gumamnya pelan, hampir seperti bisikan. Setelah itu, ia berbalik, langkahnya tenang menuju taman belakang, meninggalkan jendela dan gadis yang tampak terlalu penasaran tersebut.
Hari pun bergulir. Tapi pagi ini berbeda untuk Rania. Jam masih menunjukkan pukul lima subuh, namun dia sudah terbangun, bahkan dengan semangat yang jarang sekali dia rasakan. Biasanya jam segini dia masih meringkuk di bawah selimut, tapi kali ini?
Rania sudah berdiri di depan cermin, mengenakan pakaian olahraga. Legging hitam dan kaos olahraga yang pas di badan, rambut dikuncir sederhana. Dia menatap bayangannya di cermin sambil tersenyum tipis.
"Eh, kenapa gue jadi semangat banget ya pagi ini? Aneh," gumamnya sambil menarik napas panjang.
Dia mengambil botol minum di meja, menaruhnya di saku kecil tas pinggang yang dia pakai. Sepatu olahraga putih sudah terpasang rapi di kakinya. Rania menatap jam dinding lagi, memastikan. "Masih jam lima lewat sepuluh. Kapan terakhir kali gue bangun pagi buat olahraga?" pikirnya, sedikit heran pada dirinya sendiri.
Dengan langkah ringan, dia turun ke lantai bawah. Rumah masih sunyi, hanya ada suara sesekali dari dapur, mungkin Bibik lagi siap-siap juga.
"Eh, Mbak Rania, kok udah bangun? Tumben pagi-pagi udah rapi," tanya Bibik dengan nada terkejut, melihat Rania sudah mengenakan pakaian olahraga.
Rania hanya nyengir. "Iya, Bik. Pengen lari pagi aja. Mau keliling komplek, gitu," jawabnya santai.
"Bagus, bagus! Biar sehat ya, Mbak. Tapi jangan lupa, hati-hati di jalan, ya."
"Iya, tenang aja, Bik." Rania melambaikan tangan dan keluar rumah.
Udara pagi terasa segar banget. Langit masih agak gelap, tapi suasana komplek sudah mulai hidup. Beberapa tetangga juga terlihat keluar rumah, ada yang menyiram tanaman, ada juga yang berjalan pagi.
Rania menarik napas dalam-dalam, lalu mulai berjalan perlahan, sebelum akhirnya berlari kecil di sepanjang jalan komplek. Tapi jujur, ada tujuan tersembunyi yang bikin dia semangat pagi ini. "Rumah baru itu. Kalau gue keliling komplek, siapa tahu bisa ketemu si Om hot itu lagi."
Pikiran itu bikin Rania tersenyum kecil sendiri, tapi dia segera menggeleng, mencoba menyangkal. "Ah, gue ngapain sih mikirin yang aneh-aneh. Ini cuma lari pagi biasa. Nggak lebih."
Tapi langkah kakinya tetap mengarah ke jalur yang melewati rumah tetangga baru itu. Mata Rania melirik cepat ke arah rumah besar di seberang. Jendela-jendela tampak tertutup, lampu di depan rumah masih menyala. Tidak ada tanda-tanda aktivitas di dalam.
"Ah, mungkin masih tidur kali ya? Atau... mungkin dia juga suka olahraga pagi? Siapa tahu gue ketemu di jalan!" Pikiran itu bikin jantung Rania berdegup lebih cepat, tapi dia segera menenangkan diri.
"Lari, Ran. Fokus lari. Bukan ngelamun!" katanya pelan, memotivasi dirinya sendiri, sambil terus berlari melewati rumah itu. Tapi entah kenapa, langkahnya terasa lebih ringan hari ini. "Semoga ada alasan bagus buat terus semangat olahraga kayak gini..."
Gue terus lari, ritme napas mulai teratur meskipun kaki udah sedikit berat. Beberapa kali papasan sama tetangga yang udah lumayan berumur—seumuran Bunda sama Ayah. Mereka pada bengong, mungkin heran banget ngeliat seorang Rania yang jarang banget keluar rumah, tiba-tiba ada inisiatif buat lari pagi.
Salah satu Ibu-ibu yang suka ngumpul sama Bunda bahkan sempet manggil gue. "Rania! Eh, tumben banget lari pagi? Ada angin apa nih?"
Gue senyum kecil sambil tetep jalan di tempat biar nggak kehilangan momentum. "Iya, Bu. Lagi pengen sehat aja," balas gue dengan nada sok santai.
Si Ibu ngangguk, tapi jelas banget matanya penuh kecurigaan, kayak lagi baca gerak-gerik gue. Gue buru-buru lanjut lari sebelum dia nanya lebih jauh.
Pas sampai di bunderan komplek, tempat ini emang jadi pusat nongkrong warga komplek. Ada tukang jajanan keliling mangkal di bawah pohon-pohon rindang, meja-meja kecil mulai disiapin buat pembeli yang mau duduk. Gue langsung berhenti, haus banget. Kalau minum es boba di pagi seger kayak gini sih, surga dunia!
"Bang, boba milk tea satu ya," gue melambai ke abang tukang boba yang lagi sibuk ngelayanin pembeli lain.
"Siap, Mbak Rania!" jawab dia sambil senyum ramah.
Gue duduk di salah satu bangku kecil sambil neduh di bawah pohon rindang, nunggu pesenan gue jadi. Tapi mata gue langsung kepincut sama gerobak telur gulung di sebelah tukang boba. Telor gulung, nih! Sarapan bergizi ala Rania.
Gue berdiri lagi, mendekat ke abang telur gulung yang udah sering banget jadi langganan gue. "Bang, sepuluh ribu ya, kayak biasa, pake saos yang banyak!"
"Siap, Mbak. Mau pake saos pedes atau kecap aja nih?"
"Campur aja, Bang. Hidup harus balance!"
Abang tukang telur gulung ketawa kecil sambil mulai ngeluarin tusuk sate dan mencelupinnya ke minyak yang udah ada bihun dicampur telur. "Tumben banget pagi-pagi nongol, Mbak. Biasanya siang aja, itu pun kalau lagi niat keluar rumah."
Gue cengengesan. "Lagi pengen aja, Bang. Sekali-kali jadi warga komplek yang baik."
"Nah gitu dong, sesekali lihat matahari pagi biar fresh," balas dia sambil ngangkat tusuk pertama yang udah mateng.
Pas gue balik ke tempat duduk, boba gue udah jadi. Wah, rejeki anak pagi! Gue langsung duduk sambil nyeruput minuman favorit. Ah, nikmat banget rasanya, meskipun pagi ini gue masih bingung kenapa bisa semangat banget keluar rumah.
Sambil nunggu telur gulung mateng, gue iseng ngelirik sekitar. Beberapa orang yang lagi nongkrong di sini saling ngobrol, suara mereka samar-samar bercampur sama suara kendaraan yang lewat. Tapi entah kenapa, gue ngerasa kayak ada yang merhatiin.
Gue nengok ke kiri, ke kanan, nggak ada siapa-siapa yang familiar. "Ah, halu kali gue. Biasa, efek pagi-pagi belum biasa olahraga," pikir gue sambil narik napas dalam-dalam.
"Nih, Mbak. Telur gulungnya udah jadi," suara abang telur gulung bikin gue kaget dikit. Gue buru-buru berdiri dan nyamber pesenan sambil bayar.
"Thanks, Bang! Rejeki pagi ini komplit banget," kata gue sambil jalan balik ke tempat duduk, siap nyikat sarapan kombo boba dan telur gulung. Tapi di ujung mata gue, samar-samar gue ngerasa kayak ada sosok yang nggak asing lagi lewat di depan gerobak.
Gue melirik cepat. Sebelah mana? Ah, nggak ada lagi. Mungkin cuma kebetulan. Tapi jantung gue tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Beberapa minggu setelah lamaran, hari-hari Rania dan Arsen berubah jadi sangat padat. Rania masih harus kuliah di semester lima, tugas kelompok datang bertubi-tubi, sementara di luar kampus ia harus ikut meeting vendor, cek gedung, fitting kebaya pengantin, sampai urusan foto prewedding yang jadwalnya selalu bentrok. Belum lagi Arsen, sebagai Kasat Intelkrim, sering dipanggil mendadak ke kantor bahkan di akhir pekan. Rapat mendadak, tugas luar kota, dan tumpukan laporan yang tak pernah habis.Yang paling melelahkan bagi Rania adalah urusan administrasi pernikahan seorang anggota Polri. Surat izin atasan, surat keterangan belum pernah menikah dari kelurahan, surat numpang nikah, sampai pengurusan buku nikah di KUA yang harus bolak-balik karena berkasnya selalu ada yang kurang. Setiap kali Rania pulang dari kantor polisi atau dari KUA, wajahnya selalu lelah sekali.Suatu malam, hampir tengah malam, Rania masih duduk di depan meja riasnya. Di depannya terbentang setumpuk map berisi fot
Rania berjalan mondar-mandir di dalam kamar, langkahnya pendek-pendek dan gelisah. Sejak dini hari ia hampir tidak bisa tidur, karena pagi ini adalah hari yang akan mengubah hidupnya. Hari lamaran. Hari ketika Arsen dan keluarganya datang untuk meminta dirinya secara resmi kepada Mama dan Papa.Kebaya merah maroon yang ia kenakan, dengan payet halus yang berkilau setiap kali ia bergerak, membuatnya terlihat sangat anggun. Namun rasa gugup tetap tak hilang. Tangannya terus meremas ujung selendang, dadanya naik turun tidak stabil.Di sudut kamar, Mbak Risya yang sejak tadi duduk di kursi rias hanya menggeleng melihat tingkah adiknya. “Udah, Ran. Jangan mondar-mandir gitu terus. Dari tadi kamu kayak setrikaan. Sebentar lagi Arsen nyampe. Muka kamu kelihatan banget paniknya.”Rania berhenti tepat di depan kakaknya, mendengus pelan. “Ish, Mbak Risya ngomongnya enak. Mbak kan udah pernah dilamar. Tau rasanya gimana. Aku beneran nggak bisa diem ini. Deg-degan banget, takut mereka kenapa-kena
Arsen akhirnya ikut berbaring di sisi Rania, menyesuaikan posisi agar tubuh gadis itu tetap nyaman dalam dekapannya. Tangannya masih menjadi penyangga kepala Rania, meski mulai terasa kesemutan. Ia bisa saja menariknya, tapi ia tidak ingin mengganggu tidur gadis itu. Membiarkannya seperti ini terasa jauh lebih penting.Ia menatap wajah Rania yang begitu damai, mengamati setiap detail seperti sedang menyimpan semuanya dalam ingatan. Sesekali ia mengusap pelan pipi atau alis gadis itu, sentuhan yang lebih menyerupai belaian sayang daripada sekadar gerakan spontan.Arsen mendekat sedikit, napasnya hampir menyentuh kening Rania. “Mimpi apa kamu sekarang?” bisiknya pelan, suaranya rendah dan penuh rasa ingin tahu.Arsen tersenyum kecil, lalu menundukkan kepala untuk memberi satu kecupan lembut lagi di kening kekasihnya, seolah berharap bisa menyelinap masuk ke dalam mimpi Rania dan menemaninya di sana. Ia hampir ikut terlelap ketika gerakan kecil di lengannya membuatnya membuka mata.Rani
“Eh, Rania ya? Tante sama Om sudah nungguin dari tadi.” Suara hangat Anita segera menyambut ketika Rania melangkah masuk. Senyum ramah itu membuat napas Rania sedikit lebih lega, meski ia masih terlihat canggung saat menyalami tangan wanita paruh baya tersebut.“Maaf Tante, semoga tidak terlalu lama nunggu,” ucap Rania sopan, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.“Nggak, kok. Ayo masuk dulu,” jawab Anita sambil menepuk ringan punggung tangan Rania sebagai isyarat penerimaan.Di sisi lain, Iskandar—Ayah Arsen—menatap dengan sorot mata yang ramah namun tetap memancarkan wibawa khas seorang yang terbiasa memimpin. Tubuh tegap dan gesturnya yang disiplin membuat Rania makin berhati-hati menjaga sikap.“Selamat datang ya, Rania. Di rumah kami,” ucap Iskandar sambil mengangguk kecil.“Terima kasih, Om,” balas Rania, suaranya halus tapi terlihat jelas bahwa ia mencoba tidak salah langkah.Arsen berdiri sedikit di belakangnya, memperhatikan dengan senyum bangga dan memastikan Rania tid
“Orangtua saya mau ketemu kamu dulu, Rania.” Arsen berbicara sambil melepaskan jam tangan dan meletakkannya di meja. Ia baru pulang kerja, masih mengenakan kemeja yang sedikit kusut. Rania duduk di sofa ruang depan, memakai setelan rumahan yang sederhana, dan ia menegakkan tubuhnya begitu mendengar kabar itu.“Boleh. Mau ketemu kapan?” tanya Rania, berusaha terdengar tenang meski jantungnya berdetak lebih cepat.“Besok. Sebelum lamaran resmi.” Arsen duduk di sampingnya, menghela napas panjang lalu tertawa kecil. “Salah saya juga sih belum ajak kamu main ke rumah. Harusnya dari dulu. Tapi nggak telat banget kan kalau sekarang baru bilang?”Rania ikut tersenyum, meski gugupnya belum hilang. “Nggak telat kok. Aku malah seneng diajak ketemu keluarga Mas. Deg-degan sih, tapi seneng.”Arsen menatap wajahnya, memperhatikan ekspresi Rania yang tampak campur aduk antara bahagia dan cemas. “Kamu nggak usah takut. Mama orangnya lembut. Ayah saya juga santai banget. Mereka pasti suka sama kamu.”
“Jadi kamu mau nikah, Bang?” ulang Armand, memastikan ucapan Arsen barusan. Nada suaranya terdengar antara kaget dan penasaran. Informasi itu datang begitu tiba-tiba, bahkan bagi seorang adik yang biasanya tahu segala urusan kakaknya.“Iya. Kamu setuju?” tanya Arsen pelan, menatap adiknya sambil menghembuskan asap rokok perlahan.Armand bersandar sebentar, lalu mencondongkan tubuh ke depan untuk mengambil sepotong apel dari piring. Ia menggigitnya pelan sebelum bicara lagi. “Setuju aja sih. Cuman tetap aja, perbedaan umur kalian jauh banget, Bang. Serius, aku kaget.”Arsen meletakkan rokoknya di asbak kaca. Balkon lantai dua itu diterangi lampu kuning redup, angin malam berhembus pelan tanpa terlalu dingin. Suasana rumah besar itu terasa tenang, seperti memberi ruang bagi dua saudara itu untuk bicara lebih terbuka.“Aku udah yakin sama dia,” ucap Arsen lagi. “Meskipun umurnya jauh, dan iya, dia mungkin lebih cocok jadi pacar anakku, tapi itu nggak jadi masalah. Banyak sekarang yang be







