Share

Bab 3 - Kepikiran terus

Author: Sils
last update Last Updated: 2025-01-03 12:56:07

Kelas hari ini cukup padat, apalagi ada beberapa kuis yang bikin kepala gue nyut-nyutan. Gue nunduk sedikit sambil mencatat di buku, sesekali melirik arloji di tangan kiri. Jarum jam udah nunjukin pukul enam sore. "Waduh, satu mata kuliah lagi ini. Kuat gak, ya?" pikir gue sambil menghela napas.

Mata kuliah terakhir akhirnya selesai juga. Gue keluar dari kelas bareng beberapa teman, tapi kayak biasa, gue lebih suka cari makan sendiri. Rasa lapar mulai merayap, perut gue udah minta diisi.

Langkah gue menuju kantin yang nggak terlalu jauh dari gedung kelas. Kantin kampus ini lumayan nyaman, walau udah mulai sepi karena jam kuliah sore udah hampir selesai. Gue langsung nyamperin salah satu stand makanan langganan.

“Buk, es jeruk satu, sama sotonya ya,” kata gue sambil mengacungkan jari buat pesanan.

“Iya, Mbak. Tunggu sebentar ya, sotonya masih anget baru aja mateng,” jawab si Ibu kantin dengan senyum ramah.

Gue milih duduk di pojokan, tempat favorit gue kalau lagi mau sendirian. Sambil nunggu pesanan, gue nyender di kursi dan ngeliatin suasana kantin. Udah mulai sepi, beberapa meja kosong. Ada sekelompok anak yang masih ngobrol di sudut lain, tapi sisanya cuma gue dan si Ibu penjual.

Sambil nunggu, pikiran gue tiba-tiba ngelantur ke masa lalu. "Hidup gue kok sepi banget ya," gue merenung sambil ngelirik layar ponsel yang nggak ada notifikasi menarik. Pacar? Jelas nggak ada. Terakhir pacaran aja pas kelas dua SMA. Itu pun kayaknya dia nggak beneran suka sama gue, cuma cari pengalaman aja kali.

"Ya udah, biarin aja. Toh, seenggaknya mantan gue itu nggak jelek-jelek amat. Jadi, gini-gini gue pernah disukain cowok ganteng juga. Hehe, ada prestasi dikit lah," gue ketawa kecil sendiri sambil menghibur hati.

“Mbak, ini es jeruk sama sotonya,” suara si Ibu membuyarkan lamunan gue. Gue senyum, ngucapin terima kasih, terus mulai makan. Soto hangat dengan kuah gurih langsung bikin perut gue lega.

Sambil makan, gue ngeliat sekitar lagi. "Kayaknya hidup udah berubah banget ya sejak SMA. Kalau dulu, jam segini mah udah pasti di rumah. Tapi sekarang, jam pulang kuliah aja nggak tentu. Rasanya lebih bebas, tapi juga lebih... sepi." Gue nyeruput es jeruk pelan-pelan, menikmati momen ini sambil terus tenggelam dalam pikiran sendiri.

Selesai makan, gue duduk sebentar sambil ngelirik ponsel, ngecek ada notifikasi atau nggak. Seperti biasa, yang muncul cuma chat grup kelas atau promo aplikasi belanja online. "Hah, begini amat ya hidup gue. Gak ada yang bikin deg-degan kayak di drama-drama kampus itu," gue senyum miris sendiri.

Setelah ngerasa cukup istirahat, gue bangkit dari kursi dan ngambil dompet buat bayar makanan. "Makasih, Buk. Enak banget kayak biasa," kata gue sambil ngeluarin uang.

"Sama-sama, Mbak. Hati-hati di jalan ya," jawab si Ibu dengan senyum ramahnya.

Gue keluar dari kantin dan menunggu kelas selanjutnya, hingga kelas selesai di jam tujuh lewat tujuh menit, gue segera berjalan pelan menuju parkiran mobil. Suasana kampus udah makin sepi, cuma ada beberapa mahasiswa yang juga baru selesai kelas. Langit mulai gelap, lampu-lampu jalan di area kampus udah nyala, bikin suasana agak syahdu.

Pas sampai di mobil, gue masukin tas ke kursi belakang, terus duduk di kursi pengemudi. Mesin gue nyalain, AC diatur biar dingin sedikit, lalu gue bersandar sejenak. "Hah, pulang aja deh. Capek banget hari ini."

Di perjalanan, pikiran gue masih aja melayang ke hal-hal nggak penting. Tadi pagi, cowok yang pindah ke seberang rumah tiba-tiba muncul lagi di kepala gue. "Kenapa sih dia kayak punya aura misterius banget? Hot, dewasa, tapi ada sesuatu yang bikin penasaran. Om-om tipe peruntuh keimanan ini... kenapa gue malah mikirin dia terus?" Gue ngetawain diri sendiri sambil nginjek gas lebih dalam, biar cepet sampai rumah.

Lampu-lampu jalan yang redup bikin perjalanan terasa agak sendu. Tapi di tengah keheningan itu, tiba-tiba ada pikiran konyol lewat. "Gimana kalau ternyata dia tetangga baru yang single dan... tertarik sama gue? Ah, halu lagi, Ran!" Gue geleng-geleng kepala sambil nahan ketawa.

Begitu sampai di rumah, gue parkirin mobil di garasi dan masuk ke dalam rumah. Bibik udah selesai beres-beres dan nyalain lampu di ruang tamu. "Mbak, sudah makan ya tadi?" tanya Bibik sambil melongok dari dapur.

"Udah, Bik. Aku langsung ke kamar aja ya. Capek banget hari ini," jawab gue sambil ngasih senyum tipis.

Naik ke kamar, gue langsung rebahan di kasur, ngelepas semua beban dari punggung. Hari ini panjang banget, tapi entah kenapa, ada bagian dari otak gue yang masih nggak bisa lepas dari sosok tetangga baru itu. "Aduh, semoga gue nggak kepikiran dia sampai kebawa mimpi deh..." Gue tarik selimut sambil ngehela napas, mencoba mengusir bayangan itu, tapi gagal total.

Setelah rebahan beberapa menit, gue ngerasa nggak tenang. Kenapa sih, pikiran gue kayak nggak bisa move on dari tetangga baru itu? Gue bangun perlahan, duduk di ujung kasur sambil ngelirik pintu balkon.

"Ah, liat lagi aja deh. Siapa tau dia keluar," gumam gue pelan, setengah nggak sadar kalau gue mulai senyum-senyum sendiri.

Gue beringsut bangun, melangkah pelan ke balkon. Udara malam mulai terasa dingin, tapi itu nggak bikin gue batal buat ngintip ke seberang rumah. Dari atas sini, rumah baru itu kelihatan jelas. Lampu-lampunya udah menyala semua, tanda kalau acara pindahan kayaknya udah selesai.

Gue berdiri di balkon, mata terus menelusuri halaman rumah mereka. Beberapa kardus bekas pindahan masih kelihatan di dekat teras, tapi suasananya udah tenang. "Udah beres kali ya mereka?" pikir gue.

Gue menggigit kuku jari telunjuk dengan gugup. Ada rasa penasaran yang nggak bisa gue tahan. "Apa mungkin tuh Om-om khilaf, terus keluar lagi ya kan?" bisik gue sambil terus ngeliat ke arah rumah itu.

Sadar apa yang baru aja gue bilang, gue langsung tepok jidat sendiri. "Duh, Rania! Apaan sih? Jangan halu terus!" kata gue dengan nada kesal sama diri sendiri. Gue coba buang pikiran aneh-aneh itu, tapi tetap aja, bayangan wajah gantengnya tadi pagi muncul lagi.

"Eh, tapi... beneran deh, dia tipe gue banget. Hot, misterius, dan kayaknya mapan. Aduh, kalau single gimana ya? Gawat, bisa bahaya ini," gue ngomong sendiri sambil nyengir.

Sambil nahan senyum, gue bersandar di pagar balkon. Mata gue masih ngarah ke rumah itu, berharap ada keajaiban, tapi tetap nggak ada yang keluar. Udara malam makin dingin, dan gue akhirnya nyerah.

"Udahlah, Ran. Lo mending tidur aja. Daripada halu nggak jelas, mending mimpi indah sekalian," kata gue sambil berbalik masuk ke kamar. Tapi jujur, hati kecil gue berharap, besok pagi ada alasan buat ketemu tetangga baru itu lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 42

    Beberapa minggu setelah lamaran, hari-hari Rania dan Arsen berubah jadi sangat padat. Rania masih harus kuliah di semester lima, tugas kelompok datang bertubi-tubi, sementara di luar kampus ia harus ikut meeting vendor, cek gedung, fitting kebaya pengantin, sampai urusan foto prewedding yang jadwalnya selalu bentrok. Belum lagi Arsen, sebagai Kasat Intelkrim, sering dipanggil mendadak ke kantor bahkan di akhir pekan. Rapat mendadak, tugas luar kota, dan tumpukan laporan yang tak pernah habis.Yang paling melelahkan bagi Rania adalah urusan administrasi pernikahan seorang anggota Polri. Surat izin atasan, surat keterangan belum pernah menikah dari kelurahan, surat numpang nikah, sampai pengurusan buku nikah di KUA yang harus bolak-balik karena berkasnya selalu ada yang kurang. Setiap kali Rania pulang dari kantor polisi atau dari KUA, wajahnya selalu lelah sekali.Suatu malam, hampir tengah malam, Rania masih duduk di depan meja riasnya. Di depannya terbentang setumpuk map berisi fot

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 41

    Rania berjalan mondar-mandir di dalam kamar, langkahnya pendek-pendek dan gelisah. Sejak dini hari ia hampir tidak bisa tidur, karena pagi ini adalah hari yang akan mengubah hidupnya. Hari lamaran. Hari ketika Arsen dan keluarganya datang untuk meminta dirinya secara resmi kepada Mama dan Papa.Kebaya merah maroon yang ia kenakan, dengan payet halus yang berkilau setiap kali ia bergerak, membuatnya terlihat sangat anggun. Namun rasa gugup tetap tak hilang. Tangannya terus meremas ujung selendang, dadanya naik turun tidak stabil.Di sudut kamar, Mbak Risya yang sejak tadi duduk di kursi rias hanya menggeleng melihat tingkah adiknya. “Udah, Ran. Jangan mondar-mandir gitu terus. Dari tadi kamu kayak setrikaan. Sebentar lagi Arsen nyampe. Muka kamu kelihatan banget paniknya.”Rania berhenti tepat di depan kakaknya, mendengus pelan. “Ish, Mbak Risya ngomongnya enak. Mbak kan udah pernah dilamar. Tau rasanya gimana. Aku beneran nggak bisa diem ini. Deg-degan banget, takut mereka kenapa-kena

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 40

    Arsen akhirnya ikut berbaring di sisi Rania, menyesuaikan posisi agar tubuh gadis itu tetap nyaman dalam dekapannya. Tangannya masih menjadi penyangga kepala Rania, meski mulai terasa kesemutan. Ia bisa saja menariknya, tapi ia tidak ingin mengganggu tidur gadis itu. Membiarkannya seperti ini terasa jauh lebih penting.Ia menatap wajah Rania yang begitu damai, mengamati setiap detail seperti sedang menyimpan semuanya dalam ingatan. Sesekali ia mengusap pelan pipi atau alis gadis itu, sentuhan yang lebih menyerupai belaian sayang daripada sekadar gerakan spontan.Arsen mendekat sedikit, napasnya hampir menyentuh kening Rania. “Mimpi apa kamu sekarang?” bisiknya pelan, suaranya rendah dan penuh rasa ingin tahu.Arsen tersenyum kecil, lalu menundukkan kepala untuk memberi satu kecupan lembut lagi di kening kekasihnya, seolah berharap bisa menyelinap masuk ke dalam mimpi Rania dan menemaninya di sana. Ia hampir ikut terlelap ketika gerakan kecil di lengannya membuatnya membuka mata.Rani

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 39

    “Eh, Rania ya? Tante sama Om sudah nungguin dari tadi.” Suara hangat Anita segera menyambut ketika Rania melangkah masuk. Senyum ramah itu membuat napas Rania sedikit lebih lega, meski ia masih terlihat canggung saat menyalami tangan wanita paruh baya tersebut.“Maaf Tante, semoga tidak terlalu lama nunggu,” ucap Rania sopan, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.“Nggak, kok. Ayo masuk dulu,” jawab Anita sambil menepuk ringan punggung tangan Rania sebagai isyarat penerimaan.Di sisi lain, Iskandar—Ayah Arsen—menatap dengan sorot mata yang ramah namun tetap memancarkan wibawa khas seorang yang terbiasa memimpin. Tubuh tegap dan gesturnya yang disiplin membuat Rania makin berhati-hati menjaga sikap.“Selamat datang ya, Rania. Di rumah kami,” ucap Iskandar sambil mengangguk kecil.“Terima kasih, Om,” balas Rania, suaranya halus tapi terlihat jelas bahwa ia mencoba tidak salah langkah.Arsen berdiri sedikit di belakangnya, memperhatikan dengan senyum bangga dan memastikan Rania tid

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 38

    “Orangtua saya mau ketemu kamu dulu, Rania.” Arsen berbicara sambil melepaskan jam tangan dan meletakkannya di meja. Ia baru pulang kerja, masih mengenakan kemeja yang sedikit kusut. Rania duduk di sofa ruang depan, memakai setelan rumahan yang sederhana, dan ia menegakkan tubuhnya begitu mendengar kabar itu.“Boleh. Mau ketemu kapan?” tanya Rania, berusaha terdengar tenang meski jantungnya berdetak lebih cepat.“Besok. Sebelum lamaran resmi.” Arsen duduk di sampingnya, menghela napas panjang lalu tertawa kecil. “Salah saya juga sih belum ajak kamu main ke rumah. Harusnya dari dulu. Tapi nggak telat banget kan kalau sekarang baru bilang?”Rania ikut tersenyum, meski gugupnya belum hilang. “Nggak telat kok. Aku malah seneng diajak ketemu keluarga Mas. Deg-degan sih, tapi seneng.”Arsen menatap wajahnya, memperhatikan ekspresi Rania yang tampak campur aduk antara bahagia dan cemas. “Kamu nggak usah takut. Mama orangnya lembut. Ayah saya juga santai banget. Mereka pasti suka sama kamu.”

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 37

    “Jadi kamu mau nikah, Bang?” ulang Armand, memastikan ucapan Arsen barusan. Nada suaranya terdengar antara kaget dan penasaran. Informasi itu datang begitu tiba-tiba, bahkan bagi seorang adik yang biasanya tahu segala urusan kakaknya.“Iya. Kamu setuju?” tanya Arsen pelan, menatap adiknya sambil menghembuskan asap rokok perlahan.Armand bersandar sebentar, lalu mencondongkan tubuh ke depan untuk mengambil sepotong apel dari piring. Ia menggigitnya pelan sebelum bicara lagi. “Setuju aja sih. Cuman tetap aja, perbedaan umur kalian jauh banget, Bang. Serius, aku kaget.”Arsen meletakkan rokoknya di asbak kaca. Balkon lantai dua itu diterangi lampu kuning redup, angin malam berhembus pelan tanpa terlalu dingin. Suasana rumah besar itu terasa tenang, seperti memberi ruang bagi dua saudara itu untuk bicara lebih terbuka.“Aku udah yakin sama dia,” ucap Arsen lagi. “Meskipun umurnya jauh, dan iya, dia mungkin lebih cocok jadi pacar anakku, tapi itu nggak jadi masalah. Banyak sekarang yang be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status