Mag-log inRosa's sweet and peaceful life with her boyfriend, Leonardo, who pretended to love and cherish her, was perfect until he betrayed her for her best friend, Julia. Then fate brought her to Matteo, her downfall. He was exceptionally handsome and emitted jeopardy, yet she remained irresistibly drawn to him, despite all her intuition warning her to stay away. "You remain with me, even if you resist me!"
view moreSore itu berjalan seperti biasanya. Mobil yang dikendarai oleh Thalia berhenti tepat di depan mansion Blaine. Namun ada satu hal yang membuat kening Thalia berkerut, beberapa mobil mewah berwarna hitam terparkir rapi di halaman kediaman itu. Thalia tahu tentang betapa sibuk dan banyaknya tekan kerja ayahnya, tetapi baru kali ini dia melihat mobil terparkir sebanyak ini. Tidak seperti biasanya.
"Ayah sedang kedatangan tamu?" gumam Thalia pelan. Perhatiannya teralihkan ketika para pelayan datang dan membukakan pintu untuknya sementara yang lainnya beralih ke pintu belakang, tempat dimana paper bag berlogo butik ternama dan barang-barang mahal lainnya berada. Thalia baru saja pulang dari aktivitas hariannya, menghabiskan uang ayahnya. Thalia akhirnya keluar dari mobil, pandangannya terhenti sejenak. Ada beberapa pria asing berjaga di sekitar pintu masuk, wajah-wajah yang sama sekali tidak dikenalinya. Mereka bukan pengawal ayahnya, seragam gelap dan sikap waspada mereka berbeda dari para pengawal keluarganya yang selama ini sudah begitu familiar baginya. Thalia melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk. Biasanya pengawal ayahnya akan menyapanya, namun mereka hanya diam. Gadis berambut coklat itu memutuskan untuk tidak mengambil pusing dan tetap berjalan kedepan, hanya melirik sekilas sebelum fokus ke tujuannya, ruang kerja ayahnya. Saat baru membuka sedikit pintu kerja ayahnya, Thalia melihat ayahnya duduk meja kerjanyasementara beberapa pria berdiri tidak jauh darinya. Namun perhatian Thalia langsung tertuju pada satu orang yang duduk di sofa. Seorang pria yang mengenakan setelan hitam sederhana tetapi jelas bukan pakaian sembarangan. Rambut hitamnya dan mata birunya itu membuat Thalia secara terang-terangan terus menatapnya. Tubuh pria itu bersandar tenang pada sofa, satu tangan berada di sandaran sementara wajahnya mengarah kepada Jonathan Blaine, ayah Thalia. Thalia tidak mengerti mengapa suasananya begitu serius. Biasanya ruang kerja ayahnya terasa hangat. Namun, sore ini berbeda. "Aku sudah mencoba memperbaikinya," lanjut Jonathan. "Aku menjual beberapa aset yang tidak terlalu penting. Menghentikan proyek yang tidak terlalu mendesak. Menggunakan cadangan dana untuk mempertahankan perusahaan... dan itu tetap tidak cukup." "Masalahnya bukan perusahaanmu," ujar Childe. "Lalu?" "Kesepakatan itu." Ruangan mendadak terasa lebih sunyi, Sedang Thalia mengerutkan dahinya bingung. "Aku sudah membatalkannya, aku tidak punya pilihan." Raut wajah Jonathan mulai sedikit berubah. Childe menatap Jonathan tanpa ekspresi. "Selalu ada pilihan." Jonathan menghela nafas kasar. "Aku tidak bisa menyerahkan perusahaan dan orang-orangku kepada mereka." "Dan sekarang mereka menganggap itu sebagai penghinaan." Apa yang Childe katakan adalah kenyataan dan Jonathan tidak bisa menghindarinya. Perlahan jari Jonathan mengetuk-ngetuk pelan ke meja. "Aku sudah menawarkan kompensasi." "Mereka tidak menginginkan uangmu." "Lalu apa yang mereka mau?" Pertanyaan itu keluar begitu saja. Kedua pria tersebut terdiam sementara Jonathan mulai mengalihkan pandangannya ke arah Thalia yang masih mengintip. Ya, dia tahu kalau Thalia sedang mengintip. Pria itu juga ikut mengalihkan pandangannya ke arah Thalia lalu sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman miring. Thalia mendadak gugup dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah baru saja ketahuan menatap seseorang terang-terangan, meskipun pria itu sudah menyadarinya sejak pertama kali Thalia menatapnya. "Kenapa?" ucap Thalia sambil menatap ayahnya sambil berjalan keluar dari persembunyiannya. Jonathan menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada." "Papa?" "Ini urusan bisnis," ucap Jonathan sambil menatap berkas di tangannya. "Terus kenapa semuanya terdengar seperti masalah besar?" Jonathan tidak menjawab. Sementara pria yang tadinya bersandar di sofa itu justru mengambil gelas yang berada di atas meja dan meneguk sedikit sebelum berkata, "Mereka ingin membuatmu kehilangan sesuatu yang tidak bisa kau beli kembali." Jonathan menatapnya tajam. "Jangan." Thalia semakin bingung. "Apa maksudnya?" Jonathan mengusap wajah sebelum akhirnya bersandar di kursinya. "Mereka sudah mulai mencari cara untuk mendekat." "Siapa?" tanya Thalia bingung. "Orang-orang yang terlibat dalam kesepakatan itu," balas Ayahnya yang membuat Thalia mengernyit. "Thalia, papa bisa kehilangan semua yang sudah papa bangun selama puluhan tahun." Thalia terdiam namun ayahnya tidak terlihat terlalu takut kehilangan semua itu. Tatapannya justru jatuh kepada putrinya. "Tapi bukan itu yang papa takutkan." Thalia menatapnya. "Lalu?" Jonathan terdiam cukup lama. "Papa takut mereka akan menyentuhmu." Thalia sedikit terkejut mendengar perkataan ayahnya, ia menatap ayahnya bingung. "Aku? Kenapa mereka tahu aku?" "Karena kau putri papa." Jawaban itu terdengar sederhana namun justru membuat Thalia semakin tidak nyaman. Ia menoleh kepada pria yang duduk di seberangnya, pria itu sedang memperhatikannya. Tatapannya berbeda dari sebelumnya seolah pria itu sedang menilai sesuatu yang tidak diketahui Thalia. "Papa akan melindungiku, kan?" tanya Thalia pada akhirnya. Pertanyaan itu membuat ayahnya terdiam cukup lama dan jawaban akhirnya keluar justru membuat hati Thalia terasa tidak enak. "Papa tidak yakin," bahkan Jonathan tidak berani menatap putrinya. Thalia menatapnya tidak percaya. Ayahnya tidak pernah mengatakan kalimat seperti itu. "Kenapa?" Jonathan menunduk sebentar sebelum menatap putrinya. "Dan itu salah Papa. Ada keputusan yang harus papa ambil." "Keputusan apa?" Tidak ada jawaban selama beberapa detik, Thalia mulai merasa tidak nyaman. Kemudian Jonathan mengalihkan pandangan kepada pria yang sejak tadi duduk dengan tenang di sofa. "Papa sudah meminta bantuannya." Thalia mengikuti arah pandangan ayahnya. Pria itu. "Bantuan apa?" Thalia menatap Jonathan bingung. Jonathan menjawab dengan suara yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya. "Mulai sekarang, dia yang akan memastikan kau tetap aman." Thalia mengerutkan kening. "Maksud papa?" "Kau akan menikah dengannya,” ucap Jonathan dengan nada tegas. “Papa serius?” tanya Thalia sambil menatap Jonathan dengan tatapan tak percaya. “Ya,” jawab Jonathan tanpa ada rasa ragu sedikitpun. “Aku bahkan tidak tahu dia siapa, bagaimana mungkin aku menikah dengannya?!” Thalia sedikit frustasi, dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi sehingga Jonathan berpikir untuk menikahinya dengan orang asing. Jonathan menghela nafas panjang. “Karena Papa sudah tidak bisa menjamin keselamatanmu lagi.” Thalia terdiam cukup lama. Kalimat itu terasa jauh lebih menakutkan daripada pengumuman pernikahan itu sendiri. “Kenapa Papa berbicara seperti itu?” Jonathan menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Thalia, keadaan sudah berubah.” Thalia mulai berpikir cepat, mencari jalan lain untuk membujuk ayahnya agar tidak melakukan hal yang Thalia tidak inginkan. “Kalau perusahaan Papa sedang bermasalah, kita bisa memperbaikinya.” Sementara Jonathan hanya menatap putrinya, tatapan yang biasanya penuh keyakinan itu justru dipenuhi sesuatu yang belum pernah Thalia lihat sebelumnya. Keputusasaan. Thalia terdiam. Jonathan bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Beberapa kendaraan hitam masih terparkir di luar, sementara pria-pria asing berdiri di berbagai sudut halaman. Jonathan menarik nafas panjang sebelum akhirnya berkata, “Pernikahan ini bukan karena Papa ingin menjodohkanmu.” “Lalu kenapa Papa melakukannya?” Thalia berusaha keras untuk memahami isi pikiran ayahnya, namun hasilnya benar-benar tidak bisa dimengerti. “Ini sebagai perlindungan, Thalia.” “Aku bisa melindungi diriku sendiri,” jeda Thalia. “Papa bisa menambah pengawal untukku, atau pindahkan saja aku keluar negeri.” Childe melirik Thalia ketika gadis itu bersusah payah membujuk ayahnya sendiri, sementara Jonathan menghela napas panjang. “Semua itu tidak akan cukup.” Thalia terdiam. “Tidak ada tempat yang benar-benar aman selama kau masih menggunakan nama keluarga kita, nama Blaine.” Thalia menatap ayahnya untuk yang kesekian kalinya. Kalimat itu perlahan membuat pikirannya kosong. “Dan nama keluarga Tuan Childe, akan melindungimu ketika aku sudah tidak sanggup untuk melindungimu lagi.” Perkataan itu keluar dengan mantap dari seorang Jonathan Blaine, sosok yang selama ini selalu Thalia percaya sebagai pahlawan terbaiknya, namun kini tampaknya masalah yang dialami oleh Jonathan tidak sesimpel itu sehingga mau tak mau Thalia harus menuruti keinginannya. “Jadi… aku harus menikah dengan orang asing supaya aman?” nada suara Thalia mulai terdengar sedikit kesal. “Dia bukan orang sembarangan.” Jonathan melangkah ke arah sofa, tempat dimana Childe duduk dengan santai sambil menyimak drama di antara anak dan ayah ini. Thalia spontan menoleh kepada Childe. Pria itu masih duduk dengan tenang, tatapannya bertemu dengan mata Thalia. Kali ini Thalia tidak langsung mengalihkan pandangan. “Apa sebenarnya pekerjaanmu?” Childe tidak langsung menjawab, justru Jonathan yang menjawab. “Dia memiliki cukup kekuasaan untuk menjagamu.” Thalia mengerutkan kening. “Jawaban Papa aneh.” Childe akhirnya angkat bicara. “Pekerjaanku tidak akan menjadi masalah selama kamu mengikuti kesepakatan.” Thalia menatapnya heran. “Kesepakatan?” “Pernikahan ini, bukan pernikahan yang dibangun atas perasaan.” Suara Childe rendah dan datar saat mengatakannya hingga membuat Thalia sempat terdiam. “Bagus,” jawab Thalia cepat. Childe menatapnya, “aku juga tidak berniat memaksamu memiliki perasaan apapun terhadapku.” Thalia sedikit terkejut. Setidaknya pria itu tidak terdengar seperti seseorang yang berharap banyak darinya. “Lalu apa yang kau inginkan?” “Kerja sama.” “Kerja sama?” ucap Thalia mengulangi perkataan Childe dengan bingung. “Pernikahan ini akan menjadi hubungan kontraktual. Kau mendapatkan perlindungan. Aku mendapatkan sesuatu yang sudah disepakati ayahmu.”MATTEOI has panicked when I saw Rosa struggling with someone in the garden. I came out for fresh air and luckily I was able to save her from being kidnappedI didn't hesitate to shit the bastard when I saw her go limp in his arms. Nobody can touch what's mine and go free.I brought her inside, informing Theo to take care of the dead man's body. It's a good thing Rosa had just passed out, it would take few minutes before she gains consciousness again*******After minutes of pacing back and forth Rosa woke up, “Ma…two” she struggled to speakI rushed towards her, sitting by her side. I took her hand in mine, patting them tenderly. I hope I wasn't going soft because this wasn't a normal thing I would have done.“How are you feeling now?, do you need anything?, are comfortable?” I asked at once, not giving her time to answer any“I'm fine, I just feel dizzy” she gave me a slippery smile“Did you know him from anywhere?” I didn't need to say much, I knew she understood who I was talking
ROSA“Who are you”, Emily finally gave me her attention, yayyy“I'm a human” I replied her, I would have normally told her my name but she seems like one of those rich spoiled brats that have people who answer yes to all their requests“Who are you to talk to me like that. Do you know who I am?” She scoffed, making her way towards meShe pulled my hair in a tight grip, “ whatever you have with Matteo won't last, I'm his fiancee, the one who's going to have him at the end”“ You're not the first to throw yourself at him and you are certainly not the first he threw out of his house once he has gotten what he wants”I struggled to pull myself away from her but my struggles only made her dig her manicure fingers into my scalp, I was very sure it was going to leave temporary marks once she lets me go.I couldn't care less if Matteo threw me out of his house so far I got what I want too, but it hurts to be looked down on, I didn't have any choice, I didn't know what to do, Leonardo took eve
ROSAI don't know if I had lost my senses. How could I agree to move in with a stranger just like thatI had panicked when I found out that I had given my properties to Leonardo without knowing it, I didn't know what to do, I panicked and then the only person that crossed my mind was MatteoI knew men wouldn't do anything free for any lady and that was why I came up with the idea of proposing marriage to MatteoI was shocked and confused when he wasn't interested in my proposal, any man would have jumped on the opportunity to take advantage, I guess he wasn't “any other man”, he was really different.Standing in front of his mansion, I felt tiny and out of place but there was no going back for me, I had a mission to complete and until I was done with it I wasn't going to give up.The gates suddenly opened, disrupting my train of thoughts. A middle aged man who I guessed was the butler approached me“Miss Rosa?”“That's me sir” I answered nervously“You can call me Theo. This way ma'am
MATTEOI switched the phone off, from the content of the message I could tell who it was alright and the least I could do was to bother myself about a weakling like Leonardo.I drew Rosa closer to me, taking in her lavender and shampoo scent, it made me feel at ease and slowly I fell asleep.******The sound of my alarm woke me up, I stretched my arms and that was when I realized that I wasn't cuddling Rosa anymore, I tapped on each side of the bed, too lazy to open my eyes.Her side of the bed felt cold, I opened my eyes and realized that Rosa had left. Her bag on the table and her shoes were nowhere to be found“Did I just get used and dumped by a lady?” I asked no one in particular, finding the situation hard to believe.I stood up and got ready to leave for work.Jaden and everyone else at work could notice that I was in a bad mood. Although Jaden tried talking to me, but how could I possibly open up and tell him I was moody because of a lady, that wouldn't be good for my ego.“Ma
MATTEO's POV"Dude, seriously. I need to get laid. It's been like, three days." I groan, running a hand over my face. My best friend, Jaden, is sitting on the end of my bed, controller in his hand. He turns to face me as soon as the battle is over on the screen, his eyes lighting up with humor."Yo
Matteo's POVI let out a distressed groan, my eyelids fluttering open. They immediately meet bright lights, and I raise my hand, shielding them."Where the hell am I?" I mumble unhappily, my body aching in ten different places. I blow out an annoyed breath, the familiar sounds of beeping surroundin
Rosa's POVI peer through the murky grey blinds of his hospital room. I don't know why I'm hiding; it's not like he can see me. He's asleep, the machines around him working hard to keep him alive. The cut on his head is bandaged, and the doctor managed to stop the bleeding from the stabbing. If I w
Rosa's POV"Thank you for walking me home," I smile up at my fiancee, Leonardo. He looks down at me, bright eyes connecting with mine. His eyebrows knit together, arm wrapped around my waist securely."There's still a way to go. Are you sure you want me to leave you here?" He said,I smile at how o






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.