LOGINDi sana, di depan altar batu dengan ukiran kuno, seorang lelaki tua berlutut.
Tetua Han.Sosok yang pernah menjadi pemimpin sekte Aliansi terakhir yang tersisa. Rambutnya memutih, tubuhnya gemetar.Kedua tangannya terangkat ke arah Pilar Kristal, jari-jarinya membentuk mudra ritual.Mata pria tua itu terbuka.Kosong.Cahaya putih kebiruan memancar dari pupilnya. Bibirnya bergerak, melantunkan mantra dalam bahasa kuno yang retak oleh paksaaSalah satu pendekar aliran hitam memblokir, namun telat sepersekian detik. Bilah Ling’er menggores bahunya.Darah tercampur hujan. Musuh itu mundur, matanya menyala marah.“Tangkap Lin Wei!” teriaknya. Jadi memang targetnya jelas.Lin Wei menggigit bibir. Gadis muda dengan sikap dingin itu menyadari, ia bukan sekadar pembawa pesan —ia ancaman bagi rencana besar mereka.Gelombang raksasa menghantam kapal dari sisi kiri. Kapal miring tajam.Salah satu pendekar tergelincir. Wu Teng memanfaatkan momen itu.Lelaki berpostur kokoh itu melesat, kakinya menghentak keras ke geladak. Retakan menyebar di kayu.Tubuhnya berputar setengah lingkaran, dan dengan satu pukulan terbuka, ia menghantam punggung lawan yang kehilangan keseimbangan.Suara tulang retak terdengar jelas di tengah gemuruh laut.Pendekar itu terlempar melewati pagar dan jatuh ke lautan yang bergolak.Satu tersisa.Pendekar terakh
Kapal yang akan mereka naiki mengibarkan layar. Para awak, masih shock namun kagum, memberi jalan tanpa banyak bicara.Wu Teng melangkah menuju papan naik kapal. Ling’er menyusul di sampingnya.Lin Wei berdiri terakhir, menoleh sekali pada dermaga yang baru saja menjadi medan pertempuran.Dermaga kayu yang tadi penuh riuh kini menyisakan bekas tebasan dan retakan, seperti pengingat bahwa perang tak selalu datang dengan trompet dan panji.Kadang ia datang dalam pakaian buruh angkut dan peti kayu.Kapal mulai bergerak. Tali ditarik. Layar menegang diterpa angin. Saat kapal menjauh, Wu Teng berdiri di haluan.Lelaki bertubuh kekar itu memandang ufuk Timur, tempat aurora samar masih membekas seperti bekas luka di langit jauh.Bintang tujuh di dadanya bergetar lebih kuat. Dunia yang lebih luas menunggu.Dan kini jelas— Ancaman tidak hanya berdiri di satu titik. Ia mengintai di dermaga ramai, di pasar, di bayangan ker
Lin Wei menghentikan percakapannya dengan nakhoda, tubuhnya menegang seperti tali busur yang baru ditarik.Terlambat untuk menyelinap pergi.Salah satu buruh angkut menjatuhkan petinya dengan suara keras.Papan kayu retak, memperlihatkan pedang pendek hitam tersembunyi di dalamnya.Dalam hitungan napas, enam sosok melepaskan penyamaran mereka.Jubah-jubah abu gelap tersibak. Wajah tertutup setengah topeng. Mata mereka kosong dan keras.Pendekar Aliran Hitam bergerak hampir serentak —bukan menuju Wu Teng, tetapi langsung ke arah Lin Wei.Utusan Timur yang cantik dan penuh disiplin itu melompat mundur secepat burung bangau menghindari panah.Pedang tipisnya meluncur keluar dari sarung dengan suara lirih namun mematikan.“Target mereka aku!” teriak Lin Wei.Tentu saja. Jika mereka bisa menghentikan utusan, mereka bisa menunda penyebaran kabar dan menghancurkan koordinasi perlawanan.Salah
Lin Wei menghela napas, untuk pertama kalinya terlihat kelelahan. “Karena legenda tentang Penjaga Keseimbangan telah melintasi lautan. Dan karena hanya seseorang yang telah menyatukan Pilar bisa bertahan dari resonansi Kehancuran.”Sunyi turun.Ling’er menoleh pada Wu Teng. Wanita muda itu sudah tahu isi hatinya, tetapi ia tidak akan mengatakannya lebih dulu.“Kau sadar,” ucap pria berumur tiga puluh tahun itu hati-hati, “bahwa jika Pilar Kehancuran benar-benar aktif, ini bukan hanya masalah Timur. Seluruh dunia akan terguncang.”“Karena itu aku di sini,” jawab Lin Wei tegas.Beberapa tetua sekte yang menyaksikan dari kejauhan saling berbisik gelisah. Sekte Cahaya Abadi baru saja bangkit. Murid-murid baru saja menemukan pijakan.Ling’er melangkah lebih dekat pada Wu Teng. “Kita akhirnya mendapat musim semi,” katanya lirih. “Dan kini badai lain menunggu.”Pria itu menatap aurora di langit. Cahaya hijau-ungu itu masih berp
Hari demi hari, reputasi Sekte Cahaya Abadi perlahan berubah.Pendekar dari sekte lain datang bukan untuk menantang, tetapi untuk belajar.Mereka mendengar bahwa sekte ini tidak lagi berbicara tentang dominasi, melainkan harmonisasi.Di pelataran yang kini telah selesai, Wu Teng berdiri mengawasi latihan murid-murid muda. Gerakan mereka tidak lagi agresif berlebihan. Setiap tebasan diikuti oleh tarikan napas sadar.Ling’er duduk di bawah pohon tua, tersenyum melihat perubahan itu.Lelaki bertubuh kekar itu merasakan sesuatu di dadanya —bintang tujuh yang tak kasatmata bergetar lembut, bukan sebagai peringatan, melainkan sebagai persetujuan.Ia tidak lagi melarikan diri dari masa lalu.Pria yang dulu diasingkan kini mengajarkan tanpa dendam.Lelaki yang pernah hampir kehilangan kemanusiaannya kini membentuk manusia-manusia baru yang tidak perlu tersesat untuk belajar.Beberapa minggu berlalu, dan banguna
Wu Teng berhenti di gerbang yang belum sepenuhnya selesai.Gerbang itu dulunya megah —ukiran naga dan burung phoenix menyatu dalam cahaya keabadian.Kini yang tersisa hanya dua pilar batu separuh retak dan balok kayu yang baru dipasang.Lelaki bertubuh kekar itu mengangkat tangan dan menyentuh bekas retakan lama. Ia bisa merasakan gema masa lalu di dalam batu itu —teriakan, api, pengkhianatan.Ling’er berdiri di sampingnya, gaun sederhananya berkibar pelan diterpa angin gunung. Wanita muda itu tidak berkata apa-apa.Ia tahu pria berumur tiga puluh tahun itu sedang berbicara dengan bayangannya sendiri.“Aku pernah mengira tempat ini adalah pusat dunia,” gumam Wu Teng pelan.“Kini?” tanya Ling’er lembut.Pria itu tersenyum tipis. “Kini aku tahu dunia terlalu besar untuk satu pusat.”Beberapa murid muda melihat mereka dan berhenti bekerja. Seorang pemuda dengan lengan berbalut kain mendekat, wajahnya tegan







