LOGINJianghu bergejolak. Sekte Cahaya Abadi, mercu suar keadilan selama seribu tahun, hangus dalam semalam. Di antara puing yang berasap, berdiri Wu Teng, pendekar Bayangan Sunyi yang misterius, dengan pedang berlumuran darah. Tanpa bukti, ia langsung dicap sebagai pengkhianat dan musuh publik nomor satu oleh Aliansi Delapan Sekte Besar. Namun, kebenaran jauh lebih kelam. Penghancuran sekte itu hanyalah tumbal dari sebuah ritual kuno yang telah dimulai, membangkitkan Tujuh Pilar Kehancuran—artefak pembelah alam yang mengancam merobek tirai antara alam fana dan dimensi kegelapan. Wu Teng sendiri, dengan garis keturunan terkutuk yang menjadi kunci, terperangkap di antara takdir sebagai penghancur atau pelindung. Diburu tanpa henti oleh pemburu bayaran dan pendekar elit, ia harus menelusuri jejak masa lalu yang terkubur, mengungkap konspirasi Lembaga Langit Tanpa Nama yang bersembunyi di balik setiap bayangan. Dari pegunungan terlarang hingga kuil-kuil terlupakan, setiap langkahnya adalah pertaruhan nyawa. Ini adalah saga penebusan yang getir, pengkhianatan yang merobek jiwa, dan pencarian jati diri di ambang kiamat. Bisakah seorang yang dicap iblis menyelamatkan dunia yang membencinya? Atau akankah ia menerima takdir gelapnya dan membiarkan cahaya abadi padam selamanya?
View MoreLangit dini hari di atas Dinasti Langya masih menggantungkan warna abu-abu, seperti kain sutra lusuh yang diseret ke ufuk timur.
Kabut tipis menyelimuti puncak Gunung Tianlu, tempat Sekte Cahaya Abadi berdiri selama seribu tahun —dengan atap lengkung hijau zamrud, pilar kayu cendana berukir naga, dan lentera merah yang biasanya menyala hangat menyambut para tamu dari dunia persilatan. Kini, tak ada lagi lentera. Yang ada hanya bara. Wu Teng terbangun dengan rasa sakit yang mengoyak dada. Napasnya tercekat, seolah paru-parunya dipenuhi abu. Lelaki itu terbaring di atas ubin batu yang retak dan hangus. Aroma kayu terbakar bercampur darah menyesakkan setiap helaan napasnya. Ia mencoba bangkit. Pandangannya kabur. Api masih menjilati Aula Utama —tempat para tetua biasa bermeditasi dan mengajarkan Kitab Cahaya Fajar. Suara kayu runtuh berderak, seperti tulang yang dipatahkan tanpa belas kasihan. “Apa yang… terjadi?” desisnya lirih. Pria bertubuh kekar itu memaksakan diri duduk. Jubah putihnya, yang biasanya bersih dan sederhana, kini koyak dan ternoda merah gelap. Tangannya gemetar. Saat ia mengangkat telapak tangannya ke depan mata, jantungnya berhenti sejenak. Darah. Bukan sedikit. Seluruh jemarinya berlumuran darah yang belum kering. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu berdiri goyah. Di sekelilingnya terhampar tubuh-tubuh tak bernyawa —murid-murid junior yang dulu menyapanya dengan senyum polos, saudara seperguruan yang pernah berlatih pedang bersamanya di bawah hujan bunga persik. Langkahnya terseret pelan. Di hadapannya, pintu Aula Utama runtuh dengan dentuman berat. Api memercik dan menerangi wajahnya yang pucat. Ingatan Wu Teng kosong. Seperti sumur tua yang airnya mengering. Ia hanya ingat pertemuan malam sebelumnya —gurunya memanggilnya secara pribadi. Ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan tentang Aliansi Delapan Sekte Besar. Tentang ketegangan di Jianghu yang kian tak terkendali. Lalu gelap. Pria itu meraih dadanya. Rasa sakit luar biasa menjalar dari pusar ke tulang belakang, seperti ada sesuatu yang menggeliat di dalam meridiannya. Energi dalamnya, qi yang selama ini dilatih dengan tekun melalui Teknik Nafas Cahaya Abadi, terasa kacau. Tidak harmonis. Tidak suci. Ia memaksa diri melangkah ke tengah aula. Di sana, di antara sisa tiang yang hangus dan altar leluhur yang hancur, terbaring sesosok tubuh berjubah emas pucat. “Guru…” suara Wu Teng pecah. Ketua Sekte Cahaya Abadi —Liu Qingshan, lelaki sepuh dengan alis putih panjang dan tatapan setajam pedang surgawi— terbaring tak bergerak. Dadanya tertembus luka dalam. Darah menghitam di sekitar pakaian kebesarannya. Wu Teng berlutut. Lelaki itu menyentuh bahu sang guru dengan tangan gemetar. “Guru, bangunlah. Ini muridmu…” Tak ada jawaban. Di tangan kanan sang ketua, sesuatu berkilau di tengah bara merah. Sebuah fragmen giok hitam —seukuran dua jari, dengan ukiran simbol asing yang tak dikenali Wu Teng. Pria itu mengerutkan kening. Ia mencoba mengingat. Pernahkah ia melihat benda ini sebelumnya? Saat jemarinya mendekat untuk mengambil fragmen itu, angin keras menyibak asap. “Berani sekali kau masih menyentuh jasadnya!” Suara lantang bergema dari pintu gerbang sekte yang kini tinggal rangka. Wu Teng menoleh. Dari kabut dan cahaya bara, muncul barisan pendekar berpakaian beragam warna —hijau giok, biru laut, hitam pekat— dengan lambang sekte masing-masing tersemat di dada. Aliansi Delapan Sekte Besar. Di depan mereka berdiri seorang lelaki tua dengan rambut disanggul tinggi, jubah abu-abu berbordir awan perak berkibar tertiup angin. Tatapannya tajam dan dingin. Tetua Han dari Sekte Pedang Awan. Lelaki sepuh itu melangkah maju. Sepasang pedang tipis terselip di punggungnya. Wajahnya tegas seperti tebing yang tak pernah digoyahkan badai. “Wu Teng,” ucapnya berat. “Kau benar-benar tak tahu malu.” Pria muda itu terdiam. Tangannya masih menggenggam fragmen giok hitam yang kini terasa hangat. “Apa maksud Tetua?” tanyanya lirih. Tetua Han tertawa pendek, tanpa humor. “Semua orang di Jianghu tahu engkau satu-satunya murid yang menguasai teknik pedang terlarang itu. Bayangan Sunyi. Sekarang seluruh Sekte Cahaya Abadi musnah, dan engkau berdiri di tengah darah mereka. Apakah masih perlu penjelasan?” Wu Teng menggertakkan gigi. “Aku tidak melakukan ini.” “Tidak?” balas Tetua Han, suaranya naik satu nada. “Lalu siapa? Arwah leluhurmu?” Beberapa pendekar di belakangnya mencabut senjata. Suara logam keluar dari sarung terdengar serempak, seperti nyanyian kematian. Wu Teng bangkit perlahan. Lelaki itu menatap tubuh-tubuh di sekitarnya. Hatinya tercabik. Ia sendiri tak mengerti mengapa tangannya berlumuran darah. Mengapa ingatannya kosong. Mengapa qi dalam tubuhnya terasa asing. “Beri aku waktu,” ucapnya, mencoba menahan amarah dan kepanikan. “Aku akan mencari tahu kebenarannya.” “Waktu?” Tetua Han melangkah mendekat. “Ratusan nyawa telah hilang. Ketua sektemu terbaring mati. Engkau ingin waktu?” Pria bertubuh kekar itu menunduk. “Guru tidak mungkin kubunuh. Aku adalah muridnya.” “Justru murid yang paling dipercayalah yang paling mudah menusuk dari belakang,” sahut Tetua Han dingin. Angin gunung bertiup lebih kencang. Bara beterbangan. Dalam sekejap, seorang pendekar dari barisan aliansi melompat ke depan. “Pengkhianat! Mati kau!” Pedangnya menyabet lurus ke arah leher Wu Teng. Tubuh Wu Teng bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Tanpa sadar, ia memutar langkah. Gerakannya ringan, nyaris tak terlihat. Serangan itu hanya mengenai bayangan yang tertinggal sepersekian napas sebelumnya. Pendekar penyerang terhuyung. Matanya membelalak. “Apa—?” Wu Teng sendiri tertegun. Teknik itu mengalir begitu alami dari tubuhnya. Teknik Pedang Bayangan Sunyi —jurus yang selama ini hanya ia latih diam-diam, dilarang oleh sekte karena dianggap terlalu gelap dan berbahaya. Tetua Han menyipitkan mata. “Kau lihat sendiri!” serunya kepada yang lain. “Teknik sesat itu!” Wu Teng mundur dua langkah. “Aku tidak bermaksud menyerang—” “Diam!” bentak Tetua Han. Lelaki sepuh itu meloncat ke depan, mendarat ringan beberapa zhang dari Wu Teng. “Hanya teknik terlarangmu yang mampu membantai sekte sebesar ini dalam satu malam!” Seketika qi di udara berubah. Tetua Han mencabut dua pedangnya sekaligus. Kilatan perak menembus asap, membentuk lengkungan seperti sayap burung bangau. “Aku, Han Yulian, atas nama Aliansi Delapan Sekte Besar, menjatuhkan hukuman mati kepadamu!” Wu Teng merasakan napasnya menebal. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu menoleh ke arah jasad gurunya sekali lagi. Hatinya berteriak ingin menjelaskan. Namun kenyataan tak memberi ruang bagi kata-kata. Dari sudut matanya, ia melihat sesuatu. Di pergelangan tangannya, di antara darah yang mengering, ada pola hitam aneh. Seperti akar pohon yang merambat di bawah kulit. Garis-garis gelap itu berdenyut halus, mengikuti detak jantungnya. “Apa ini…” bisiknya. Belum sempat ia memahami, serangan Tetua Han tiba. Dua pedang itu bergerak seperti kilat yang menyilang. Jurus “Awan Membelah Langit” dilepaskan tanpa ragu. Udara teriris, meninggalkan jejak tekanan yang membuat batu di lantai retak. ***"Wu Teng," Lin Wei kembali memanggil, suaranya lebih pelan kini. Ia menyentuh lengan Wu Teng, mengirimkan gelombang kehangatan menenangkan yang merupakan bagian dari kekuatannya. "Ada apa? Apa yang kau lihat?"Wu Teng tidak segera menjawab. Ia melepaskan kristal itu perlahan, duduk di altar batu yang dingin. Kristal itu terus memancarkan aura damai. Hutan di sekeliling mereka, dengan tanaman aneh dan cahayanya, tampak menahan napas. Bau manis bunga-bunga masih menyengat, tetapi kini terasa memuakkan di tenggorokannya."Ling'er," Wu Teng memulai, suaranya serak. Ia mengangkat kepalanya, menatap Lin Wei. Matanya penuh kepedihan. "Dia tidak binasa, Lin Wei. Penguasa Harmoni mengatakan esensinya menyatu dengan inti dunia. Dia ada di mana-mana. Dia adalah bagian dari penyembuhan dunia."Lin Wei mendengarkan dengan saksama, ekspresinya berubah dari cemas menjadi sedih, namun juga ada secercah pemahaman. Ia menunduk menatap kristal itu, lalu kembali ke Wu Teng. "Jadi, dia menjadi... bagian d
Aura keemasan dari kristal itu terasa hangat di kulitnya. Wu Teng memejamkan mata, membiarkan esensi Ling'er menyelimutinya. Ini bukan sekadar kenangan. Ini adalah sebuah keberadaan. Tangannya menyentuh permukaan kristal yang dingin dan halus.Seketika, sebuah lonjakan energi dahsyat menyambar. Bukan hanya kehangatan Ling'er, tetapi juga kekuatan yang tak terbatas. Itu adalah energi yang sangat akrab, namun kini murni, intens, dan mengguncang jiwanya hingga ke dasar. Rasanya seolah-olah dunia itu sendiri beresonansi, bukan sekadar menanggapi, melainkan hidup dan berbicara melalui sentuhannya. Kristal itu bersinar teramat terang, membanjiri hutan dengan cahaya keemasan yang menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang.Cahaya keemasan dari kristal itu membanjiri hutan, menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang. Tubuhnya terasa ringan, etereal, seolah melebur dengan c
Wu Teng merasakan beban baru. Ia telah menyelamatkan dunia dari satu kehancuran, namun kini dunia itu sendiri yang terancam oleh ketidakseimbangan yang tak terlihat.Ia, sebagai Pilar Ketujuh, adalah entitas kekuatan penghancur. Bagaimana aku bisa memperbaiki ini?Kekuatanku hanya untuk menghancurkan, bukan membangun."Anomali energi menyebar dengan cepat," lanjut Grand Master Yun. "Beberapa titik menunjukkan lonjakan energi kehidupan yang berlebihan, sementara yang lain diselimuti oleh kekosongan yang mematikan. Jika ini berlanjut, dampaknya bisa lebih buruk dari perang manapun."Wu Teng memejamkan mata, memikirkan Pilar Ketujuh di dalam dirinya. Energi itu kuat, membakar. Apakah itu bisa digunakan untuk menstabilkan, menyembuhkan, daripada hanya menghancurkan? Ini adalah pertanyaan yang mengganggu pikirannya selama berminggu-minggu sejak denyutan Ling'er."Sebagai Pilar Ketujuh, kau adalah koneksi paling kuat dunia dengan energi primordial itu," Grand Master Yun berkata, seolah memb
Angin musim semi dari Benua Timur menerbangkan helai rambut Wu Teng, melambai-lambai di sekelilingnya. Dari puncak bukit sakura, ia melihat dunia di bawahnya, sebuah permadani yang perlahan pulih. Kota-kota yang dulu hancur kini bersinar dengan cahaya obor, gema tawa dan nyanyian perayaan naik ke udara, merayakan kemenangan atas Tuan Kegelapan Abadi. Setahun telah berlalu sejak perang besar itu, namun di dalam dada Wu Teng, hanya ada kehampaan yang menganga. Liontin batu giok yang dulu milik Ling'er, kini terasa hangat dalam genggamannya, satu-satunya pengingat nyata akan kehadirannya yang dulu.Mata Wu Teng memindai cakrawala. Dunia telah selamat, itu pasti. Ia, Wu Teng, adalah penyelamatnya, Pilar Ketujuh yang dijanjikan. Gelar itu terasa seperti beban, bukan mahkota. Setiap sorakan yang terdengar dari bawah, setiap wajah bahagia yang ia bayangkan, semakin menekan jiwanya. Mereka merayakan sebuah kemenangan, sementara ia, pemenangnya, merasa kalah. Ling'er tidak kembali. Pengorbanan
Wu Teng menggunakan pangkal pedangnya untuk memukul pergelangan tangan pria itu, membuat goloknya terlepas.Kemudian, dengan satu gerakan cepat, ia mengunci lengan Pendekar Bayaran itu di belakang punggung, menyerahkannya kepada Ling'er.Ling'er tidak membuang waktu. Dengan jaru
Lin Wei tertidur lebih dulu, kelelahan merenggut ketegangannya.Wu Teng duduk bersandar pada batu dingin. Ling’er duduk di sampingnya.Wanita cantik itu memandang bintang-bintang yang samar tertutup kabut.“Kau terus menekan energimu,” katanya lembut.Lelaki ti
Lelaki itu lebih tinggi setengah kepala dari Wu Teng, dadanya lebar seperti dinding batu. Wajahnya dipenuhi bekas luka lama.Rambutnya dicukur habis, memperlihatkan kulit kepala yang penuh guratan seperti peta peperangan.Ia melangkah maju. Pasir di bawah kakinya seolah mengeras
Hari demi hari, reputasi Sekte Cahaya Abadi perlahan berubah.Pendekar dari sekte lain datang bukan untuk menantang, tetapi untuk belajar.Mereka mendengar bahwa sekte ini tidak lagi berbicara tentang dominasi, melainkan harmonisasi.Di pelataran yang kini telah selesai






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews