로그인"HAH! Kamu mau cerita apa?" tanya Jessica dengan tatapan tidak rela acaranya akan Adrian rusak.
Pria itu memandang dokter mungil di hadapannya.
Sebenarnya wanita itu cukup cantik, matanya besar bewarna biru laut dengan bulu mata lentik.
Hidungnya tinggi tapi mungil sama seperti bibirnya. Sayang, semua itu tertutup dengan kaca mata yang tebal. Wajahnya polos tanpa make-up, dan rambutnya yang pirang dililit asal dengan pulpen.
"Apalah, karang-karang saja," desah Edo sambil langsung mendorong Adrian naik ke atas podium.
Dengan sudut matanya, Adrian memperhatikan kalau dokter itu berjalan ke pintu seperti ingin keluar dari ruangan. Apakah dia mencoba mengambil buku?
"Halo guys, aku Adrian!" ucap Adrian menyapa anak- anak sambil memutar otak dan membuat cerita dadakan.
"Kakak mau baca cerita nih, tentang Putri Embun," lanjut sang artis lagi sambil memandang Jessica berharap kalau wanita itu tidak membuka pintu.
"Pada suatu hari ada seorang gadis cantik nan jelita, rambutnya berwarna keemasan bernama Putri Embun."
Cerita dadakan dimulai, tapi Adrian terus menatap Jessica. Seketika wanita itu merasa tak nyaman dengan tatapan Adrian. Wanita itu segera mematikan sebagian lampu, sehingga yang terang hanya di bagian panggung.
"Putri embun senang bermain di padang bunga, kakinya yang lincah menari mengelilingi padang bunga," kata Adrian sambil mengingat-ingat kisah dongeng anak-anak.
"Datang Pangeran Tampan yang terpesona melihatnya," ucap Adrian dengan suara lirih sambil menunjuk wajahnya sendiri. Anak-anak tertawa, walau beberapa bapak- bapak yang terpaksa menemani anaknya, mendengus jijik.
"Wahai putri cantik, siapa namamu?" seru Adrian dengan suara berat seperti pangeran jaman dahulu, sambil menatap ke Dokter Jessica yang hendak duduk di kursi paling belakang. Wanita itu terbelalak terkejut, perasaan tak enaknya akhirnya terbukti.
Hening, anak-anak terus menunggu Jessica untuk menjawab.
"Aaah... eeeh nama saya Putri Embun yang mulia," jawab Dokter itu kesal karena dia terpaksa ikutan berlakon. Anak-anak menatap Jessica dengan terpesona sambil memperlihatkan senyuman mereka.
"Kamu cantik sekali Embun." jawab Adrian menanggapinya.
Jessica mendongkol karena entah kenapa dia menjadi tersipu. Tentu saja ini semua hanya akting, dia Adrian sang aktor terkenal ‘kan? Anak-anak semakin memandangnya tanpa berkedip.
"Embun, maukah kamu kemari menemaniku menikmati senja?" ujar Adrian masih dalam karakter pangeran. Dengan segera Jessica menggeleng, tapi Edo turun dengan penuh gaya dan menjemput Jessica yang semakin mendongkol. Dokter itu dengan ragu- ragu terpaksa berjalan dengan pelan ke arah panggung.
Mata anak-anak terus mengikutinya, sedangkan Edo berjalan mengikuti belakangnya sambil menari-nari.
"Pangeran segera jatuh hati dengan Putri Embun yang cantik," desah Adrian memandangi bola mata biru Jessica yang menawan. Wanita itu membalas tatapannya dengan kesal yang membuat Adrian ingin tertawa. Entah kenapa mengganggu wanita itu sungguh menyenangkan.
"Wahai Putri Jelita, bolehkah aku meminangmu, menjadikan engkau menjadi kekasih hatiku selamanya?" pinta Adrian sambil mengambil tangan Jessica lalu mengecup punggung jemari sang dokter, memberi hormat.
Wanita itu terkesiap akan kecupan Adrian. Lagi- lagi pria itu mengecup Jessica tanpa izin dan Jessica segera menarik tangannya tapi Adrian menahan dengan sekuat tenaga. Bola matanya membesar marah tapi anak-anak malah bertepuk tangan terbawa suasana.
“Mau- mau!” pekik anak- anak berulang kali sambil menatap Jessica. Akhirnya Sang dokter menyerah dan mengangguk pelan. Anak-anak langsung bertepuk tangan dengan senang.
Adrian menarik Jessica seakan wanita itu seringan kapas, dan tiba-tiba saja Jessica sudah dalam pelukan sang aktor itu. “Setidaknya cerita sudah selesai,” pikir Jessica menahan diri untuk tidak menendang Adrian.
"Tidak boleh!" seru Edo mengejutkan Adrian dan Jessica. Mereka sebenarnya tanpa janjian ingin mengakhiri drama tidak jelas ini, tapi Edo malah memperpanjangnya.
"Embun bukanlah putri sejati!" teriak Edo lagi dengan suara getir.
Anak-anak menarik napas terkejut.
"Lihat rambutnya?" tanya Edo mendekati sang dokter yang bingung. Wanita itu seperti mengkerut di panggung karena pandangan Edo.
"Kenapa rambutnya?" tanya Adrian masih berusaha dalam karakter pangeran, tapi menatap kesal pada Edo.
"Rambut putri sejati tidak seperti itu yang mulia? Putri idaman yang mulia selalu berambut panjang!" seru Edo menatap jijik pada Dokter Jessica yang tanpa sadar langsung mencoba merapikan rambut dengan panik.
"Jahat, jahat!!" seru anak-anak kesal dengan Edo.
"Diam dulu kamu pengawal!" seru Adrian dengan penuh wibawa, mendorong kasar Edo ke belakang. Jemari Jessica yang sedang merapikan rambut, digenggamnya dengan lembut. Jemari itu terasa dingin.
Jessica menatap jemari Adrian yang terasa hangat, berdiri di atas panggung ternyata lebih sulit daripada melakukan operasi. Anehnya, kehangatan tangan Adrian membuatnya lebih tenang.
"Putri Embun adalah putri sejati, lihat!" seru Adrian dramatis mengelus pipi Jessica dengan lembut yang membuat Jessica menahan napas namun diluar dugaan, Adrian tiba- tiba menarik pulpen yang menyangga rambut Jessica. Rambut Jessica yang keemasan jatuh tergerai dengan indah sampai ke punggung.
Edo terbelalak melihatnya, entah akting, entah sebenarnya. Anak-anak berteriak dan bertepuk tangan dengan meriah.
"Kamu sungguh cantik." Adrian mendesah pelan dan tanpa berpikir merapikan poni Jessica yang menutup sebelah matanya.
Kedua bola mata Jessica menatap Adrian, dan seketika pria itu menahan napas. Entah kenapa tatapan Jessica membiusnya.
"Cantik, Putri Embun putri sejati!" teriak seorang anak dengan seluruh kekuatannya.
Dokter Jessica tertawa kecil karena teriakan anak membuat tatapan antara mereka terputus sehingga Adrian kembali tersadar.
"Betul, Putri Embun putri sejati, enyahlah engkau pengawal jahat!" seru Adrian berlagak mengusir Edo. Pria itu memasang wajah sedih dan turun dari panggung, anak-anak menyorakinya.
"Dan akhirnya Pangeran Tampan menikah dengan Putri Embun dan mereka hidup bahagia selamanya," ujar Adrian merasa aneh saat mengakhiri cerita. Ada perasaan kehilangan aneh saat Jessica melepaskan rangkulannya.
Anak-anak bertepuk tangan dengan senang. Sebagian dari mereka masih menceritakan ulang kisah karangan dadakan Adrian tadi saat anak-anak keluar dari ruangan dengan tertib.
Jessica terlihat luar biasa dengan rambut tergerainya, Andrian sungguh menahan dirinya untuk melarang saat wanita itu kembali menggelung rambutnya dengan pulpen.
"Saya selaku pihak rumah sakit mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Pak Adrian dalam acara baca cerita anak-anak hari ini," ucap Dokter Jessica dengan nada resmi.
Dia menyodorkan tangannya, menunggu sambutan Adrian, entah kenapa pria itu malah mengingat akan insiden kecupan tak sengaja tadi dan tersenyum penuh arti.
"Kenapa kamu senyum-senyum." tanyanya ketus, Jessica seketika teringat saat bibir Adrian menempel di bibirnya dan memasukan tangan ke kantong jas dokternya. Hilang kelakuan resminya.
"Nggak ada apa-apa,” jawab Adrian sambil mengingat rasa kenyal tadi pagi, wanita itu segera menyadari arah tatapan mata Adrian ke arah bibirnya.
"Saya harap Anda tidak berpikir macam- macam ya Bapak Adrian!" serunya dengan resmi lagi.
"Ih aku nggak mikir macam -macam kok." Adrian geli karena menyadari bahwa mereka jelas memikirkan hal yang sama.
Wanita berambut pirang itu mendengus marah, lalu hendak pergi mengikuti anak-anak, tapi datang dokter lain yang mendatangi Adrian.
"Ahh Adrian, sayang sekali saya tidak sempat melihat pembacaan cerita tadi, saya baru saja selesai rapat." Wanita paruh baya itu tersenyum lebar sambil menyodorkan tangannya. Adrian segera menyodorkan tangannya dan Jessica terpaksa memutar balik dan berdiri di belakangnya.
"Sudah makan? setidaknya kami bisa mentraktir Adrian makan ‘kan? Yang sederhana saja nggak apa-apa kan, atau ada rencana lain?" tanya dokter tua itu penuh harap kepada Edo.
“Jangan, bilang saja aku sibuk,“ seru Adrian dalam hati sambil sungguh berharap Edo mengerti bahasa isyarat mata.
"Belum Bu Dokter, kami sibuk dari pagi, jadi belum sempat makan," jawab Edo penuh harap, pria gempal itu malah mengedipkan sebelah matanya kepada Adrian. Edo tak pernah melewatkan acara makan gratis.
"Oooh pas sekali, ayo kita makan, ayo Jessica kamu juga harus ikut kan kamu penanggung jawab acara ini," ajak wanita paruh baya itu dengan gembira.
Tetapi baru saja mereka berjalan beberapa langkah, handphone dokter paruh baya itu kembali berbunyi, dia mengangkatnya dengan kesal.
"Ya, baik pak saya segera kesana," jawabnya jengkel, lalu menatap Adrian dengan sedih.
"Maaf sekali Adrian saya tidak bisa ikutan, tapi ada Dokter Jessica yang akan menemani. Jess tolong ya, ambil banyak foto, untuk promosi rumah sakit!" perintahnya sambil menepuk pundak Adrian agak lama, lalu pergi menuju lift.
Jessica menatap sang artis dengan jengkel. Entah pria itu membuat hatinya terus merasa kesal. Bagaimana bisa dia malah disuruh mengambil foto pria itu, sungguh mengerikan!
"Eh mendingan gw berangkat duluan ya, biar wartawan yang nyisa ngikut ‘ma gw. Pasti di depan ada yang nunggu, ntar WA ya kemana gw nyusul," ujar Edo pada Adrian tanpa menunggu jawaban.
“Ah sial, sekarang aku malah terperangkap sama dia!” dengus Jessica dalam hati sambil memandang Adrian yang tersenyum lebar padanya.
Joe sebenarnya tak akan membiarkan Jessica jalan sendiri ke kantor polisi. Namun, entah kenapa Louise bisa terlibat pertengkaran dengan dua dokter residen. Memang banyak yang berubah dari Louise akhir- akhir ini. Wanita itu seakan menjelma menjadi wanita baru yang Joe tidak kenal. Masalahnya mereka bertengkar serius sampai bisa-bisanya dokter residen itu menampar dan menjambak Louise. “Aku bisa sendiri, ini bukan masalah gede, sepertinya aku pasang charger yang dah rusak jadi korslet. Kemarin aku dah liat percikan api tapi aku lupa cabut.” Tentu saja Jessica berbohong. Tapi, Joe tak boleh tau. Jessica tau ini pasti ada hubungannya dengan si pengancam berantai. “O… oke, maaf ya aku nggak bisa nemenin, ini Louise…” Joe melambai sambil berlari ke arah ruangan yang lain. Operasi sudah selesai sehingga Jessica bebas, dan pikirannya segera kembali ke Adrian. Apalagi saat membaca pesan resmi yang terkirim di handphonenya. Wanita itu segera sampai ke kantor polisi. Awalnya dia merasa
Sam memperhatikan wajah Adrian yang polos. Berlagak polos untuk lebih tepatnya. Polisi muda yang tidak berpengalaman seperti Dennis pasti langsung tertipu dengan gelagat Adrian, namun tidak bagi Samuel yang sudah berpengalaman sebagai penyelidik.Polisi yang beruban itu segera menyadari arah tangan Adrian yang menuju kantong bajunya itu adalah untuk sesuatu tetap ada di dalam kantung itu. Apa itu Samuel tidak tahu tetapi Samuel tidak punya hak untuk memeriksa atau menggeledah Adrian saat ini. Ia butuh surat perintah. Tatapan mereka bertemu dan jantung Adrian seakan berhenti sekejap. Polisi tidak boleh tahu kalau dia sedang diancam? Apakah dia akan memeriksa dan menggeledahnya? “Kalau seperti ini, saya mau minta izin menelpon as… “ Tapi belum sempat Adrian menyelesaikan kata-katanya, Edo sudah berlari masuk ke dalam ruang interogasi dengan terengah-engah. “Dia tak bersalah!” Teriakan Edo dengan keras sambil buka pintu sehingga suaranya menggelegar di dalam ruangan periksa yang k
Entah bagaimana, Adrian bisa melewati rombongan wartawan yang memenuhi lantai dasar, di depan pintu masuk rumah sakit. Sepertinya para wartawan sudah belajar dari pengalaman tadi, kali ini mereka tak masuk ke dalam rumah sakit. Namun hujan flash kamera dan pertanyaan wartawan yang seperti dengung lebah mengikuti Adrian, sampai pria itu masuk ke dalam mobil polisi. “Heran, emang para wartawan itu nggak tidur, nggak makan kah?” tanya polisi yang berada di belakang setir. “Ya nggak laah, emang lo kalo lagi ngikutin orang ada waktu buat makan? Ke toilet aja susah.” Temannya yang duduk di sebelah mendengus sambil melirik ke arah Adrian. “Untung yang ini nurut, klo nggak lewatin segini banyak orang gimana?” dengusnya lagi dengan nada mengejek. “Yah gitu deh orang cari makan,” desah polisi pertama sambil menyalakan mobil, lalu mobil melaju dengan cepat ditemani suara sirene yang memekakkan telinga Adrian. “Adrian, senang bertemu denganmu, saya Bripka Vald, Samuel Vald.” Pria itu mengul
Karena dipenuhi wartawan, Jessica tak dapat melihat Adrian yang tadi keluar duluan. Namun yang lebih parah adalah, karena wartawan memenuhi lorong rumah sakit, tempat tidur pasien yang selesai dioperasi tadi, jadi tak bisa lewat. “Permisi,” ucap perawat yang mendorong tempat tidur pasien dengan wajah kesal. Tapi wartawan entah pura-pura tak dengar entah memang tak dengar, tak ada yang memberi jalan agar pasien bisa lewat. “Permisi!” ucapnya lagi dengan suara lebih keras sambil menatap Jessica dengan kesal. Jessica segera berusaha menyingkirkan wartawan, namun mereka malah sibuk bertanya, akhirnya sambil merayap menempel ke dinding, Jessica berjalan keluar melalui tangga darurat agar rombongan wartawan mengikutinya. Setidaknya kini pasien bisa masuk ke ruang pemulihan yang tadi tertutup oleh wartawan. Namun, kini masalahnya semakin pelik. Jessica terperangkap dengan para wartawan itu dalam tangga darurat yang sempit tanpa ventilasi yang cukup. Berdesak-desakan dengan para kuli t
Louise bingung saat melihat ada sosok yang masuk lalu keluar lagi dari ruang operasi.Namun, karena memang wajahnya sungguh viral, hanya dengan sekilas saja semua sudah tahu siapa orang itu. “Buset! Nggak salah tuh!” “Gila tu cewek! Nggak salah dia ajak pacarnya datang?” “Mantan! Dah mantan!” “Lah itu! Muncul lagi? Kenapa nggak sekalian aja dia pasang kamera, gila pansos banget sih!” Ucapan sumbang itu segera membuat Louise segera turun menuju ruangan operasi, mungkin Adrian tersesat, mungkin Adrian ada perlu penting, yang pasti bukan Jessica yang mengundang pria itu datang. Louise sangat mengenal sahabatnya itu. Jessica bingung saat perawat senior mendekatinya. “Maaf, sepertinya kamu harus keluar sekarang,” ucap wanita beruban itu dengan suara berbisik namun mendesak. “Hah, kenapa?” tanya Jessica dengan terkejut. Wanita beruban itu melirik pintu seakan memberi tanda sehingga Jessica melirik ke pintu dan terkesiap saat mengenali bagian belakang seseorang. Hanya dengan meliha
“Sebenarnya menang aneh. Kenapa bisa mereka yang masuk? Kan nggak ada hubungannya?” desis suara di balik tembok. “Bener! Ini kan urusan dokter bedah, kenapa malah mereka yang dokter jantung malah masuk? Itu kan jatahnya residen bedah toraks dong!” jawab suara sumbang yang lain. Mereka saling sikut saat menonton operasi yang belum dimulai. “Ada yang mau protes malah, tapi percuma sih protes kan operasinya sekarang? Emang bisa diulang?” sembur yang satu lagi dengan penuh emosi. “Kapan sih kita bisa dapat adil, itu perempuan kan emang diratukan di mana-mana mentang- mentang pacar… eh… mantan artis itu, cih jangan-jangan dia emang mo jadi artis juga!” desis temannya sambil mendesah pelan. “Kalo liat gayanya yang sok cakep itu sih, kayaknya sih bisa-bisanya nanti jadi artis, jadi dokter otaknya nggak nyampe, jadi artis deh,” ucap lawan si sinis dengan jahat. Louise pura-pura tak dengar semua itu, dia harus sabar agar tidak merusak kesempatan Jessica dan Joe. Memang sejak d
Kalau sedang bingung rasanya waktu berjalan lama sekali. Walau baru seminggu setelah kejadian itu, rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Anehnya, Adrian tak pernah menghubunginya. Sama sekali tak pernah. Jessica memandangi inkubator bayi dan melihat bayi- bayi yang
Bola mata biru itu dipenuhi air mata. Wanita itu menahannya dengan susah payah air matanya agar tidak tumpah. “Sialan!” maki Jessica sambil menatap dengan dengan penuh amarah dan dengan tangan yang bercincin biru itu, Jessica melempar garpunya ke badan Adrian.Pria itu segera berdiri dan mencoba m
“Jadwalku begitu emang. Nggak ngerti juga, mungkin aku lupa kalau ada acara kencan, soalnya katanya mao ada iklan jam tangan, jadi mukaku harus bersinar,” ucap Adrian tak begitu peduli, karena dia sedang disibukkan dengan daging di hadapan
Mobil balap Adrian sungguh mentereng untuk parkir di sebuah restoran steak kecil. Tanpa mereka sadari sudah banyak yang memperhatikan mobil sport mewah itu terparkir.Jessica mengalihkan pandangannya dari lutut ke wajah Adrian lalu menggeleng dengan malu-malu. “Kalau…







