Beranda / Urban / Pacarku, Artis / Ch. 3 Pangeran Tampan Dan Putri Embun

Share

Ch. 3 Pangeran Tampan Dan Putri Embun

Penulis: Pinnacullata
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-03 13:08:38

"HAH! Kamu mau cerita apa?" tanya Jessica dengan tatapan tidak rela acaranya akan Adrian rusak. 

Pria itu memandang dokter mungil di hadapannya. 

Sebenarnya wanita itu cukup cantik, matanya besar bewarna biru laut dengan bulu mata lentik. 

Hidungnya tinggi tapi mungil sama seperti bibirnya. Sayang, semua itu tertutup dengan kaca mata yang tebal. Wajahnya polos tanpa make-up, dan rambutnya yang pirang dililit asal dengan pulpen.

"Apalah, karang-karang saja," desah Edo sambil langsung mendorong Adrian naik ke atas podium.

Dengan sudut matanya, Adrian memperhatikan kalau dokter itu berjalan ke pintu seperti ingin keluar dari ruangan. Apakah dia mencoba mengambil buku? 

"Halo guys, aku Adrian!" ucap Adrian menyapa anak- anak sambil memutar otak dan membuat cerita dadakan. 

"Kakak mau baca cerita nih, tentang Putri Embun," lanjut sang artis lagi sambil memandang Jessica berharap kalau wanita itu tidak membuka pintu.

"Pada suatu hari ada seorang gadis cantik nan jelita, rambutnya berwarna keemasan bernama Putri Embun." 

Cerita dadakan dimulai, tapi Adrian terus menatap Jessica. Seketika wanita itu merasa tak nyaman dengan tatapan Adrian. Wanita itu segera mematikan sebagian lampu, sehingga yang terang hanya di bagian panggung.

"Putri embun senang bermain di padang bunga, kakinya yang lincah menari mengelilingi padang bunga," kata Adrian sambil mengingat-ingat kisah dongeng anak-anak.

"Datang Pangeran Tampan yang terpesona melihatnya," ucap Adrian dengan suara lirih sambil menunjuk wajahnya sendiri. Anak-anak tertawa, walau beberapa bapak- bapak yang terpaksa menemani anaknya, mendengus jijik.

"Wahai putri cantik, siapa namamu?" seru Adrian dengan suara berat seperti pangeran jaman dahulu, sambil menatap ke Dokter Jessica yang hendak duduk di kursi paling belakang. Wanita itu terbelalak terkejut, perasaan tak enaknya akhirnya terbukti. 

Hening,  anak-anak terus menunggu Jessica untuk menjawab.

"Aaah... eeeh nama saya Putri Embun yang mulia," jawab Dokter itu kesal karena dia terpaksa ikutan berlakon. Anak-anak menatap Jessica dengan terpesona sambil memperlihatkan senyuman mereka.

"Kamu cantik sekali Embun." jawab Adrian menanggapinya. 

Jessica mendongkol karena entah kenapa dia menjadi tersipu. Tentu saja ini semua hanya akting, dia Adrian sang aktor terkenal ‘kan? Anak-anak semakin memandangnya tanpa berkedip.

"Embun, maukah kamu kemari menemaniku menikmati senja?" ujar Adrian masih dalam karakter pangeran. Dengan segera Jessica menggeleng, tapi Edo turun dengan penuh gaya dan menjemput Jessica yang semakin mendongkol. Dokter itu dengan ragu- ragu terpaksa berjalan dengan pelan ke arah panggung. 

Mata anak-anak terus mengikutinya, sedangkan Edo berjalan mengikuti belakangnya sambil menari-nari.

"Pangeran segera jatuh hati dengan Putri Embun yang cantik," desah Adrian memandangi bola mata biru Jessica yang menawan. Wanita itu membalas tatapannya dengan kesal yang membuat Adrian ingin tertawa. Entah kenapa mengganggu wanita itu sungguh menyenangkan.

"Wahai Putri Jelita, bolehkah aku meminangmu, menjadikan engkau menjadi kekasih hatiku selamanya?" pinta Adrian sambil mengambil tangan Jessica lalu mengecup punggung jemari sang dokter, memberi hormat.  

Wanita itu terkesiap akan kecupan Adrian. Lagi- lagi pria itu mengecup Jessica tanpa izin dan Jessica segera menarik tangannya tapi Adrian menahan dengan sekuat tenaga. Bola matanya membesar marah tapi anak-anak malah bertepuk tangan terbawa suasana.

“Mau- mau!” pekik anak- anak berulang kali sambil menatap Jessica. Akhirnya  Sang dokter menyerah dan mengangguk pelan. Anak-anak langsung bertepuk tangan dengan senang.

Adrian menarik Jessica seakan wanita itu seringan kapas, dan tiba-tiba saja Jessica sudah dalam pelukan sang aktor itu. “Setidaknya cerita sudah selesai,” pikir Jessica menahan diri untuk tidak menendang Adrian.

"Tidak boleh!" seru Edo mengejutkan Adrian dan Jessica. Mereka sebenarnya tanpa janjian ingin mengakhiri drama tidak jelas ini, tapi Edo malah memperpanjangnya.

"Embun bukanlah putri sejati!" teriak Edo lagi dengan suara getir. 

Anak-anak menarik napas terkejut.

"Lihat rambutnya?" tanya Edo mendekati sang dokter yang bingung. Wanita itu seperti mengkerut di panggung karena pandangan Edo.

"Kenapa rambutnya?" tanya Adrian masih berusaha dalam karakter pangeran, tapi menatap kesal pada Edo.

"Rambut putri sejati tidak seperti itu yang mulia? Putri idaman yang mulia selalu berambut panjang!" seru Edo menatap jijik pada Dokter Jessica yang tanpa sadar langsung mencoba merapikan rambut dengan panik.

"Jahat, jahat!!" seru anak-anak kesal dengan Edo. 

"Diam dulu kamu pengawal!" seru Adrian dengan penuh wibawa, mendorong kasar Edo ke belakang. Jemari Jessica yang sedang merapikan rambut, digenggamnya dengan lembut. Jemari itu terasa dingin.

Jessica menatap jemari Adrian yang terasa hangat, berdiri di atas panggung ternyata lebih sulit daripada melakukan operasi. Anehnya, kehangatan tangan Adrian membuatnya lebih tenang.

"Putri Embun adalah putri sejati, lihat!" seru Adrian dramatis mengelus pipi Jessica dengan lembut yang membuat Jessica menahan napas namun diluar dugaan, Adrian tiba- tiba menarik pulpen yang menyangga rambut Jessica. Rambut Jessica yang keemasan jatuh tergerai dengan indah sampai ke punggung. 

Edo terbelalak melihatnya, entah akting, entah sebenarnya. Anak-anak berteriak dan bertepuk tangan dengan meriah. 

"Kamu sungguh cantik." Adrian mendesah pelan dan tanpa berpikir merapikan poni Jessica yang menutup sebelah matanya. 

Kedua bola mata Jessica menatap Adrian, dan seketika pria itu menahan napas. Entah kenapa tatapan Jessica membiusnya.

"Cantik, Putri Embun putri sejati!" teriak seorang anak dengan seluruh kekuatannya. 

Dokter Jessica tertawa kecil karena teriakan anak membuat tatapan antara mereka terputus sehingga Adrian kembali tersadar.

"Betul, Putri Embun putri sejati, enyahlah engkau pengawal jahat!"  seru Adrian berlagak mengusir Edo. Pria itu memasang wajah sedih dan turun dari panggung, anak-anak menyorakinya.

"Dan akhirnya Pangeran Tampan menikah dengan Putri Embun dan mereka hidup bahagia selamanya," ujar Adrian merasa aneh saat mengakhiri cerita. Ada perasaan kehilangan aneh saat Jessica melepaskan rangkulannya.

Anak-anak bertepuk tangan dengan senang. Sebagian dari mereka masih menceritakan ulang kisah karangan dadakan Adrian tadi saat anak-anak keluar dari ruangan dengan tertib. 

Jessica terlihat luar biasa dengan rambut tergerainya, Andrian sungguh menahan dirinya untuk melarang saat wanita itu kembali menggelung rambutnya dengan pulpen. 

"Saya selaku pihak rumah sakit mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Pak Adrian dalam acara baca cerita anak-anak hari ini," ucap Dokter Jessica dengan nada resmi. 

Dia menyodorkan tangannya, menunggu sambutan Adrian, entah kenapa pria itu malah mengingat akan insiden kecupan tak sengaja tadi dan tersenyum penuh arti. 

"Kenapa kamu senyum-senyum." tanyanya ketus, Jessica seketika teringat saat bibir Adrian menempel di bibirnya dan memasukan tangan ke kantong jas dokternya. Hilang kelakuan resminya. 

"Nggak ada apa-apa,” jawab Adrian sambil mengingat rasa kenyal tadi pagi, wanita itu segera menyadari arah tatapan mata Adrian ke arah bibirnya.

"Saya harap Anda tidak berpikir macam- macam ya Bapak Adrian!" serunya dengan resmi lagi. 

"Ih aku nggak mikir macam -macam kok." Adrian geli karena menyadari bahwa mereka jelas memikirkan hal yang sama. 

Wanita berambut pirang itu mendengus marah, lalu hendak pergi mengikuti anak-anak, tapi datang dokter lain yang mendatangi Adrian. 

"Ahh Adrian, sayang sekali saya tidak sempat melihat pembacaan cerita tadi, saya baru saja selesai rapat." Wanita paruh baya itu tersenyum lebar sambil menyodorkan tangannya. Adrian segera menyodorkan tangannya dan Jessica terpaksa memutar balik dan berdiri di belakangnya.

"Sudah makan? setidaknya kami bisa mentraktir Adrian makan ‘kan? Yang sederhana saja nggak apa-apa kan, atau ada rencana lain?" tanya dokter tua itu penuh harap kepada Edo. 

“Jangan, bilang saja aku sibuk,“ seru Adrian dalam hati sambil sungguh berharap Edo mengerti bahasa isyarat mata. 

"Belum Bu Dokter, kami sibuk dari pagi, jadi belum sempat makan," jawab Edo penuh harap, pria gempal itu malah mengedipkan sebelah matanya kepada Adrian. Edo tak pernah melewatkan acara makan gratis.

"Oooh pas sekali, ayo kita makan, ayo Jessica kamu juga harus ikut kan kamu penanggung jawab acara ini," ajak wanita paruh baya itu dengan gembira.

Tetapi baru saja mereka berjalan beberapa langkah, handphone dokter paruh baya itu kembali berbunyi, dia mengangkatnya dengan kesal.

"Ya, baik pak saya segera kesana," jawabnya jengkel, lalu menatap Adrian dengan sedih.

"Maaf sekali Adrian saya tidak bisa ikutan, tapi ada Dokter Jessica yang akan menemani. Jess tolong ya, ambil banyak foto, untuk promosi rumah sakit!" perintahnya sambil menepuk pundak Adrian agak lama, lalu pergi menuju lift. 

Jessica menatap sang artis dengan jengkel. Entah pria itu membuat hatinya terus merasa kesal. Bagaimana bisa dia malah disuruh mengambil foto pria itu, sungguh mengerikan! 

"Eh mendingan gw berangkat duluan ya,  biar wartawan yang nyisa ngikut ‘ma gw. Pasti di depan ada yang nunggu, ntar WA ya kemana gw nyusul," ujar Edo pada Adrian tanpa menunggu jawaban. 

“Ah sial, sekarang aku malah terperangkap sama dia!” dengus Jessica dalam hati sambil memandang Adrian yang tersenyum lebar padanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pacarku, Artis   Ch. 55 Buka Bajumu!

    Adrian menatap wanita di sebelahnya yang benar-benar seperti batu. “Aku beneran nggak ngerti sama kamu!” suara Adrian yang serak, meninggi. “Nggak ngerti apa? Bukannya semua udah jelas kamu dan manajemen mau mengakhiri kontrak kita? Terus aku udah setuju, ya tinggal tunggu waktunya, lalu apalagi yang mesti kita bicarakan?” balas Jessica mulai kehilangan kontrol emosinya juga. “Kenapa sih kamu kayak gitu? Aku kayak ngomong sama robot, kamu itu manusia Jessica!” sembur Adrian kesal. Jessica benci mendengar kata-kata itu. Dulu Joe juga sering mengatakan hal itu padanya. “Kamu maunya apa? Maunya aku nangis-nangis merengek? Kamu mau aku seperti fans yang sampai nangis guling-guling?” sindir Jessica dengan suara tinggi. Seperti biasa, pada akhirnya emosi Adrian menular pada Jessica. Seharusnya memang dia langsung kembali ke rumah sakit tadi! Pria itu memandangnya dengan tidak percaya. “Sialan kamu Jessie,

  • Pacarku, Artis   Ch. 54 Tahanan Rumah

    Karena kasus tabrakan itu, Adrian bagaikan menjadi tahanan rumah. Dia hanya dapat izin dari Lionel keluar dari kondominiumnya saat syuting iklan permen karet. Sialnya, mereka berada di penghujung musim gugur, sedangkan sang editor kreatif tetap mau iklan permen karet itu direkam dengan latar musim panas. Adrian yang sepi kerjaan mau tak mau mengikuti apa yang diminta, karena ada denda yang harus dia bayar. Berlarian dengan gembira di air pantai yang dingin bukan hal yang baik, apalagi kalau syuting sampai berhari-hari. Sakit. Yah pada akhirnya Adrian yang kokoh seperti kerbau itu, demam tinggi. Tapi, sepertinya berendam di air laut yang dingin itu hanya sebagian kecil penyebab Adrian sakit.Sesungguhnya, dia sangat merindukan Jessica. Kemungkinan besar wanita itu pasti tak akan sempat memikirkan Adrian sama sekali. “Pasti dia sibuk dengan Joe,” desah Adrian sambil menahan pusing di kepalanya. Demamnya sud

  • Pacarku, Artis   Ch. 53 Keajaiban

    Menyadari kalau Louise dan Jessica yang akan jaga malam berdua, Joe segera mengambil inisiatif.“Saya nggak harus pulang kok Dok saya masih kuat bisa jaga lagi,” ucap Joe cepat. “Kalau Lihat di status, kamu udah jaga tiga kali, jadi sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Ini perintah ya Joe!” Dokter Poppy lalu menatap Jessica. “Jes, gimana kabar si Adrian? Saya mendapat berita kalau proses syuting akan mundur dikarenakan masalah casting ya, kemaren mereka minta izin mundurin jadwal.” “Oh… dia baik-baik saja.” Jessica menjawab sekenanya, mengingat Adrian bisa berenang di air dingin berarti dia baik-baik saja kan? “Masa sih? Tadi di IG-nya dia bilang, dia kurang enak badan? Tapi yah kamu kan pacarnya, kamu lebih tau lah ya,” ucap Dokter Poppy tertawa lalu lanjut memeriksa pasien. Jessica menunduk malu karena asal bicara. Sesungguhnya dia tak tahu apa-apa tentang Adrian. Pria itu benar-benar menghilang dari radar. Kare

  • Pacarku, Artis   Ch. 52 Pengganti Ellie

    “Jes kamu denger nggak, mamanya Nico ngajak kita makan-makan!” ujar Joe datang dengan senyum lebar. Pria itu dengan santai duduk di samping Jessica lalu menopang dagunya. Wanita itu segera menutup handphone Sudah saatnya kembali ke realita, Adrian tak akan tiba-tiba muncul. Sudah cukup dia diceramahi Joe kemarin. Pria itu kini malah rutin mengirimkan artikel tentang kasus para stalker artis yang mengerikan. “Aku tadi ditanyain mamanya, restoran kesukaan kita apa. Aku bilang ke Baileys ajah.” Pria itu menepis poninya ke belakang. Hari ini Joe mengenakan sweater biru muda dengan kemeja putih di dalamnya. Celana coklat tuanya sudah beberapa kali pakai, tapi warnanya sungguh sesuai sehingga Joe bagaikan model di majalah kedokteran. Biasanya pemandangan itu membuat Jessica mengagumi ketampanan pria itu. Tapi kali ini Jessica malah kembali membaca status. “Aku sepertinya nggak bisa, kalau semua pergi, lalu siapa ya

  • Pacarku, Artis    Ch. 51 Terbawa Suasana

    “Kalian gila! Kalian bisa saya tuntut ya, ini adalah penganiayaan!” Adrian mendengar suara riuh saat dia masuk ke rumah sakit. Awalnya Adrian tidak yakin pada rumah sakit ini. Rumah sakitnya kecil dan lebih tidak terawat, kenapa Jessica memilih rumah sakit kelas dua begini?Awalnya dia tidak mengerti mengapa, tapi kini dia tahu kenapa. Karena. Menghindari fansnya. Hati Adrian kembali terasa sakit. Wanita ini terlalu banyak berkorban untuk dirinya. Pria itu segera mendekati kerumunan walau masih mengenakan perlengkapan penyamaran. “Dia yang minta! Tadi malam bilang jatuh cinta hingga mau menikah sekarang udah sama cowok lain! Dasar pelacur!” Adrian segera ingin menarik Jessica. Namun berhenti saat melihat Joe di sana. “Bukannya katanya Ellie yang menjemput?” Kali ini perut Joe yang terasa aneh. Jessica jelas berbohong padanya. Joe yang menjemput dan mengantarnya ke rumah sakit. Melihat Joe menjadi pahlawan bagi Jessica s

  • Pacarku, Artis   Ch. 50 Izinkan Aku Merawatmu

    Semenjak kedatangan Adrian di rumah sakit, hati Joe memang tidak pernah tenang. Walau Jessica selalu mengelak, Joe merasa kalau memang ada sesuatu di antara mereka. Dari dulu memang Joe selalu ingin kembali bersama Jessica, tapi semenjak bertemu dengan Adrian, Joe tahu kalau dia harus bertindak lebih cepat. Seakan memang langit menyetujui, Joe mendapatkan kesempatannya. Dia bisa meluruskan kesalahan waktu itu, sekaligus merebut Jessica kembali. Wanita itu harus tahu kalau Jessica sudah menjadi obsesi hatinya dari awal mereka bertemu. “Aku nggak tahu Joe, aku masih ingat hari itu, ciuman itu terlihat serius.” Jessica mencoba menarik tangannya tetapi Joe bertahan. “Enggak, kamu enggak lihat karena kamu pergi, aku langsung melepaskan diri! Nggak ada apa-apa antara aku sama Louise!” sembur Joe. “Bahkan, aku nggak pernah ketemu dia lagi semenjak hari itu. Baru kemarin aku ketemu dia lagi!” sambung Joe lagi.Namun belum

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status