Home / Romansa / Pacarku, Artis / Ch. 4 Pesona Artis

Share

Ch. 4 Pesona Artis

Author: Pinnacullata
last update Last Updated: 2025-11-06 09:30:12

"Mobilmu yang mana?" tanya Adrian sambil memakai ulang kaca mata hitam, masker dan topi. Karena memang dia sangat tampan dan tinggi, Jessica sempat terdiam terpesona.

"Itu!" jawab Jessica setelah menggigit bibirnya agar dia sadar diri lalu membuka kunci pintu mobil, namun terkejut saat Adrian menuju kursi penumpang depan.

"Biar kamu nggak jadi supir," serunya sambil tersenyum lebar.

“Cih, memangnya sekarang aku apa kalau bukan supir?” pikir Jessica mendongkol.

"Jes, kita makan steak, aku tahu yang enak, nanti depan belok kanan.” Adrian bukan meminta tapi memerintah. 

Jessica mendengus karena sejak kapan dia bisa bebas memanggil dengan hanya menggunakan nama?

"Eh tapi  kamu mau makan apa?" tanyanya dengan lembut, suaranya membuat Jessica merinding. "Steak nggak apa-apa ‘kan?" tanya Adrian lagi masih menatap ke arah Jessica walau terhalang kacamata hitam. 

Tanpa sadar Jessica menahan napas saat Adrian tiba- tiba membuka kacamatanya dan tatapan mereka kembali beradu. Jessica seketika mengerang dalam hati, karena tiba- tiba jantungnya berdebar sangat cepat. Mereka terlalu dekat, seharusnya Adrian duduk di belakang! Seharusnya ujung hidung mereka tidak boleh sedekat ini! 

“Aish, kenapa jadi berdebar begini? Dia nggak ganteng- ganteng amat kok!” Jessica memaki sambil segera membuang pandangan dan menekan gas, sehingga mobil melaju cepat.

"Steak nggak apa-apa, yang deket sini kan, aku tau tempatnya" jawab Jessica agak terlalu ketus dari yang seharusnya.

Restoran steak langganan dokter kepala tidak begitu jauh, dan beruntungnya restoran itu memiliki ruangan tersendiri, sehingga aman buat Adrian untuk makan di situ.

"Wah, kamu tau juga ternyata,” kekeh Adrian saat duduk. Dia tersenyum memperlihatkan lesung pipi sebelahnya.

"Ah, ini restoran kesukaan dokter kepala," jawab Jessica lalu pura-pura sibuk membaca menu. Wanita itu memutuskan dalam hati kalau hari ini, terakhir dia bertemu Adrian. Entah kenapa berdekatan dengan aktor satu ini, perasaannya jadi berantakan.

"Aku mau wagyu, kamu mau apa?" tanyanya tanpa membaca menu.

Jessica mencoba membaca menu, tapi entah kenapa susah sekali berkonsentrasi. 

"Oh aku nggak boleh ya pesan Wagyu, yang sesuai budget rumah sakit yang mana?" tanya Adrian merasa bersalah karena Jessica diam saja.

"Ah bukan, kepalaku pegel." Jessica berbohong sambil pura-pura memijat lehernya sendiri. "Aku sama, Wagyu juga!" seru Jessica tersenyum. “Mumpung dibayarin, aku juga mau perbaikan gizi,“ pikir Jessica segera membalas dendam karena tugas konyol ini.

“Nanti kalau mau, aku bisa bantu pijet,” ujar Adrian merasa harus membalas bantuan Jessica hari ini sambil melepaskan perlengkapan menyamarnya. Jessica kembali merasakan gejolak dalam perutnya.

Adrian merapikan rambutnya yang tebal dengan menggunakan jarinya sambil melihat bayangan dirinya di layar handphone. Jessica merasakan dirinya kembali mematung terpesona. 

"Pak Adrian, sebaiknya anda mengabari asisten anda, posisi kita di sini," pinta Jessica mencoba kembali resmi. Pria itu menatap wanita di hadapannya dengan bingung.

"Nggak perlu, aku ‘kan mau kencan dengan kamu," goda Adrian sambil meraih tangan Jessica yang langsung menarik tangannya secepat kilat.

"Ish, nggak lucu," balas Jessica mencoba mengabaikan wajahnya yang terasa panas. Kehangatan tangan Adrian yang sekilas tadi membuat jantungnya kembali tidak tenang.

"Lagian tadi dah pakai 'aku-kamu' sekarang balik pakai anda." Adrian tertawa pelan sambil memandang Jessica dengan bola mata hijaunya yang selalu membuat perut Jessica melilit.

"Tadi... yang tadi itu keceplosan, sekarang sebaiknya kita resmi saja," jawab Jessica sambil berharap pesanan segera datang, jadi mereka bisa makan dan pulang.

"Oh, jadi mau kita resmikan saja?" goda Adrian lagi tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih bersih. Jessica memandangnya dengan kesal.

"Aku serius!" desis Jessica melotot dan keceplosan lagi. Adrian tertawa senang saat Jessica yang segera menutup mulutnya.

Tapi untung pesanan mereka datang dan Adrian langsung menutup wajahnya dengan topi. Jessica segera melakukan niatnya memakan steak dengan cepat agar bisa pulang. 

"Jes...?" panggilnya tiba-tiba.

"Hmm," jawab Jessica masih belum mau menatap Adrian.

"Kamu mau saladku?" tanyanya menyodorkan piring. Lupa kalau tadi mau resmi, Jessica mengangguk cepat.

"Kamu, mau kentangku?" tanya wanita itu sambil asyik mengambil salad. 

"Mau, aku lapar!" Adrian segera mengambil kentang goreng dengan tangannya.

Jessica memperhatikan pria itu makan dengan lahap, memang sepertinya dia sangat lapar, dalam sekejap steak itu menghilang, yang membuat Jessica terkejut adalah ternyata piringnya juga sudah kosong padahal biasanya Jessica paling malas makan.

"Oh iya, kamu nanti pulang gimana?" tanya Jessica saat Adrian menghabiskan segelas anggurnya dengan sekali tenggak.

"Ah aku lupa, Jes boleh minta tolong? Antar aku ke apartemenku?” Pria itu menatap Jessica dengan penuh harap dan dengan berat hati Jessica mengangguk pelan.

"Kamu serius apartemennya di sini?" tanya Jessica dengan kening berkerut.

"Iya, memang kenapa?" tanya Adrian heran.

"Aku juga tinggal disini!" jawab Jessica tak percaya. 

"Hah, serius? lantai berapa? aku lantai 21.” 

Jessica mendengus dalam hati.  “Penthouse, sudah pasti.” 

"Aku lantai 12," jawab Jessica pelan merasa sungguh aneh mereka bisa di komplek apartemen yang sama.

"Wah kebalikannya, kita jodoh ya!" timpalnya Adrian dengan senang. Jessica segera memutar mata, dan dia kembali tertawa.

"Kamu lucu," ucapnya lalu menarik pulpen rambut Jessica lagi. Rambut Jessica segera jatuh ke punggungnya.

“Rambutmu sangat cantik, Jess, kamu tahu kan?”  ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu turun dari mobil. Jantung Jessica segera kembali berpacu dalam melodi.

"Oke, terima kasih lagi buat bantuan membaca cerita tadi ya," balas Jessica mengabaikan ucapan Adrian. 

"It's my pleasure," jawab Adrian melambai sebelum akhirnya masuk ke dalam lobi apartemen.

“Akhirnya selesai!” Jessica mendesah lega saat menjalankan mobilnya lagi. 

Tapi, perasaan kosong apa ini yang ada di dadanya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pacarku, Artis   Ch. 8 Adrian Milik Kami!

    “Hati-hati.” Suara pria itu terdengar dalam dan serak. Begitu seksi. Jessica membuka mata dan segera menurunkan kakinya. Wajahnya terasa begitu panas. Dia berlaku sungguh bodoh. Kenapa dia jadi begitu kikuk.“Bangkunya… tinggi sekali,” ucap Jessica segera menyalahkan kursi tinggi Adrian yang tak bersalah. “Pacarku tak boleh jatuh, nanti dipikir aku KDRT lagi,” ujar Adrian pelan sambil menyentuh ujung hidung Jessica. Wanita itu segera melepaskan diri. Sentuhan kecil tadi sungguh mengirimkan sinyal aneh ke seluruh tubuhnya.“Palsu, pacar palsu,” ujar Jessica dengan penuh penekanan sambil menatap ke arah sofa yang terasa lebih aman. “Aku makan di sofa aja deh,” gumam Jessica ingin segera menjauh dari Adrian.Aktor itu menghembuskan napas panjang sambil memaki dirinya dalam hati karena tak bisa menahan tangannya untuk tidak mengelus wajah Jessica. Melihatnya menutup mata, sambil makan tadi membuat Adrian lepas kendali, Bagaimana bisa wanita itu sungguh sungguh seksi hanya dengan makan?

  • Pacarku, Artis   Ch. 7 Jakun Yang Sensual

    Jessica segera menarik tangannya dan Adrian tertawa.“Latihan, kita harus ada skinship dikit,” kekeh pria itu sambil menepis poninya. Pria itu kembali mendengus geli saat Jessica mencibir."Dia artis pendatang baru, aku sih curiga emang semua ini agensinya yang atur, jadi dia numpang popularitasku," jelas Adrian sambil menatap Jessica."Dan itu berhasil, soalnya sejak berita klo dia pacarku, makin laris iklannya. Awalnya Pak Lionel mau biarin aja, tapi sekarang udah nggak bisa, makin seenaknya tuh!" Adrian mendengus kesal."Aku ngerti klo itu, tapi yang kutanya, Miranda itu yang mana?" tanya Jessica serius. Bola mata Adrian membulat."Kamu beneran nggak tau yang mana Miranda?" tanya Adrian seakan bertanya apakah Jessica tak tahu kalau dunia ini berputar. Jessica mengangguk kesal, jujur saja dia tak pernah tertarik dengan dunia artis.Adrian segera menggeser bokongnya untuk mendekati Jessica dan menyalakan TV. Tidak lama muncul iklan sabun, Miranda muncul."Tuh Miranda." Adrian memutar

  • Pacarku, Artis   Ch. 6 Pelakor

    "Pacar Adrian?" tanya Jessica bingung sambil menatap Adrian. "Kenapa, apakah harus...?" tanya dokter itu lagi kali ini sambil menggeleng, hati Adrian sedikit kesal karena Jessica menolak. "Sepertinya dalam kasus seperti ini, pers tidak akan melepaskan Anda sampai ada kejelasan antara hubungan anda, Miranda dan Adrian," ucap Lionel dengan tenang. Matanya terus memandangi Jessica sehingga wanita muda itu merasa risih. Pria berkepala botak itu tertawa kecil lalu memperlihatkan berita-berita yang beredar di layar handphonenya, beberapa judulnya sudah sangat provokatif. Jessica mengerang kesal"Tapi... siapa yang bakal percaya?" Wanita itu mengerutkan keningnya sambil memandang Adrian yang walau hanya mengenakan pakaian sederhana terlihat sangat tampan sedangkan dirinya seperti orang tunawisma."Sejujurnya, pers sangat mudah untuk dikendalikan. Mereka akan melahap semua cerita yang ada. Kita buat aja pertemuan pers, lalu mengumumkan hubungan palsu kalian," ucap Lionel dengan senyum leba

  • Pacarku, Artis   Ch. 5 Pacarku Artis

    Jessica mengikat rambut panjangnya menjadi satu lalu berlari keluar dari lobi apartemen. Sudah menjadi jadwalnya tiap pagi untuk berlari sekeliling halaman apartemen, namun baru pintu apartemen terbuka, rombongan wartawan langsung mengelilinginya. "Bagaimana tanggapan anda terhadap tuduhan Miranda?" tanya seorang wartawan menyodorkan alat rekamnya seenaknya ke mulut Jessica."Jessy, Jessica!" panggil para wartawan itu dengan sok akrab. Mereka saling dorong dan menutup jalan sehingga Jessica terperangkap di tengah- tengah mereka. Tubuh mereka saling bergesekan, mencoba bertanya dengan pertanyaan yang semakin kurang ajar. "Apa tanggapan kamu dengan tuduhan Miranda, Jess?" tanya seorang wartawan dengan gaya seperti mereka sudah bersahabat selama 10 tahun, kameramennya memasang lampu sorot ke arah Jessica. Mata Jessica buta, jantungnya berdebar kencang, bau keringat yang memuakkan dan mereka saling mendorong, sampai wanita itu hampir terjatuh, seketika panik melanda."Jessica, kamu kok

  • Pacarku, Artis   Ch. 4 Pesona Artis

    "Mobilmu yang mana?" tanya Adrian sambil memakai ulang kaca mata hitam, masker dan topi. Karena memang dia sangat tampan dan tinggi, Jessica sempat terdiam terpesona."Itu!" jawab Jessica setelah menggigit bibirnya agar dia sadar diri lalu membuka kunci pintu mobil, namun terkejut saat Adrian menuju kursi penumpang depan."Biar kamu nggak jadi supir," serunya sambil tersenyum lebar. “Cih, memangnya sekarang aku apa kalau bukan supir?” pikir Jessica mendongkol."Jes, kita makan steak, aku tahu yang enak, nanti depan belok kanan.” Adrian bukan meminta tapi memerintah. Jessica mendengus karena sejak kapan dia bisa bebas memanggil dengan hanya menggunakan nama?"Eh tapi kamu mau makan apa?" tanyanya dengan lembut, suaranya membuat Jessica merinding. "Steak nggak apa-apa ‘kan?" tanya Adrian lagi masih menatap ke arah Jessica walau terhalang kacamata hitam. Tanpa sadar Jessica menahan napas saat Adrian tiba- tiba membuka kacamatanya dan tatapan mereka kembali beradu. Jessica seketika me

  • Pacarku, Artis   Ch. 3 Pangeran Tampan Dan Putri Embun

    "HAH! Kamu mau cerita apa?" tanya Jessica dengan tatapan tidak rela acaranya akan Adrian rusak. Pria itu memandang dokter mungil di hadapannya. Sebenarnya wanita itu cukup cantik, matanya besar bewarna biru laut dengan bulu mata lentik. Hidungnya tinggi tapi mungil sama seperti bibirnya. Sayang, semua itu tertutup dengan kaca mata yang tebal. Wajahnya polos tanpa make-up, dan rambutnya yang pirang dililit asal dengan pulpen."Apalah, karang-karang saja," desah Edo sambil langsung mendorong Adrian naik ke atas podium.Dengan sudut matanya, Adrian memperhatikan kalau dokter itu berjalan ke pintu seperti ingin keluar dari ruangan. Apakah dia mencoba mengambil buku? "Halo guys, aku Adrian!" ucap Adrian menyapa anak- anak sambil memutar otak dan membuat cerita dadakan. "Kakak mau baca cerita nih, tentang Putri Embun," lanjut sang artis lagi sambil memandang Jessica berharap kalau wanita itu tidak membuka pintu."Pada suatu hari ada seorang gadis cantik nan jelita, rambutnya berwarna k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status