เข้าสู่ระบบ"Mobilmu yang mana?" tanya Adrian sambil memakai ulang kaca mata hitam, masker dan topi. Karena memang dia sangat tampan dan tinggi, Jessica sempat terdiam terpesona.
"Itu!" jawab Jessica setelah menggigit bibirnya agar dia sadar diri lalu membuka kunci pintu mobil, namun terkejut saat Adrian menuju kursi penumpang depan.
"Biar kamu nggak jadi supir," serunya sambil tersenyum lebar.
“Cih, memangnya sekarang aku apa kalau bukan supir?” pikir Jessica mendongkol.
"Jes, kita makan steak, aku tahu yang enak, nanti depan belok kanan.” Adrian bukan meminta tapi memerintah.
Jessica mendengus karena sejak kapan dia bisa bebas memanggil dengan hanya menggunakan nama?
"Eh tapi kamu mau makan apa?" tanyanya dengan lembut, suaranya membuat Jessica merinding. "Steak nggak apa-apa ‘kan?" tanya Adrian lagi masih menatap ke arah Jessica walau terhalang kacamata hitam.
Tanpa sadar Jessica menahan napas saat Adrian tiba- tiba membuka kacamatanya dan tatapan mereka kembali beradu. Jessica seketika mengerang dalam hati, karena tiba- tiba jantungnya berdebar sangat cepat. Mereka terlalu dekat, seharusnya Adrian duduk di belakang! Seharusnya ujung hidung mereka tidak boleh sedekat ini!
“Aish, kenapa jadi berdebar begini? Dia nggak ganteng- ganteng amat kok!” Jessica memaki sambil segera membuang pandangan dan menekan gas, sehingga mobil melaju cepat.
"Steak nggak apa-apa, yang deket sini kan, aku tau tempatnya" jawab Jessica agak terlalu ketus dari yang seharusnya.
Restoran steak langganan dokter kepala tidak begitu jauh, dan beruntungnya restoran itu memiliki ruangan tersendiri, sehingga aman buat Adrian untuk makan di situ.
"Wah, kamu tau juga ternyata,” kekeh Adrian saat duduk. Dia tersenyum memperlihatkan lesung pipi sebelahnya.
"Ah, ini restoran kesukaan dokter kepala," jawab Jessica lalu pura-pura sibuk membaca menu. Wanita itu memutuskan dalam hati kalau hari ini, terakhir dia bertemu Adrian. Entah kenapa berdekatan dengan aktor satu ini, perasaannya jadi berantakan.
"Aku mau wagyu, kamu mau apa?" tanyanya tanpa membaca menu.
Jessica mencoba membaca menu, tapi entah kenapa susah sekali berkonsentrasi.
"Oh aku nggak boleh ya pesan Wagyu, yang sesuai budget rumah sakit yang mana?" tanya Adrian merasa bersalah karena Jessica diam saja.
"Ah bukan, kepalaku pegel." Jessica berbohong sambil pura-pura memijat lehernya sendiri. "Aku sama, Wagyu juga!" seru Jessica tersenyum. “Mumpung dibayarin, aku juga mau perbaikan gizi,“ pikir Jessica segera membalas dendam karena tugas konyol ini.
“Nanti kalau mau, aku bisa bantu pijet,” ujar Adrian merasa harus membalas bantuan Jessica hari ini sambil melepaskan perlengkapan menyamarnya. Jessica kembali merasakan gejolak dalam perutnya.
Adrian merapikan rambutnya yang tebal dengan menggunakan jarinya sambil melihat bayangan dirinya di layar handphone. Jessica merasakan dirinya kembali mematung terpesona.
"Pak Adrian, sebaiknya anda mengabari asisten anda, posisi kita di sini," pinta Jessica mencoba kembali resmi. Pria itu menatap wanita di hadapannya dengan bingung.
"Nggak perlu, aku ‘kan mau kencan dengan kamu," goda Adrian sambil meraih tangan Jessica yang langsung menarik tangannya secepat kilat.
"Ish, nggak lucu," balas Jessica mencoba mengabaikan wajahnya yang terasa panas. Kehangatan tangan Adrian yang sekilas tadi membuat jantungnya kembali tidak tenang.
"Lagian tadi dah pakai 'aku-kamu' sekarang balik pakai anda." Adrian tertawa pelan sambil memandang Jessica dengan bola mata hijaunya yang selalu membuat perut Jessica melilit.
"Tadi... yang tadi itu keceplosan, sekarang sebaiknya kita resmi saja," jawab Jessica sambil berharap pesanan segera datang, jadi mereka bisa makan dan pulang.
"Oh, jadi mau kita resmikan saja?" goda Adrian lagi tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih bersih. Jessica memandangnya dengan kesal.
"Aku serius!" desis Jessica melotot dan keceplosan lagi. Adrian tertawa senang saat Jessica yang segera menutup mulutnya.
Tapi untung pesanan mereka datang dan Adrian langsung menutup wajahnya dengan topi. Jessica segera melakukan niatnya memakan steak dengan cepat agar bisa pulang.
"Jes...?" panggilnya tiba-tiba.
"Hmm," jawab Jessica masih belum mau menatap Adrian.
"Kamu mau saladku?" tanyanya menyodorkan piring. Lupa kalau tadi mau resmi, Jessica mengangguk cepat.
"Kamu, mau kentangku?" tanya wanita itu sambil asyik mengambil salad.
"Mau, aku lapar!" Adrian segera mengambil kentang goreng dengan tangannya.
Jessica memperhatikan pria itu makan dengan lahap, memang sepertinya dia sangat lapar, dalam sekejap steak itu menghilang, yang membuat Jessica terkejut adalah ternyata piringnya juga sudah kosong padahal biasanya Jessica paling malas makan.
"Oh iya, kamu nanti pulang gimana?" tanya Jessica saat Adrian menghabiskan segelas anggurnya dengan sekali tenggak.
"Ah aku lupa, Jes boleh minta tolong? Antar aku ke apartemenku?” Pria itu menatap Jessica dengan penuh harap dan dengan berat hati Jessica mengangguk pelan.
"Kamu serius apartemennya di sini?" tanya Jessica dengan kening berkerut.
"Iya, memang kenapa?" tanya Adrian heran.
"Aku juga tinggal disini!" jawab Jessica tak percaya.
"Hah, serius? lantai berapa? aku lantai 21.”
Jessica mendengus dalam hati. “Penthouse, sudah pasti.”
"Aku lantai 12," jawab Jessica pelan merasa sungguh aneh mereka bisa di komplek apartemen yang sama.
"Wah kebalikannya, kita jodoh ya!" timpalnya Adrian dengan senang. Jessica segera memutar mata, dan dia kembali tertawa.
"Kamu lucu," ucapnya lalu menarik pulpen rambut Jessica lagi. Rambut Jessica segera jatuh ke punggungnya.
“Rambutmu sangat cantik, Jess, kamu tahu kan?” ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu turun dari mobil. Jantung Jessica segera kembali berpacu dalam melodi.
"Oke, terima kasih lagi buat bantuan membaca cerita tadi ya," balas Jessica mengabaikan ucapan Adrian.
"It's my pleasure," jawab Adrian melambai sebelum akhirnya masuk ke dalam lobi apartemen.
“Akhirnya selesai!” Jessica mendesah lega saat menjalankan mobilnya lagi.
Tapi, perasaan kosong apa ini yang ada di dadanya?
Adrian menatap wanita di sebelahnya yang benar-benar seperti batu. “Aku beneran nggak ngerti sama kamu!” suara Adrian yang serak, meninggi. “Nggak ngerti apa? Bukannya semua udah jelas kamu dan manajemen mau mengakhiri kontrak kita? Terus aku udah setuju, ya tinggal tunggu waktunya, lalu apalagi yang mesti kita bicarakan?” balas Jessica mulai kehilangan kontrol emosinya juga. “Kenapa sih kamu kayak gitu? Aku kayak ngomong sama robot, kamu itu manusia Jessica!” sembur Adrian kesal. Jessica benci mendengar kata-kata itu. Dulu Joe juga sering mengatakan hal itu padanya. “Kamu maunya apa? Maunya aku nangis-nangis merengek? Kamu mau aku seperti fans yang sampai nangis guling-guling?” sindir Jessica dengan suara tinggi. Seperti biasa, pada akhirnya emosi Adrian menular pada Jessica. Seharusnya memang dia langsung kembali ke rumah sakit tadi! Pria itu memandangnya dengan tidak percaya. “Sialan kamu Jessie,
Karena kasus tabrakan itu, Adrian bagaikan menjadi tahanan rumah. Dia hanya dapat izin dari Lionel keluar dari kondominiumnya saat syuting iklan permen karet. Sialnya, mereka berada di penghujung musim gugur, sedangkan sang editor kreatif tetap mau iklan permen karet itu direkam dengan latar musim panas. Adrian yang sepi kerjaan mau tak mau mengikuti apa yang diminta, karena ada denda yang harus dia bayar. Berlarian dengan gembira di air pantai yang dingin bukan hal yang baik, apalagi kalau syuting sampai berhari-hari. Sakit. Yah pada akhirnya Adrian yang kokoh seperti kerbau itu, demam tinggi. Tapi, sepertinya berendam di air laut yang dingin itu hanya sebagian kecil penyebab Adrian sakit.Sesungguhnya, dia sangat merindukan Jessica. Kemungkinan besar wanita itu pasti tak akan sempat memikirkan Adrian sama sekali. “Pasti dia sibuk dengan Joe,” desah Adrian sambil menahan pusing di kepalanya. Demamnya sud
Menyadari kalau Louise dan Jessica yang akan jaga malam berdua, Joe segera mengambil inisiatif.“Saya nggak harus pulang kok Dok saya masih kuat bisa jaga lagi,” ucap Joe cepat. “Kalau Lihat di status, kamu udah jaga tiga kali, jadi sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Ini perintah ya Joe!” Dokter Poppy lalu menatap Jessica. “Jes, gimana kabar si Adrian? Saya mendapat berita kalau proses syuting akan mundur dikarenakan masalah casting ya, kemaren mereka minta izin mundurin jadwal.” “Oh… dia baik-baik saja.” Jessica menjawab sekenanya, mengingat Adrian bisa berenang di air dingin berarti dia baik-baik saja kan? “Masa sih? Tadi di IG-nya dia bilang, dia kurang enak badan? Tapi yah kamu kan pacarnya, kamu lebih tau lah ya,” ucap Dokter Poppy tertawa lalu lanjut memeriksa pasien. Jessica menunduk malu karena asal bicara. Sesungguhnya dia tak tahu apa-apa tentang Adrian. Pria itu benar-benar menghilang dari radar. Kare
“Jes kamu denger nggak, mamanya Nico ngajak kita makan-makan!” ujar Joe datang dengan senyum lebar. Pria itu dengan santai duduk di samping Jessica lalu menopang dagunya. Wanita itu segera menutup handphone Sudah saatnya kembali ke realita, Adrian tak akan tiba-tiba muncul. Sudah cukup dia diceramahi Joe kemarin. Pria itu kini malah rutin mengirimkan artikel tentang kasus para stalker artis yang mengerikan. “Aku tadi ditanyain mamanya, restoran kesukaan kita apa. Aku bilang ke Baileys ajah.” Pria itu menepis poninya ke belakang. Hari ini Joe mengenakan sweater biru muda dengan kemeja putih di dalamnya. Celana coklat tuanya sudah beberapa kali pakai, tapi warnanya sungguh sesuai sehingga Joe bagaikan model di majalah kedokteran. Biasanya pemandangan itu membuat Jessica mengagumi ketampanan pria itu. Tapi kali ini Jessica malah kembali membaca status. “Aku sepertinya nggak bisa, kalau semua pergi, lalu siapa ya
“Kalian gila! Kalian bisa saya tuntut ya, ini adalah penganiayaan!” Adrian mendengar suara riuh saat dia masuk ke rumah sakit. Awalnya Adrian tidak yakin pada rumah sakit ini. Rumah sakitnya kecil dan lebih tidak terawat, kenapa Jessica memilih rumah sakit kelas dua begini?Awalnya dia tidak mengerti mengapa, tapi kini dia tahu kenapa. Karena. Menghindari fansnya. Hati Adrian kembali terasa sakit. Wanita ini terlalu banyak berkorban untuk dirinya. Pria itu segera mendekati kerumunan walau masih mengenakan perlengkapan penyamaran. “Dia yang minta! Tadi malam bilang jatuh cinta hingga mau menikah sekarang udah sama cowok lain! Dasar pelacur!” Adrian segera ingin menarik Jessica. Namun berhenti saat melihat Joe di sana. “Bukannya katanya Ellie yang menjemput?” Kali ini perut Joe yang terasa aneh. Jessica jelas berbohong padanya. Joe yang menjemput dan mengantarnya ke rumah sakit. Melihat Joe menjadi pahlawan bagi Jessica s
Semenjak kedatangan Adrian di rumah sakit, hati Joe memang tidak pernah tenang. Walau Jessica selalu mengelak, Joe merasa kalau memang ada sesuatu di antara mereka. Dari dulu memang Joe selalu ingin kembali bersama Jessica, tapi semenjak bertemu dengan Adrian, Joe tahu kalau dia harus bertindak lebih cepat. Seakan memang langit menyetujui, Joe mendapatkan kesempatannya. Dia bisa meluruskan kesalahan waktu itu, sekaligus merebut Jessica kembali. Wanita itu harus tahu kalau Jessica sudah menjadi obsesi hatinya dari awal mereka bertemu. “Aku nggak tahu Joe, aku masih ingat hari itu, ciuman itu terlihat serius.” Jessica mencoba menarik tangannya tetapi Joe bertahan. “Enggak, kamu enggak lihat karena kamu pergi, aku langsung melepaskan diri! Nggak ada apa-apa antara aku sama Louise!” sembur Joe. “Bahkan, aku nggak pernah ketemu dia lagi semenjak hari itu. Baru kemarin aku ketemu dia lagi!” sambung Joe lagi.Namun belum







