MasukWanita berjas putih segera menuju ruang buku, Dr. Jessica mengambil beberapa buku yang semalam sudah dia siapkan lalu berjalan ke arah pintu. Namun tiba- tiba pintu itu terbuka, dan pria besar itu menabrak lalu membuatnya terjatuh terlentang di lantai.
Bukan hanya itu... Bibirnya... Bibirnya entah bagaimana bisa menempel pas di bibir Jessica. Apalagi saat menyadari kalau tangan besar pria itu ada di dadanya, dasar mesum! Sambil menjerit Jessica mendorongnya ke samping.
Tapi pria itu malah segera menutup mulu Jessica yang segera berontak.
Adrian memutar tubuhnya ke belakang tubuh Jessica dan tangan satunya memeluk pinggangnya, lalu berbisik lirih. Pelukan Adrian begitu kuat sehingga Jessica tak bisa bergerak.
"Shh diam, jangan sampai mereka tahu kalau aku ada disini," bisiknya dengan suara rendah di telinga Jessica.
Ada suara riuh di luar, seperti orang banyak berjalan bersamaan. Adrian dia mendengarkan suara itu dengan seksama. Karena pria itu terlalu fokus dengan suara di luar, pegangan tangannya mengendur, dan Jessica mendorongnya dan melepaskan diri dari pelukannya.
"JANGAN DIBUKA!" teriak Adrian percuma, karena sang dokter sudah membuka pintu itu. Hal itu adalah kesalahan besar, karena beberapa dari mereka menatap Jessica, lalu ke arah Adrian.
"Adrian...!" teriak salah seorang dari pria yang membawa kamera itu dan mengambil foto.
Adrian segera menutup pintu, dan bersandar ke pintu. Banyak orang banyak itu mendorong dan mencoba membuka pintu itu.
"Tolong bantu aku, jangan sampai pintu ini terbuka," teriaknya memohon bantuan Jessica.
Sampai sekarang, Jessica juga tak mengerti kenapa dia menurut dan ikut bersandar demi menjaga agar pintu itu tidak terbuka.
Adrian tersenyum berterima kasih, sementara orang banyak itu masih mencoba membuka pintu. Mereka saling memandang, dan sesuatu yang aneh menyelinap di hati Jessica. Bola matanya yang coklat muda sungguh melengkapi ketampanan pria itu.
Namun untung, akal sehat segera menyelamatkan Jessica. Wanita itu segera menghapus pikirannya. Pria ini walau sangat tampan, dia sudah kurang ajar tadi, mengapa Jessica malah menolong?
"Adrian, kamu sama siapa itu?" teriak seseorang dari luar.
“Adrian, oh nama pria ini Adrian mungkin... Tunggu dulu, artis itu namanya kan Adrian?” Jessica semakin memandangi wajah pria tampan di sebelahnya.
"Adrian, apakah kamu sudah menduakan Miranda?" tanya suara yang lain lagi.
"Adrian apakah kau bersama pacar barumu lagi?" teriak suara di belakang pintu.
"Kamu Adrian?" tanya Jessica ketus, pria itu segera menatap Jessica dengan bingung.
"Iya, masa kamu nggak kenal aku?" tanyanya heran.
“Kenapa harus bingung, memangnya semua orang harus kenal dia?” pikir Jessica kesal.
"Aku Dokter Jessica, aku yang mengatur acara baca cerita buat anak-anak. Kita sudah terlambat," balas Jessica mengabaikan pertanyaan Adrian.
"Kita harus keluar, anak-anak menunggu," ujar Jessica sambil melepaskan pegangannya ke pintu. Tanpa bantuan Jessica, pintu seketika terbuka. Kembali kesalahan besar, mata Jessica langsung dibutakan oleh lampu blitz yang tak pernah berhenti.
Adrian segera menarik tangan Jessica dan menggandengnya untuk kabur dari wartawan.
"Di mana sih ruang baca ceritanya?” tanya Adrian terengah-engah. Jessica menunjuk lurus. Sambil masih menggandeng Jessica, Adrian segera berlari masuk ke Hall B tempat anak-anak sudah menunggu.
Akhirnya wartawan itu ditahan oleh petugas keamanan rumah sakit. Anak-anak bertepuk tangan dengan riuh saat Jessica dan Adrian masuk ke dalam ruangan.
Edo segera turun dari podium mendekati mereka.
"Adrian, lo dari mana aja?" ucap pria itu sambil memberikan tisu kepada Adrian. Matanya melihat genggaman tangan Adrian pada Jessica, tapi Adrian langsung melepaskan genggaman tangannya dan mengambil tisu itu.
"Tadi ketangkap di lift sama wartawan, untung bisa lepas, kenapa jadi heboh begini?" tanyanya bingung.
"Sepertinya ada dokter yang tag kamu di sosmed, jadi para wartawan pada tahu semua, padahal katanya tamu terbatas, eh malah mereka sendiri yang membocorkannya," kata pria berjaket ungu itu dengan kesal.
Jessica segera memutar matanya, dia tahu siapa yang melakukan itu, pasti dokter kepala.
"Halo, saya Edo, kamu siapa ya?" tanyanya menatap Jessica seakan dia adalah salah satu penggemar Adrian yang memaksa masuk.
"Dia Jessica, yang ngatur acara ini," jawab Adrian lagi.
Edo memandang Jessica dari ujung kaki sampai ujung kepala, seperti ada masalah dengan penampilannya, pria itu tersenyum dan menyodorkan tangannya.
"Halo saya Edo yang di telepon tadi, jadi kapan kita bisa mulai acaranya bu Dokter?" tanyanya dengan keramahan yang berlebihan.
"Ah bukunya tertinggal!" pekik Jessica kesal, teringat buku itu jatuh saat Adrian ada di atas tubuhnya.
"Hah, buku ceritanya? Buku cerita yang mau Adrian bacakan buat anak-anak ini?" tanya Edo memandang Jessica seakan dokter itu telah melakukan malpraktek.
"Tertinggal di ruangan tadi, karena Adrian langsung menarikku begitu saja keluar dari ruangan." jawab Jessica membela diri. Edo memutar bola matanya dengan berlebihan, dan Adrian memegang keningnya.
"Kalau gitu kita ngarang saja." jawab Adrian cepat sambil tersenyum lebar.
Adrian menatap wanita di sebelahnya yang benar-benar seperti batu. “Aku beneran nggak ngerti sama kamu!” suara Adrian yang serak, meninggi. “Nggak ngerti apa? Bukannya semua udah jelas kamu dan manajemen mau mengakhiri kontrak kita? Terus aku udah setuju, ya tinggal tunggu waktunya, lalu apalagi yang mesti kita bicarakan?” balas Jessica mulai kehilangan kontrol emosinya juga. “Kenapa sih kamu kayak gitu? Aku kayak ngomong sama robot, kamu itu manusia Jessica!” sembur Adrian kesal. Jessica benci mendengar kata-kata itu. Dulu Joe juga sering mengatakan hal itu padanya. “Kamu maunya apa? Maunya aku nangis-nangis merengek? Kamu mau aku seperti fans yang sampai nangis guling-guling?” sindir Jessica dengan suara tinggi. Seperti biasa, pada akhirnya emosi Adrian menular pada Jessica. Seharusnya memang dia langsung kembali ke rumah sakit tadi! Pria itu memandangnya dengan tidak percaya. “Sialan kamu Jessie,
Karena kasus tabrakan itu, Adrian bagaikan menjadi tahanan rumah. Dia hanya dapat izin dari Lionel keluar dari kondominiumnya saat syuting iklan permen karet. Sialnya, mereka berada di penghujung musim gugur, sedangkan sang editor kreatif tetap mau iklan permen karet itu direkam dengan latar musim panas. Adrian yang sepi kerjaan mau tak mau mengikuti apa yang diminta, karena ada denda yang harus dia bayar. Berlarian dengan gembira di air pantai yang dingin bukan hal yang baik, apalagi kalau syuting sampai berhari-hari. Sakit. Yah pada akhirnya Adrian yang kokoh seperti kerbau itu, demam tinggi. Tapi, sepertinya berendam di air laut yang dingin itu hanya sebagian kecil penyebab Adrian sakit.Sesungguhnya, dia sangat merindukan Jessica. Kemungkinan besar wanita itu pasti tak akan sempat memikirkan Adrian sama sekali. “Pasti dia sibuk dengan Joe,” desah Adrian sambil menahan pusing di kepalanya. Demamnya sud
Menyadari kalau Louise dan Jessica yang akan jaga malam berdua, Joe segera mengambil inisiatif.“Saya nggak harus pulang kok Dok saya masih kuat bisa jaga lagi,” ucap Joe cepat. “Kalau Lihat di status, kamu udah jaga tiga kali, jadi sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Ini perintah ya Joe!” Dokter Poppy lalu menatap Jessica. “Jes, gimana kabar si Adrian? Saya mendapat berita kalau proses syuting akan mundur dikarenakan masalah casting ya, kemaren mereka minta izin mundurin jadwal.” “Oh… dia baik-baik saja.” Jessica menjawab sekenanya, mengingat Adrian bisa berenang di air dingin berarti dia baik-baik saja kan? “Masa sih? Tadi di IG-nya dia bilang, dia kurang enak badan? Tapi yah kamu kan pacarnya, kamu lebih tau lah ya,” ucap Dokter Poppy tertawa lalu lanjut memeriksa pasien. Jessica menunduk malu karena asal bicara. Sesungguhnya dia tak tahu apa-apa tentang Adrian. Pria itu benar-benar menghilang dari radar. Kare
“Jes kamu denger nggak, mamanya Nico ngajak kita makan-makan!” ujar Joe datang dengan senyum lebar. Pria itu dengan santai duduk di samping Jessica lalu menopang dagunya. Wanita itu segera menutup handphone Sudah saatnya kembali ke realita, Adrian tak akan tiba-tiba muncul. Sudah cukup dia diceramahi Joe kemarin. Pria itu kini malah rutin mengirimkan artikel tentang kasus para stalker artis yang mengerikan. “Aku tadi ditanyain mamanya, restoran kesukaan kita apa. Aku bilang ke Baileys ajah.” Pria itu menepis poninya ke belakang. Hari ini Joe mengenakan sweater biru muda dengan kemeja putih di dalamnya. Celana coklat tuanya sudah beberapa kali pakai, tapi warnanya sungguh sesuai sehingga Joe bagaikan model di majalah kedokteran. Biasanya pemandangan itu membuat Jessica mengagumi ketampanan pria itu. Tapi kali ini Jessica malah kembali membaca status. “Aku sepertinya nggak bisa, kalau semua pergi, lalu siapa ya
“Kalian gila! Kalian bisa saya tuntut ya, ini adalah penganiayaan!” Adrian mendengar suara riuh saat dia masuk ke rumah sakit. Awalnya Adrian tidak yakin pada rumah sakit ini. Rumah sakitnya kecil dan lebih tidak terawat, kenapa Jessica memilih rumah sakit kelas dua begini?Awalnya dia tidak mengerti mengapa, tapi kini dia tahu kenapa. Karena. Menghindari fansnya. Hati Adrian kembali terasa sakit. Wanita ini terlalu banyak berkorban untuk dirinya. Pria itu segera mendekati kerumunan walau masih mengenakan perlengkapan penyamaran. “Dia yang minta! Tadi malam bilang jatuh cinta hingga mau menikah sekarang udah sama cowok lain! Dasar pelacur!” Adrian segera ingin menarik Jessica. Namun berhenti saat melihat Joe di sana. “Bukannya katanya Ellie yang menjemput?” Kali ini perut Joe yang terasa aneh. Jessica jelas berbohong padanya. Joe yang menjemput dan mengantarnya ke rumah sakit. Melihat Joe menjadi pahlawan bagi Jessica s
Semenjak kedatangan Adrian di rumah sakit, hati Joe memang tidak pernah tenang. Walau Jessica selalu mengelak, Joe merasa kalau memang ada sesuatu di antara mereka. Dari dulu memang Joe selalu ingin kembali bersama Jessica, tapi semenjak bertemu dengan Adrian, Joe tahu kalau dia harus bertindak lebih cepat. Seakan memang langit menyetujui, Joe mendapatkan kesempatannya. Dia bisa meluruskan kesalahan waktu itu, sekaligus merebut Jessica kembali. Wanita itu harus tahu kalau Jessica sudah menjadi obsesi hatinya dari awal mereka bertemu. “Aku nggak tahu Joe, aku masih ingat hari itu, ciuman itu terlihat serius.” Jessica mencoba menarik tangannya tetapi Joe bertahan. “Enggak, kamu enggak lihat karena kamu pergi, aku langsung melepaskan diri! Nggak ada apa-apa antara aku sama Louise!” sembur Joe. “Bahkan, aku nggak pernah ketemu dia lagi semenjak hari itu. Baru kemarin aku ketemu dia lagi!” sambung Joe lagi.Namun belum







