Share

Bab 322

Author: Runayanti
last update Last Updated: 2025-12-10 16:17:22

"Pak Deon adalah pria yang terhormat, dia tidak akan mungkin menyentuh tubuh wanita yang bau, apalagi berstatus rendah sepertimu," kekeh salah satu dari mereka sambil tertawa.

"Lihat dirimu, kampungan dan rendahan. Seorang pria seperti Pak Deon tidak akan menyentuhmu walau dirinya sedang mabuk, mengerti?"

"Untuk itulah, kami diutus... membuatmu menjadi seperti Nyonya Jannah!"

"Sekarang, diam dan pakai dress tidur ini atau kami akan memaksamu lagi dengan kasar!" perintah pelayan senior tadi deng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Goez Titatar Sunda
ah si deon selalu ga jujur yah pantas jannah tinggalin memang kalo udah ga jujur susah
goodnovel comment avatar
Oliva Loda
awas,,deon.jangan bodoh...itu jebakan.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 393. TAMAT

    Kalimat itu meluncur begitu saja, seperti doa yang dibungkus racun. Bella tersenyum—senyum yang tidak sepenuhnya hangat, tidak sepenuhnya dingin. Ia tahu, di dalam dirinya masih hidup sesuatu yang belum padam. Sesuatu yang menunggu waktu.Pesawat yang akan membawa mereka ke Irlandia belum dipanggil. Ruang tunggu bandara terasa dingin dan steril. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah lelah dan harap masing-masing.Bella menutup matanya sesaat, membiarkan suara pengumuman menjadi dengung yang jauh. Bayangan Deon muncul tanpa diundang—tatapannya yang tegas, cara ia menggenggam tangan Jannah di depan kamera, kalimatnya yang dingin saat menyelamatkan Bella dari kolam renang: *apa yang aku hutang, sudah kulunasi dengan menolong nyawamu.*Bella membuka mata. Dadanya mengembang, lalu turun perlahan. Ia tidak lagi ingin berteriak. Ia tidak lagi ingin menangis. Tangis telah habis di rumah sakit, di ruang pengadilan, di kamar hotel. Yang tersisa

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 392

    Di kamar hotel yang sunyi, Bella duduk terpaku di tepi ranjang. Tatapannya kosong, bahunya turun seolah seluruh dunia menekan punggungnya. Kepalanya dipenuhi suara bising dari luar—komentar warganet, tatapan sinis, dan rasa kalah yang belum bisa ia telan.Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek, sampai sebuah suara lirih memecah kesunyian itu.Tangisan bayi.Bella menoleh refleks ke arah pintu yang sedikit terbuka, suara itu datang dari kamar sebelah. Dahi Bella mengernyit. Ada rasa kesal yang langsung naik ke dadanya. *Pengasuh macam apa yang meninggalkan bayi menangis begini?* pikirnya tajam.Dengan langkah berat, Bella mendorong kursi rodanya, mendekat ke ranjang kecil tempat putrinya terbaring. Bayi mungil itu menggeliat, wajahnya memerah, tangisnya semakin kencang."Dasar! Keras kepala sepertiku!" geramnya dengan kesal.Sekilas, Bella ingin memalingkan wajah—ia tak terbiasa menghadapi pemandangan ini. Namun kursi rodainya terl

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 391

    Deon tertawa kecil, napasnya hangat di kulit Jannah. “Aku cuma ingin merayakan kemenanganku.”“Kemenangan apa?” tanya Jannah setengah menggoda, setengah menegur, meski pipinya memanas. "Kemenangan di atas kolam renang?"“Kemenangan karena akhirnya aku bisa pulang dengan tenang,” jawab Deon. “Karena untuk pertama kalinya, aku berdiri di sisimu tanpa takut siapa pun menafsirkan ulang hidup kita.”Jannah terdiam. Kata-kata itu menembus lebih dalam dari ciuman barusan. Ia menghela napas, lalu menepuk dada Deon pelan."Sesekali, kita bisa mencobanya di kolam renang rumah," bisik Deon dengan suara yang dibarengi desahan nakal.“Kamu nakal, Deon.”Deon menyeringai, namun tatapannya melunak. Ia menyentuhkan kening mereka, menahan diri. “Aku hanya ingin memastikan kamu tahu… aku memilih kamu. Dari awal sampai sekarang.”"Tunggu, kita sampai di rumah du

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 390

    Acara berlanjut. Musik lembut mengalun di latar, cahaya lampu memantul di permukaan kolam yang berkilau tenang. Bella menatap air itu lama. Di kepalanya, suara-suara berisik saling bertabrakan, ketakutan, cemburu, keinginan untuk kembali dilihat.Bella mendorong kursi rodanya sendiri sampai ke pinggiran kolam."Apa kata mereka kalau aku menerjunkan diri ke dalam kolam?"“Bella, kamu tidak apa-apa?” tanya seorang tamu yang berdiri tak jauh darinya.Bella tidak menjawab. Kursi rodanya bergerak perlahan mendekati tepi kolam. Beberapa tamu mulai memperhatikannya, tetapi tak ada yang benar-benar mengira apa yang akan terjadi.“Bella?” suara itu terdengar lagi, lebih cemas.Bruurrr...Teriakan panik mulai berdatangan. "Dia jatuh!"Bella tidak bisa berenang. Apalagi dengan kondisi kaki yang masih tidak bisa berfungsi normal.Ia tidak benar-benar ingin mengakhiri hidupnya; yang ia inginkan h

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 389

    Jannah menatap unggahan komentar atas statusnya dan menunjukkan kepada Deon.Deon mengangguk kecil dan memeluk istrinya dengan penuh rasa terima kasih."Semoga ini adalah jalan terbaik, Sayang," ucap Deon."Bila kita menang dalam kasus ini, aku akan memuaskanmu di atas ranjang selama tiga ratus enam puluh lima hari," lanjutnya dengan bisikan nakal yang langsung mendapat cubitan keras di pinggulnya."Dasar kamu. Tidak ada kasus pun kamu juga akan menyiksaku, bahkan lebih dari setahun," renggek Jannah."Selamanya dong, kok cuma setahun."Tawa terdengar nyaring di antara mereka.***Tidak lama kemudian, Jannah diundang ke satu podcast kecil.Ia datang tanpa riasan berlebihan. Tanpa air mata yang dibuat-buat. Ia memakai gaun panjang nan sopan dan berkerudung dengan gaya sederhana dan lokal.“Apa Anda membela suami Anda?” tanya host.Jannah menggeleng. “Aku membela kemanusiaan. Kalau dia

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 388

    Ia tahu, apa pun yang terjadi setelah ini, Jannah akan ikut terkena dampaknya.Ia menutup ponsel. Dan melangkah pulang."Jannah, aku pulang," gumamnya singkat lalu menutup ponsel. Tidak tertarik untuk melihat lebih lanjut.Ia bukan takut, ia pulang bukan untuk bersembunyi, tapi untuk memeluk satu-satunya hal yang masih ingin ia pertahankan dari dunia yang sedang memusuhinya.Alasan dirinya harus bertahan.***Jannah tidak pernah berniat berbicara ke publik.Ia bukan tipe perempuan yang nyaman dengan sorotan.Sejak awal, ia memilih diam, menahan semua hujatan yang menampar wajahnya setiap kali membuka ponsel.Namun hari itu, saat ia melihat Deon pulang dengan langkah limbung, jas kusut, mata yang kehilangan nyala, ia sadar, diamnya justru menjadi bentuk pengkhianatan pada orang yang ia cintai.Deon duduk di sofa tanpa berkata apa-apa.Jannah menyiapkan segelas air hangat, meletakkannya di hadap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status